Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Nggak Usah Dikenal Cukup Dikenang.


__ADS_3

Jlegarrr ... jlegar ...


Terdengar suara halilintar di luar apartemen tipe studio milik Rozak. Rozak hanya melirik ke arah luar jendelanya dengan tatapan malas-malasan, dengan cepat diambilnya secangkir teh hangat dan mengesapnya sedikit demi sedikit.


Diliriknya handphone miliknya yang tidak ada notifikasi sama sekali dari Nama, seingatnya dari semenjak dirinya mengantar Nama pulang ke rumahnya sampai detik ini, Nama belum sama sekali menghubunginya.


Kemana kekasihnya itu, biasanya jam segini Nama akan membanjiri handphonennya dengan berpuluh-puluh notifikasi entah berupa stiker yang dia kirim bertubi-tubi dichat, photo-photonya yang sedang mengerucutkan bibirnya yang membuat Rozak mengurutkan dadanya. Sampai, rekaman suara Nama yang menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap malam, entah apa maksud dan tujuan kekasihnya itu.


Tapi, saat ini tidak ada notifikasi sama sekali. Rozak melirik bagian jamnya, jam sebelas malam. Astaga, biasanya ini waktunya Nama berceloteh tentang apapun yang ada diotaknya, Rozak rindu celotehan Nama.


Rozak menimang-nimang handphonennya berpikir apakah lebih baik dirinya menelepon Nama atau tidak. Astaga, kenapa dia bisa serindu ini dengan suara bak bebek tercekik milik Nama.


Zreeettt ... Zreeettt ...


Saat sedang meminum tehnya, dirinya kaget saat mendapati handphonenya bergetar di meja. Rozak menatap layarnya, senyumannya langsung merekah saat melihat tulisan nama Anyun dan photo kekasihnya yang sedang mengerucutkan bibirnya.


“Nyun, kamu ketiduran?” tanya Rozak sesaat dia menyambungkan sambungan teleponnya.


“Kang ....”


Deg....


Jantung Rozak langsung mencelos saat mendnegar suara Nama yang bergetar dengan intonasi suara yang kental dengan emosi sedih. Kenapa Nama, ada apa dengan kekasihnya itu. Pikiran jelek langsung menari-nari dipikirannya, Rozak rasanya ingin meloncat keluar apartemen dan mencari Nama.


“Kenapa sayang, kamu kenapa?” tanya Rozak panik. “Kenapa kamu nangis?”


“Kang, aku sama Ibu diusir.”


“Diusir siapa? Diusir darimana? Siapa yang usir kamu?” tanya Rozak bingung.


Prang ...


Saking paniknya Rozak menjatuhkan gelas berisikan teh panas miliknya. “Damn ... damn ... aw, aw panas!?”


“Kang, kenapa?” Sekarang giliran Nama yang kaget karena mendengar umpatan-umpatan dari mulut Rozak. “Kenapa, Kang?”


Mendengar Nama yang ikut panik karena mendengar dirinya mengumpat, hanya karena kebodohannya dengan cepat Rozak menenangkan dirinya sendiri, “Nggak papa, Nyun. Cuman gelas Akang pecah. Tadi, nggak sengaja Akang dorong. Panas banget ini kena dada Akang.”


Rozak mengipasi dadanya, dibukanya kaos miliknya. Rozak yang memiliki kulit sensitive hanya bisa menghela napasnya saat melihat warna kulitnya yang berubah merah. “Nggak papa, kamu kenapa dan di mana?”


“Kang, aku sama ibu diusir Ayah dari rumah. Sekarang kita bingung mau kemana, kita lagi duduk di depan minimarket. Ayah marah besar jadi kita berdua langsung diusir. Kita cuman bawa surat-surat berharga sama tas kecil doang. Baju aja kita nggak diijinin bawa, Kang.”


“Astaga, kenapa kok bisa?” Rozak dengan cepat menyambar kunci mobilnya dan jaket miliknya. Dengan cepat pula dia mengambil tas berukuran besar.

__ADS_1


Disambungkannya sambungan telepon ke headseat bluetooth miliknya agar memudahkan dirinya mengambil barang-barang. Diambilnya dua buah selimut dan jaket lainnya.


“Aku sama Ibu menolak keinginan Ayah, Kang.”


“Emang maunya apa si Dajjal itu?” tanya Rozak sambil membuka pintu apartemennya dan berlari seperti orang gila ke area parkiran.


“Dia ngelarang aku nikah sama kamu ....”


Deg ....


Langkah kaki Rozak terhenti, tiba-tiba lututnya lemas bukan main. Ludruk sekali hidupnya dan hidup kakaknya Riki, sama-sama ditolak untuk menikah dengan wanita pujaannya. Beruntungnya Riki adalah lelaki yang sabar tanpa batas sehingga semuanya dia lakukan dengan ikhlas. Masalahnya, Rozak bukan Riki yang memiliki tingkat kesabaran di atas rata-rata.


“Nyun, kamu sama Ibu kamu diusir gara-gara ingin aku nikah sama kamu?” tanya Rozak.


“Iya.”


“Astaga tunggu Akang, Akang kesana. Kamu di tempat mini market yang bisa Akang suka beliin kamu makanankan?” tanya Rozak lagi sambil melanjutkan larinya.


“Iya.”


“Ya udah tunggu Akang di sana.” Rozak langsung menutup sambungan teleponnya dan berlari seperti orang kesetanan menuju mobilnya. Untungnya tadi, Rozak meminjam mobil Aa Riki untuk pulang. Kalau tidak entah bagaimana caranya Rozak menjemput Nama.


Tanpa berpikir apa-apa lagi Rozak langsung memajukkan mobilnya meninggalkan parkiran. Menjemput Nama dengan Ibunya, saking terburu-burunya Rozak hanya mengenakan jaket tanpa kaos sama sekali dibagian dalamnya. Dipikirannya saat ini, dia ingin bertemu Nama.


•••


“Kang Rozak.”


“Ih, ngapain nanti kita nyusahin. Udah kita langsung ke hotel aja dulu, besok kita baru ketempat Rozak.” Islah berkata sambil merapatkan kemejanya.


“Ibu dingin?” tanya Nama sambil menatap Islah yang sedang mengigil kedinginan. Ahyar benar-benar marah saat Islah berkata mereka akan pergi dari rumah itu. Sehingga, Nama dan Islah sama sekali tidak bisa membawa baju ataupun berganti baju dengan benar.


“Iya, tapi masih bisa ketahan kok,” ucap Islah sambil berusaha tersenyum.


“Ayah bener-bener keterlaluan, kenapa sampai ngusir kita detik itu juga. Nama udah nggak mau kenal dia lagi. Nama nggak mau, Bu,” isak Nama sambil memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan.


“Ya udah, nggak usah dikenal. Nggak usah kamu kenal Ayah kamu lagi, kita kenang aja,” jawab Islah tenang.


“Eh?”


“Iya kenang aja, nggak usah kita kenal lagi sama dia. Ibu juga udah muak,” ucap Islah sambil meminum air mineralnya.


“Ibu?” tanya Nama kaget, Ibunya ini biasanya selalu menyuruh Nama sabar tapi saat ini kenap Ibunya yang tampaknya kesal dan benci bukan main pada Ahyar.

__ADS_1


“Ibu udah capek Nam. Ibu udah capek diperbudak sama Ayah kamu. Ibu emang bodoh dulu terjerat rayuannya, nerima dia terbuai dengan semua kata-kata manisnya, padahal yang dia mau itu cuman kepuasan semata. Kamu udah gedelah, kamu pasti tau maksudnya,” ucap Islah sambil menatap Nama dan mengusap rambut anaknya.


“Bu.”


“Iya, dia cuman mau tubuh Ibu. Udahlah buka-bukaan aja kamu udah gede juga, dia cuman mau tubuh Ibu sedangkan Ibu punya Daddy Issue. Iya, Ibu nggak pernah dapet kasih sayang dari kakek kamu, kakek kamu udah meninggal semenjak Ibu umur sepuluh tahun. Sedangkan, Nenek kamu juga udah meninggal juga. Ibu terbuai sama kharisma Ayah kamu, Ibu tau Ibu salah tapi Ibu terbutakan cinta. Rusak kayanya otak Ibu,” ucap Islah mengenang kebodohannya dimasa lalu.


Nama hanya bisa mengerjapkan matanya, kemudian tertawa kecil. “Otak Ibu nggak rusak cuman amingdala ibu yang nggak berfungsi dengan baik. Makanya, Ibu itu dibutakan oleh cinta Ayah.”


“Iya, apapun itu. Apapun bahasa ilmiahnya, susah Ibu ngelawan Anak Psikologi ada aja jawabannya. Tapi, giliran ngurusin percintaannya sendiri kelabakan,” ejek Islah sambil tertawa keras.


“Ih, Ibu ... ini yang lagi galau ‘kan Ibu. Kenapa aku yang diejek, astaga Ibu,” ucap Nama sambil terkekeh pelan.


“Hahaha, bersyukur Nam. Masih ada yang bisa kita ketawain. Mungkin, detik ini ayah kamu lagi stress—“


“Terus stroke,” potong Nama sambil menatap Islah, Nama tau kalau dirinya sudah menghina Ahyar pasti Islah akan memintanya untuk lebih menghormati Ayahnya dan mulai melakukan kuliah tujuh menit mengenai tata krama.


“Nama,” ucap Islah menggantungkan perkataannya, “AAMIIN, ayo cepet bilang Aamiin. Jangan sampai lupa itu kata Aamiinnya.”


“Aamiin, Bu,” kekeh Nama yang merasa geli sendiri melihat Ibunya yang tampak lebih ceria dari biasanya. Tampak seperyi bebannya terangkat saat keluar dari rumah Ahyar.


Saat sedang tertawa Nama langsung merasakan ada sesuatu yang menyelimuti tubuhnya. “Eh ....”


“Kamu nggak papa, Nyun?”


Nama spontan menengokkan kepalanya ke kanan kaget saat melihat wajah Rozak yang ada di sampingnya. “Akang.”


“Kamu nggak papa, sayang?” tanya Rozak sambil menatap Nama dengan tatapan khawatir.


“Nggak, aku nggak papa, Akang cepet banget. Kok udah di sini aja?” tanya Nama bingung kenapa Rozak sudah tiba di sana lagi.


“Syukurlah,” ucap Rozak sambil menatap manik mata Nama mengikatnya seakan takut Nama pergi meninggalkannya.


Tatapan mereka saling beradu, napas Rozak dan Nama sama-sama memberikan sensasi hangat yang menggelitik keinginan mereka untuk menautkan bibir mereka berdua, memberikan kenikmatan dan kehangatan bagi Rozak dan Nama. Namun ....


“Ehem.”


•••


Batuk, pak Haji? Hahahaa...


Wow wow wow, terima kasih buat yang udah kasih bunga, kopi, vote dan likenya. Komennya juga luar binasa, aku suaka eh salah aku suka 😘😘.


Buat nikah bentar dulu ini lagi studi banding dulu ini, hahaha ....

__ADS_1


XOXO GALLON.


__ADS_2