
“Aa, Aa kenapa pergi?” tanya Cicil sambil memeluk Riki erat, tangis Cicil membuat kemeja Riki basah.
“Maaf, maaf. Tadi, Aa khilaf. Albert bener-bener bikin Aa naik darah. Maaf yah, jadi ninggalin kamu, sekarang Aa disini. Udah, jangan nangis lagi,” pinta Riki sambil mengecupi pucuk rambut Cicil.
“Jangan tingalin Cicil lagi yah, jangan.” Cicil mengambil botol minum disampingnya dan meminumnya sampai tandas.
Riki mengusap dahinya pelan, ada rasa sesal dan lega didadanya. Rasa sesal karena dirinya meninggalkan Cicil sendirian di ruang sidang, sampai-sampai istrinya histeris. Tapi, dilain pihak Riki lega akhirnya bisa menendang dan memukuli Albert.
“Cicil...” Rea mendekati Cicil dengan tergesa-gesa, dengan cepat Rea langsung memeluk Cicil dengan erat. Riki yang mengerti langsung beranjak dari duduknya.
“Mamih.” Cicil langsung menangis dipelukkan Ibunya. Cicil rindu Ibunya, Ibu yang sudah mengabaikannya selama ini.
“Maafin, Mamih yah. Mamih jahat sama kamu, Mamih nggak ngurus kamu dengan baik, sampai-sampai kamu jadi kaya gini, Sayang.” isak Rea sambil terus memeluk Cicil.
“Mamih, Cicil rindu Mamih. Cicil sayang Mamih,” jawab Cicil.
Tangisan mereka berdua pecah, tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut Cicil dan Rea. Hanya ada tangisan yang terdengar dari mereka berdua. Ibu dan Anak itu saling memeluk dan menangis, merutuki masa lalu, namun bersiap untuk memperbaikki hubungan mereka di masa depan.
“Riki, ikut saya,” pinta Jeff pada Riki yang berdiri dibelakang Cicil.
Riki menggangukkan kepalanya, tangannya langsung mengelus bahu Cicil pelan. “Neng, Aa keluar dulu. Kamu disini sama Mamih yah, Aa nggak lama kok.”
“Jangan lama-lama, Aa,” pinta Cicil.
“Iya, nggak lama. Cuman kedepan sama Papih, kamu sama Mamih dulu, yah.” Riki mengecup pucuk rambut Cicil dan berjalan mengikuti Jeff.
•••
“Ada apa, Pih?” tanya Riki.
“Duduk sini,” ucap Jeff meminta Riki duduk dihadapannya.
Setelah Riki duduk dihadapan Jeff, Jeff hanya diam menatap mantunya itu. Riki bukan lelaki kaya raya, mungkin pendapatannya satu tahun hanya sebesar pendapatan perusahaannya selama 3 minggu. Tapi, laki-laki ini sangat menyayangi anaknya. Sampai-sampai dia mau menerima anaknya dalam keadaan seperti itu. Tapi, Jeff ingin menguji Riki sekali lagi.
Jeff tau dampak dari tindakan Albert pada Cicil. Cicil bisa hamil dan kalau seandainya Cicil hamil anak Albert, Jeff takut lelaki dihadapannya ini akan meninggalkan putrinya. Cicil bisa gila dan Jeff tidak mau itu terjadi pada putrinya.
“Kita laki-laki, kita sama-sama tau apa yang dilakukan Albert pada Cicil bisa memberikan dampak....”
__ADS_1
“Dampak apa?” Riki bingung dengan perkataan mertuanya ini. Entah, Riki yang terlalu bodoh atau Mertuanya ini yang terlalu pintar, kadang Riki tidak mengerti perkataan Jeff.
Jeff menggaruk dahinya yang tidak gatal sama sekali. “Cicil bisa hamil, Cicil bisa hamil anak Albert. Kalau itu terjadi kamu mau apa?”
Riki diam seribu bahasa mendengar perkataan Jeff, Riki tau peluang itu pasti ada. Mengingat betapa brutalnya Albert melecehkan Cicil. Dari kemarin Riki berusaha untuk mengeyahkan pikiran tersebut.
“Tinggalin Cicil sekarang, Riki.”
“Hah? Maksud Papih apa?” tanya Riki kaget dengan perkataan mertuanya.
“Iya, tinggalin Cicil sekarang, lebih cepat lebih baik. Papih nggak mau kamu ninggalin dia pas tau dia hamil bukan anak kamu.”
“Sinting..!?” teriak Riki sambil membulatkan matanya.
“Karena, kalau kamu ninggalin Cicil sekarang. Saya masih bisa urus dia, Cicil masih bisa ditolong. Hancur, tapi masih bisa di tolong. Tapi, kalau dia sudah hamil, lalu kamu tinggalin, saya nggak bisa tolong lagi anak saya, Riki.” Jeff benar-benar ingin tahu kesungguhan menantunya ini. Apakah dia akan goyah dengan pilihannya, cara ini kejam. Jeff mempertaruhkan masa depan Cicil, tapi ini cara satu-satunya untuk melihat kesungguhan Riki.
Hening, tidak ada satu suarapun disana, hanya terdengar suara derap langkah diluar ruangan. Jeff dan Riki saling tatap, tanpa mengeluarkan suara sama sekali.
“Kamu bahkan tidak marah pada Albert, kamu biarin Albert pulang dari Yogyakarta ke Jakarta kemarin. Baru, tadi kamu pukulin dia. Kalau butuh uang, Papih Kasih tapi tingalin Cicil.” Jeff berbicara dengan intonasi suara yang bergetar, ini gila Jeff cari mati. Tapi, dia harus melakukannya, demi tau setulus apa lelaki di hadapannya ini.
Riki mengusap sisi kedua matanya, air matanya sedikit tumpah saat mertuanya mengatakan kata-kata itu. Riki sebenarnya ingin menyeret Albert ke neraka kalau bisa. Tapi, Riki diam di rumah sakit menemani Cicil yang histeris. Lebih, baik dia menemani istrinya daripada harus mencari Albert.
“Saya benci dan marah pada Albert, kalau dia ada didepan saya detik ini, mungkin saya bisa bunuh dia. Sumpah saya bunuh dia, saya nggak bakal mikirin yang lain lagi.” Riki menatap Jeff dengan tatapan menahan amarah. Kepalanya sakit bukan main. Tapi, hatinya lebih sakit. Kenapa mertuanya ini memaksanya untuk meninggalkan Cicil.
“Tapi, kalau Papih minta saya buat meninggalkan Cicil. Mohon maaf Pih, saya nggak bisa.” Riki menarik rambutnya pelan.
“Karena Uang?” Jeff berjuang keras memancing amarah Riki. Jeff benar-benar ingin tahu seberapa besar kesungguhan Riki.
Riki tertawa keras, astaga mertuanya ini benar-benar tidak waras. Uang bukan segalanya buat Riki, seandanya Riki punya uang sebanyak kelurga Bouw, Riki akan berikan semuanya asalkan Riki bisa membalik waktu dan mengagalkan pemerkosaan Albert.
“Karena saya terlalu mencintai anak anda, Jeff Bouw. Saya tau kalau saya tingalkan Cicil sekarang, Cicil bisa ambruk. Cicil bisa terperosok, parahnya dia bisa gila. Saya bukan membanggakan diri saya. Tapi, itu kenyataannya.” Riki berdiri dari duduknya, amarahnya benar-benar sudah tersulut.
“Karena saya sangat mencintai anak anda, saya tidak mau semua itu terjadi. Saya tidak mau wanita yang saya cintai sengsara. Saya akan disamping dia sampai kapanpun, membimbingnya dan berjalan bersamanya. Cicil bouw bukan hanya seorang istri bagi saya, dia adalah sahabat, teman, dan partner hidup saya sampai saya mati dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa anda debat...!” teriak Riki keras.
“Lakukan apapun yang anda mau, saya tidak peduli. Tapi, sampai kapanpun Cicil adalah orang yang saya cintai dan bila nanti Cicil hamil, maka anak di dalam kandungannya. Siapapun ayah biologisnya, dia adalah anak saya, Jeff bouw dan akan saya pastikan itu.”
Jeff diam menatap mata Riki yang benar-benar sudah marah. Riki benar-benar mengeluarkan semua unek-unek didalam hatinya pada mertuanya.
__ADS_1
“Jika nanti Cicil hamil, maka anak dan Ibunya adalah milik saya. Saya Riki Trina pemuda kampung yang sangat anda rendahkan. Permisi.” Riki menggebrak meja didepannya dan melangkahkan kakinya. Baru beberapa langkah Riki meninggalkan Jeff. Riki mendengar suara tangisan dibelakangnya.
“Papih?!” Riki kaget melihat mertuanya sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Papih kenapa?” Riki yang panik langsung mendekati Jeff.
“Hah.... untunglah, untunglah. Merci Dieu. Merci d'avoir donné à mon fils un homme bien.” ucap Jeff seraya berdiri dan memeluk Riki. (Terima kasih Tuhan. Telah memberi putri saya pria yang baik, terima kasih.)
“Papih kenapa?” tanya Riki kebingungan, Riki yang hanya bisa bahasa Indonesia, sedikit bahasa Inggris dan bahasa Sunda. Kebingungan dengan perkataan Jeff.
“Papih, bersyukur kamu bilang itu semua. Papih bersyukur. Sekarang, Papih bisa tenang. Cicil pasti baik-baik saja kalau bersama kamu.” Jeff menepuk-nepuk punggung Riki.
Riki kebingungan dengan perkataan mertuanya, baru tadi Jeff memaksanya untuk meninggalkan Cicil. Tapi, sekarang Jeff mengatakan yang sebaliknya. Ini kenapa?
“Maksudnya apa ini, Pih?” tanya Riki bingung.
“Papih tadi mencoba untuk menguji kamu, Papih takut kamu ninggalin Cicil. Papih, takut kamu nggak bisa nerima Cicil kalau Cicil hamil anak Albert. Peluang itu ada, Riki. Cicil belum datang bulan sama sekali, berkali-kali Cicil menelepon Rea, mengatakan semua kekhawatirannya.”
Riki terdiam mendengar perkataan mertuanya, selama ini, Cicil sama sekali tidak pernah mengatakan hal itu pada dirinya. Beberapa kali, Riki mendapati Cicil menangis setelah menelepon, akan tetapi setiap ditanya istrinya kenapa, Cicil menolak untuk mengatakannya. Cicil hanya bilang, dia kangen Mamih. Ternyata ini yang selalu mereka bicarakan.
“Pih...”
Jeff menatap Riki, “Iya?”
“Kalau nanti Cicil hamil, siapapun ayah biologisnya. Dia anak saya, saya tidak akan meninggalkan Cicil. Itu hal yang tidak akan bisa didebat oleh siapapun, Pih.” Saking menahan emosinya, intonasi suara Riki bergetar.
Jeff menutup kedua matanya, kemudian memeluk Riki. Mulai detik ini, Jeff tidak akan pernah lagi memandang Riki sebelah mata. Tidak akan pernah.
•••
Adakah lelaki seperti Riki Trina di dunia ini?
jawabannya ADA, tapi langka ☺️.
Jangan lupa tombol likenya di sambit, point, koint dan vote disebar biar apa?
Biar Happy 🤣🤣🤣.
__ADS_1
Kalau mau, bisa di shared cerita Mr and Mrs Trina ini di akun sosial media kalian dan jangan lupa tag Kaka Gallon yah 😘😘😘.
XOXO GALLON