
"Awas minggir, mau liat," ujar Rozak sambil mendorong bahu Kakaknya. Rozak penasaran, apakah matanya rusak atau otaknya salah. Dia benar-benar kage dengan apa yang ada didepannya.
"Ih... Aa juga mau liat ini," ujar Riki sambil mendorong Adiknya dengan keras. "minggir dikit."
"Aa, aku juga mau liat," Roza bersikukuh untuk mendapatkan lahan agar melihat pemandangan didepannya.
Pemandangan dihadapannya adalah pemandangan seorang Edy dan Laura yang sangat mengetarkan jiwa. Mereka sedang....
+++
"Lele..." panggil Laura saat masuk kedalam restoran.
Edy yang sedang asik memotong salada, sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari salada. Rasanya Salada saat ini lebih menarik daripada Laura.
"Le..." panggil Laura lagi dengan suara lebih keras. Didekatkan badannya kearah Edy, berusaha mendapatkan perhatian Edy.
Dulu untuk mendapatkan perhatian Edy, bukan suatu hal yang sulit. Tapi, saat ini untuk mendapatkan perhatiannya, membutuhkan tenaga extra.
"Apa?" Edy menjawab tanpa mengalihkan pndangannya dari salada-salada didepannya. Tangan Edy tampak lincah memotong-motong salada didepannya, dengan ukuran yang sama persis.
"Lele nggak ikut ke Citeko?" tanya Laura, tangannya memindah-mindahkan salada dari meja kedalam baskom besar.
"Nggak, buat apa?"Edy benar-benar tidak memberikan perhatian pada Laura barang sedetikpun. Matanya benar-benar berfokus pada salada-salada segar dan sexy didepannya.
Laura menggaruk kepalanya dengan kesal. Laura benar-benar harus memutar otaknya, untuk mendapatkan perhatian dari seorang Edy Edrosh. Lelaki yang tiba-tiba datang kedalam kehidupannya. Berjuang untuk mendapatkan perhatiannya, namun ditolak oleh Laura, dengan kata-kata yang lumayan membuat sakit hati. Ah ... sangat sakit hati lebih tepatnya.
"Le ... kamu beneran nggak mau ke Citeko?"
"Nggak Laura, mobilnya nggak muat," jawab Edy asal.
"Naik mobil aku aja," pinta Laura sambil menyentuh lengan Edy, tiba-tiba.
Edy yang sedang memotong salada kaget saat tangan Laura mendarat manis di punggung tangannya. Tanpa sengaja Edy langsung mengiris telujuk tangan kirinya.
"Aw ... aw ..." teriak Edy sambil mencari serbet untuk menutupi luka ditangan kanannya.
Laura yang ikut kebingungan mencari serbet, langsung mengambil jari telunjuk Edy dan memasukkannya kedalam mulutnya, mengemutnya.
Napas Edy langsung terhenti saat merasakan sensasi aneh di jari tangan kanannya. Rasanya basah, hangat dan empuk. Melihat Laura yang mengemut jari telunjuk Edy, pikiran Edy langsung berjalan-jalan ke kanan dan kekiri. Jiwa kelelakiannya meronta-ronta minta dibebaskan.
Laura yang tidak sadar dengan apa yang detik ini dirasakan oleh Edy, menyapukan lidahnya kebagian ujung jari telunjuk tangan kiri Edy.
"Lau...ra..." pekik Edy sambil menarik jari telunjuknya dari mulut Laura dan berlari kearah wastafel, tempat biasanya Edy mencuci tangannya.
Air langsung mengalir dengan deras dari kran, jari telunjuk Edy yang sudah tidak berdarah lagi, saat ini sudah berada dibawah guyuran air. Rasa dingin air seperti menyadarkan Edy dari pikiran mesumnya.
"Lele, kok bisa keiris sih?" tanya Laura sambil mendekati Edy.
"Gara-gara kamu," jawab Edy cepat.
"Kok, gara-gara aku? Emang aku salah apa?" Laura tidak terima disalahkan oleh Edy. Salah apa dia sebenarnya, seenaknya aja siluman lele ini menyalahkan dirinya, atas tindakannya yang aneh.
"Salah kamu megang-megang tangan aku, salah itu tuh," protes Edy sambil mengambil serbet disamping kanannya dan melap tangannya. Diperhatikannya jari telunjuknya, sepertinya hanya teriris biasa, dikasih handsaplas juga sembuh.
__ADS_1
"Lah, kok salah aku, kamu tuh yang salah," ujar Laura sambil menunjuk Edy gemas.
"Kok, aku. Kamu." Edy tidak terima disalahkan oleh Laura.
"Kamu."
"Kamu."
"Kamu." Laura benar-benar tidak mau kalah.
Edy menghela napasnya keras, saking kesalnya. "Ya, udah. Ini semua salah pemerintah dan elite global."
"Ih kok jadi salahin pemerintah dan elite global? Nggak nyambung, Lele," ujar Laura sambil mengerucutkan bibirnya.
"Abis mau nyalahin kamu, kamunya nggak mau. Ya udah aku nyalahin elite global dan pemerintahan aja, biar cepet. Abis perkara," ujar Edy sambil berjalan mendekati Laura.
Laura diam saat melihat Edy berjalan mendekatinya, tiba-tiba saja Edy terlihat lebih tampan dari biasanya. Senyuman Edy membuat dirinya terhanyut, Laura langsung melangkahkan kakiknya kebelakang dan menubruk kitchen set.
Edy mendekatkan wajahnya kearah Laura. Laura menahan napasnya saat wajah Edy makin dekat dengan dirinya. Entah kenapa Laura malah mengerucutkan bibirnya dan memejamkan matanya, berharap Edy mencium atau mengecup bibirnya seperti yang Edy lakukan beberapa waktu yang lalu.
Laura menunggu sambil terus berharap Edy mencium atau mengecup bibirnya. Tapi, setelah lama Laura sama sekali tidak merasakan apapun. Yang ada hanya suara plastik di buka.
"Kenapa Laura? Bibir kamu nggak papa?" tanya Edy sambil berjalan kearah meja. Edy kemudian membuka kotak p3knya dan membawa kapas dan betadine, untuk mengobati lukanya.
Wajah Laura otomatis berubah merah saat mengetahui, Edy hanya mempermainkannya. Bibir Laura yang sudah terlanjur di monyongkan, otomatis kembali kebentuk asalnya. Rasa kesal dan malu langsung bercampur didada Laura. Laura langsung salah tingkah.
"Kamu kenapa? nyari apa di lantai?" tanya Edy lagi yang penasaran melihat tingkah laku Laura yang super ajaib hari ini. Mirip seperti ikan lele minta kawin, kalau diliat-liat.
"Nyari keributan," ujar Laura tiba-tiba sambil berjalan mendekat kearah Edy.
Laura merasa kesal dengan sikap Edy pada dirinya, langsung berjalan mendekati Edy dan berdiri dengan sempurna dihadapan Edy.
Edy langsung mendongkakkan kepalanya melihat wajah Laura yang menyimpan kekesalan. "Kenapa kamu Laura?"
"Edy, emang kamu bisa seenaknya aja mainin hati aku?" ujar Laura tiba-tiba.
"Mainin gimana? Saya mah nggak suka mainin hati anak orang, saya lebih suka main volly dibelakang komplek sambil makan mie ayam gerobak jam delapan malem," ujar Edy santai.
"Kamu tuh, mainin hati aku Edy Edrosh," Laura mengepalkan kedua tangannya kesal.
"Mending aku maenin lampu otomatis deh, yang tiap aku ngomong tiba-tiba mati. Atau yang tiap aku tutup pintu mati tiba-tiba, dari pada mainin hati kamu," jawaban Edy makin absurd.
"Mainin bedak sekalian, Edy. Make upan," ucap Laura geram sambil menarik kerah baju Edy, menarik wajah Edy mendekati dirinya.
"Laura... apa-apaan i..."
Edy sama sekali tidak mampu berkata apapun lagi, bibirnya dibungkam dengan sempurnanya oleh Laura. Bibir Laura yang tipis dan mungil mencium bibir Edy.
Dengan cepat Laura melepaskan ciumannya, sambil menatap Edy, Laura berkata, "Kamu sangka bisa gitu aja pergi setelah nyium bibir aku kemarin? Nggak mau tanggung jawab, hah?"
Edy kaget diserang secara tiba-tiba oleh Laura, "Laura kamu...."
"Kamu nyebelin, udah nyium aku, terus bilang nggak mau berjuang lagi. Kalau nggak mau berjuang lagi buat dapetin hati aku tuh, nggak usah pake acara cium-cium," bentak Laura kesal sambil mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Bentar, gimana maksudnya ini teh?" Edy masih berusaha mencerna apa yang sebeneranya terjadi. Kenapa, tiba-tiba Laura yang sudah jelas-jelas menolaknya beberapa waktu yang lalu, malah menciumnya.
"Maksudnya, aku tuh suka sama kamu Edy. Kamu emang nggak kaya dan kalau ganteng, aduh jangan ditanyalah. Ngeliat muka kamu aja kadang aku harus banyak-banyak nyebut...."
"Kamu sebenernya mau muji atau mau ngejek sih, Laura?" tanya Edy yang keki mendengar perkataan Laura.
"Kamu tuh kaya jailangkung tau," ujar Laura lagi
"Jailangkung ? gimana ini teh, katanya aku kaya lele sekarang kaya jelangkung. Emang aku teh ancur banget yah, Laura?" tanya Edy bingung.
"Tapi ada bedanya, antara kamu sama jeilangkung," ujar Laura.
"Bedanya apa?" Edy benar-benar masih dalam mode kaget dengan perkataan Laura tentang dirinya. Dan yang paling membuat Edy kaget adalah perkatan Laura yang mengatakan kalau Laura menyukai dirinya.
"Kalau jailangkung datang tak diundang pulang tak diantar. Kalau kamu, datang tak diundang pulang nggak mau, diem aja terus dihati aku. Aku semenjak nggak kamu sms dan teleponin lagi kaya hampa tau, kaya nggak ada artinya hidup. Lebay sih, tapi kenyataannya gitu, lele," isak Laura.
"Bentar jadi ini teh gimana? Jadinya kamu teh suka sama aku?"
"Astaga Lele, kurang jelaskah penjelasan diriku ini?" Laura menatap Edy dengan kesal.
"Jadi kamu suka sama aku? Aku teh apa kamu?" pancing Edy lagi. Kalau cuman suka tanpa status Edy malas, detik ini Edy sedang cari jodoh, bukan cari hubungan tanpa status tidak jelas.
"Kamu itu pacar aku Edy edrosh...!?" pekik Laura kesal, sudahlah Laura sama sekali tidak mau lagi menjaga imagenya didepan Edy. Sudah basah, mending mandi sekalian biar bersih.
"Jadi aku pacar kamu?" tanya Edy dengan senyum yang merekah diwajahnya.
"Iya, Edy kamu pacar aku. Aku mau jadi pacar kamu," ujar Laura sambil menatap bagian bawah kakinya yang menggunkan sepatu berwarna pink.
Laura tiba-tiba merasakan pelukkan di badannya, Wangi kayu manis langsung menguar dari tubuh Edy, memberikan sensasi hangat dan manis pada diri Laura.
"Laura..." panggil Edy sambil mengangkat dagu Laura, "mulai sekarang Edy deklarasikan hari ini sebagai hari cinta kita berpadu, oh cintaku."
Laura hanya bisa tersenyum mendengarkan kalimat norak dari mulut Edy, Pasrah adalah kunci untuk menjadi kekasih seorang Edy Edrosh. "Apa Lele...."
"Biarkan Edy mengajarkan cara berciuman yang sesungguhnya," Edy mendekatkan bibirnya kearah bibir Laura, Laura hanya bisa memejamkan matanya agar tidak perlu melihat janggut Edy yang masih membuat Laura geli.
Saat bibir mereka akan bertemu Edy dan Laura dikagetkan dengan suara Cicil dari sebelah kanan mereka.
"Kalian itu lagi ngapain, sih Aa, Rozak?" tanya Cicil sambil berkacak pinggang dan menatap Riki dan Rozak yang sedang berjongkok diantara pohon-pohon plastik yang rimbun.
"Itu... itu..." jawab Rozak bingung.
"Abis liat deklarasi cinta antara Lele dan Laura, disingkat jadi LeLa," kekeh Riki sambil berdiri dan memeluk Cicil.
Edy yang mendengar perkataan Riki hanya bisa mengacungkan jempol tangan kanannya kearah Riki, Rozak dan Cicil.
+++
Panjang yah...
Edy emang beda pokoknya...
eh... tadi aku baca dikomen ada nama julukan buat Riki dan Cicil jadi RiCi, lucu juga. Makasih mbak Rhiae atas sarannya, suka....
__ADS_1
Jangan lupa itu tombol like di klik, jagan dianggurin bae kasian hahahaa