Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Anak siapa


__ADS_3

Nama hilir mudik dihadapan Islah, sesekali Nama menggigiti kuku jempolnya sambil menatap Islah. Tangannya dengan cepat menyibak tirai dihadapannya, jantungnya bertalu-talu.


“Kamu kenapa sih, Nam?” tanya Islah.


Nama menatap Islah dan duduk disampingnya. “Eh... aku takut Kang Rozak nggak jadi kesini.”


Islah hanya bisa tersenyum saat mendengar perkataan Nama. “Kok takut, kan kata kamu dia tanggung jawab.”


“Iya, Bu. Tapi, Aku takut aja dia nggak jadi dateng. Gimana kalau dia dihadang Dion?” tanya Nama sambil menatap Islah.


Islah langsung menepuk paha Nama, “Mana ada, Dion juga nggak tau ada dimana rimbanya. Udah hampir setahun juga dia nggak ada kabar beritanya.”


“Kan, bisa jadi.”


“Jangan mikir yang aneh-aneh. Keluarga Dion udah di ancam Ayah kamu ‘kan?” Islah mencoba menenangkan Nama.


Nama menganggukkan kepalanya, kejadian dirinya dan Dion benar-benar membuat Nama takut. Saking takutnya, Nama sampai meminta bantuan Ayahnya, mengesampingkan cercaan dari Mamih Eva dan kedua anaknya. Ayahnya pun memberikan bantuanh dengan berbagai macam persyaratan yang sebenarnya membuat Nama berat. Tapi, demi terlepas dari Dion Nama mau mengiyakam persyaratan dari Ayahnya.


“Iya, tapi syaratnya berat.”


Islah hanya bisa tersenyum, “Tapi, semuanya udah berlalu ‘kan.”


“Iya, moga nggak ada urusan lagi sama Ayah. Pokoknya setelah Nama nikah, aku nggak mau lagi ketemu Ayah.”


“Nama, dia ayah kamu loh.” Islah mengingatkan.


“Ayah macam apa yang nyuruh anak perempuannya nemenin rekan bisnisnya ke Singapura?” tanya Nama sambil menatap Islah dengan tatapan tajam.


“Nam....”


“Apa, Bu. Kenyataan loh, Ayah nyuruh aku nemenin Pak Endang rekan bisnisnya ke Singapura. Untung Pak Endang baik dan nggak mau ngapa-ngapain aku. Karena, anaknya temen aku di kampus. Kebayang kalau nggak?” tanya Nama pada Islah yang dijawab helaan napas oleh Islah.


Islah pun saat mendengar persyaratannya hanya bisa menghela napas. Kepalanya langsung sakit tapi, Nama benar-benar membutuhkan power ayahnya. Mau tidak mau dia harus menyetujuinya. Pasrah pada semesta akan nasib Nama.


“Nama, udah. Nggak usah dibahas, Ibu bingung.”


“Nggak udah bingung, Bu.” Nama berkata sambil mengelus paha ibunya.


“Tapi.”


“Ibu harusnya bersyukur kita udah lepas dari cengkraman keluarga Suhendar. Udahlah, Nama cuman mau terima kasih aja sama Ayah. Terima kasih sudah membuat Nama lahir di dunia ini. Memberikan Ibu rumah yang layak dan usaha kostan yang bisa menghidupi kita walau pas-pasan.”


“Nama....” Islah mencoba menenanggkan Nama yang mulai emosi.


“Ya terima kasih aja. Tapi, maaf-maaf kalau harus berurusan sama keluarga itu lagi. Nama nggak mau. Baek-baeklah mereka ketangkap KPK baru nyaho.”


“Nama, udah nggak baik ngomong gitu.”


“Iya, tapi kenyataan, Bu. Kalau ketangkep KPK ‘kan lumayan tuh. Biar emas dan perhiasan Mamih Eva dijual semuanya.”


“Nama, udah. Ibu nggak mau kamu jelek-jelekkin mereka. Yang salah Ibu.”


Nama hanya bisa diam saat mendengar Islah berkata demikian. Apa yang dikatakan Islah benar, Islah yang salah. Islah yang masuk kedalam kehidupan keluarga kecil bahagia itu.


“Ibu terlalu naif dulu, Ibu terlalu percaya pada Ayah kamu.” Islah berkata sambil menepuk-nepuk paha Nama.


“Ibu terlalu percaya diri, kalau Ayah kamu akan memilih Ibu. Padahal, semuanya semu.”


“Ayah mana bisa ninggalin Mamih Eva. Lah wong yang kayanya Mamih Eva,” jawab Nama sambil menggigit ibu jarinya.


“Nama, udah yah. Udahlah, Ibu ingin tenang. Yang lalu biarkan berlalu, Ibu udah nggak mau lagi liat kebelakang. Ibu mau liat kedepan.”


“Iya, Bu. Makanya Nama ingin cepet-cepet nikah. Nama, nggak mau berurusan lagi sama kelurga Ayah.”


“Iya, sabar yah. Satu-satu kita selesaikan masalahnya. Besok kita langsung ketempat Ayah—“


“Ngapain?” potong Nama cepat.


“Minta ijin, cuman ijin doang Nam. Mau mereka ijinkan atau tidak yang penting kita udah bilang.” Islah berkata sambil mengelus rambut Nama.


Nama hanya bisa terdiam sambil membenarkan tata letak kaca matanya. “Bu, nanti gimana jelasin kekeluarga Rozak?”


“Nanti kita pikirin, Besok Ibu bakal minta ayah kamu buat ketemuannya nggak usah di rumah mereka. Ketemuan di restoran aja, nggak usahlah ngomong kamu anak dari istri kedua dan lain halnya. Udah biar itu jadi rahasia kita aja.”

__ADS_1


“Tapi, Bu—“


“Nama dia Ayah kamu. Nggak bisa kamu pungkiri dia Ayah kamu. Karena nggak ada—“


“Nggak ada bekas Ayah.” lanjut Nama sambil mengerucutkan bibirnya. “Argh... darah emang lebih kental daripada apapun, Bu.”


“Iya,”’jawab Islah sambil memeluk tubuh anak gadisnya.


“Nama nggak bisa apa-apa kalau gini.”


Islah mengecup pucuk kepala Nama dengan pelan. “Maaf yah, Nak. Ibu terlalu egois, padahal Ibu bisa memilih.”


“Maksudnya?”


“Iya, Ibu bisa memilih untuk siapa yang menjadi suami ibu. Sedangkan kamu tidak bisa memilih siapa orang tua kamu.”


“....”


“Andai dulu, Ibu memilih lebih bijak, Nak.”


Nama hanya bisa menghela napasnya pelan, Nama tidak bisa menyalahkan ibunya sama sekali. Ibunya masih terlalu muda saat menikah secara sirih dengan Ayahnya.


“Udahlah, Bu. Semuanya udah terjadi, hidup itu kan asem kaya lemon.”


“Gimana?” tanya Islah pada Nama, kadang anaknya itu memiliki kata-kata yang membuat dirinya tertawa.


“Yah hidup ini asem kaya lemon, cuman tinggal kita aja pinter-pinter ngeraciknya. Tambahin gula biar manis atau tambahin lagi lemonnya biar asem sepet ampe muntah.”


“Astaga Nama, kepikiran kamu tuh.”


Ting tong...


Nama langsung beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu. Diintipnya siapa yang membunyikan bel rumahnya, senyumnya langsung berkembang.


“Hai,” sapa Rozak saat Nama membuka pintu rumahnya.


“Akang, dateng juga.”


“Iya ‘kan akang udah janji.” Rozak berkata sambil menatap Nama.


“Sama Aa Riki dan Cicil aja. Nggak papa, Kan,” tanya Rozak pada Nama. “Abah sama Taca nggak bisa kesini. Aku terlalu ngedadak ngabarin mereka.”


“Nggak papa,” ucap Nama sambil tersenyum.


“Abah paling besok kesininya, Taca juga. Dia masih sibuk ngurusin pindahan rumahnya.”


“Pindah kemana?” tanya Nama penasaran dengan sosok adik Rozak yang satu itu.


“Pindah dari Singapura ke Jakarta, Suaminya mau bikin apalah di Jakarta, nggak paham.” Rozak berkata sambil tersenyum lebar.


“Ah, iya.”


“Siapa ini?” tanya Islah tiba-tiba sudah ada dibelakang Nama.


“Ibu, kenalin ini Rozak.”


“Wah, mau apa kesini?” tanya Islah pura-pura tidak tau.


“Kenalin Bu, saya Rozak.” Rozak berkata sambil menyambut tangan Islah.


“Iya saya Ibunya Nama,” ucap Islah sambil tersenyum.


“Saya Riki, Kakaknya Rozak dan ini istri saya,” ucap Riki sambil menunjuk Cicil yang sedang tersenyum pada Islah.


Cicil langsung menyambut uluran tangan Islah, sambil tersenyum dia berkata. “Cicil, istrinya Aa Riki.”


“Aduh, cantik banget ini. Ayo masuk semuanya yuk,” ucap Islah meminta mereka semua masuk.


Akhirnya mereka duduk di kursi yang berada diruangan kelurga. Disana sudah tersedia makanan dan minuman.


“Maaf yah, Nama ini hanya kelurga kecil. Cuman ada saya Ibunya, Ayahnya dan saya sudah bercerai beberapa tahun yang lalu.” Islah berkata sambil menyimpan minuman di meja.


“Iya, saya udah tau, Bu,” jawab Rozak sambil mengambil gelas dari tangan Islah.

__ADS_1


“Syukurlah kalau udah tau, Nama ini anak saya satu-satunya.”


Riki langsung mengambil gelas dan meminum teh yang dihidangkan oleh Islah.


“Iya Bu, saya kesini mau minta nama jadi istri saya, Bu. Kalau bisa besok saya nikah sama dia, Bu. Pokoknya nikah ajalah—“


Brut...


“Ohok... ohok... “ Riki terbatuk-batuk saat emndengar perkataan Rozak.


“Aa kenapa” tanya Cicil panik, dengan cepat Cicil mengambil tissue dan melap bibir Riki.


“Keselek, Neng.” Riki berkata sambil mengelap air teh disekitar mulutnya.


“Keselek kenapa?” tanya Cicil bingung.


“Keselek ama yang kebelet nikah,” ucap Riki sambil menatap Rozak yang sedang tersenyum kuda pada dirinya.


Islah langsung tertawa pelan melihat betapa bernafsunya Rozak untuk menikahi putrinya. “Emang harus besok banget nikahnya?”


“Harus, Bu. Kalau nggak gawat.”


“Hah, gawat gimana?” tanya Islah.


“Gawat, Bu. Nama terlalu menawan buat saya sia-siain.” Rozak berkata sambil menatap Nama yang hanya bisa menggaruk dahinya.


“Astaga Rozak, kamu tuh yah. Beneran kamu mau nikah sama anak saya?”


“Mau Bu,” jawab Rozak.


“Nama, kamu mau nikah sama Rozak?” tanya Islah sambil menatap Nama.


Nama menatap Rozak sambil mengerucutkan bibirnya dan membenarkan letak kacamatanya. “Mau, Bu.”


“Saya kayanya nggak ada faedahnya disini,” bisik Riki tiba-tiba.


“Makannya kata aku juga apa, mending dirumah kelonan. Dede mau ketemu Aa lagi,” bisik Cicil pelan di telinga Riki.


“Astaga, Neng. Kaki Aa udah geter ini, udah besok lagi aja,” ucap Riki sambil memukup paha Cicil pelan.


“Ih, pelit,” ucap Cicil sambil menahan tawanya, menggoda suaminya ini benar-benar menyenangkan.


“Jadi gimana nak Riki?” tanya Islah pada Riki.


“Ah, saya kesini memang menggantikan bapak saya untuk meminta Nama, apa mau menjadi pendamping hidup Rozak.” Riki berkata sambil menatap Rozak yang terus tersenyum pada Riki.


“Nah, Nama ditanya lagi tuh sama kakaknya Rozak.” Islah berkata.


“Mau, Bu. Nama mau,” jawab Nama sambil tersenyum malu-malu meong pada Rozak.


“Nah, anaknya udah mau. Saya tidak melarang tapi, besok kalau bisa. Kalian, datangi keluarga Ayahnya, Nama. Minta ijin,” ucap Islah.


“Bu, nggak...”


“Kalian mau ‘kan?” Islah memotong perkataan Nama.


Rozak dan Riki langsung menganggukkan kepalanya. Sedangkan Cicil menatap curiga, matanya memicing berjuang keras untuk melihat photo seorang lelaki di bagian dalam rumah Nama.


“Ayo diminum dulu,” ucap Islah.


“Bapaknya Nama Ahyar Suhendar?” tanya Cicil tiba-tiba membuat Nama dan Islah langsung terdiam.


“Iya, kamu kenal?” tanya Nama.


Cicil tersenyum tipis, “Iya kenal, dia anggota parlemen. Tapi, seingat saya anaknya cuman dua dan anak perempuannya masih tujuh belas tahun. Anak pertamanya, laki-laki. Kamu anak siapa?” tanya Cicil polos, sambil menunjuk Nama.


Mendengar pertanyaan Cicil, otomatis Nama dan Islah hanya bisa terdiam dan saling tatap. Kebingungan dalam menjawab pertanyaan Cicil.


•••


Kamu anak siapa, Oh... anak siapa kamu.


Maaf malem yah, nggak papalah puaskan panjang tulisannya hehehe...

__ADS_1


Sepi amat, komen nape? Hahahaa


Xoxo Gallon.


__ADS_2