Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Poliandri...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️


•••


Riki dengan tenang masuk kedalam restoran, dilihatnya Albert sedang membanting beberapa barang dan berteriak-teriak seperti orang kurang waras pada para pegawai Riki yang memang menginap disana.


"Mana Cicil?" teriak Albert sambil melempar tempat tissue.


"Nggak tau, Pak," ujar Ujo sambil mencoba menangkap tempat tissue yang dilempat oleh Albert.


Albert terus berjalan hilir mudik ke kiri dan Ke kanan sudah mirip setrikaan. Terkadang dia menendang-nendang angin.


"Pak Albert, mending pulang Pak, ini restoran mau dibersihin Pak," pinta Cecep sambil menatap Albert yang sudah seperti orang gila.


"Saya pulang kalau tunangan saya udah ada...!" bentak Albert sambil berkacak pinggang didepan Ujo dan Cecep.


"Siapa emang tunangan kamu?" tanya Riki sambil berjalan dengan santai ke arah Albert.


Albert langsung mengeretakkan giginya saat melihat Riki dihadapannya, kebencian langsung menyelimuti Albert.


"Cicil Bouw," jawab Albert sambil menatap tajam Riki.


"Maaf tapi Cicil Bouw pacar saya, kamu bisa tanya sendiri sama Cicil," ujar Riki dengan tatapan sengit pada Albert.


"Jadi Cicil teh pacarnya siapa?" bisik Cecep pada Ujo yang sama-sama memperhatikan bossnya dengan Pak Albert.


"Hmmm... sepertinya Cicil melakukan sesuatu, Cep," ujar Ujo sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya.


"Sesuatu apa, Jo?" tanya Cecep sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya juga.


"Tindakan, PO-LI-AN-DRI ...!" ucap Ujo dengan menekankan kata-kata poliadri.


"Hmmm... sudah kuduga," ujar Ujo dan Cecep berbarengan sambil menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Mana Cicilnya? Seret dia kesini...!?" bentak Albert sambil membanting kursi.


"Cicil udah ada ditempat saya, mending kamu pulang dan nggak usah deketin Cicil lagi, mending kamu pergi," usir Riki sambil menunjuk pintu keluar.


"Saya nggak akan pergi," ujar Albert sambil mendekati Riki kemudian mencengkram kerah leher Riki dengan nafsu membara, "sampai saya bawa pulang tunangan saya...!"


"Tunangan kamu yang mana Albert!?" sentak Riki sambil mendorong badan Albert dengan sekali hentak, membuat Albert mundur beberapa langkah.


"Cicil Bo..."


"Cicil pacar saya dan saya nggak bakal izinin kamu pegang seujung kukupun Cicil. Kamu sakit Albert, mending kamu cari terapis...!" bentak Riki.

__ADS_1


Albert diam ditempat, matanya beredar ke kanan dan kekiri mencari tanda-tanda dimana Cicil berada. Nihil, Albert tidak bisa melihat dimanapun Cicil berada.


"Keluar Albert atau saya laporkan kamu ke kantor polisi," ujar Riki sambil menunjuk pintu keluar.


Albert langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan menggeretakkan giginya.


Riki menatap kepergian Albert dengan bernapas lega, akhirnya curut itu pergi juga dari hadapannya.


"Ujo, Cecep tolong diberesin. Nanti kalau udah beres kalian boleh pulang," ujar Riki.


"Siap Boss," ujar Ujo dan Cecep.


•••


"Neng..." panggil Riki sesaat masuk kedalam kantornya.


"Aa, Albert udah pergi?" tanya Cicil sambil menatap Riki dengan tatapan ketakutan.


"Udah, Neng. Udah pergi, kamu lagi apa?" tanya Riki.


"Lagi bikin kasur darurat," ujar Laura sambil mengembangkan sprei berwarna biru yang tadi Laura bawa dari rumah Cicil.


Setelah selesai menggurusi semua barang dan kebutuhan Cicil, Laura pamit pulang begitupula Manda, yang akhirnya membuat Cicil dan Riki berdua dikantor tersebut.


Cicil berbaring di kasur darurat buatan Laura dan Manda. Cicil menarik selimutnya sampai ke dada, rasa dingin benar-benar mengelitik tubuhnya. Suasana di luar hujan besar, membuat kantor tersebut makin dingin.


"Aa," cicit Cicil sambil mengeremetukkan giginya saking dinginnya.


Riki langsung berlutut dihadapan Cicil yang sedang berbaring, tangan Riki langsung menyentuh dahi Cicil untuk memeriksa suhu tubuh Cicil. "Neng dingin?"


"Iya Aa, dingin banget. Cicil nggak sanggup, nggak ada penghangat udara?" tanya Cicil polos.


Riki langsung menggelengkan kepalanya pelan, "Nggak ada, maaf yah. Nggak ada penghangat ruangan. Cuman ada kipas angin, nanti besok kita cari barang-barang buat isi kantor yah," ujar Riki sambil mengelus rambut Cicil.


Cicil menganggukkan kepalanya pasrah, ini pilihan hidupnya. Dia memilik meninggalkan semua kenyamanan dan kekayaannya hanya untuk hidup bersama seorang Riki Trina, lelaki biasa.


Tiba-tiba Riki menyusup kebelakang tubuh Cicil, kemudian berbaring di belakang badan Cicil kemudian memeluknya erat. Cicil langsung merasakan panas tubuh Riki yang mulai menghangatkan tubuhnya.


"Ah, aku lebih suka pemanas hidup aja," ujar Cicil manja sambil membalikkan tubuhnya agar menghadap Riki.


"Lebih enak yah, Neng." ujar Riki sambil mengecup pucuk rambut Cicil.


"Iya, bisa di gigit," canda Cicil sambil mengigit lembut lengan Riki yang dijadikan bantal oleh Cicil.


"Sakit, Neng," ujar Riki sambil menepuk punggung Cicil pelan.


"Udah tidur udah malem," ujar Riki lagi sambil menepuk-nepuk punggung Cicil lembut.


Cicil memejamkan matanya dan tidak butuh waktu lama, Cicil tertidur dengan nyenyaknya. Dengkuran halus terdengar di kuping Riki.

__ADS_1


Riki tersenyum melihat Cicil yang tertidur di sisinya, astaga seperti mimpi melihat Cicil sudah ada disana. Riki berjanji akan menjaga Cicil yang sudah mau berkorban segalanya hanya untuk menjadi kekasihnya.


•••


Pagi harinya Riki sudah terbangun karena mendengar suara berisik diluar sana. Dengan pelan Riki berusaha untuk bergerak meninggalkan kasur tanpa membangunkan Cicil yang masih terlelap.


Dengan sangat hati-hati Riki menuruni kasur dan berjalan keluar dari kantor. Saat diluar Riki sudah menemukan Edy yang sedang ngobrol dengan seseorang.


"Edy, siapa?" tanya Riki sambil menuruni tangga dan mendekati Edy.


"Ini tukang Galon, kan hari ini jadwal kita beli air mineral," ujar Edy sambil mengambil kertas-kertas seperti kuitansi dari Kang Galon.


"Hai Pak Edy, gimana hari ini jadi ambil 20 galon?" tanya Kang Galon sambil menyuruh anak buahnya untuk menurunkan galon-galon yang masih terisi air dan menaikkan galon-galon kosong ke mobil pick up mereka.


"Jadi dong, Kang Galon. Kalau nggak jadi nanti ini restoran kurang air," ujar Edy sambil menandatangani sesuatu.


Riki langsung berlalu dari sana masuk kedalam restoran diikuti Edy yang bermaksud membawa uang bayaran untuk Kang Galon.


Klik...


Suara pintu kantor Riki yang mengarah keparkiran restoran terbuka, Cicil keluar dengan baju oversize miliknya dan celana legging hitam panjang. Rambutnya diikat seadanya, tapi kecantikan Cicil tidak luntur sama sekali. Saat keluar Cicil langsung melihat tukang gallon yang sedang mengambil sesuatu dari dalam mobil pick upnya.


Cicil mendekati Kang galon, "Mas, liat pacar saya nggak?" tanya Cicil sambil tersenyum manis.


"Hah? Nggak liat Mbak, jangankan Pacar Mbak, Pacar saya aja nggak tau hilalnya dimana," ujar Kang galon lemes, jadi jomlo emang sakit, Bro.


"Hehehee... itu yang punya resto ini," ujar Cicil sambil menunjuk Restoran disampingnya.


"Ah, Pak Riki tadi kedalam, Mbak," ujar Kang Galon.


"Oke makasih Mas," ujar Cicil sambil menunjukkan tangan kanannya yang membentuk gerakan oke. Cicil yang sedang merasa berbahagia membalikkan badannya tapi dia menubruk dada seseorang.


Bruk...


Wangi yang sangat Cicil hapal langsung menyeruak kedalam penciumannya. Wangi ini....


Cicil mengangkat kepalanya dengan cepat, saat melihat pemilik dada yang Cicil tabrak, mata Cicil membulat dengan sempurna, badannya langsung bergetar hebat, rasa takut langsung menyergap tubuhnya tanpa ampun.


"Morning, Baby."


"Albert...!?"


•••


Makjan ada apa ini ada apa ini.... aduh Kaka gallon panik...!! Help help....


Saat ini kaka gallon lagi buka pendaftaran emak-emak yang mau ikut ngegebukin Albert....


Tolong daftar di kolom komentar, penutupan pendaftaran jam 15.00 WIB (Sabtu 20 Februari 2021)

__ADS_1


Harap sebutkan nama dan harapan anda saat memukul Albert Connor...!


Cepet tempat terbatas...!!!


__ADS_2