Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Manjanya bapak Riki.


__ADS_3

Cicil merasakan kecupan di bagian belakang kepalanya secara terus menerus. Dengan malas-malasan Cicil mencoba untuk membuka matanya, rasa kantuk masih Cicil rasakan tapi, kecupan dibelakang kepala dan bagian belakang lehernya benar-benar memaksa Cicil untuk membuka matanya.


“Aa, apa?” tanya Cicil sambil melirik kebelakang. “Kenapa kamu, Aa?”


“Nggak, pinging meluk aja, liat sana,” pinta Riki sambil memdorong pelan kepala Cicil meminta Cicil membelakangi wajah Riki.


“Ngapain sih?” tanya Cicil bingung, Riki terus mengecupi bagian belakang Riki, paha Riki menggesek-gesek paha Cicil.


Cicil terdiam saat merasakan sesuatu yang keras mendorong bagian belakang pinggulnya. Dengan cepat ia menggigit jari telunjuknya sambil tersenyum mali-malu. Sepertinya suaminya ini sedang bernafsu pada dirinya, sampai-sampai membangunkannya dari tidur.


“Aa, kenapa. Tumben pagi-pagi minta dikelonin,” ucap Cicil sambil menggesek-gesekkan bagian belakang pinggulnya dibagian pribadi Riki. Riki langsung mengeram saat Cicil melakukannya.


“Neng, kamu tuh kenapa sih bikin gemes,” ucap Riki sambil mencengkram salah satu bukit kembar milik Cicil, yang otomatis membuat Cicil mendesah.


Cicil lalu berusaha untuk membalikkan badannya, berjuang untuk mencium bibir Riki. Tapi, tangan Riki menahan badan Cicil, membuat Cicil tidak bisa bergerak sama sekali dan tetap dalam posisi memunggungi Riki.


“Aa, Neng mau—“ belum selesai Cicil menyelesaikan perkataannya. Cicil langsung merasakan sesuatu yang menggelitik dibagian pribadinya. Cicil langsung terkesiap saat Riki memainkan jari jemari lentitnya. Desahan, demi desahan langsung berloncatan dari mulut Cicil.


“Jangan berisik,” bisik Riki sambil menggigit kuping Cicil pelan.


Cicil terdiam, bagaimana caranya dia bisa tidak mendesah bila Riki dengan ahlinya memainkan jari-jari lentiknya dibagian pribadi miliknya. Riki selalu penuh dengan kejutan, terkadang Cicil sering berpikir apakah benar Riki ini masih perjaka.


“Nggak bis—“ Lagi permainan Riki membuat Cicil mencengkram lengan Riki. “Aa...aa...”


Kenikmatan langsung menggempur Cicil tanpa ampun, tubuh Cicil melenting dan jari-jari kaki Cicil menancap dengan sempurna dikasir milik mereka berdua.


Tangan Riki meremas salah satu bukit kembar milik Cicil, kecupan demi kecupan yang didaratkan Riki di bagian tengkuk Cicil membuat bulu kuduk Cicil meremang. Berkali-kali Cicil melentingkan badannya, pikirannya melayang. Diotaknya detik ini hanya ada Riki, Riki, Riki dan Riki.


“Aa, Neng ud—“ Lagi Cicil terkesiap saat Riki menghentaknya dengan ritme dan irama yang sangat Cicil sukai, badan Cicil berguncang-guncang lembut.


Riki benar-benar menerbangkan Cicil kelangit ketujuh, membuat Cicil mengeluarkan desahan demi desahan berloncatan dari bibirnya. Nama Riki terus menerus terdengar ditelinga Riki dan itu membuat gairah Riki terbakar. Riki makin makin mempercepat ritmenya, menghentak Cicil yang sudah kewalahan dengan keganasan suaminya yang tidak seperti biasanya itu.


Detik dan menit terus berlalu, Cicil akhirnya mendengar suara erangan dari mulut Riki, menandakan suaminya itu sudah melakukan pelepasannya. Riki langsung memeluk Cicil dengan erat.


“Aa, kamu kenapa?” tanya Cicil sambil mengelus rambut hitam milik Riki.


Terdengar tawa Riki dibelakang kepala Cicil, “Baba kangen sama yang diperut.”


“Heh... kangen gimana?” tanya Cicil kesal sambil menepuk paha Riki.


“Aw, sakit Neng.”


“Kangen-kangen, tumben tau kamu bisa on fire di pagi hari. Biasanya tuh, boro-boro on fire yang ada cemberut sambil jalan ke dapur nyariin kopi,” ucap Cicil sambil menunjuk dapur.


“Iya, mulai besok bangun tidur aku nyariin susu aja,” canda Riki sambil mengecup pucuk salah satu bukit kembar milik Cicil.


“Idih, genit yah.”


“Biarin, genitnya ke kamu, bukan ke orang lain,” ucap Riki sambil mengeratkan kembali pelukkannya.


“Kalau ke orang lain awas aja, aku culik anak kamu,” ancam Cicil sambil menarik hidung Riki geram.


“Eh, enak aja ini anak aku tau,” ucap Riki sambil mengusap perut Cicil.


Riki dan Cicil pun saling berbicang, tawanterdengar terus menerus dari mulut Riki dan Cicil. Entah kenapa rasanya Riki benar-benar bahagia. Seperti baru terangkat beban berat dari punggungnya, informasi bahwa anak didalam kandungan Cicil adalah anaknya membuat dirinya merasa bahagia.


“Neng, nanti kalau anaknya laki-laki mau dikasih nama siapa?” tanya Riki.


“Siapa yah?”

__ADS_1


“Gimana kalau Satria.”


“Idih, nggak. Emang Satria baja hitam, terus nanti udah kuliah kasian dia,” ucap Cicil.


“Kenapa?”


“Dipanggil nanti dia sama adik kelasnya. Bang Sat, Bang Sat... kan kasian, Aa.”


Riki langsung tertawa keras mendengar lelucon receh dari Cicil. “Astaga, Neng garing ih.”


“Garing tapi ketawa,” kekeh Cicil sambil menepuk paha Riki pelan.


“Kamu lucu, jadi pengen makan,” canda Riki sambil mencubit pipi Cicil.


“Makan lagi, aku siap,kok.” Cicil langsung berbalik dan mengalungkan tangannya dileher Riki, menatap netra Riki sambil tersenyum.


“Haduh, udahlah. Capek, Aa mau minum kopi,” ucap Riki sambil mengecup bibir Cicil dan melepaskan pelukkan Cicil.


“Aa, mau lagi nggak?” tanya Cicil.


“Nggak, besok lagi aja, besok.”


“Ih...”


“Besok aja, Neng.”


“Nanti malem aja,” pinta Cicil sambil menarik lengan kanan Riki.


Riki mencawil hidung Cicil, “Kasih Aa waktu, satu jam.”


Cicil langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat. “Bene...”


Tok...tok...tok...


“Riki... buka... Riki,” teriak Edy yang terdengar kalut.


Riki langsung mengecup bibir Cicil dan mengambil kaus oversize miliknya dan memakaikannya pada Cicil.


“Tutup kaki kamu pake selimut atau tiduran tutupin tubuh kamu,” pinta Riki pada Cicil, Cicil dengan patuh menutupi tubuhnya dengan seimut.


Riki langsung mengambil celana dan kaos miliknya dan berjalan kearah pintu.


Tok...tok...tok...


“Riki buka, gawat ieu,” teriak Edy keras.


“Apa kenapa?” tanya Riki kesal sambil membuka pintu.


“Gawat.”


“Gawat kenapa?” tanya Riki kesal.


“Gawat, dapur. Dapur kebakaran,” ucap Edy sambil menunjuk kearah dapur.


“Hah, kok bisa. Kok bisa dapur kebekaran?” tanya Riki bingung.


“Nggak tau,” jawab Edy panik.


“Tapi, apinya udah padam?” tanya Riki.

__ADS_1


“Udah, udah padam. Untung tadi Rozak datang dia langsung pademin pake tabung pemadam kebakaran.”


“Udah aman?” tanya Riki sambil masuk kedalam kamar dan mendapati Cicil yang sedang meringkuk di kasur.


“Kenapa?” tanya Cicil sambil menatap Riki.


“Pake baju kamu terus keluar, dapur kebakaran. Tapi, api udah padam,” ucap Riki.


“Hah, kok bisa?”


“Nggak tau, udah sekarang mending kamu pake baju dulu,” ucap Riki, Cicil dengan cepat mengambil bajunya dan mengenakannya.


“Riki,” teriak Edy cepat.


“Kenapa lagi, sebentar Cicil mau pake baju dulu.”


“Iki, beneran. Sini dulu, gawat ini.”


“Apa?” tanya Riki sambil berjalan kearah Edy.


“Rozak, Rozak...”


“Kenapa Rozak?” tanya Riki bingung.


“Rozak...” Edy tampak kebingungan.


“Ya ampun, Edy. Rozak kenapa?” teriak Riki kesal.


“Rozak ketimpa langit-langit pas madamin api. Sekarang, Rozak udah dibawa ke rumah sakit sama ambulan.”


“Astaga, Edy. Rumah sakit mana?”


“Rumah sakit Waras,” ucap Edy cepat.


“Neng, kamu mending ke rumah Mamih. Kamu disana, Aa nggak mau kamu kenapa-kenapa disini.” Riki menyentuh lengan Cicil.


“Aa mau kemana?” tanya Cicil bingung.


“Aa mau kerumah sakit, kamu sama Edy ke rumah Mamih,yah.”


“Iya,” jawab Cicil sambil mengikuti Edy yang sudah berjalan didepannya.


Riki dengan cepat menyambar jaket dan helm miliknya, dia benar-benar harus cepat-cepat ke Rumah sakit. Dia takut ada apa-apa pada adiknya.


•••


Dor...


Maaf yah telat update banget ini mah...


Maaf 😭😭...


Ah setelah berfikir dengan cermat dan meresapi, akhirnya Kaka Gallon memilih orang ini menjadi Rozak. Rozak si sad boy.



Moga cocok yah, Kaka Gallon galau. Hahaha... ingin Ariel noah tapi ketuaan 😭😭.


Semuanya walau ini malam hari, tolong likenya digoyanggg manggg...

__ADS_1


Xoxo Gallon.


__ADS_2