
“Neng, menang,” teriak Cicil sambil melemparkan kartu uno ke atas tumpukkan kartu diatas kasur.
“Curang kamu, tadi aku liat masih ada kartu dua lagi. Kok, bisa tiba-tiba tinggal satu,” ucap Riki kesal sambil berusaha mencari kartu-kartu yang ada. “Kurang ini kartunya, hei Neng.”
Cicil beranjak dari duduknya dan menjulurkan lidahnya pada Riki. “Nggak ada, aku nggak curang.”
“Bohong banget, kamu sembunyiin dimana?” tanya Riki kesal sambil menarik badan Cicil. Cicil tertawa saat badannya membentur badan Riki. Wangi tubuh suaminya langsung tercium di hidung Cicil.
Cicil langsung menatap manik mata hitam milik Riki, “Aa, ini aku menang loh, hadiah aku apa?” tanya Cicil.
Tuk...
“Aa, bener yah. Sakit tau, sental sentil mulu,” ucap Cicil kesal sambil meraba hidungnya yang disentil Riki.
“Nah itu hadiahnya, sentilan manja dari suami,” ucap Riki sambil menarik Cicil untuk duduk dipangkuannya dengan posisi wajah Cicil menghadap dirinya.
“Astaga, receh banget hadiahnya. Nggak ada yang lain?”tanya Cicil sambil menarik-narik polo shirt Riki.
Telunjuk Riki mengusap tulang hidung Cicil dengan pelan sampai ke bibir istrinya itu, Riki tau kebiasaan Cicil adalah mengigit jarinya dan mengemutnya, bila jari miliknya sudah sampai di bagian bibir Cicil.
“Terus mau hadiah apa ini istri Aa tuh?” tanya Riki.
Cicil melepaskan jari Riki sebelum menjawab pertanyaan Riki. “Siapa Putri?”
“Siapa yah?” tanya Riki lagi sambil mengusap-ngusap lengan Cicil pelan.
“Yeh, nggak tau. Emanga siapa itu Kunti?” tanya Cicil kesal sambil menarik rambut Riki pelan.
“Demen banget narik rambut sih?”protes Riki.
“Abisnya, siapa Kunti?” tanya Cicil kesal.
“Putri mantan aku, dia selingkuh sama laki-laki yang lebih kaya dari aku. Udah gitu aku nggak pernah pacaran lagi, karena trauma di selingkuhin. Terus ketemu Neng, aku ningalin Neng. Nggak pacara satu tahun. Ketemu, Neng lagi, pacaran lagi. Nikah, dan disini kita,” ucap Riki sambil mencium bibir Cicil cepat.
“Bener cuman gitu doang? Mesra banget itu Kunti, Iki. Idih apaan tuh, jaman panggilan kesayangan kaya gitu?” cerocos Cicil kesal sambil mencubit kedua pipi Riki gemas.
“Yah, dulu dia panggil Aa, Iki. Aa panggil dia Iput...”
Cicil langsung mengigit bibir bagian bawah Riki gemas.
“Aw... Neng, sakit,” ucap Riki sambil mengusap bibir bagian bawahnya. “Kamu KDRT tau.”
“Bodo, apaan Iput, Iput. Hih... awas kalau mulut kamu ngucap Iput lagi. Aku remes kamu,” ancam Cicil sambil mencubit pipi Riki geram.
__ADS_1
“Apa yang diremes? Ini?” Riki meremas keda bukit kembar milik Cicil dengan gemas sambil menatap Cicil.
“Aa, jangan membangunkan singa tidur yah, aku minta jatah kelon kamu nanti yang pusing,” kekeh Cicil.
“Besok aja yah, libur dulu. Kasian lutut Aa, goyah dia butuh pegangan.” Riki memeluk badan Cicil dan membenamkan kedua wajahnya di dada Cicil dan menggesek-gesekkan wajahnya disana.
“Hahaa... kasian suami aku ini, kecapean sayang?” Cicil tertawa sambim mengecupi pucuk rambut Riki.
“Nyerah, aku. Kamu tuh ampe dipesawat-pesawat aja minta kelon.” Jantung Riki benar-benar hampir melompat dari wadahnya saat melakukannya kemarin.
“Tapi, seru kan?”
“Seru sih....”
“Nah, kan. Nanti, kita coba di kamar mandi umum atau di pantai. Eh, gimana kalau di parkiran supermarket?” tanya Cicil sambil menatap Riki.
Riki hanya bisa menelan salivanya sambil menggelengkan kepalanya. “Istri aku maniak.”
“Hahahaa... biarin, istri kamu ini yang maniaknya. Maniaknya juga ke kamu, kalau di grebek juga ‘kan kita udah nikah ini. Ah... atau mau coba di kolam renang?” tanya Cicil sambil menunjuk kolam renang yang ada diluar kamar mereka.
Riki langsung menggaruk bagian belakang kepalanya. “Nggak besok aja, besok mau di kolam renang atau di meja dan di bathup lagi kaya kemarin aku ladenin,” janji Riki sambil mengusap pipi Cicil.
“Bener yah, besok dimana pun, berapa kalipun dan kapan pun,” ucap Cicil sambil menggesekkan hidungnya di hidung Riki.
“Bagus dan satu hal lagi, kamu pernah tidur sama Putri?” tanya Cicil.
“Hah, tidur gimana?” tanya Riki bingung.
“Kamu pernah ngelakuin transfusi darah putih sama si Iput ini?”
“Nggak, cuman cium ama pegangan tangan doang. Nggak pernah ngapa-ngapain,” jawab Riki jujur. Riki bukan laki-laki liar, keliaran baru terasah saat bersama Cicil.
“Sama yang lain?” tanya Cicil.
“Nggak pernah, Aa cuman ngelakuin sama istri Aa aja ini, yang nafsunya udah ngalahin gunung Tangkuban Perahu,” ucap Riki sambil mencubit pipi Cicil.
“Tapi, suka kan?” tanya Cicil sambil memeluk Riki dan menciumi leher suaminya itu.
“Ih, bukan suka lagi. Candu,” jawab Riki sambil mengusap-ngusap punggung Cicil. Riki menarik rambut Cicil pelan, membuat wajah istrinya itu makin mendekat dan dengan cepat Riki mengesap bagian bawah bibir ranum Cicil yang empuk dan manis. Ciuman kecil itu berubah makin menuntut.
Cicil langsung membelit lidah Riki, mengesap manisnya bibir Riki. Tangan Cicil sudah menekan bagian celana Riki, mencari sesuatu yang entah kenapa menjadi bagian favoritenya kini.
Riki yang sadar kemana arah dan tujuan tangan Cicil langsung melepaskan ciumannya. Dengan cepat Riki mengecup pipi Cicil. “Kamu kalau tangannya udah kesana, bisa patah lutut aku.”
__ADS_1
“Hahahaa... abisnya, aku suka,” ucap Cicil sambil menarik celana Riki pelan, bermaksud mengintip isinya.
“Udah, ah. Bisa patah lutuh Aa. Besok lagi yah, Aa mau keluar dulu bentar,” ucap Riki sambil berdiri dari duduknya.
“Mau kemana, Ih. Mau ketemu Kunti?” tanya Cicil kesal.
“Hah? Ngapain, ketemu kunti?” tanya Cicil, awas aja kalau ketemu Kunti, Cicil benamkan Kunti ke bebatuan candi Borobudur.
“Ngapain ih, males. Ngapain nyariin serbuk menyan. Kalau udah punya berlian,” ucap Riki santai sambil mengambil handphone dan dompetnya.
“Eh... aku berlian?” tanya Cicil sambil menunjuk hidungnya senang.
“Kamu bukan cuman berlian, kamu tuh harta karun. Pokoknya, kamu segalanya aja,” ucap Riki sambil mencium pucuk rambut Cicil.
“Terus kamu mau kemana?” tanya Cicil kesal.
“Aku mau nyari jamu untuk memperbaikki lutut bergetar Aa. Mungkin, disini ada. Biar besok kita bisa bergoyanh bersama.” Riki menggoyangkan pinggulnya dengan gerakan memutar, membuat Cicil tertawa melihat tingkah Riki.
“Hahahaa... ya udah sana, beli jamu yang banyak. Minum semuanya,” pinta Cicil sambil tertawa pelan.
“Siap,” jawab Riki sambil pergi meninggalkan Cicil sendirian.
•••
Tok... tok... tok....
Cicil yang sedang tertidur, terbangun saat mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Dengan cepat Cicil bangun dari tidurnya.
Tok...tok...tok....
Lagi, terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Seingatnya Riki membawa kunci kamar, jadi pasti Riki bisa langsung masuk ke kamar tanpa harus mengetuk sama sekali.
Tok... tok...tok...
“Iya, bentar.” Cicil turun dari kasurnya dan berjalan ke arah pintu yang lagi-lagi diketuk. Cicil mulai kesal dengan orang yang mengetuk-ngetuk. Tanpa melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Cicil langsung membuka pintu kamar dengan kesal.
“Siapa?” Dengan mata yang masih mengantuk Cicil melihat sesosok pria dihadapannya.
“Baby...”
•••
XOXO GALLON.
__ADS_1