Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Ricuhnya persidangan...


__ADS_3

Cicil langsung duduk di tempat yang sudah disediakan. Ia meminta untuk bisa duduk bersebelahan dengan Riki apapun yang terjadi, awalnya pengadilan tidak mengijinkannya, namun melihat kondisi psikis Cicil yang benar-benar membutuhkan bantuan dan sokongan dari suaminya. Akhirnya pengadilan mengijinkannya.


Sepanjang pelaksanaan pengadilan, Cicil menggenggam tangan Riki, saat berita acara dibacakan dan bukti-bukti di tunjukkan badan Cicil mengkerut. Berkali-kali Cicil terisak di dada Riki.


“Aa, Neng mau pulang. Neng, nggak kuat.” Cicil berbisik di telinga Riki, badan Cicil bergetar hebat saat melihat photo-photo dan pakaian yang Cicil gunakan saat kejadian. Kalau bisa, Cicil ingin membakar semua bukti-bukti yang ada dan menguburnya di pedalam hutan Amazone Afrika.


“Bentar lagi, sayangnya Aa. Sabar yah, bentar lagi. Aa disini,” ucap Riki yang berjuang untuk menenangkan Cicil dan dirinya sendiri. Rasanya Riki ingin meloncat ke hadapan Albert yang duduk dihadapannya, rasanya Riki ingin memukuli Albert sampai habis. Tapi, Riki berjuang untuk meredam itu semua. Cicil lebih membutuhkan dirinya.


“Kapan selesainya ini, Aa?” tanya Cicil.


“Bentar lagi, sabar yah, Neng.”


Cicil akhirnya pasrah dan makin erat menggenggam tangan Riki. Dia ingin semua ini berakhir. Semuanya..!


•••


Albert menggeretakan giginya saat melihat Cicil dan Riki yang tampak mesra di hadapannya. Hatinya sakit bukan main saat melihat Cicil bergelendotan mesra didada Riki. Rasanya Abert ingin mencabik Riki detik ini juga.


“Sayang...”


Albert kaget dengan suara lembut di telinga kanannya. Albert menolehkan kepalanya dan melihat Cicil yang tampak cantik menggunakan gaun pengantin.


“Baby, you look so amazing.” Albert menatap Cicil tanpa berkedip sama sekali. (Sayang, kamu tampak sangat cantik)


“Thank’s, cantikkan calon istri kamu?” tanya cicil sambil duduk di pangkuan Albert.


“Banget, kamu cantik, Baby.” Albert berkata sambil tersenyum pada Cicil. “maaf tangan aku di borgol, padahal aku ingin meluk kamu.”


“Hihihihii.... nggak papa, nanti kamu bisa peluk aku sepuas-puasnya di sel penjara, aku bakal selalu disana, aku bakal patuh sama kamu. Bahkan, kamu boleh menghukum aku sepuasnya,” bisik Cicil sambil mengerling manja pada Albert.


“Apapun, Baby?” tanya Albert.


“Apapun, bahkan aku mau kamu pukul atau jambak,” bisik Cicil manja.


Albert langsung menyeringai penuh dengan hasrat yang menggebu. Kelainan sexsual Albert memang benar-benar membuat dirinya suka melakukan transfusi darah putih dengan cara yang sangat-sangat kasar.


“Bahkan, kamu boleh perkosa aku lagi. Berkali-kali. Aku suka,” bisik Cicil ditelinga Albert lagi. Nafsu Albert langsung terpompa saat mendengarnya.


“Setelah, aku sampai di sel aku bakal ngelakuin banyak hal sama kamu, Baby,” ucap Albert.


“Aw... aku tunggu, Sayang.” Cicil mengecup bibir Albert pelan.

__ADS_1


“Pak Albert harap tenang, pengadilan masih berlangsung, Pak,” pinta Susanto, Susanto bingung kenapa tiba-tiba kliennya ini ngomong sendiri. Kadang Pak Susanto suka merinding sendiri bila melihat tingkah laku Albert.


“Maaf,” jawab Albert pelan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Cicil yang masih duduk dipangkuannya.


“Albert, itu bukan aku yah. Cicil yang asli itu disini,” ucap Cicil sambil menatap Cicil asli yang sedang dipeluk Riki dengan erat.


Albert melihat Cicil yang tanpa sengaja tertangkap oleh dirinya, sedang menatapnya dengan tatapan ketakutan.


“Aku nggak tau itu siapa, mana mau aku dipeluk pria lain selain kamu, Sayang,” ucap Cicil manja.


“Dia, mungkin dia setan. Aku yakin kamu yang asli, Baby,” ucap Albert.


Wajah Cicil langsung berubah berseri-seri mendengar perkataan Albert. “Iya, Sayang. Dia orang gila, dia setan, dia bukan aku. Aku Cicil yang asli, aku Cicil milik kamu sampai kapanpun,” ucap Cicil sambil mengalukan lengannya dileher Albert.


“Iya, Baby. I’m happy with you, love you,” ucap Albert ditelinga Cicil.


“Love you, to. My Connor,”jawab Cicil sambil mengecup bibir Albert pelan.


“Hahahhaaaaa.... hahahhaaaa....” Albert tertawa sangat keras, hatinya berbunga-bunga. Cicil mencintainya, bahkan Cicil mau melakukan apapun untuk dirinya. Ah... inilah yang Albert inginkan. Albert menginginkan Cicil yang patuh.


“Pak Albert... Pak Albert...” ucap Susanto kebingungan saat mendengar Albert tertawa keras-keras. “Pak, kita masih diruang sidang, tolong hormati jalannya persidangan, Pak.”


Tok... tok...tok...


“Ih, nyebelin Hakimnya, aku pergi aja deh,” ucap Cicil.


“Cicil, Baby. Mau kemana kamu, Baby...!?” teriak Albert keras sambil berdiri dari kursinya.


“Cicil, sini kamu. Kamu kemana? Baby..!?” Albert menendang meja didepannya dengan kasar, membuat orang-orang disekitar kaget melihat kelakuan Albert.


“SINI KAMU CICIL...!?” jerit Albert.


“Aa, Aa...” Cicil langsung memeluk Riki erat-erat, mendengar Albert memanggil namanya. Pikirannya langsung kembali ke peristiwa bejat Albert. Tangisnya pecah.


Albert tiba-tiba berdiri dan berjalan kearah Cicil dan Riki. Cicil langsung memeluk erat badan Riki.


“Sini, kamu Cicil. SINI...!” teriak Albert keras sambil menggebrak meja dihadapan Cicil.


“Aa...” teriak Cicil sambil bersembunyi dibelakang badan Riki. Tubuhnya langsung bergetar hebat, air matanya terus menerus mengalir deras.


“Cicil sini kamu...!?” teriak Albert.

__ADS_1


Bug.....


Riki yang benar-benar sudah kesal dengan kelakuan Albert langsung melayangkan tinjunya pada Albert. Albert langsung terjengkang kebelakang. Tubuhnya terbaring di lantai.


Riki yang kesal dan sudah terlalu lama menumpuk kemarahan, langsung menerjang tubuh Albert menguncinya. Dengan cepat Riki memukuli kepala Albert berkali-kali.


“Bangsat... keparat, nggak cukup apa lo siksa istri gue...!? Bangsat lo, setan...!” semua kata-kata kasar dan kebun binatang keluar dari mulut Riki. Berkali-kali pula Riki memukuli Albert.


“Pak... Pak sudah,” teriak seseorang dibelakang Riki.


Polisi langsung menarik badan Riki untuk menjauh dari Albert. Saat polisi menarik badan Riki, kaki Riki masih dengan cepatnya menendang bagian perut Albert sebanyak empat kali.


“Tenang... semua dimohon tenang...!” Hakim memukul-mukulkan palunya dengan kesal. Sidangnya hancur berantakan, “tolong tenang atau kalian saya jerat pasal menggangu ketertiban sidang. Tenang...!”


“Jangan pernah panggil istri gue lagi, sumpah lamun teu inget pamajikam aing, butuh di support. Moal mungkin aing sasabar ieu, geus beak maneh ku aing di podaran...!?” Riki berteriak menggunakan bahasa Ibunya. Sudah, Riki tidak peduli Albert mengerti atau tidak bahasa Riki. Riki benar-benar ingin membunuh Albert sekarang juga.


(Sumpah, kalau nggak inget istri aku butuh di didukung, nggak mungkin aku sabar seperti ini, udah habis kamu aku bunuh.)


“Hahahaa... lo mau tau dimana aja mulut istri kamu, pernah berada? Kamu mau tau dimana saja tangan gue pernah berada?” tanya Albert sambil tertawa keras.


Mata Riki melotot saat mendengar perkataan Albert, manusia kurang ajar nggak punya otak kni benar-benar membuat Riki kehilangan kesabarannya. “BANGSAT...!?”


Riki langsung melepaskan pengangannya, ditendangnya dengan keras perut Albert, saking kerasnya badan Albert sampai mundur beberapa sentimeter.


“Uhuak....” Albert terbatuk keras, badannya langsung menekuk. Rasa sakit langsung membuat kupingnya berdengung keras.


“Pak Riki, amankan Pak Riki. Sidang ditunda...!?” teriak Hakim. Hakim merasa sudah tidak kondusif lagi. Persidangannya menjadi ajang baku hantam.


“Aa, Aa...” Cicil panik saat melihat Riki dibawa menjauh dari ruang sidang. Tangisnya pecah, badannya bergetar hebat. Rasa takut langsung melanda dirinya, Cicil panik.


“Aa, mau kemana? Cicil sama siapa, Aa... Aa...” Cicil berteriak histeris, saking panik dan bingungnya Cicil langsung berjongkok ditempat. Tangannya langsung digigit oleh mulutnya, hal itu Cicil lakukan untuk menahan jeritannya. “Aa...Aa...”


Cicil memaju dan memundurkan tubuhnya seperti orang stress. Napasnya tercekat, pikirannya melayang.


“Gimana kalau Albert perkosa aku lagi, gimana kalau Albert nyulik aku lagi. Gimana kalau Aa ninggalin aku?” Cicil meracau sambil menggigiti kukunya ketakutan matanya menatap sekelilingnya dengan liar.


Dia butuh Riki, dia butuh suaminya...!


•••


Itulah kenapa Riki tetap disamping Cicil, daripada mencari dan memukuli Albert yang entah ada dimana. Kejiwaan Cicil benar-benar butuh di sehatkan....

__ADS_1


Cicil butuh obat dan obatnya adalah Riki...


XOXO GALLON


__ADS_2