Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Lututku Dulu Tak Begini.


__ADS_3

Riki menatap Cicil yang sedang asik bertelepon ria, entah dengan siapa. Sudah hampir satu jam, Cicil menelepon. Rasa penasaran Riki menggebu-gebu dengan apa yang sedang istrinya obrolkan.


Riki yang penasaran mulai berjalan dan duduk di belakang Cicil. Tangannya dengan cepat menelusup di perut Cicil yang sudah mulai membuncit di usia kehamilan yang ke tujuh.


“Kamu nelepon siapa?” tanya Riki sambil menelusupkan wajahnya diantara ceruk leher Cicil yang mulus, menggelitiknya dengan ujung hidungnya.


“Bentar, gimana tadi?” tanya Cicil pada peneleponnya. “Iya, terus. Nggak bisa Tisa, kalau kamu bilang gitu ke pemegan saham. Kita kalah, kita ini bukan maskapai swasta bukan negara. Mau kamu perusahaan diboikot?”


Cicil berusaha menjauh dari Riki, kepalanya tidak bisa fokus bila ada suaminya di sekitarnya. Pikiriannya bisa berloncatan ke fantasi erotis yang bisa memanaskan suasana hari itu, yang sudah panas.


“Neng, ih ....” Riki duduk dengan kesal karena tidak digubris oleh Cicil. Ternyata, tidak digubris itu sakit yah, baru sekarang Riki merasakannya. Bisanya Cicil yang selalu Riki tolak.


Cicil berbalik sambil tersenyum dan mengangkat tangannya, memberi tanda tunggu pada suaminya yang sudah mengerucutkan bibirnya. Kucing besarnya tiba-tiba ingin bermanja-manja saat saham perusahaannya sedang turun karena kesalahan Tisa.


“Nggak bisa Tisa, kamu udah salah. Ini fatal, udah handle semuanya hari ini. Besok aku kesana, aku cuman nggak masuk tiga hari aja kamu udah bikin ulah. Minta tolong Rully buat urus semuanya. Inget Tisa kalau kamu salah langkah lagi, saya nggak segan-segan pecat kamu.” Cicil berkata sambil mengambil gelas di rak.


Dengan cepat Cicil mencari susu rasa pisang dari dalam kulkas. Entah kenapa semenjak hamil Cicil suka sesuatu berwana kuning. Yah, seperti susu rasa pisang ini.


Riki menatap Geulis yang sedang asik tertidur di tempt tidur khusus miliknya. “Kayanya enak jadi kamu, Geulis. Mau makan tinggal makan, mau tidur tinggal tidur. Aku jadi kucing aja apa yah?”


“Nggak bisa Tisa.” Terdengar teriakkan Cicil yang kesal dengan argumen-argumen tak berbobot dari Tisa. “Astaga, diam kamu di kantor. Saya ke sana sekarang. Kamu ini kok bisa salah kasih file!?”


Cicil mematikan teleponnya dan menegak minumannya sampai habis. Sepertinya liburannya terganggu karena kepintaran Tisa yang salah memberikan file membuat kontrak dibatalkan dan saham perusahaannya jatuh dua puluh point di BEI (Bursa Efek Indonesia). Cicil geram bukan kepalang dengan kelakuan sekertarisnya ini.


“Aa, aku mau ke kantor dulu, aku mau urus sesuatu. Tisa benar-benar bikin perkara,” ucap Cicil sambil melepaskan satu persatu pakaiannya di hadapan Riki yang masih duduk di sofa.


Riki hanya bisa menatap kemolekkan tubub istrinya dengan perut membuncit. Namun, masih terlihat sexy dan menggoda. “Emang ada apa?”


“Tisa bikin ulah,” ucap Cicil sambil memasukkan semua bajunya ke dalam keranjang cuci baju dan mulai mengenakan baju untuk ke kantor. “Astaga kenapa bajunya nggak muat,” pekik Cicil kesal.


Riki langsung mengulum senyumnya, pemandangan Cicil yang marah-marah saat mengenakan baju apapun miliknya sudah menjadi makanan sehari-hari Riki. Riki bisa mendengarkan Cicil ngoceh tentang baju yang kesempitan selama satu jam nonstop.


“Ini juga nggak muat, astaga bulan lalu ini masih muat. Aku ke kantor pake baju apa!?” pekik Cicil kesal sambil melempar blouse berwarna baby blue ke sembarang tempat.


“Aa aku nggak punya baju,” isak Cicil pada Riki.


Riki hanya bisa mengurut dadanya, rasanya Riki ingin beteriak. Nggak punya baju gimana? Lemari pakaian hampir semuanya baju Cicil, bagian baju miliknya hanya dua tingkat dan bagian cicil semuanya sampai gantungan-gantungan laci, lemari samping dan gantungan kanan dan kiri.


“Kenapa, Neng?” tanya Riki pura-pura tidak paham dengan situasi yang ada.

__ADS_1


“Aku nggak punya baju, ini gimana aku ke kantor?” rengek Cicil sambil menatap Riki.


“Neng, itu semuanya baju. Itu teh baju, semuanya baju. Kamu sangka itu semua.” Riki menunjuk deretan dan tumpukkan baju-baju Cicil yang beraneka warna dan ragam. “Bukan baju?”


Cicil langsung mengembikkan bibirnya, “hua ... kamu nakal, aku tuh butuh baju. Itu nggak muat semuanya.”


“Semuanya? Kamu udah coba semuanya?” tanga Riki penasaran dengan kata semuanya.


“Udah,” dusta Cicil sambil menatap manik mata Riki. Riki langsung membalasnya dengan menaikkan salah satu alisnya. Pandangan mata Riki seolah berkata kamu nggak pinter bohong istriku.


“Bener?” tanya Riki sambil berjongkok di hadapan Cicil dan menarik rambut Cicil.


“Oke, nggak semuanya. Tapi, aku butuh baju buat ke kantor.” Cicil mengalah, memang dia belum mencoba semua bajunya itu dan memilah mana baju yang masih bisa di pakai dan yang tidak.


“Pake karung beras giman—“


“Ngaco kamu, sekalian aja pake bikini. Pasti muat karena cuman atas sama bawah doang,” potong Cicil.


“Hahaha, udah pake ini aja.” Riki mengambil acak blouse berwarna hijau toscha di lemari pakaian Cicil. “Sama ini.”


Cicil langsung menerima blouse dan celana kain dari Riki. “Oke, kalau nggak muat fix aku nggak punya baju.”


“Mau kemana?”


“Mau dianterin nggak? Ngeri Aa liat kamu perut udah buncit nyupir mobil.”


Mata Cicil langsung berbinar, dengan cepat Cicil mengenakan pakaiannya dan mengambil pakaian casual untuk baju gantinya. “Ayo.”


Riki kaget saat Cicil sudah mengenakan pakaiannya dengan cepat. “Cepet amat?”


“Iya, aku happy mau pergi sama kamu. Ayo, cepet kita ke kantor. Selesaiin semuanya, terus....”


“Terus apa?” tanya Riki penasaran.


Cicil hanya tertawa dan tersenyum penuh dengan tatapan mencurigakan bagi Riki.


“Mau apa, Neng?” tanya Riki.


“Apa coba?” tanya Cicil sambil menarik kerah kemeja yang Riki jadikan luaran bajunya.

__ADS_1


“Neng, Aa ngerasa nggak enak lutut ini.” Riki berkata jujur, semenjak mendengar percakapan Cicil bersama Nama dan Laura, jantung Riki betalu-talu. Ngidam apa lagi istrinya ini, jangan bilang Cicil ingin melakukan transfusi darah putih di atas helikopter.


“Nggak enak lutut gimana? Bentar.” Cicil berkata sambil berjalan ke arah dapur. Dengan cepat Cicil mengambil satu kotak susu khusus untuk oesteoporosis dan berjalan kembali ke arah Riki.


“Ini.”


“Apaan?” tanya Riki bingung saat menerima susu.


“Minum biar nggak oesteoporosis,” kekeh Cicil sambil lalu.


“Astaga, woi istri kurang ajar, yang bikin lutut Aa gini yah kamu.” Riki berkata sambil mengejar Cicil yang sudah berjalan di lorong.


“Masa,” teriak Cicil sambil berbalik dan tersenyum pada Riki.


“Kamu yang bikin lutut Aa bergetar. Hei, sini kamu istri,” teriak Riki sambil menangkap Cicil.


“Hahaha ... kalau Aa keberatan lutut Aa Cicil bikin goyang. Yah, bilang aja biar Cicil nggak bikin lutut Aa goyang lagi.”


“Terus kamu mau ngegoyang lutut siapa?” tanya Riki.


“Yah, car—“


“Aku bunuh laki-lakinya. Udahlah, mending Aa aja yang kamu siksa sampai lutut Aa goyah.”


“Iya, emang mau aku siksa Aa. Karena aku ngidam sesuatu yang bakal banyak menggunakan kerja lutut,” ucap Cicil sambil mengedipkan sebelah matanya pada Riki.


“Iya, apa?” tanya Riki penasaran, mungkin saatnya dia meminum susu oesteoporosis ini.


Cicil tersenyum sambil membisikkan sesuatu ke telinga Riki dan saat mendengar permintaan dari istrinya. Riki hanya bisa terpekik kaget.


“Apa!?”


••••


Apa coba? Hahaha


Terima kasih yang sudah memberikan votenya dan pointnya. Jangan lupa likenya dipencet pake hidung dan tinggalkan komen kalian biar uwow hahaha


Xoxo gallon.

__ADS_1


__ADS_2