
“Richie,” teriak Riki kewalahan mengejar anak pertamanya itu, Richie yang berlari meninggalkan Babanya ia berlari dengan cepat dan berusaha bersembunyi di balik tubuh Mamihnya.
“Richie, kamu kenapa tiba-tiba sembunyi di belakang Mamih?” tanya Cicil bingung mengapa anak pertamanya itu bersembunyi di belakang tubuhnya.
“Baba marah sama Richie, Mih,” bisik Richie sambil bersembunyi di belakang tubuh Mamihnya.
“Kamu nakal apa?” tanya Cicil sambil menarik badan Richie agar keluar dan menghadapi Babanya. “Kamu ngapain?”
“Aku lupa nggak beresin spidol aku sama aku tadi nangisin Raline,” ucap Richie takut-takut.
“Kamu apain Raline? Itu adik kamu loh,” ucap Cicil kesal karena Richie selalu saja menangisi adiknya yang baru berumur dua tahun. “Kamu udah enam tahun loh.”
“Abis Raline gitu, aku lagi gambar dia datang acak-acak. Richie nggak suka,” ungkap Richie yang tidak suka bila dirinya di ganggu oleh Raline adiknya. “Richie nggak suka jadi Richie dorong.”
“Nggak didorong juga adiknya Sayang, kamu nggak boleh gitu. Pantes Baba marah, Mamih aja kesel ngedengernya.”
“Abis Raline nggak manis, Nggak kaya Kalila, cantik matanya biru rambutnya pirang sama kaya Mamih.” Richie langsung membayangkan sepupunya yang cantik bernama Kalila.
“Richie tapi, Raline adik kamu. Kamu harus jaga dia, nggak bisa kamu marah-marah sama dia, nggak suka Mamih,” ucap Cicil sambil mengusap rambut Richie pelan.
“Atau harusnya Raline tuh manis kaya Kaka Liz,” terang Richie.
“Aduh sayang nggak boleh gitu, mending kamu minta maaf sama Raline,” pinta Cicil.
“Nggak mau,” jawab Richie keras kepala.
“Oke … paling kamu dimarah Baba, Baba,” panggil Cicil mencari suaminya.
“Jangan Mih, Jangan. Aku nggak Mih, aku minta maaf sama Raline aja,” isak Richie yang sangat takut dengan Riki.
“Ya udah sana, cari Raline,” ucap Cicil menyuruh Richie mencari adiknya.
Dengan patuh Richie pergi meninggalkan Cicil dengan kaki gontai, kesal rasanya harus meminta maaf pada adiknya itu. Padahal kan, yang gangguin duluan Raline bukan dia. Nyebelin.
Cicil hanya bisa menghela napas melihat anak pertamanya itu meninggalkan ruang tamu berjalan ke kamar adiknya.
“Neng, mana Richie?” tanya Riki saat masuk ke ruang tamu dan mencari anak pertamanya itu.
“Sini duduk,” pinta Cicil pada Riki.
“Mana anak itu? Dia udah bikin Raline nangis, minta aku sambit pake koran,” ucap Riki sambil meremas korannya.
“Udah kaya titisan Abah kamu, A. Udah sini duduk,” pinta Cicil smanil menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
Riki menuruti keinginan istrinya, sesaat dia duduk Cicil langsung melompat ke pahanya dan mencium bibir suaminya itu pelan, Cicil menyusupkan lidahnya dan menjelajah setiap inci mulut Riki. Pinggul Cicil menggesek bagian pribadi Riki seperti menggoda Riki untuk mengoyak bagian pribadinya.
“Neng nanti ada anak-anak,” ucap Riki disela-sela kecupan Cicil yang memabukkan. Sesekali terdengar erangan dari mulut Riki yang menahan deburan kenikmatan dari gesekkan yang dibuat oleh Cicil.
Bibir Cicil turun menuruni leher Riki mengecupinya dan membuka kemeja Riki dengan paksa. Sesekali Riki merasakan gigitan yang membuat Hasrat Riki meledak. Istrinya ini benar-benar selalu meminta transfusi darah putih kapan saja dan di mana saja.
“Neng nanti anak-anak ….” Riki tidak melanjutkan perkataannya saat merasakan jemari Cicil yang menggelitik bagian pribadinya, mengodanya tanpa ampun.
“Aku mau,” rengek Cicil sambil menatap mata Riki memohon untuk Riki agar menyatukan tubuh mereka.
“Neng, nanti kalau Richie sama Ralin—“
Cicil membungkam bibir Riki dengan mengaitkan kembali bibir mereka berdua, Cicil dengan cepat menarik bagian pribadi Riki dan ….
“Neng,” bisik Riki tertahan saat merasakan tubuh mereka sudah bersatu. ******* Cicil langsung terdengar saat Cicil menggerakkan badannya naik dan turun memberikan kenikmatan bagi Riki dan Cicil.
__ADS_1
Deburan kenikmatan langsung terasa menghantam pasangan tersebut, Cicil menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Riki mengecupi leher suaminya tersebut sambil sesekali mendesah.
Sedangkan tangan Riki sibuk mengusap dan menarik pucuk dada Cicil mencengkeram sesuka hatinya. Mereka terus bergerak sesuai ritme yang Cicil ciptakan memberikan kenikmatan yang mampu menggetarkan sekujur tubuh mereka hinga mereka berdua sama-sama merasakan pelepasannya.
Riki mengecup bibir Cicil pelan sambil mengigit bagian bawah bibir Cicil, “Kamu bener-bener yah, kalau Richie atau Raline ke sini gimana?”
“Nggak kan cepet ini juga,” ucap Cicil sambil melirik jam di dinding kamarnya. Benarkan hanya sepuluh menit. “Sepuluh menit aja kan?”
“Iya, abis aku nggak ngapa-ngapain kamu langsung masukin gitu aja, Aa padahal ingin ngelakuin yang lain.” Riki mengecup pucuk dada Cicil geram.
“Nanti malem yah, udah anak-anak tidur,”’ucap Cicil sambil membenahi pakaiannya. Dan beranjak dari paha Riki.
“Mandi sana,” ucap Riki sambil mengecup pipi Cicil dan membenahi pakaiannya sendiri.
“Iya mau, eh ….”
“Apa lagi? Jangan bilang minta mandi bareng,” ucap Riki yang sudah hapal keinginan istrinya itu.
“Kok tau? Yuk … mandi berdua yuk,” pinta Cicil sambil menarik-narik tangan Riki.
“Nggak … udah ah, tadi udah cape Aa,” tolak Riki saat Cicil menarik-narik tangannya. Menikah dengan Cicil selama tujuh tahun benar-benar membuat dirinya banyak-banyak mengkonsumsi vitamin D dan susu oesteoporosis. Lututunya benar-benar sudah noroktok (bergetar).
“Ayo … sebentar aja, yah … yah ayo dong,” pinta Cicil sambil berusaha menarik Riki. “Aku yang gerak kaya tadi ayo.”
Riki hanya bisa menghela napasnya, sepertinya nasibnya seperti ini mendapati Istri yang liar luar biasa. “Iya ayo tapi, kamu belum KB loh bulan ini.”
Seketika itu juga Cicil melepaskan tangan Riki dan menatap suaminya kesal bukan main. Apa yang dikatakan Riki benar, Cicil lupa untuk ke dokter kandungan dan melakukan KB suntik terjadwalnya.
“Ayo,” tantang Riki sambil mendorong badan Cicil ke arah kamar mandi.
“Nggak mau aku mandi sendiri aja,” tolak Cicil sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangan Riki. Demi apa pun Cicil belum mau hamil lagi.
“Nggak usah Aa, kasian anak-anak nggak ada yang liatin,” ucap Cicil sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangan Riki di bahunya.
“Jangan gitu, Aa lagi pengen mandiin kamu,” goda Riki sambil mengecupi leher Cicil setelah mereka berada di kamar mandi.
“Aa mending aku mandi sendiri, hari ini aku ada janji.” Cicil berjuang menolak Riki, sejujurnya dirinya ingin membalas sentuhan dan kecupan Riki bahkan dirinya ingin berjongkok dan mengecupi bagian pribadi suaminya. Tapi, sialnya dia lupa KB.
“Aku mau Neng,” goda Riki lagi sambil mengelus setiap jengkal tubuh Cicil yang bisa Riki elus.
“Tadi udah,” tolak Cicil.
“Mau lagi,” goda Riki.
“Tadi ….”
Klik ….
“Mamih, Lichie ukul!?” jerit Raline keras.
Riki langsung melepaskan Cicil dan menatap anak keduanya itu memeluk istrinya. “Kenapa Nak?”
“Ba Lichie ukul,” isak Raline sambil menggerak-gerakkan boneka sapinya.
“Bohong, Raline duluan ganggu aku lagi makan.” Richie berlari dan memeluk Mamihnya meminta perlindungan.
“Astaga … kalian ini bisa nggak sih akur sehari aja, bisa nggak?” tanya Riki yang pusing melihat kelakuan anak-anaknya ini.
“Udah … kalian ini kenapa sih? Udah yuk kita main lego di sana.” Cicil menuntun tangan Richie dan menggendong Raline ke arah arena permainan.
__ADS_1
Riki menatap istrinya itu, setelah menikah selama tiga tahun akhirnya Riki bisa membeli rumah yang layak untuk keluarganya. Usahanya makin maju, restorannya makin memiliki banyak cabang. Keuangannya mengalir lancar.
Tapi, yang terpenting dari itu semua, Riki bahagia menikahi wanita yang ditinggalkannya berkali-kali. Wanita yang dengan tegar dan sabar menunggunya, bahkan sedikit memaksanya untuk dinikahi.
Riki mendekat dan memeluk Cicil dari belakang sambil mengecup pipi istrinya itu. Wangi permen langsung menggelitik hidung Riki, wangi tubuh istrinya.
“Baba, peluk-peluk,” kekeh Richie sambil menunjuk Riki.
“Iya, Baba lagi ingin peluk Mamih kamu. Abis Mamih kamu cantik.” Riki berkata sambil menopangkan dagunya di bahu Cicil.
“Aya lin,” ucap Raline sambil berpose jenaka.
“Iya kaya Raline,” ucap Riki.
“Baba juga ganteng kan,” ucap Cicil sambil mencium pipi suaminya itu.
“Ganteng,” ucap Richie dan Raline sambil memainkan legonya membentuk seperti bangunan.
“Neng,” bisik Riki sambil mengigit kuping Cicil membuat seluruh tubuh istrinya itu meremang.
“Ya.” Cicil mengelus rambut Riki pelan dan mengecup dahi suami kesayangannya itu.
“I am happy with you Cicil Trina.”
•••
Finally, bab yang lebih baik untuk tamatnya suatu novel hahaha
Dari kemaren kesel ama tamatnya novel Mr. and Mrs. Trina ini kurang nampol gitu. Karena emang dibuatnya juga dengan keadaan sesak napas karena Covid iya … gallon saat bab akhir nulis itu dalam keadaan pakai alat bantu napas. Iya … pake tabung oksigen. Hehehe ….
Terima kasih untuk yang sudah mendoakan kesehatan aku, itu bener-bener bikin Gallon semangat terus yah.
Maaf tidak ada GA atau Giveaway di buku Mr. and Mrs. Trina dan Gallon juga tidak pernah menjanjikannya sama sekali. Karena, Gallon sedang mempersiapkan hal lainnya. Hehehe ….
Oke tak berlangsung lama Gallon cuman ingin mengumumkan adanya novel Gallon yang baru. Silahkan di baca Judulnya.
Pst … di sana kalian akan ketemu sama Richie Joatar Trina.
Kalian bisa langsung cari dengan kata kunci Janda Semakin di Depan ❤️
See you.
Xoxo Gallon yang Hobi Kellon
__ADS_1