Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
I miss you, I need you and I love you, Riki Trina.


__ADS_3

Peringatan:


baca ini setelah jam 18.00 WIB


Kaka Gallon tidak akan bertanggung jawab bila anda belingsatan tak jelas, panas dingin dan membatalkan puasa anda. Pokoknya nggak tanggung aja, dah.


•••


“Aa... basah ini,” ucap Cicil sambil berlari kecil mengejar Riki yang berlari didepannya sambil terus menggandeng tangan Cicil. Mulai detik ini Riki tidak akan pernah melepaskan tangan Cicil lagi, sampai kapanpun.


“Ayo cepetan larinya, bentar lagi nyampe.” Riki terus berlari kecil sambil membawa plastik belanjaan mereka.


“Aa, beneran aku nggak bisa lari kaya gini,” pekik Cicil sambil tertawa kecil, ternyata seru juga berlarian saat hujan.


Riki langsung menghentikan langkahnya, dengan cepat diangkatnya badan Cicil dengan gaya pengantin. “Punya istri manja, susah emang,” ucap Riki sambil tertawa dan berlari ke arah rumah kontrakan mereka di Yogyakarta.


Cicil dengan cepat mengalungkan tangannya di leher Riki. Ya ampun, apa yang dilakukan Riki ini simple, namun mampu membuat Cicil merasa sangat di cintai. Walau, Riki bilang dirinya manja, entah kenapa Cicil merasa bahagia.


“Lari Aa, lari. Hahaha....”Cicil menyemangati Riki sambil mengangkat-angkat tangan kirinya ke udara, memberikan semangat pada Riki.


“Ini udah lari, Sayang,” ucap Aa sambil berlari ke arah pintu rumah kontrakkan mereka. Dengan cepat, Riki menurunkan Cicil didepan pintu.


“Kok aku diturunin?” protes Cicil kesal sambil membulatkan matanya pada Riki. Bibir Cicil tampak dikerucutkan.


Riki langsung menyentil hidung Cicil gemas, “Mau buka pintu rumah, nanti Aa gendong lagi, oke.”


Setelah pintu terbuka, Riki langsung merasakan lengan Cicil yang direntangkan, memberikan tanda bahwa Cicil ingin digendong kembali.


“Manja bener, deh. Untung istri,” ucap Riki sambil kembali mengendong Cicil. Dengan cepat Riki menuntup pintu dengan menggunakan kakinya.


“Kalau bukan istri mau diapain, Aa?” tanya Cicil.


“Udah aku lempar ke candi Prambanan,” ucap Riki sambil mendudukkan Cicil di pangkuannya, membuat mereka saling berhadapan.


“Ih jahatnya, ya ampun. Jahat bener.” Cicil membantu Riki membuka jaketnya dan dengan cepat Cicil membuka cardigan miliknya.


“Awas, Neng. Aa mau bawa handuk,” pinta Riki.


“Nggak.... huachi....” Cicil bersin.


Riki langsung mengambil tangan Cicil kemudian menggosok-gosokkan kedua tangannya di tangan Cicil dan beberapa kali meniup tangan Cicil, berusaha memberikan kehangatan. “Kamu sakit ini mah. Tangan kamu sampai dingin gini.”

__ADS_1


Riki makin mendekatkan tangan Cicil ke mulutnya. Riki meniup-niup tangan Cicil, berusaha untuk menghangatkan badan Cicil.


“Aa...”


“Tunggu dulu, tangan kamu sampai dingin gini. Nanti kamu sakit, Sayangnya Aa.”


“Aa...”


“Apa?” tanya Riki sambil mengangkat kepalanya dan menatap Cicil, napas Riki tercekat saat bibirnya di cium oleh Cicil. Ciuman lembut, sensasi dingin di bibir Cicil dan hangat di bibir Riki membuat mereka berdua saling menghisap dan mengigit pelan bibir pasangannya. Manis.


Tangan Cicil yang hangat mengusap dada Riki yang dingin. Tangan Cicil terus mengusap sampai ke telinga Riki, kemudian menariknya pelan. Riki mengambil napas di tengah ciumannya.


Diusapnya bibir bagian bawah Cicil pelan dengan jempolnya. Dengan cepat Cicil mengecup buku jari tangan Riki pelan. Ditelusupkan jari-jari Riki ke rambut Cicil.


“Neng, Aa kangen,” bisik Riki sambil mengusap hidungnya keleher Cicil, mengesap wangi tubuh istrinya.


Cicil diam, beberapa kali Riki meminta haknya. Tapi, Cicil selalu menolaknya, Cicil masih takut. Cicil takut Riki jijik pada dirinya. Cicil takut saat Riki melakukannya Cicil akan mengingat perbuatan Albert pada dirinya dan bukannya menikmatinya Cicil malah akan berteriak keras.


“Neng...” Cicil mengigit bagian bawah bibirnya.


Riki hanya bisa menghela napasnya pelan, dia tau istrinya menolak dirinya untuk kesekian kalinya. Sumpah demi apapun dia rindu Cicil, dia rindu mendengar Cicil mendesah diantara hentakkan yanh dibuatnya, menggeliat kecil dibawah tubuhnya atau memaksanya berkali-kali untuk melakukan transfusi darah putih. Tapi, dia tidak bisa memaksa Cicil.


Cicil diam menatap punggung Riki, Cicil ingin menangis. Merutuki dirinya sendiri, dulu dia sangat suka melakukan transfusi darah putih dengan siapapun dan dimanapun. Miris rasanya saat dia sudah halal untuk seseorang, tapi, dirinya tidak bisa memberikan hak suaminya sendiri.


Dengan langkah gontai Cicil berjalan ke arah lemari pakaian, diambilnya pakaian tidur di dalam lemari. Saat mengambil pakaiannya, Cicil melihat kimono tergantung disana. Dielusnya kimono berbahan satin itu. Cantik.


Cicil diam menatap kimono dihadapannya, Cicil ingin membahagiakan suaminya, suami yang sudah sabar menghadapi tingkah pola dirinya. Suami yang sangat mencintainya. Suami miliknya.


•••


“Neng, mandi,” ucap Riki saat keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk.


Riki mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan mencari Cicil. Muka Riki langsung pias saat tidak menemukan Cicil di ruangan itu. Pikiran Riki langsung memikirkan hal-hal buruk.


“Neng...!?”


Riki langsung berlari keluar ruangan sambil membuka dengan keras pintu kamar. “Neng!?”


“Iya,” jawab Cicil sambil berbalik dan menatap Riki yang menatapnya dengan tatapan khawatir.


“Kamu jangan pergi.”

__ADS_1


“Aku disini, emang aku mau kemana? Aku lagi liat mataharinya bagus,” ucap Cicil sambil menggerakkan tangannya di antara sinar matahari yang menerpa tangannya dengan hangat.


“Neng, jangan bikin Aa jantungan, Sayang,” ucap Riki sambil berjalan ke arah Cicil. Matanya benar-benar dimanjakan dengan kecantikan Cicil, dengan cepat Riki menangkup pipi Cicil. “jangan pergi, Sayangnya Aa. Jangan.”


Cicil tersenyum lalu mengalungkan tangannya di leher Riki, bibir Cicil mendekat ke bibir Riki mengikis jarak diantara mereka berdua. Dengan cepat Cicil menginjak kaki Riki berusaha untuk menyamakan tinggi badan mereka.


“Neng, Aa nggak maksa. Jangan dipaksa,” ucap Riki sambil merangkul Cicil. Riki tau Cicil belum siap.


“I missed you inside me,” ucap Cicil sambil mencium pelan bibir Riki, mengigitnya pelan. Dihisapnya pelan bibir bagian bawah Riki. Ciuman lembut mereka berubah menjadi lebih menuntut dan panas.


“Neng, Aa nggak maksa. Kalau kamu belum siap,” ucap Riki.


Cicil tersenyum berusaha untuk menutupi ketakutannya sendiri. “It’s oke. Everything will be alright. I just need you inside me. Now, tommorow, everytime, everyday and...”


(Semua baik-baik saja, aku hanya ingin dirimu. Sekarang, besok, setiap saat, setiap hari dan...)


Daboom...


Pertahanan Riki jebol, diangkatnya Cicil kemudian dibaringkan istrinya itu di kasur. Di ciumnya bibir Cicil dengan lembut, bibir Riki menurun kebagian tubuh Cicil lainnya. Ciuman dan kecupan langsung Cicil rasakan disekujur tubuhnya.


Badan Cicil meremang dan meledak saat Riki menghisap salah satu bukit kembar miliknya, lidah Riki seolah ingin menghapus seluruh jejak yang pernah Albert berikan pada Cicil.


Cicil hanya bisa menahan gempuran kenikmatan yang diberikan oleh Riki. Badan Cicil melenting saat Riki mengecup bagian pribadinya, desahan demi desahan langsung meloncat keluar dari bibir Cicil saat Riki mendamba bagian pribadi miliknya. Tangan Cicil meremas sprai di sampingnya, Riki benar-benar tidak memberi Cicil ampun sama sekali. Desahan Cicil membuat Riki makin menggila.


“Neng....”


Riki tiba-tiba sudah ada dihadapan Cicil, seumur hidupnya Cicil belum pernah merasa sedicintai dan dilindungi ini. Dengan cepat Cicil menangkup pipi Riki dan mencium bibir suaminya tersebut.


Riki yang sudah tidak dapat menahan gairahnya sama sekali langsung menyatukam tubuh mereka. Riki langsung menghentak badan Cicil dengan pelan dan dengan ritme yang mampu membuat Cicil meracau tanpa tentu arah karena menahan deburan kenikmatan yang diberikan oleh suaminya.


Tiba-tiba saja Cicil merasakan suara erangan suaminya. Dengan cepat Cicil tau Riki sudah melakukan pelepasannya. Namun, Riki masih menggerakkan badannya, dia masih ingin membahagiakan Cicil.


Cicil tersenyum dan berkata pelan di telinga Riki pelan.


“I miss you, i need you and i love you, Riki Trina.” Dan detik itu juga Cicil mendapatkan pelepasannya sendiri.


(Aku kangen kamu, aku butuh kamu dan aku cinta kamu, Riki Trina)


•••


XOXO GALLON.

__ADS_1


__ADS_2