
“Kamu!?”
“Ira,” panggil Nama takut-takut. Walau Ira jauh lebih muda dari dirinya. Tapi, Ira sangat ahli melontarkan kata-kata yang mampu membuat Nama menangis di masa lalu.
“Ngapain kamu disini?” tanya Ira.
“Aku, kesini—“
“Mau ngetawain hidup aku?” potong Ira cepat, rasanya Nama adalah orang yang cocok Ira tumpahkan semua kekesalannya. Nama sudah merebut kasih sayang Ayahnya, kenapa tidak sekalian dia maki Nama dengan segala sumpah serapah yang ada.
“Aku nggak mau ngetawain kamu, Ra. Aku nggak tau ada apa sebenarnya.” Nama mencoba membela dirinya sendiri. Nama datang kesana benar-benar hanya ingin bertemu Rozak. Dia rindu kekasihnya itu.
“Terus ngapain kamu ada disini,” bentak Ira sambil mendorong Nama keras, membuat Nama terdorong.
Rozak dengan sigap menahan badan Nama dengan tangan kanannya yang masih terbalut gips. Walau, terasa sakit Rozak menahan tubuh Nama dengan sigap.
“Ngapain kamu disini!?” teriak Ira keras.
“Dia disini saya yang minta Ira, saya yang nyuruh dia kesini.” teriak Rozak sambil menarik badan Nama kebelakang tubuhnya dengan tangan kirinya.
“Ngapain Bapak suruh anak jalang itu kesini?” tanya Ira sambil menunjuk Nama. “biar bisa ngetawain saya?”
“Ra, aku nggak pernah mau ngetawain kamu. Aku nggak tau kamu ada masalah, Ra.” Nama berkata sambil menjulurkan wajahnya dari balik badan Rozak yang menutupinya.
“Bohong banget, demen banget sih jadi orang yang paling teraniyaya, padahal aku yang paling teraniyaya disini, tau.” Ira berkata sambil mengepalkan kedua tangannya menahan emosinya sendiri yang meledak.
Rozak benar-benar menahan emosinya, seandainya dia tidak ingat detik ini mereka ada di kawasan sekolahan dan dirinya masih mengenakan seragam seorang guru, mungkin sudah habis Ira, Rozak murkai. Bibir anak gadis di hadapannya ini benar-benar minta di cuci menggunakan sabun cuci piring.
“Ira, pulang sekarang. Tidak usah berkelahi dengan Kakak kamu,” ucap Ahyar yang tiba-tiba berdiri diambang pintu ruang kepala sekolah.
“Kakak?” tanya Ira pada Ahyar, “Kakak aku cuman satu, nggak pernah aku punya Kakak kaya dia.”
“Ira, pulang.” Eva berkata sambil menarik tangan Ira dengan cepat. “Nggak ada untungnya kamu bergaul sama anak dari perempuan jalang kaya dia.”
“Mamih ka—“
“Apa?” potong Eva sambil menatap Ahyar dengan tatapan yang mampu membuat Ahyar membeku.
Saat Eva dan Ira pergi meninggalkan semuanya, Ahyar menatap Nama yang sedang menyembunyikan tubuhnya dibalik badan Rozak.
“Nama,” panggil Ahyar.
Nama diam tak bergeming, tangannya mencengkram kemeja Rozak dengan erat. Ahyar yang melihat reaksi Nama hanya bisa menghela napas pelan. Luka yang ditorehkan keluarganya dan dirinya pada Nama benar-benar membuat anaknya itu menjauh, bahkan menolak untuk bertemu dengan dirinya.
“Nama, Ayah pulang.” Ahyar berkata sambil mencoba mengusap pucuk rambut Nama. Nama menolaknya dengan bersembunyi dibelakang badan Rozak.
Ahyar langsung menatap lelaki yang dari tadi menatapnya dengan dingin. Lelaki yang dari tadi menjadi pelindung Nama. “Saya pulang, tolong jaga Nama.”
Rozak hanya bisa tersenyum simpul saat mendengar perkataan Ahyar. Rasanya dia ingin mengacak-ngacak wajah lelaki dihadapannya itu. “Nggak usah disuruh juga bakal dijagain.”
Ahyar hanya bisa tersenyum saat mendengar perkataan Rozak. “Nama kamu siapa?”
“Rozak Trina, saya laki-laki yang akan menjaga anak yang anda sia-siakan.” Rozak berkata sambil menatap manik mata Ahyar.
Ahyar kaget mendengar perkataan Rozak, “Maksudnya?”
“Rozak calon suami Nama, Ayah,” jawab Nama sambil menatap Ahyar.
Ahyar diam menatap Nama lalu beralih pada Rozak. “Nanti kita bicarakan lagi.” Ahyar berkata sambil berlalu meninggalkan Nama dan Rozak.
Sepeninggalan Ahyar, Rozak langsung berbalik menatap Nama. “Kamu nggak papa?”
__ADS_1
Nama hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menatap Rozak dengan senyuman setipis mungkin. “Nggak papa, udah biasa. Itu biasa, pernah lebih parah.”
Rozak kaget mendengar perkataan Nama, pernah lebih parah? Astaga kisah kekasihnya ini benar-benar membuat Rozak penasaran.
“Nyun, nanti anterin aku kesuatu tempat dulu, yah. Kamu nunggu disana dulu, bentar lagi aku pulang.” Rozak berkata sambil menuntun Nama untuk duduk di kursi.
“Tunggu, nggak usah kemana-mana.”
“Iya, emang mau kemana?”
“Kedalam jiwa dan sukmaku?” goda Rozak sambil mengangkat salah satu alisnya.
“Gombal kamu,” kekeh Nama sambil mengusap air matanya.
“Cantik kamu kalau ketawa Nyun.”
Nama hanya bisa mengerucutkan bibirnya dan memberikan tatapan menggemaskan pada Rozak. Andai bukan di tempat kerjanya, mungkin Rozak sudah mengecupi setiap jengkal wajah Nama.
•••
Nama hanya bisa mengerjapkan matanya saat melihat tempat yang ingin dikunjungi oleh Rozak. “Kang, ngapain kita disini?”
Rozak menggenggam tangan Nama kemudian mengecupnya beberapa kali. “Latihan baseball.”
Nama menggaruk rambutnya yang tidak gatal, “Tangan kamu kaya gitu gimana caranya latihan baseball?”
“Bukan aku yang mukul,” ucap Rozak sambil masuk kesalah satu batting cage (tempat untuk melatih pukulan bola baseball) dan menyerahkan pemukul bola baseball pada Nama.
Nama mengambil pemukul bola baseball dengan tatapan bingung. “Kang, aku perempuan. Harusnya, aku main softball bukan baseball.”
Rozak melirik ke kiri dan ke kanan saat menyadari tidak ada orang dengan cepat Rozak mengecup bibir Nama. “Anyun.”
Nama langsung mendelikkan matanya saat merasakan Rozak mengecupnya. “Hilih, demen amat ngecup.”
Nama langsung menganggukkan kepalanya, “Tau.”
“Siap?”
Plop...
Sebuah bola keluar dari alat yang ada dihadapan Nama, Nama dengan cepat memukul bolanya dan bola tersebut dengan suksesnya terpental karena pukulan Nama.
“Wow,” ucap Rozak sambil mengecup pipi Nama. Nama hanya bisa tersenyum saat Rozak mengecup pipinya, saat bersama Rozak jangan harap wajah Nama bebas dari berbagai bentuk kecupan yang ada.
“Sekali lagi, Nyun.” Rozak berbisik di kuping Nama, “tapi bayangin yang kamu pukul itu bukan bola.”
“Terus?” tanya Nama saat menatap Rozak.
“Bayangin itu Ayah, Mamah Eva, Tandika, Ira dan Ibu. Pukul mereka, luapin semua amarah kamu, keluarin semuanya, Nyun.”
Nama terdiam saat mendengar perkataan Rozak, iya memang dia sudah terlalu lama memendam semuanya. Dua puluh lima tahun Nama harus menelan bulat-bulat semuanya, menerima semua hinaan dan cacian yang ada. Lelah dan muak, semuanya menggerus hidupnya.
“Siap?” bisik Rozak sambil mengecup pipi Nama, Nama langsung menjawab sambil menganggukkan kepalanya sambil menggenggam bat dengan keras, posisinya sudah benar-benar pas untuk memukul.
Rozak langsung memencet tombol bola, dengan cepat bola keluar dari alatnya. Nama memukulnya dengan keras. Rozak langsung menekan tombol otomatis dan mesin tersebut mengeluarkan bola secara dinamis dan konstan. Nama, memukul semuanya dengan cepat.
Nama benar-benar membayangkan bukan bola yang dipukulnya. Namun, rasa kesal, benci, ego, kegoblokkan orangtuanya, kebrengsengkan Tandika kakaknya, kesombongan Ira, kekurang ajaran Eva dan ketidak mampuan Nama untuk melawan semuanya.
“Ih!?” teriak Nama saat memukul bola terakhir, saking kesalnya bola tersebut terpukul bersamaan dengan terlepasnya pemukul dari tangannya dan mengenai jaring-jaring kawat disekeliling mereka.
Nama langsung bertumpu pada lututnya napasnya tersenggal, energinya terkuras. Butir-butir keringat mengalir dengan derasnya di kening dan wajahnya. Rasa lelah benar-benar dirasakan oleh Nama. Entah bagaimana air mata Nama tiba-tiba mengalir dengan derasnya dari matanya. Air mata Nama mengalir tanpa henti, entah kenapa emosi yang Nama tahan selama ini dengan suksesnya keluar, saking emosionalnya Nama langsung terduduk dilantai.
__ADS_1
Badan Nama bergetar hebat, tangisannya terdengar sangat keras dan memilukan. Untungnya disana hanya ada dirinya dan Rozak, Nama berjuang untuk menenangkan dirinya sendiri. Namun, tak berhasil emosinya mengambil alih, tangisan Nama makin terdengar keras.
Rozak langsung duduk dihadapan Nama, menatap Nama yang terus menerus menangis dan menyeka air matanya dengan kedua punggung tangannya. Rozak dengan lembut mengusap air mata Nama.
“Sakit banget, Nyun?”
Nama menatap manik mata Rozak yang hitam, “Banget, Kang.”
“Mana yang sakit?”
Nama langsung menunjuk dadanya yang sakit bukan main, Nama yakin ini bukan sakit karena ada salah satu organnya yang terluka. Nama, yakin sakit ini lebih pada batinnya yang baru saja di bebaskan.
Rozak langsung mengelus dada Nama, “Sini aku sembuhin, aku sembuhin kamu yah.”
“Caranya?” tanya Nama sambil menatap Rozak dan mengalungkan tangannya di leher Rozak.
“Aku sembuhin kamu Nama, aku mau sembuhin kamu. Aku yakin aku mampu.”
“Caranya, Kang? Ini udah terlalu sakit,” ucap Nama sambil menyentuh punggung tangan Rozak yang masih menyentuh dadanya. “sakit banget, bertahun-tahun diangap nggak ada.”
“Ijinkan aku menjadi obat kamu, Nyun. Ijinkan aku membahagiakan kamu.”
“....”
“Ijinkan aku jadi orang yang selalu membela, percaya dan sayang sama kamu. Ijinkan aku lakuin itu semua.” Rozak mengusap air mata Nama yang terus berjatuhan tanpa bisa Nama hentikan sama sekali.
“Kamu mau lakuin itu semuanya?”
“Mau, aku mau. Asal kamu ijinin aku buat ngelakuin semuanya, Nam.” Rozak mengecup bibir Nama pelan, hanya sebuah kecupan hangat yang mampu membuat Nama melayang.
“Kamu mau?” tanya Rozak saat Rozak melepaskan kecupannya. Namun, bibirnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari bibir Nama.
“Maaf.”
Rozak terdiam saat mendengar perkataan Nama, jantungnya langsung mencelos. Tidak, Rozak tidak butuh penolakan. Nama sudah sangat sempurna untuk dirinya, Nama adalah jawaban atas segala doa-doannya. Rozak tidak akan sudi melepaskan gadis manis bermata bulat dihadapannya ini.
“Nyun, aku sayang sama kamu. Itu nggak cukup?” tanya Rozak pada Nama, yang langsung di jawab gelengan kepala oleh Nama.
“Nggak, nggak cukup.”
“Kamu mau apa, Nyun?” tanya Rozak sambil mengangkat dagu Nama, meratakan pandangannya dengan Nama.
“Maaf, Kang. Aku nggak bisa.”
“Nggak bisa kenapa?” Rozak langsung mencengkram bahu Nama, rasanya Rozak benar-benar mengejar gadis dihadapannya ini. “Kurang apa aku, Nama?”
Nama membuka matanya kemudian menatap netra mata Rozak. Tatapan sendu langsung Rozak rasakan saat Nama melihatnya. “Aku.”
“Apa, Nam. Kamu butuh apa? Aku udah nggak sanggup lagi diginiin. Aku emang nggak sempurna tapi, aku mau menjadi sempurna buat kamu.”
“Sempurna dan semuanya itu nggak cukup, karena aku mau lebih, Kang. Aku Purnama Iswanti ingin lebih.”
“Apa?”
“Maaf, aku maruk dan kurang ajar. Tapi, aku mau lebih dari itu semua, Kang.”
“Apa, Nama apa?” tanya Rozak dengan Nada putus asa.
“Aku mau kamu jadi iman aku Rozak Trina.”
•••
__ADS_1
XOXO GALLON