
Cicil mengerjapkan matanya, setelah melahirkan rasa ngantuk mendera dirinya. Akhirnya dia tertidur lelap setelah melahirkan, bayi keju langsung diurus oleh Riki.
Riki dengan telaten mengurus bayi keju, keahliannya mengurus bayi didapatkannya dulu saat Riki mengurus Taca dan Tasya saat mereka bayi. Sehingga Riki cekatan mengurus apapun yang berhubungan dengan bayi baru lahir.
“Hei.”
Cicil tersenyum saat melihat wajah Riki yang sedang menatapnya sambil tersenyum manis. Mereka sedang tertidur berdua di ranjang rumah sakit yang lumayan besar, sehingga mereka bisa tertidur berduaan.
“Hai, bayinya kemana?” tanya Cicil sambil mengedarkan pandangannya ke berbagai arah mencari bayi lelakinya.
“Shut ....” Riki menutup mulut Cicil dengan jari telunjuknya. “Bayinya bobo di sana.” Riki menunjuk box bayi yang ada tak jauh dari kasur.
“Eh bobo, asi-nya?” tanya Cicil.
“Lah kan tadi kamu disedot pake pompa asi, nggak sadar?” tanya Riki.
Cicil hanya bisa menggeleng, mana sadar dia dipompa menggunakan pompa asi. Yang ada dia tergeletak tak kuasa menahan kantuk tadi, mempasrahkan segalanya pada dokter dan suster yang sedang mengurusi segalanya.
“Aku nggak sadar kalau yang nyedotnya alat pompa asi. Aku sadarnya kalau yang nyedotnya kamu Aa,” kekeh Cicil sambil menjawil hidung Riki.
“Astaga, itu mah beda lagi atuh. Kalau kamu pas aku sedot kalau kamu tidur aku yang puyeng,” canda Riki.
“Mana pernah aku tidur, aku selalu sema ... aw ....”
“Kenapa? Mana yang sakit kamu kenapa?” tanya Riki was-was.
“Sakit itu aku,” ucap Cicil sambil menyentuh bagian pribadinya.
“Kata dokter emang masih ngilu, sabar yah. Nanti Aa yang bersihin yah.” Riki berkata sambil mengusap rambut belakang Cicil. “Kalau ada apa-apa bilang jangan dipendem Aa nggak mau kamu kenapa-kenapa.”
“Iya, aku bakal selalu bilang kok. Nggak mungkin nggak, aku udah tua renta kan yang ngurusnya kamu.”
“Eh ... terus kalau aku tua siapa yang ngurusnya?” tanya Riki pada Cicil.
“Akulah, kita saling urus yah. Jangan nyusahin anak, anak nanti punya keluarga sendiri. Kita yah harus bisa urus diri kita sendiri, kasian kalau dia ngurus kita juga, Aa.”
“Iya, kaya Abah nggak mau kita-kita urus. Maunya diem aja di Citeko. Padahal Taca, Aa sama Rozak udah bilang mending tinggal di Jakarta. Eh ... malah bilang hidup ma mati dia di Citeko. Kalau meninggal mau di makamin di sebelah Ambu. Katanya biar bisa dadah-dadah sama Ambu,” teranh Riki sambil mengusap-usap punggung Cicil.
Cicil tersenyum mendengar informasi dari Riki, mertuanya itu memang absurd tapi, kalau urusan kesetiaan nomer satu. Nggak pernah dia main-main, walau kadang suka genit sama perempuan tapi, cintanya hanya untuk ambu seorang.
“Nanti, kalau aku mati duluan kamu bakal kaya Abah?” tanya Cicil sambil menatap Riki manja.
Riki langsung membalas tatapan mata Cicil, menguncinya. “Gimana yah, hmm ... tergantung sih.”
“Tergantung gimana?” tanya Cicil cepat, hatinya panas membayangkan ada orang lain yang akan menggantikan posisinya.
“Yah, tergantung kalau ada yang kaya kamu sih mau. Cuman masalahnya ....”
“Apa? Apa masalahnya?”
“Yang kaya kamu tuh nggak ada. Cuman satu, buktinya dulu pas aku ninggalin kamu, aku nggak pacaran sama siapapun. Kerena, yah ... yang kaya kamu itu cuman ada satu, nggak bisa diganti,” ucap Riki sambil mengecup kening Cicil pelan.
“Bagus ... aku mau doa biar kamu nggak nemu yang kaya aku. Kalau pun menemukannya, aku doa moga perempuan itu dipanggil yang maha kuasa juga—“
“Ya ... ampun Neng, doa kamu jelek ih ....”
“Biarin, biar nggak ada yang deket-deket suami aku atau aku gentayangin aja, aku bangkit dari kubur,” kekeh Cicil.
“Lah, jangan dong. Nanti ini hidup aku berubah nggak jadi romantis lagi. Malah berubah jadi misteri ntarnya.”
“Biarin, biar kamu temenan ama Ki Brondong,” kekeh Cicil menyebutkan dukun sakti milik Edy.
“Amit-amit nggak mau lagi aku ketemu dia, nggak lagi deh. Makasih.”
“Hahaha ... eh, kapan dokter kandungan aku dateng?” tanya Cicil bersemangat.
“Kenapa? Mau nanya apa?” tanya Riki, Riki sedikit was-was bila melihat betapa semangatnya Cicil menanyakan di mana dokter kandungannya berada.
Cicil tersenyum malu-malu meong sambil menekan-nekan dada Riki beberapa kali. “Ah ... Aa masa nggak ngerti sih.”
“Apa? Kamu mau nanya apa? Tadi, Aa udah tanya semuanya.”
“Aa tanya semuanya?” tanya Cicil antusias.
“Iya. Sok kamu mau nanya apa? Aa bisa jawabnya,” ucap Riki.
“Hmm ... aku harus puasa empat puluh hari yah?” tanya Cicil sambil menundukkan kepalanya dan tersenyum malu-malu meong.
“Eh ... ngapain kamu puasa empat puluh hari? Ngalahin bulan puasa aja, keluarga kamu punya kepercayaan udah lahiran harus puasa empat puluh hari?” tanya Riki bingung, tradisi mana di dunia ini yang menyebutkan orang baru lahiran harus puasa empat puluh hari?
__ADS_1
Dengan cepat Cicil menengadahkan kepalanya ke atas, kemudian menatap Riki dengan gemas. Argh ... suaminya ini tidak mengerti maksudnya ternyata. “Aa ... bukan puasa menahan lapar dan haus.”
“Puasa apa atuh? Kan Aa taunya puasa itu doang, ai kamu puasa apaan?” tanya Riki sambil menjentikkan jarinya di kening Cicil.
“Aw ... sakit Aa, kamu melakukan kekerasan pada istri,” canda Cicil.
“Ngaco mana ada kaya gitu doang kekerasan pada istri. Kalau Aa mukulin kamu baru iya,” protes Riki.
“Emang Aa tega mukulin aku?”
“Nah, itu masalahnya Aa nggak tega nyakitin Ibu dari anak-anak Aa, istri Aa yang nyebelinnya kelewatan. Yang manjanya udah nyaingin anak TK minta ice cream.”
“Eh ... dasar hidung prosotan TK,” ejek Cicil kesal sambil menepuk bahu Riki kesal.
“Hai, kamu nggak bisa hina gitu lagi sekarang, Neng.”
“Kenapa?” tantang Cicil.
“Karena mulai detik ini kalau kamu ngomong perosotan TK kamu bakal di murkai dua orang. Aku sama dia noh yang lagi tidur,” kekeh Riki sambil menunjuk bayinya yang sedang tertidur dengan nyaman.
“Astaga aku lupa, bayi keju juga hidungnya kaya perosotan TK.” Cicil menepuk dahinya pelan, dia melupakan kehadiran Bayi keju miliknya.
“Nah, kan jadi nggak bisa kamu hina-hina Aa lagi bilang hidung Aa kaya perosotan TK.”
“Argh ... geram ah.” Cicil mengembikkan mulutnya kesal.
“Hahaha ... udah jangan cemberut gitu jelek tau, masa Ibu-Ibu cemberut?” goda Riki sambil menciumi pipi Cicil yang gembil.
“Eh ... Ibu-ibu juga manusia, wajar kalau ngambek. Wajar kalau ibu-ibu kesal, apalagi kalau uang belanja kurang—“
“Emang kapan uang belanja kamu kurang hah?” tanya Riki gemas, seingatnya semua uang yang dimiliki Riki pasti diberikan kepada Cicil, Riki tidak pernah memegang uang sama sekali. Cicil yang mengurus semua keuangan miliknya.
“Nah itu masalahnya uang belanja aku nggak pernah kurang. Tapi, dalam waktu empat puluh hari ini aku harus puasa dan aku kesel setengah mati.” Cicil memukul bahu Riki gemas.
“Astaga Neng, yang punya tradisi puasa setelah melahirkan tuh siapa? Ngapain kamu harus puasa?”
“Aa, maksudnya puasa di sini itu tidak melakukan hubungan suami istri selama empat puluh hari!?” seru Cicil sambil membulatkan matanya geram.
“Lah?”
“Bukan ... Lah, ini masalah penting. Kemarin dua minggu gara-gara si Ahyar gila itu kita nggak bisa ketemu sama sekali, Cicil tuh pusing. Kepala Cicil tuh kaya yang mau meledak gitu nggak dibelai Aa.”
“Terus?” Riki berjuang untuk menahan tawanya, sekarang dia sadar apa yang diinginkan Cicil. Sesuatu yang seharusnya pihak lelaki lah yang uring-uringan sedangkan pada kasusnya istrinya yang pusing.
“Lah, kan demi kebaikkan kamu juga. Aku bisa apa, itu tuh buat kamu istirahat. Biar organ-organ kamu sehat, demi kebaikkan kamu juga.” Riki benar-benar berusaha menutupi senyumannya melihat beta kesanya istrinya itu.
“Iya tapi, aku nggak bisa. Aku mana bisa menahan segala-galanya kalau kamu wara wiri di depan aku. Astaga ... aku mau nanya dokter, aku mau minta diskon.” Cicil berkata sambil menyilangkan tangannya di dadanya dan mengubah posisi tidurnya menghadap ke atas langit-langit kamar.
“Gimana cara minta diskon? Woi ... ngaco kamu, kamu sangka beli barang di pasar, pake minta diskon segala?” canda Riki sambil mengusap-usap pucuk rambut Cicil pelan.
Argh ... mana bisa dia menahan hawa nafsunya sendiri kalau begini. Cicil itu paling susah menahan hawa nafsunya, entahlah itu sebuah anugrah atau suatu kutukan bagi Cicil. Cicil memang sangat suka melakukan hubungan suami istri menurutnya itu sangat menarik dan menyenangkan. Sinting memang tapi, itu kenyataannya ditambah detik ini dia sangat-sangat menyukai melakukannya dengan Riki. Riki bukan yang pertama tapi dia yang terakhir dan terbaik bagi Cicil. Hypersex, begitu psikolognya mengidentifikasikannya.
“Pokoknya aku mau minta diskon, kalau bisa sebulan. Eh ... nggak tiga minggu, eh ... jangan-jangan dua minggu aja,” ucap Cicil sambil menjentikkan jarinya dan menatap Riki dengan kerlingan nakal miliknya.
“Terserah, Neng. Gimana kamu aja, atur ajalah Aa mah siap aja,” kekeh Riki sambil mengusap keningnya. Tidak pernah dia membayangkan akan menikah dengan wanita seliar Cicil. Entah berkah atau kutukan.
“Pokoknya aku mau tanya dokternya, moga bisa didiskon yah, ya kali nggak bisa didiskon. Abis nanti enak dikamu nggak enak diaku,” ucap Cicil sambil menunjuk hidung Riki.
“Sebentar gimana ceritanya jadi enak diaku nggak enak dikamu. Kan, aku juga sama-sama puasa? Kenapa jadi enak diaku?” tanya Riki, Riki benar-benar harus berjuang untuk memahami semua pikiran mesum istrinya itu.
Oke ... Riki tidak munafik dirinya juga mesum. Tapi, nggak semesum istrinya ini yang kadang memberikan ide-ide atraktif dalam melakukan hubungan badan. Entahlah dapat referensi dari mana istrinya itu.
“Iya lah, aku bisa muasin kamu pake tangan.” Cicil menggerakkan kedua tangannya keatas. “dan mulut aku.” Cicil kemudian menunjuk bibirnya.
“Gimana!?” seru Riki kaget, kepikiranlah hal seperti itu oleh Cicil. Riki berusaha untuk menahan tawanya dengan keras, padahal perutnya sudah bergetar karena menahan tawa.
“Yah kan, aku bisa muasin kamu pake bibir sama tangan aku ah atau pake—“
“Apa lagi?” tanya Riki, otaknya bisa pecah memikirkan ide sinting istrinya ini.
“Dada aku,” jawab Cicil sambil menunjuk dadanya dengan tatapan matanya.
“Mamah tolong,” kekeh Riki sambil menutup kedua belah matanya dengan jari jemarinya, mengusap air mata yang sudah keluar karena tertawa terbahak-bahak.
“Eh ... beneran ini atau pake—“
“Tuhan ... banyak ide kamu, Neng. Dapet referesi dari mana kamu tuh? Idenya luar biasa, kamu ada cita-cita jadi penulis novel adult romance dua puluh satu plus?” Riki akhirnya tidak bisa lagi menahan tawanya. Tawanya meledak keras, untungnya bayi mereka tertidur dengan pulas tidak terganggu dengan obrolan absurd orangtuanya.
“Ih denger dulu, bisa pake kaki juga tau. Aku pernah baca di majalah gitu.”
__ADS_1
“Udah ... udah tolong stop ... kembalilah kejalan yang benar dan lurus sayangku, cintaku, kasihku. Sumpah Aa ini bukannya terangsang malah ngakak.”
“Lah, kok ngakak?”
“Masalahnya, yang biasanya ribut masalah kaya gini itu harusnya suaminya bukan istrinya. Istrinya tuh bisanya santai-santai aja, malah katanya capek ngurus anak mending tidur daripada ngurus suaminya,” terang Riki sambil kembali mengubah posisi tidurnya.
“Jadi yang harusnya minta diskon, mikirin apapun yang tadi kamu bilang itu. Harusnya Aa bukan kamu dan kamu emang nggak capek abis urus anak terus minta jatah ke Aa?” tanya Riki.
“Emang siapa di dunia ini yang menolak ngelakuin hubungan badan dengan dalih capek, Aa?” tanya Cicil polos, orang sinting mana yang menolak untuk mendapatkan kenikmatan duniawi.
“Orang normal, Neng. Semua orang di dunia ini bakal nolak hubungan badan dengan alasan capek,” terang Riki sambil tertawa disela-sela katanya.
“Ih ... aku tuh nggak pernah nolak loh,” ucap Cicil.
“Kamu mah nggak akan nolak Neng, yang ada nagih. Bahkan, terkadang ada unsur pemaksaan, untung Aa sabar kalau nggak Aa bisa lapor polisi.”
“Lah kok lapor polisi, emang salah Neng apaan?” tanya Cicil bingung, kenapa tiba-tiba dirinya dilaporkan ke polisi. Atas dasar apa coba?
“Salah kamu memperkosa suami, Neng,” canda Riki sambil mengecup bibir Cicil pelan.
“Halah, memperkosa gimana caranya, lah kamunya aja demen,” balas Cicil sambil tertawa renyah.
“Nah itu masalahnya, Aa nya juga suka jadi nggak bisa Aa lapor ke polisi tuh. Susah.”
“Ya udah kalau gitu, nggak ada yang salah. Sama-sama enak ‘kan, kamu enak aku enak. Bukannya yang dipaksa itu lebih enak yah?” tanya Cicil polos.
“Dahlah susah ngomong sama kamu tuh. Apalagi masalah kaya gini, Aa nyerah. Kamu tanyalah besok ke dokter kandungan, minta dispensasi atau diskon sama dia, moga bisa yah,” kekeh Riki yang sudah pasrah dengan tingkat mesum Cicil yang sudah diatas rata-rata.
“Oke sip, besok aku mau tanya dokternya dan besok juga aku bakal minta Mamih bawa baby sitter buat bantu aku ngurus bayi keju,” jawab Cicil sambil tersenyum.
“Terserah kamulah, aku ngikut aja.” Riki berkata sambil memeluk Cicil dengan sangat hati-hati takut bila menyakiti Cicil.
“Oe ... oe ... oe ....”
Terdengar bayi keju menangis, terbangun karena suara berisik kedua orang tuanya.
“Nah kan, bangun itu keju,” kata Riki sambil bangkit dari tidurnya dan berjalan kearah bayi keju.
“Kenapa dia?” tanya Cicil.
“Kayanya mau nen, kamu udah bisa nyusuin dia?” tanya Riki.
“Nggak tau tapi, sini cobain aja. Kita ‘kan dulu parnah ikut kursusnya kan,” Cicil mengingatkan Riki.
“Nih.” Riki menyerahkan bayi keju kepelukkan Cicil.
Dengan cepat Cicil membuka branya dan menyodorkan dadanya kearah bayi keju. Entah sudah insting bayi keju langsung menempel di dada Cicil dan menyedot asi Cicil.
“Ih pinternya kamu, Nak. Nggak kaya bapak kamu,” ucap Cicil.
“Lah, kenapa jadi aku? Salah aku apa?” tanya Riki bingung.
Cicil menatap Riki sambil tersenyum menyebalkan, “Kamu tuh susah banget diminta nyentuh aku. Nunggu nikah baru lincah.”
“Lah yah, kalau udah nikah udah halal, Neng. Aku juga ngelakuinnya nggak was-was.”
“Oh jadi suka?” pancing Cicil.
“Lah, iya suka. Candu malah.”
“Bagus, kalau gitu nanti udah ini kamu yang lakuin yah,” canda Cicil.
“Astaga ... Neng!?” kekeh Riki.
“Apa, mau kan?” goda Cicil sambil menunjuk Riki. “Tapi, jangan ah. Aku masih sakit, kamu napsu bener kalau minta jatah sekarang. Bener nggak, De?”
Riki hanya bisa tertawa dan memukul-mukul dahinya dengan telapak tangan kanannya. Kenapa jadi dirinya yang nafsu, astaga ... istrinya ini benar-benar minta dipeluk.
“Terserah Neng, terserah.”
••••
Dor .... maaf malem banget yah updatenya. Tapi, anggep aja ini dua bab yah. Karena ini 2200 kata, sama lah kaya dua bab. Wkkwkw ....
Bab ini adalah bab tidak berfaedah obrolan ngaco Cicil si mesum dan Riki si sabar. Eh ... jangan dibawa perasaan yah, nggak mungkin lah orang melahirkan main kuda-kudaan, suatu hal yang mustahil. Ini cuman pikiran Cicil aja yang kadang suka nyerong wkwkkwk....
Eh ... hari senin nih, yuk kasih vote, bunga dan kopinya buat Gallon.
AH .... sama maaf aku tuh telat gara-gara arisan panci dan nyebelinnya aku kalah kocokkan 🤣🤣🤣.
__ADS_1
Dahlah, met bobo semuanya, jangan lupa Vote, bunga dan kopinya untuk diriku. Kalau nggak aku bakal ikut arisan mixer biar telat update lagi 🤣
XOXO GALLON