Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Makan yang banyak


__ADS_3

Tangan Cicil menepuk kasur disampingnya, kosong. Kesadaran Cicil langsung terkumpul penuh saat menyadari suaminya tidak ada disampingnya.


“Aa... Aa...” Cicil langsung bangkit dari tidurnya dan berteriak keras mencari suaminya. Dengan cepat disambarnya kimono miliknya untuk menutupi tubuhnya yang polos.


“Aa...” Cicil langsung berdiri dari duduknya, berjalan ke arah dapur. Kosong, kemana suaminya ini, diliriknya jam di dinding, jam setengah tujuh.


“Aa, kamu dimana sih? Aa...” teriak Cicil sambil berjalan kearah kamar mandi. Dengan kesal dibukanya kamar mandi.


Brak...


“Aa...” teriak Cicil keras.


“Aaapaaa...!?” teriak Riki kaget.


Riki yang sedang mandi otomatis membalikkan tubuhnya untuk melihat Cicil. “Apa Neng, kamu kenapa?”


Cicil langsung menghela napasnya, badannya langsung merosot di tempat. Terduduk.


“Kenapa, Neng?” tanya Riki sambil mematikan air dipancuran dan mengambil handuk untuk menutupi bagian bawahnya.


“Kamu kenapa?” tanga Riki lagi sambil mendekati Cicil yang sedang tertunduk.


“Aku sangka Aa ilang,” ucap Cicil sambi mengangkat kepalanya menatap suaminya. Cicil langsung memeluk badan suaminya yang masih basah.


“Hilang kemana, mau kemana Aa. Ini Aa mandi, kalau mau kemana-mana Aa pasti bilang ‘kan,” ucap Riki sambil mengusap rambut belakang Cicil.


“Iya, aduh kok jadi manja gini, yah. Maaf yah.” Cicil meminta maaf pada Riki sambil melepaskan pelukkannya.


Riki hanya tersenyum dan mengelus kepala Cicil pelan, “Nggak papa, manjanya ke Aa. Kalau ke si Edy manjanya, celaka.”


“Kenapa celaka?” tanya Cicil bingung.


“Bisa-bisa kamu disuruh siaran youtube saban hari, bukannya kerja di perusahaan Papih,” kekeh Riki sambil mencium kening Cicil.


“High up” ucap Cicil sambil mengangkat kedua tangannya.


“Hahahaa... iya,” Riki mencium kening Cicil, “mandi kamu, kamu janji kerja lagi ditempat Papih ‘kan?”


“Males, Aa,” ucap Cicil sambil mengelendot di bahu Riki.


“Hadeuh, kok males. Nanti, Papih ngambek.”


“Kamu aja yang ngurus, Aa. Biar aku dirumah bisa guling-guling, nongkrong sama Laura atau Tutty,” ucap Cicil.


“Neng, Aa nggak bisa ngurusin perusahaan. Ngurus resto aja kalau nggak dibantu Edy, kembang kempis Aa ngurusnya,” tolak Riki sesopan mungkin, padahal Riki tidak mau mengurusi perusahaan Cicil. Harga dirinya ada di restoran ini.


“Ih, nolak mulu.” Cicil mencubit pipi Riki gemas. “Ya udah, aku mandi deh.”


“Mandilah, nanti aku anter kamu ke perusahaan, pulangnya aku jemput.”


“Beneran?” Mata Cicil berbinar.

__ADS_1


“Iya, Aa anter jemput tiap hari, suami siaga pokoknya,” ucap Riki sambil menjawil pipi Cicil.


“Tapi, bentar. Ini kemana pipinya ilang?” tanya Riki sambil mencubit-cubit pipi Cicil.


Cicil langsung menyentuh pipinya, tidak mungkin dia bilang bobot tubuhnya turun lima kilo semenjak peristiwa biadap itu. “Pipinya diambil kucing.”


“Kucing apaan?”tanya Riki sambil membuka kimono Cicil, Riki dengan seksama melihat tubuh polos istrinya. Ternyata, benar bobot tubuh Cicil turun. “Makanlah Neng, nanti siang mau dibawain apa?”


“Bawain?”


“Iya, nanti pas makan siang, Aa kirim makanan buat kamu.” Riki berkata sambil menutup kembali kimono Cicil, kalau kelamaan bisa menghambat pekerjaan yang ada.


“Beneran?” tanya Cicil, seumur hidup belum pernah ada yang mengirimkan makanan saat dirinya makan siang. Kalau diajak makan kerumah makan sudah sering. “Makanannya dimasukin ke kotak bekal?”


Riki menatap istrinya itu, terkadang dia bingung dengan kehidupan istrinya dulu. Hal-hal receh saja bisa membuat Cicil bersemangat. “Iya, Aa masukin ke kotak bekel tupperwa•e, jangan ilang mahal itu kotak bekalnya.”


“Siap, tapi beneran dimasukin kotak bekal kan?” tanya Cicil yang langsung dijawab anggukkan oleh Riki.


“Yes...”


•••


“Bu, nanti jam 12 siang Ibu ada makan siang dengan Pak...”


“Cancel, aku mau makan disini aja.” Cicil berkata sambil menandatangani berkas-berkas yang sudah menggunung dihadapannya.


“Cancel?” tanya Tisa bingung. “Ibu mau makan apa?”


Tok...tok...”


Pintu ruangan Cicil diketuk pelan, Tisa dengan cepat berjalan ke arah pintu. “Iya?”


“Ini Bu, ada kiriman untuk Bu Cicil, katanya dari suaminya.” ucap Cleaning servise itu. Bungkusan itu langsung diberikan pada Tisa.


“Oh, iya. Makasih, Pak,” ucap Tisa.


“Apa, Tis?” tanya Cicil penasaran.


“Ini Bu, ada kiriman dari Pak Riki,” ucap Tisa.


Senyum Cicil langsung merekah diwajahnya, “Sini.”


Tisa langsjng memberikan bungkusan berukuran sedang itu pada Cicil. Cicil dengan cepat membuka bungkusannya. Dikeluarkannya tiga kotak bekal dari bungkusan itu.


“Apaan itu, Bu?” tanya Tisa penasaran.


“Butuh banget kamu tahu hidup saya?” tanya Cicil judes.


Tisa langsung mundur dua langkah, judesnya Bu Cicil memang tidak bisa ditawar lagi. “Maaf, Bu. Saya undur diri.”


“Iya, jangan lupa berkas lainnya kasih ke saya dan mulai besok saya mau jadwal pasti jam berapa saya pulang. Saya juga nggak mau diganggu pas makan siang. Ngerti kamu, Tis.” Cicil berkata sambil mengambil sebuah kartu ucapan yang diselipkan disalah satu kotam bekalnya.

__ADS_1


“Ngerti, Bu. Saya permisi dulu.” Tisa memilih undur diri secepatnya dari pada di jutekin Cicil. Andai ada Pak Riki disana, Cicil pasti jinak kaya burung merpati, kalau sekarang judesnya ngelebihin emak-emak arisan yang namanya salah kocokan.


Cicil tidak mempedulikan Tisa, tangannya sibuk membuka kartu ditangannya.


-Siang kesayangannya Aa, makan yang banyak. Biar pipinya nggak ilang dibawa kucing lagi. Itu makanan Aa yang masak bukan Edy.-


^^^Riki Trina^^^


Cicil rasanya ingin berjumpalitan saat membaca kata-kata yang dibuah Riki. Dengan cepat Cicil membuka kotak bekalnya, wangi makannya benar-benar menggugah seleranya. Dengan cepat Cicil memakan makanan dari Riki.


Saat Cicil menyuapkan sendokkan terakhir pintu ruangannya terbuka.


“Cicil, maka....”


“Laura?” ucap Cicil kaget saat melihat Laura dihadapannya.


“Ah, kamu udah makan. Makan apaan?” tanya Laura sambil berjalan mendekati Cicil dan melihat kotak bekal dihadapannya.


“Makan dari Aa, enak tau,”’ucap Cicil sambil menutup ketiga kotak bekal dihadapannya.


“Itu kamu makan semuanya?” tanya Laura kaget. “Seinget gue, berat badan lo turun lima kilo kemaren. Sekarang lo bisa makan sebanyak itu,” ucap Laura sambil menunjuk tiga kotak bekal di depannya.


“Tau, emang berat badan gue turun banyak banget kemaren-kemaren. Tapi, udah tiga hari ini makan gue banyak banget. Udah kaya kuli, tapi berat badan gue nggak naek-naek.”


“Lo ngomong gitu didepan emak-emak yang lagi menurunkan berat badannya, bisa di sambit lo.”ucap Laura.


“Ya maaf, badan gue mah gini-gini aja,” ucap Cicil sambil memasukkan kotak bekal makan siangnya kedalam bungkusannya. Saat melakukannya, Cicil melihat coklat batang di dasar bungkusan.


Cicil dengan santainya membuka dan memakan coklat tersebut dengan lahapnya. Laura hanya bisa membulatkan matanya melihat Cicil menghabiskan coklat utuh berbentuk segitiga.


“Gue tau loe orang Belgia, tapi nggak makan coklat utuh juga, Cil.”


“Kata Aa, gue kekurusan. Gue harus makan yang banyak dan gue juga ngerasa laper mulu bawaannya.” Cicil berkata sambil melap jari-jarinya dengan tissue basah.


“Mau makan lagi nggak? Gue mau beli spage...”


“Mau, gue mau makan penne, ayo...” Cicil langsung berdiri dan mengambil tas miliknya.


“Lo baru makan Cil,” ucap Laura.


“Gue masih laper, yuk.”


“Lo nggak hamil kan?” tanya Laura saat Cicil melewati dirinya.


Langkah kaki Cicil terhenti, dia langsung mengingat siklus datang bulannya yang tidak lagi datang. Kepala Cicil tiba-tiba pusing saat mendengar perkataan Laura.


“Gue nggak tau.”


••••


XOXO GALLON.

__ADS_1


__ADS_2