Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Jumawa


__ADS_3

“Mau apa kalian ke sini?” tanya Ahyar sambil menatap Rozak dan Nama yang sudah duduk di kursi ruang tamu rumahnya.


“Kami kesini mau nanya, maksud Ayah ngelaporin Riki ke polisi?” ucap Nama.


“Emang nggak boleh?” tanya Ahyar.


Nama hanya bisa mencengkram lengan Rozak, berjuang untuk menahan amarahnya. “Yah, nggak kasian sama Cicil? Dia lagi hamil loh, masa dia mau ngelahirin nggak ada suaminya?”


Terdengar dengusan Ahyar, “Ayah nggak peduli, emang kenapa? Biar Cicil itu sadar posisinya dan jangan pernah main-main sama orang kaya Ayah.”


“Om maaf, kalau saya boleh mengungkapkan pendapat saya, tapi nggak etis Om kalau kaya gini. Om nggak suka sama saya tapi Kakak ipar dan Kakak saya yang kena batunya,” terang Rozak.


“Masih untung nggak adik ipar kamu saya laporin juga ke polisi, Rozak,” ucap Ahyar pongah.


“Maksudnya?”


“Yah, saya bisa aja bikin adik kamu Taca masuk kantor polisi juga atau saya jahilin dia pake preman. Saya ini punya banyak cara Rozak,” ucap Ahyar, Ahyar merasa harus menunjukkan kuasanya.


Rozak kaget mendengar perkataan Ahyar, bisa histeris Taca bila ada laki-laki selain Adipati yang nyentuh dia. Rozak langsung mengemeretakkan giginya, “Jangan bikin perkara Om.”


Seringai jahat langsung muncul di bibirnya, “Jadi gimana? Lebih baik kamu mundur dan nggak usah nikahin anak saya.”


“Ayah!?” bentak Nama geram.


“Kenapa, denger kamu jadi perempuan itu harus cerdas. Jangan mau kalau cuman dinikahin aja tanpa memberikan keuntungan apapun,” seru Ahyar sambil tersenyum.


Rozak langsung menyelipkan tangannya ke pinggul Nama, memberikan kode pada Ahyar bawa Nama adalah miliknya. Rozak akan mempertahankan Nama sesulit apapun juga.


“Ayah yang denger, punya anak itu diperhatiin, disayang, dipeluk, dimanja, bukannya ....”


“Apa?” tanya Rozak yang bingung dengan perkataan Nama. Memang apa yang dilakukan lelaki dihadapannya itu.


“Dijual!?” seru Nama sambil menatap nanar Ahyar.


Rozak langsung mengencangkan pelukkannya di pinggul Nama, Rozak sudah mendengar semua cerita Nama tentang kelakuan Ayahnya yang sudah di luar nalar, ada rasa muak pada diri Rozak pada kelakuan Ahyar.


“Udah, Nyun. Kita ke sini buat bikin dia ngeluarin Aa Riki. Jangan di konfrontasi,” ucap Rozak.


Nama langsung terdiam dan mulai mengingat kenapa dia kesana. Emosinya benar-benar membuatnya lupa kalau dia kesana demi meminta Ahyar mengeluarkan Riki dari penjara.


“Yah, Nama mohon kelurin Riki dari penjara. Ayah tega yah, Cicil itu lagi hamil besar delapan bulan Yah. Bulan depat Cicil mau ngelahirin, kebayang dia ngelahirin nggak ada suaminya,” ucap Nama.


“Urusan amat sama Ayah, pokoknya Ayah keluarin Riki kalau Cicil mau tanda tangan tender yang Ayah minta buat,” ucap Ahyar sambil tersenyum.


“Nggak bisa Om, tender Om terlalu ambisius. Keuntungannya terlalu banyak, bisa gulung tikar perusahaan Cici—“


“Itu kalau ketahuan Rozak, astaga. Kamu tuh nggak ngerti permainan politik, bau kencur kamu tuh,” potong Ahyar sambil melambaikan tangannya diudara.

__ADS_1


“Terserah Om aja, pokoknya saya udah minta tolong. Kalau, Om tetep bersikeras sama pikiran ini. Saya nggak bisa bilang apa-apa, pokoknya saya sudah memperingatkan yah, Om,” ucap Rozak.


Rasa-rasanya berbicara dengan mahluk bernama Ahyar itu sama saja dengan berbicara dengan tembok rumah. Nggak akan didengar, merasa paling benar. Jumawa.


“Silahkan, coba saja kelurkan Riki dari penjara. Om bakal mikir beribu cara untuk menahannya di sana.”


“Terserah Om, pokoknya saya sudah memperingatkan kami permisi Om.” Rozak langsung berangjak dari duduknya dan menarik tangan Nama untuk berlalu dari sana.


Otak Rozak bisa meledak kalau lama-lama di sana. Lelah berbicara dengan tua bangka penuh dengan tipu muslihat itu.


“Pintu keluarnya di sebelah sana,” ucap Ahyar sambil menunjuk pintu di sampingnya dengan intonasi suara mengejek.


“Permisi, Yah,” ucap Nama yang sama-sama sudah lelah mengurusi Ahyar.


“Kang, gimana ini?” tanya Nama pada Rozak setelah mereka berada di luar rumah Ahyar.


“Nggak gimana-gimana, udah biarin aja. Kita udah peringatin Ayah kamu. Tapi, dia nggak mau denger.” Rozak berkata sambil menggenggam tangan Nama.


“Tapi, kasian Riki.”


“Kamu salah kalau kasian sama Riki, Nyun,” ucap Rozak sambil menatap Nama.


“Kenapa?” tanya Nama penasaran, siapa yang harusnya dikasihani.


“Yang harus dikasihani itu Ayah kamu. Karena, dia lagi gali kuburannya sendiri,” ucap Rozak.


••••


“Wa Rozak, darimana? Bawa apa?” tanya Kama sambil memeluk Rozak dengan tawanya yang khas.


“Wa bawa balon, mau?” tanya Rozak sambil menyerahkan balon ke tangan Kama dan Kalila.


“Thank you, Wa,” teriak Kama dan Kalila berbarengan. Mereka langsung berlari kembali keruangan khusus mereka bermain.


“Eh, kalian dapet balon dari mana?” tanya Taca sambil berjalan dan menggendong Kafta.


“Dari Wa Rozak,” teriak Kalila sambil berlari meninggalkan Taca yang hanya bisa menggelengkan kepalanya bingung.


“Astaga eh, kalian nih. Already say thank you?” tanya Taca.


“Dah Mih,” ucap Kama sambil menghilang dibalik dinding.


“Kang, dari mana?” tanya Taca sambil duduk di Sofa.


“Dari kantor polisi,” jawab Rozak pelan.


“Eh, siapa yang ada di kantor polisi?” tanya Taca was-was.

__ADS_1


Rozak langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepertinya Taca benar-benar tidak melihat handphonenya dari tadi pagi, sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi.


“Ta, kamu nggak liat handphone kamu?” tanya Rozak.


“Handphone aku nggak tau di mana, Kang. Aku lupa naro kayanya atau jatoh kesela kasur atau apalah aku nggak tau. Aku males nyari, emang kenapa? Ada apa?” tanya Taca.


“Ya ampun, Ta. Gimana kalau ada apa-apa, kok bisa handphone nggak ada kamu tenang-tenang aja?” tanya Rozak gemas.


“Hehehe, maaf aku males bawa-bawa handphone yang ada Kafta keteter. Maafkan aku yang sosoan ngurus anak sendiri nggak mau pake yang bantuin,” kekeh Taca sambil mengusap rambut Kafta. Taca memang tidak menggunakan jasa untuk membantu mengurus anak-anaknya, walau dia mampu.


Taca hanya menggunakan jasa pembantu rumah tangga saja daripada orang yang mengurus anak-anaknya.


“Aa Riki, Ta.”


“Kenapa Aa? Cicil mau lahiran? Kan masih ada sebulan lagi eh apa kurang yah, lupa.” Taca berusaha menghitung-hitung.


“Bukan, Ta.”


“Terus kenapa?” tanya Taca.


“Aa Riki masuk penjara lagi,” ucap Rozak.


“Ngapain? Astaga hobi bener sih Aa Riki masuk penjara?”


Rozak pun langsung menceritakan segalanya pada Taca, kelakuan Ahyar ancaman-ancamannya, keadaan Cicil dan Riki. Semua Rozak ceritakan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Bahkan, tentang Nama yang akan menikah dengan wali hakim.


“Astaga itu Ahyar? Jangan sampai Adipati atau Abah denger, Kang,” ucap Taca.


“Sekarang jadinya gimana?” tanya Taca bingung.


“Aku nggak tau, aku juga bingunh Ta.”


“Ya, udah aku minta ijin Adipati deh,” ucap Taca sambil menepuk-nepuk paha montok Kafta.


“Buat?”


“Aku bakal nginep di tempat Cicil, aku takut dia stress. Nggak enak banget orang hamil stress,” ucap Taca.


“Emang bakal diizinin?” tanya Rozak.


“Bakal nanti aku yang bilang dan Kang,” panggil Taca.


“Apa?”


“Sabar yah, Akang ini emang susah banget mau nikah.”


“Hah ... sudah biasa.”

__ADS_1


•••


Xoxo Gallon


__ADS_2