
Didepan Cicil dan Riki terdapat satu amplop yang tergeletak di atas kasur. Riki dan Cicil sama-sama tidak mau membuka amplop tersebut. Ada rasa takut yang menelusup ke dada mereka.
“Neng, buka,” pinta Riki sambil mendorong pelan amplop di kasur.
Cicil menatap Riki, “Nggak mau, kamu aja yang buka.”
Cicil hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Nggak mau, Aa aja yang buka. Aku takut.”
“Yakin?”
“Yakin, udah Aa aja yang buka. Neng takut.”
“Ya, udah Aa yang buka,” ucap Riki sambil merobek bagian atas amplop. Cicil melihat kertas yang dikeluarkan dari dalam amplop sambil menggigit bagian bawah bibirnya.
“Aa...” Cicil menghentikan Riki untuk membaca hasil test DNA. Tangannya langsung menggenggam tangan Riki dengan erat, tubuhnya bergetar saking takutnya.
“Neng.”
“Gimana kalau anak Albert?” isak Cicil sambil menatap Riki. “kalau ini anak Albert, kamu kuat ngurus dia?”
“Maksudnya?” Riki bingung dengan perkataan Cicil.
“Maksudnya... hm... maksudnya.” Cicil kebingungan dengan apa yang akan dia katanya.
Ada rasa takut Riki akan meninggalkannya bila Cicil mengatakan keinginannya. Dilain pihak, detik ini rasa keibuan Cicil sudah mengambil alih. Dia ingin memiliki bayi dikandungannya. Mendengar Bayinya berjuang untuk hidup tadi membuat Cicil berpikir kembali untuk mengugurkan kandungannya.
“Hai, kenapa?” tanya Riki sambil mengusap pipi Cicil pelan. “Mau ngomong apa?”
“Kalau ini anak Albert—“
“Iya, kalau ini anak Albert kenapa, Sayang?” tanya Riki sambil mengusap perut Cicil yang mulai sedikit membesar.
“Kalau ini anak Albert, boleh aku memilikinya?” tanya Cicil sambil menahan tangan Riki di perutnya, mengusapnya pelan. “Please.”
Riki menghela napasnya pelan sambil menundukkan kepalanya.
“Kamu, kamu nggak usah biayain dia. Kamu bahkan nggak usah naro nama kamu diakta kelahiran. Bahkan... bahkan...” Cicil terisak saat akan menuntaskan kalimatnya, ada rasa tidak tega untuk menyelesaikan kalimatnya. Terlalu sakit.
“Neng.”
“Bahkan, kamu nggak usah peduliin dia. Anggap dia nggak ada juga nggak papa. Biar dia pake nama keluarga aku, nggak papa. Aku, aku cuman mau rawat dia. Kamu, kamu nggak perlu mikirin dia sama sekali. Biar aku yang urus,” isak Cicil sambil menyentuh dadanya pelan.
“Aa, nggak usah tau apa-apa. Aa diem aja, Aa nggak mau liat dia juga nggak papa. Biar, aku bawa ke tempat Mamih. Aku bakal bolak balik ketempat Mamih, Aa nggak usah tau dia, Aa...”
Riki langsung memeluk tubuh Cicil yang sudah bergetar hebat karena menahan tangisnya sendiri. Terlalu egois permintaan ini, yang paling disakiti dihubungan ini bukan Cicil. Tapi, Riki.
“Aa nggak usah anggap anak ini ada. Nanti aku bakal kasih anak buat Aa, anak Aa. Darah daging Aa. Tapi, Neng mohon dengan sangat. Ijinkan Neng ngurus anak ini, kalau anak ini anak Albert, Please,” pinta Cicil.
“Neng.”
“Aa nggak usah peduliin anak ini, Nanti aku titip Mamih. Boleh yah,” pinta Cicil lagi sambil menyelipkan wajahnya ke ceruk leher Riki.
__ADS_1
“Neng...”
“Please.” Cicil melepaskan pelukkan Riki, kedua tangannya langsung menyatu didepan dada Cicil. Rambut Cicil sudah tidak beraturan menutupi wajahnya.
Riki merapihkan rambut Cicil dengan pelan, manik matanya fokus menatap manik mata coklat milik Cicil. “Cantik yah, istri Aa.”
“Aa...”
“Kamu cantik, Neng,” ucap Riki sambil mengusap-ngusap pipi Cicil.
“Aa, aku lagi serius.”
“Aa juga serius, istri Aa cantik. Cantik wajahnya,” Riki mengusap pipi Cicil. “Cantik hatinya,” Riki kemudian mengusap dada Cicil dengan tangannya pelan.
“Aa, Neng....”
“Istri Aa cantik banget, Aa yakin anak ini juga cantik kaya Mamihnya, kalau dia perempuan dan kalau dia laki-laki baik kaya Babanya,” ucap Riki sambil menunjuk hidungnya.
“Aa...”
“Nggak usah kamu bawa anak ini ke rumah Mamih kamu, kita rawat bareng-bareng yah. Mau anak siapapun dia, kita rawat dia bareng-bareng.” Riki berkata sambil mengecup kening Cicil.
“Aa, makasih,” isak Cicil sambil memeluk Riki erat. “Makasih banyak, Aa.”
“Iya, udah jangan nangis, kesayangan. Jangan nangis yah, Sayangnya Aa.”
Cicil kemudian mengambil amplop didepannya, entah kenapa Cicil langsung berbalik dan mengatur posisinya sedemikian rupa hingga menyandar didada Riki. Riki akhirnya memeluk Cicil dari belakang, mengusap-usap pelan perut Cicil.
“Aa, siap?” tanya Cicil sambil membuang amplop kelantai.
“Dede, Mamih sama Baba cuman mau tau aja yah, kamu jangan ngambek. Siapapun Ayah biologis kamu, Baba yang bakal kamu peluk setiap saat,” ucap Riki sambil terus mengelus perut Cicil pelan.
“Iya Baba,” jawab Cicil dengan suara anak kecil yang dibuat-buat.
“Hadeuh, kalau Dedenya bentuknya kaya gini serem aku, Neng.”
“Kenapa?”
“Seremlah, langsung gede,” kekeh Riki sambil menahan tawanya.
“Jayus, ih.”
“Hahaha, nggak papa jayus yang penting kamu suka.”
“Iya, sialnya aku cinta mati sama Baba Riki ini, Baba Riki kesayangan,” ucap Cicil sambil mengecup pipi Riki pelan.
“Neng, Ini bayi didalam kandungan kamu sehatkan?” tanya Riki tiba-tiba.
Cicil yang sedang membuka kertas hasil DNA, langsung menghentikan gerakkannya. “Kenapa emangnya?”
“Iya, ini kok nggak gerak-gerak. Taca tuh, anaknya empat bulan. Wah, muter anaknya.”
__ADS_1
“Hahaha... mirip kaya Taca, lincah.”
“Iya. Tapi, kenapa Dede nggak gerak yah?”
“Nggak tau, kalau kata Dokter Rindu, nanti dia bakal gerak kalau udah ada yang bikin dia gerak.”
“Hah, maksudnya?”
“Yah, harus ada pemicunya, kaya ciuman dari Babanya...”
Riki diam, salama Cicil hamil Riki tidak pernah mencium perut Cicil. Entah, mungkin Riki masih merasa bingung dengan perasaannya. “Oh...”
“Aa, Neng boleh baca ini?” tanya Cicil sambil menunjukkan kertasnya pada Riki.
“Iya, baca aja. Yang keras,” pinta Riki.
“Oke,” Cicil mulai membaca.
“Hasil analisa menunjukkan bahwa tigabelas alel loci marka STR terduga ayah cocok dengan alel paternal dari anak yang ada didalam kandungan Saudari Cicil Trina. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas terduga ayah sebagai ayah sebagai ayah biologis dari anak adalah >99,99% oleh karena itu terduga Ayah tidak dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologi anak.”
“Siapa?” tanya Riki sambil mengusap pelan perut Cicil. “Itu punya siapa, itu hasil siapa?” tanya Riki penasaran.
Cicil melihat lebih jelas lagi, tidak ada tulisan apapun dikertanya. “Nggak ada nama siapa-siapa.”
“Hah, kok bisa?” tanya Riki kesal bukan main, rasanya dia ingin menelepon pihak rumah sakit dan memaki-makinya.
“Nggak tau, coba Aa periksa,” ucap Cicil sambil menyerahkan suratnya dan mengambil amplop dibawah kasur. “Mungkin di amplopnya.”
“Aaa...” Cicil oleng, badannya hampir jatuh mencium lantai kamar mereka yang dinginnya bukan main. Dengan sigap Riki menangkap Cicil.
“Neng ati-ati,”’ucap Riki.
“Iya, maaf.” Cicil mengambil amplopnya. Cicil membalik amplop tersebut dan membaca tulisannya.
“Siapa?” tanya Riki penasaran.
Cicil menahan air matanya, tangisannya pecah saat membaca sederet tulisan nama di amplop tersebut. Badannya bergetar hebat, “Ini...”
Perasaan Riki langsung tidak enak, segala pikiran negatif langsung menghantui Riki. Apakah ini anak Albert!?
“Aa, ini anak.”
“Siapa, Neng. Jangan bikin Aa penasaran,” ucap Riki sambil membulatkan matanya.
“Aduh...”
•••
Anak aduh tuh anak siapa?
Siapa coba, anak siapa hahaha...
__ADS_1
Senapsaran yah? Sok atuh digoyang tombol likenya, disebar bunga dan kopinya dan jangan lupa Vote nya. Love you reader ❤️.
XOXO GALLON