
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
•••
Tisa dan Rully benar-benar dibuat uring-uringan hari ini, Jeff benar-benar memaksa mereka beruda bekerja lebih keras lebih daripada biasanya. Bagaimana tidak, pekerjaan biasa mereka harus ditambah lagi dengan pencarian dimanakah Cicil Bouw berada.
"Rully, gue mah tobat kalau sampai minggu depan Bu Cicil nggak ditemuin, gue mending resign," ujar Tisa sambil mengetikkan sesuatu di laptopnya.
"Jangan, Tis. Kalau lo resign apa kabar gue?"
"Kabar, lo? Kabar lo baik-baik aja, palingan lo pingsan dipojokan gara-gara pecah pembuluh darah," ujar Tisa sambil terkekeh.
"Amit-amit lo yeh, demen amat nyumpahin temen," ujar Rully sambil memukul-mukul meja kerjanya dengan gemas.
"Untung lo temen, makanya gue sumpahi kaya gitu doang, coba kalau musuh udah gue santet lo," canda Tisa lagi.
"Amit, Tis. Tega lo," ujar Rully sambil melihat berkas-berkas di hadapannya.
"Tis, ini alamat restoran Water Teapot 'kan?" tanya Rully pada Tisa yang sedang asik dengan laptopnya.
"Mana? Ah... iya, kenapa?" tanya Tisa.
"Kata lo, pacar barunya Bu Cicil yang punya resto ini 'kan?" tanya Rully yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Tisa.
"Ya udah kita coba kesini, moga Bu Cicil ada disana. Kita langsung todong buat tanda tangan semua berkas sialan ini," ujar Rully sambil menunjuk tumpukkan berkas-berkas yang harus Cicil periksa dan tanda tangani.
Semburat kebahagiaan langsung terpampang nyata di wajah Tisa, rasa-rasanya Tisa seperti mendapatkan ilham. "Rully, lo emang the best, udah ayo kita kesana sekarang juga, gue udah nggak sanggup di terror sama orang-orang," ujar Tisa sambil mematikan laptopnya.
Rully langsung membereskan semua berkas-berkas yang harus Cicil ACC dan periksa. Pokoknya Tisa dan Rully membawa semuanya, andai bisa mungkin mereka akan membawa lemari besi berisikan file-file yang ada.
"Nanti disana sekalian minta makan boleh nggak yah?" tanya Rully pada Tisa.
"Kagak tau, gue lebih butuh tanda tangan Bu Cicil daripada makan siang," ujar Tisa.
•••
"Aa...." teriak Cicil sambil menjatuhkan badangnya kearah Riki yang sedang tertidur di kasur seadanya.
"Astaga, mati Aa. Ditimpa buldoser..." ujar Riki sambil menangkap Cicil yang sudah menimpanya.
__ADS_1
Cicil langsung mengerucutkan bibirnya, "Enak aja buldoser, sekalian truck gandeng," ujar Cicil sambil mencubit perut Riki gemas.
"Aw...aw... sakit, Neng," ujar Riki sambil mendorong badan Cicil dari atas tubuhnya. Dengan cepat Riki bangkit, nggak baik berla-lama dalam keadaan sadar deket-deket sama Cicil. Bisa bobol pertahanan.
"Aku udah bikinin Aa kopi, tuh ada di meja makan," ujar Cicil sambil duduk bersila di kasur.
Riki mengambil kopi tersebut dan meminumnya kemudian...
Bruaaatt...
"Neng, ini kopi rasa apa kok gurih?" tanya Riki sambil mencari air putih untuk menetralisir rasa kopinyang aneh binti ajaib.
Cicil langsung meloncat kemudian berjalan kearah Riki dengan pandangan khawatir. "Nggak enak? Padahal aku bikin kopi pake kopi disana terus gulannya pake yang itu," ujar Cicil sambil menunjuk toples yang ada di dekat wastafel.
Riki mendekati toples yang ditunjuk Cicil, oke yang satu memang kopi tapi yang satu lagi apa? Riki melihat toples yang lainnya kemudian mencium isinya dan kaget.
"Neng, ini mah MICIN, masa kopi dikasih Micin. Makin pinter atuh Aa, teh," ujar Riki kaget saat mengetahui Cicil mencampurkan kopi dengan micin bukan gula.
"Hah... tapi warnanya sama-sama putih itu, aku sangka sama gula," ujar Cicil sambil berjalan mendekati Riki.
"Ini micin sayangku," ujar Riki sambil tersenyum pada Cicil yang sudah berdiri disebelahnya.
"Masa sih?" Cicil tidak mempercayai omongan Riki sama sekali, dengan cepat diambilnya kopi di meja, kemudian meminumnya dan...
"Nggak enak, Aa," rengek Cicil sambil mengeluarkan lidahnya kemudian melapnya dengan tissue.
"Eh... nggak percaya, dibilangin kamu campur kopi sama micin, ini teh," ujar Riki sambil terkekeh pelan.
"Nggak enak astaga, aneh rasanya," ujar Cicil sambil meminum air mineral dari gelas yang sama dengan Riki.
"Nggak enak sumpah, orang gila mana yang bikin kopi pake micin, nggak enak," cerocos Cicil sambil berkumur dengan air kran dari wastafel setelah menghabiskan minumnya.
Riki hanya bisa terkekeh mendengar perkataan Cicil, "Kamu teh ngomongin diri sendiri?" tanya Riki sambil menahan tawanya.
Cicil menatap Riki dengan wajah paling nelangsa yang pernah Riki lihat, sialnya Riki sama sekali tidak merasa kasian malah tertawa terbahak-bahak.
"Atuh, kamu mah aneh-aneh aja. Udah nanti biar Aa aja yang bikin kopi, kamu mah diem aja diem," ujar Aa Riki sambil tertawa.
"Nggak enak, Aa, suer nggak enak," ratap Cicil sambil mengambil handuk kecil kemudian menggosok-gosokkan lidahnya kehanduk.
Riki langsung mengambil ikat rambut dari meja kemudian mengikatkan rambut Cicil menjadi ponytail dengan cepat dan rapih, kemudian mengecup leher Cicil dengan cepat.
"Mandi sana, Aa mau ke bawah dulu. Mau ngecek prepare makanan," ujar Riki sambil berjalan menjauhi Cicil.
__ADS_1
"Aa...."
"Apa?" tanya Riki sambil berbalik menatap Cicil dan mendapati Cicil yang sudah mengerucutkan bibirnya.
Riki hanya bisa tersenyum sambil mengelengkan kepalanya, dengan cepat Riki mendekati Cicil kemudian mencium dahi Cicil.
"Udah, ah...."
"Aa kok dahi bukan bibir Neng?" tanya Cicil.
"Kalau nyium bibir itu kaya yang nafsu gitu, kalau nyium dahi kaya ngelambangin Aa cinta sama Neng tulus bukan Nafsu," ujar Riki sambil berjalan kearah pintu kamar.
Cicil langsung tersenyum senang mendengar penjelasan Riki, entah kenapa rasanya tiba-tiba ada taman bunga didadanya. "Jadi, Aa cinta Neng tulus?"
"Iya, tulus lah," ujar Riki sambil tertawa saat melihag Cicil yang berjalan kearahnya menahan Riki menutup pintu.
"Jadi Aa nggak nafsu ke aku?"
"Nggak," jawab Riki sambil mendekatkan bibirnya kekuping Cicil, "Nggak salah lagi, Neng. Hahahahaa...."
"Ihh, Aa sama aja kalau gitu..!?" teriak Cicil kesal sambil mendorong tubuh Riki pelan.
Riki hanya bisa tertawa renyah dan meninggalkan Cicil yang tersipu-sipu malu diambang pintu kantor yang sudah dialih fungsikan menjadi kamar bagi Riki dan Cicil.
"Aa...."
"Apa lagi, Sayangku?" tanya Riki sambil berbalik menatap Cicil yang sudha berdiri diambang pintu sambil menatapnya.
"Kalau capek, cepet pulang biar aku peluk," rayu Cicil sambil menyedipkan sebelah matanya.
"Astaga, nggak jadi-jadi ini Aa kerjanya kalau gini, Neng," ujar Riki sambil berlari kearah Cicil kemudian memeluk Cicil dengan erat dan mencium pucuk kepala Cicil.
Cicil hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Riki yang selalu tidak bisa menahan godaan kecil Cicil. Tuhan, hentikan waktu seperti ini, izinkan Cicil berbahagia...
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon