Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Oh Burung


__ADS_3

“Tolong suster,” jerit Laura sesampainya di meja UGD.


“Hah ... ada apa? Ada yang tabrakkan?” tanya Suster kaget karena ada seoranh wanita berlari kearahnya dengan ketakutan.


“Bukan, ini kejadian lebih parah lagi,” ucap Laura sambil menengok ke kanan dan ke kiri, mencek situasi. Sialnya saat itu rumah sakit sedang penuh.


“Kenapa ada apa? Ada yang kena serangan jantung?”


“Bukan.”


“Kenapa? Kakek atau neneknya jatoh di kamar mandi?” tanya Suster tersebut mencari skenario terburuk yang sering terjadi di Rumah sakit.


“Bukan lebih parah dari itu!?” Laura berkata dengan wajah yang ketakutan.


“Apa?” Pikiran Suster sudah mulai melayang ke kondisi terburuk. “Ada yang ketembak?”


“Bukan ini lebih buruk lagi, Sus.”


Apa lagi, kejadian apa lagi yang lebih buruk dari itu semua. Jangan bilang mau kiamat dan peristiwa gunung meletus, sudah lah kalau itu kejadiannya suster tersebut auto pingsan di tempat.


“Apa?”


“Ini menyangkut masa depan saya dan calon suami saya, juga keturunan kami berdua!?” ucap Laura dengan wajah sangat-sangat serius.


“Iya apa?”tanya Suster tersebut gemas.


Tiba-tiba suster tersebut kaget saat melihat seseorang yang datang, berbadan besar sebesar kulkas dua pintu sedang mendorong kursi roda dengan seorang pria yang duduk dengan kepayahan dan mengaduh.


“Bapaknya kenapa?” tanya Suster tersebut kaget melihat betapa merana dan menderitanya pria yang duduk di kursi roda.


“Nah ... itu yang mau saya bilang, ini keadaan gawatnya,” ucap Laura sambil menunjuk Edy yang duduk di kursi roda tergeletak pasrah.


“Kenapa ini ada apa?” tanya Dokter jaga yang bingung kenapa ada ribut-ribut di UGD.


“Ini Dok, katanya ada keadaan urgent Bapak ini yang melibatkan masa depan mbaknya dan keturunannya.” Suster tersebut menunjuk Edy dan Laura bergantian.


“Kenapa yah?” tanya Dokter tersebut berusaha tenang namun, cukup penasaran dengan apa yang terjadi.


“Ini Dok, ulahgan avakag sah kenaga,” bisik Laura dengan suara sangat-sangat kecil hingga Dokter dan Suster sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Laura.


“Apa nggak kedengaran Mbak.”


“Bahaggaja nahahaj,” ucap Laura lagi.


“Astaga Mbak, bilang apa sih?” tanya Dokter bingung.


“Buakahv kehagjn,” bisik Laura lagi.


“Mbak beneran kita nggak tau Mbak ngomong apa—“


“BURUNG PACAR SAYA KEJEPIT!?” seru Laura keras, saking kerasnya satu ruangan mendengar perkataan Laura.

__ADS_1


“LAH!?”


•••••


“Kunaon deui maneh teh? (Kenapa lagi kamu?)” tanya Rozak saat melihat Edy yang terkulai lemas di ranjang rumah sakit.


“Ke jepit Mang,” jawab Edy sambil mengipasi bagian pribadinya yang sudah terbalut perban.


“Gusti ... Edy kamu mah ada-ada aja, nggak bisa apa hidup kamu tuh lurus-lurus aja. Ludruk bener sumpah dah,” kekeh Rozak sambil duduk di samping Edy yang tampak sangat menyedihkan.


“Abis buru-buru kalau ketahuan Om Sabar celaka Zak. Nyawa melayang,” jawab Edy.


“Abis ngapain emang kamu?” tanya Riki yang juga ada di sana dari tadi.


“Kaya nggak paham aja Aa,” ucap Rozak sambil mengedipkan sebelah matanya pada Edy yang masih meringis pedih namun berusaha tertawa.


“Ngapain?” tanya Riki bingung.


Edy dan Rozak saling tatap seperti berkomunikasi lewat pandangan. Tawa mereka langsung meledak saat paham kalau Riki adalah lelaki terlurus diantara mereka bertiga.


“Kenapa malah ketawa ini, coba tolong jelasin kamu ngapain di pekarangan?” tanya Riki, “kamu nggak lagi pipis di semak-semakkan?”


“Hahaha ... nggaklah ngapain aku pipis di semak-semak.”


“Terus ngapain bisa sampe kaya gini?” tanya Riki masih penasaran.


“Abis bergesekkan lah,” kekeh Rozak dan Edy sambil melakukan tos dengan kedua tangan mereka.


“Alah Mang, inget nggak dulu aku pernah mergokkin kamu sama Cicil. Itu bukannya mau bergesekkan?” Edy mencoba mengingatkan Riki yang dulu pernah dipergoki sedang melakukan gesek menggesek dengan Cicil.


Riki menatap Edy dengan tatapan kesal, “Yang mana? Kapan?”


“Yang waktu di kantor kamu pas belum nikah. Itu aku liat banget tangan Cicil udah di balik celana kamu,” kekeh Edy sambil menunjuk kedua matanya dengan jari telunjuk dan tengahnya.


Riki mengingat hal itu, di mana dirinya hampir melepaskan keperjakaannya, Cicil terlalu liar untuk ditahan. “Itu mah bukan mau gesek emang mau lakuin.”


“Parah woi.” Tawa Rozak dan Edy langsung terdengar sangat keras di ruangan tersebut. “Lebih parah dari kita dong.”


“Emang langsung aja nggak usah digesek lansung aja,” kekeh Rozak saking enaknya tertawa Rozak dan Edy sampai mengeluarkan air matanya.


“Apa enaknya gesek-gesekkan sih?” tanya Riki.


“Wow ... beda yang langsung hajar mah, udahlah kita nyerah,” ucap Rozak.


“Beda sensasinya, Aaa ... w,” teriak Edy sambil berusaha untuk duduk, rasa ngilu langsung menjalar pada dirinya.


“Kalau sensasinya ampe burung kejepit, sumpahnya aku nggak mau, Mang,” kekeh Riki sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak makasih, kalau sampai dibalut gitu nggak deh makasih. Bisa ngamuk Nyonya Cicil liat burung aku dibalut perban.”


“Asem bener, Ki,” ucap Edy sambil meringis.


Klik ....

__ADS_1


Saat itu juga masuk Laura dan Cicil, Cicil hanya menatap Edy sambil menahan tawanya. Mendengar cerita dari Laura membuat Cicil tertawa terbahak-bahal tadi. Sedangkan, Sabar sudah pulang terlebih dulu.


“Udah bisa pulang Le,” ucap Laura sambil mengusap-usap bahu Edy. “Kamu udah bisa berdiri? Masih ngilu?”


“Masih tapi, nggak papa.” Edy tersenyum malu-malu meong pada Laura.


“Dah pulanglah kalian berdua, inget pas pulang jangan mesraan dulu. Sakit tuh,” olok Cicil. “Aduh ... sumpah aneh-aneh aja calon suami kamu ini tuh, nggak jelas beneran. Ada aja penyakitnya.”


“Ih ... kamu tuh yah, itu kan nggak sengaja,” bela Laura sambil menahan tawanya juga. Sebenarnya dia ingin tertawa tapi masih dia tahan karena tidak tega dengan Edy.


“Dahlah pulang-pulang jangan nyusahin dah,” ucap Rozak sambil menepuk bahu Edy. “Aku duluan yah, mau ke tempat komputer dulu. Baek-baek yah dirimu.”


“Oke ... makasih udah nolongin ngaterin ke sini,” ucap Laura pada Rozak.


“Iya sama-sama.”


••••


Setelah berkendara melewati keramaian kota Jakarta, akhirnya Rozak sampai di sebuah bangungan tempat jual beli dan perbaikkan elektronik di Kota Jakarta.


Rozak dengan cepat menuju toko langganannya untuk memperbaikki laptopnya. Saat sedang berbincang dengan pemilik toko Rozak kaget melihat seseorang yang sedang melakukan transaksi di samping toko.


Tampak gadis belia tersebut sedang menjual berbagai macam perlengkapan elektroniknya. Mulai dari handphone, tablet, ipad, iwacht, kamera, lensa, laptop, kamera kecil hingga speaker jbl.


Rozak memperhatikan gadis belia itu dan detik itu juga Rozak tau siapa gadis itu. Dengan cept dia menguping pembicaraan gadis itu.


“Ini mau dijual semuanya?” tanya pemilik toko.


“Iya semuanya, jual cepet aja,” ucap gadis itu.


“Nggak salah? Ini masih bagus semuanya loh, yakin?” tanya pemilik toko itu.


“Iya yakin, saya butuh uang.” Gadis belia itu menyibakkam rambutnya. Membuat Rozak dengan jelas dapat melihat wajahnya.


“Beneran? Saya nggak bisa kasih harga terlalu mahal, kalau mau di jual di e-comerce,” ucap pemilik toko itu lagi.


“Saya butuh uangnya sekarang, jadi saya mau jual semuanya.”


“Buat apa uangnya Ira?”


“Pak Rozak?”


•••••


Mau apa lagi anak kecil ini, buat apa dia jual perlengkapannya?


Hmm .... buat apa yah?


Tunggu besok yah, sama tolong minta doanya untuk burung Edy, kasian masa depannya terancam wkwkw.


Jangan lupa bunga dan kopinya kaka ❤️.

__ADS_1


Xoxo Gallon yang hobi kelon.


__ADS_2