
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
•••
“Dimana berkas perjanjian asli”
“Asli? Perjanjian? Perjanjian apa, Pak?” tanya Kharis bingung.
Albert langsung menghempaskan tubuhnya di kursi. “Perjanjian antara saya sama Riki.”
“Kan ada di Bapak, bahkan surat perjanjian yang ketinggalan milik Pak Riki juga sudah saya kasih ke Bapak,” ujar Kharis.
“Nggak ada Kharis, saya udah cari dibrangkas saya, nggak ada,” desak Albert sambil menunjuk keruangannya.
Kharis kaget saat mendengar perkataan Albert, seingatnya tidak ada seorang pun yang masuk kedalam kantor Albert.
“Nggak mungkin ilang Pak, mungkin kececer,” ujar Kharis.
“Nggak mungkin....”
Kharis memutar otaknya, mulai mengingat-ngingat siapa yang bisa dicurigai. Kharis mengetuk-ngetuk stilettonya ke lantai kayu.
“Pak, bukannya seminggu yang lalu Cicil kesini?” Kharis mengingatkan Albert.
Albert langsung menatap Kharis dengan tatapan 'kamu-benar-juga'. "Saya sampai kejar dia sampai kebawah tangga."
"Yang Bapak pingsan dibawah kan, itu saya aja bingung Bapak kenapa bisa pingsan disana," ujar Kharis.
"Saya dipukul sama Laura, sahabat Cicil," jawab Albert sambil mengusap belakang kepalanya. Rasa sakit dibelang kepalanya masih sangat-sangat dia rasakan, sampai detik ini.
"Dipukul pakai apaan, Pak?" tanya Kharis bingung.
"Pakai tabung pemadam kebakaran."
Kharis langsung menjerngitkan dahinya, saat mendengar kata tabung pemadam kebakaran. Kharis tidak bisa membayangkan betapa sakitnya kepala Albert saat itu. Pasti sakitnya bukan main.
"Kalau kaya gini rencana gagal, kalau surat perjanjiannya ada di tangan Riki, kita nggak bisa neken mereka," sentak Albert kesal sambil mengusap kepalanya dengan kedua tangannya dengan kesal.
Kharis hanya bisa mengigit bagian bawah, bibirnya. Karena apa yang dikatakan oleh Albert benar, semuanya benar. Rencana mereka gagal sebelum sempat mereka lakukan. Kesalahannya, hanya karena Albert tidak menyimpan berkas-berkas perjanjiannya dengan benar.
Kharis melihat bossnya, lelaki yang selain menjadi bossnya. Lelaki dihadapannya itu adalah lelaki yang selalu menemaninya dimalam-malam yang dingin. Sial sepertinya dia jatuh cinta pada lelaki dihadapannya dan lebih sialnya lagi lelaki didepannya itu jatuh cinta seorang wanita bernama Cicil, bukan dirinya.
__ADS_1
"Albert?" panggil Kharis pelan.
Albert diam tidak menjawab sama sekali, detik ini kepalanya sudah teramat sangat pusing bukan kepalang. Rasanya dia ingin mendatangi Cicil dan menyekapnya di penthouse miliknya, melarangnya untuk melihat dunia, mewajibkannya hanya melihat dirinya seorang.
"Albert," panggil Kharis lagi sambil menatap Albert, Kharis berjalan ke arah Albert, mengusap bahunya dengan cepat.
"Apa, aku lagi nggak mood, nggak usah aneh-aneh," ujar Albert sambil mendorong badan kharis. Kharis dimata Albert hanya pemuas nafsu biasa tidak lebih.
Kharis hanya bisa menatap Albert nanar, "Cinta banget kamu sama Cicil?"
Albert menatap Kharis dari atas kebawah dengan tatapan menghina. Maaf, bukan bermaksud menghina, Kharis tidak ada apa-apanya dibandingkan Cicil, baik dalam keseharian bahkan dalam urusan ranjang sekalipun. Cicil diatas segala-galanya.
"Go away, Kharis," ujar Albert sambil mengibaskan tangannya dan berjalan meninggalkan Kharis yang menatapnya dengan tatapan paling nelangsa yang Kharis miliki.
"Sehebat itukah seorang Cicil Bouw?" monolog Kharis sambil mengepalkan kedua tangannya sambil menahan napas. Rasa benci dan kesal langsung menjalar di tubuhnya. rasa benci itu benar-benar membuat Kharis sangat membenci Cicil.
+++
Albert menatap layar handponennya, digulirkan jari-jarinya ke atas dan kebawah, menatap photo-photo Cicil dan dirinya. Senyuman manis Cicil memang benar-benar mampu menenangkan dirinya. Astaga dia rindu kekasihnya, kekasih yang pergi meninggalkan dirinya.
Apa yang salah dengan dirinya? Dia sudah benar-benar menyayangi Cicil dengan sepenuh dan segenap jiwanya. Apapun yang diinginkan atau didambakan Cicil, Albert berikan. Bahkan, selama berpacaran dengan Cicil, Alber sama sekali tidak menyentuh wanita manapun. Bahkan sekertarisnya Kharis sudah tidak pernah Albert sentuh dulu.
Apa kekurangannya? apa? Kenapa Cicil menjauhi dirinya? salah apa dirinya? Apakah Cicil, merasa tidak dicintai oleh dirinya. Argh... sudahlah, Albert benar-benar sudah tidak peduli lagi, detik ini yang harus Albert lakukan adalah mencari cara agar Cicil bisa kembali lagi bersama dengan dirinya, kembali kepelukkannya.
Zrrrtttt.... Zrrrttttt...
"Baby, you miss me?" tany Albert pada seseorang yang meneleponnya diujung sana.
(Sayang, kamu rindu aku?)
"Never..."
(Tidak pernah)
Albert kaget saat mendengar suara di teleponnya, suaranya bukan suara Cicil, melainkan suara lelaki. "Siapa ini, kenapa telepon pacar saya ada dikamu?"
"Pacar? sejak kapan tunangan saya pacaran sama kamu?"
"Tunangan? Ini siapa?" teriak Albert kesal, saking kerasnya dia menggebrak meja dihadapannya.
"Riki, Riki Trina. Tunangan Cicil Bouw," ujar Riki dengan perkataan setenang air sungai yang mampu menghanyutkan lawan-lawannya.
"Damn, jangan mimpi kamu bisa tunangan sama Cicil. Kamu, sangka keluarganya mau nerima kamu?" sentak Albert.
"Mau terima atau tidak, Cicil tetap ada disamping saya...."
__ADS_1
"Kamu cuman, cowo miskin Riki, jangan anggap kekayaan kamu saat ini, sebanding dengan kekayaan keluarga Bouw. Kamu, jangan pernah mimpi naik derajat. Kamu cuman tikus kotor dari kampung, nggak mungkin bisa dapetin Cicil," bentak Albert keras, saking kerasnya urat-urat dileher Albert sampai-sampai bermunculan.
"Terserah... saya telepon kamu cuman mau ngasih tau, nggak usah kamu nyari, deketin atau bahkan berpikir tentang Cicil lagi," Riki memperingatkan Albert.
"Hahahaa... tikus got kaya kamu, berani merintah saya? Siapa kamu? Nggak punya kuasa kamu tuh, atas diri saya," sentak Albert kesal. "Mau saya deketin Cicil atau mau saya paksa dia nikah sama saya, itu semua urusan saya. Siapa kamu bisa larang-larang saya?"
"Kalau kamu, deketin lagi Cicil aku nggak bakal segan-segan, laporin kamu ke polisi," ujar Riki.
"Atas tindakan apa? Udah miskin, gobl*l lagi," caci Albert.
"Pemerkosaan terhadap Cicil Bouw dan saya punya semua buktinya, Albert," ancam Riki.
Deg...
Jantung Albert kembali berdetak dengan sangat-sangat cepat. Dengan cepat Albert berlari kearah brangkasnya, dibukanya brangkas didepannya dengan kasar.
'Bangs*t' maki Albert didalam hati, berkas berisikan photo-photo yang Albert ambil saat dia memperkosa Cicil hilang.
"Jadi, saya peringatkan kamu untuk tidak mendekati Cicil lagi, mengerti Bapak Albert yang terhormat.
"Hhahaaa... lakuin aja, lakuin semuanya. Dengan uang yang saya punya, saya bisa bikin semua dakwaan dibatalkan," ujar Albert sambil tersenyum senang.
Riki menghela napasnya sepertinya dia benar-benar harus mengeluarkan kartu as-nya, kartu yang tidak akan dia beberkan kepada siapapun. "Silahkan, tapi seingat saya...."
"Apa? Seingat kamu, kamu nggak punya duit sama sekali?" tanya Albert culas.
Riki benar-benar ingin melempar panci kekepala Albert, kenapa semuanya harus diukur dengan uang? Emang orang biasa seperti dirinya haram berpacaran dengan orang sekaya Cicil? Dunia benar-benar gila.
"Seingat saya, kekayaan kamu dibawah kekayaan Adik ipar saya," jawab Riki tenang, sudahlah dia akan meminta tolong adik iparnya. Demi Cicil, dia akan merendahkan harga dirinya, dengan cara meminta tolong pada Adik iparnya.
"Siapa?" tanya Albert lupa kalau Adik ipar Riki adalah orang dari kalangannya juga.
"Adipti Berutti..."
+++
Dor maaf telat update...
Buat yang baru baca karya ini, mungkin bingung siapa sih Adipati Berutti.
penjelasan singkat aja yah...
Riki Trina anak pertama dari empat bersaudara, adik-adiknya bernama Rozak, dan sikembar Taca dan almarhum Tasya (Meninggal karena gantung diri setelah diperkosa oleh pacarnya).
Nah Taca ini, menikah dengan seorang milyader bernama Adipati Berutti (Blesteran Indonesia-Italia).
__ADS_1
oke, sampai disini jelas? hehehe... kalau belum jelas tanya aja di kolom komentar nanti Kaka Gallon jawab. Oke....
ciaoo....