
“Cil,” panggil Jeff.
“Iya Pih,” jawab Cicil setelah menyusui dan meniduri Richie. “Kenapa?”
“Sini.” Jeff menarik tangan Cicil untuk mengikutinya duduk di kursi yang ada.
“Apa ada apa? Jangan bilang Papih mau bujuk Cicil nyetujuin Richie disunat di Belgia,” tebak Cicil.
Jeff menatap Cicil dan duduk di kursi yang ada. “Hah ... sudahlah itu gimana nanti aja, Richie juga masih tiga hari. Nama aja baru kamu kasih, Cil.”
Cicil hanya bisa memarkan gigi putihnya saat mendengar perkataan Jeff. “Ya maaf, Cicil sangka Aa Riki yang udah nyiapin namanya, ternyata dia juga belum nyiapin nama.”
“Mana mertua kamu aneh binti ajaib gitu, masa nama tenaga medis tukang sunat namanya Ucup Cupacup,” ucap Jeff sambil mengurut keningnya. “Manusia mana di dunia ini yang memberikan nama pada anaknya Ucup Cupacup?”
“Nggak tau, Pih. Bukan Papih ama Mamih untungnya.”
“Ah ... untung Rikinya baik, sayang sama kamu. Kalau nggak udah Papih gerus itu manusia,” ucap Jeff sambil menatap Abah kesal.
“Jangan Pih, kasian Abah itu mahluk yang dilindungi,” ucap Cicil ngasal, walau kadang Cicil suka bingung dengan pikiran Abah. Tapi, dia sayang dengan mertuanya itu.
“Ya kali mertua kamu badak jawa,” ucap Jeff kesal.
“Dahlah Pih, Papih mau ngomong apa?” tanya Cicil.
Muka Jeff yang tadinya ceria karena menceritakan kelakuan besannya berubah menjadi serius. Cicil langsung menegakkan duduknya, hidup bertahun-tahun dengan Jeff membuat Cicil tau kapan harus serius dan kapan waktu bercanda.
Detik ini adalah waktunya serius, tatapan mata Jeff benar-benar menunjukkan pandangan bisnis. “Cil ini soal Ahyar dan Sinclair.”
“Kenapa mereka berdua?” tanya Cicil.
“Ternyata mereka bekerja sama, Cil. Mereka mau ancurin perusahaan kita,” ucap Jeff.
Seketika semua tulang yang menjadi pondasi tubuh Cicil seperti tak mampu menyangga tubuhnya lagi, tubuhnya melemas seketika itu juga. “Pih.”
Jeff langsung menepuk lengan Cicil berusaha menenangkan Cicil. “Tenang.”
“Tenang gimana, itu semua data-data yang bisa bikin Ahyar masuk penjara ada dipengacara itu.”
“Papih tau, papih tau. Papih tadi ditelepon Ahyar, dia ancam Papih untuk menandatangai tender dan memberikan liburan untuk dirinya,” ucap Jeff.
“Minta berapa dia?” tanya Cicil.
“Tiga puluh persen,” jawab Jeff.
“Sinting, itu lebih besar dari kemarin. Abis kita Pih, perusahaan bisa kolaps. Investor bakal tarik modal, kita bisa bangkrut kalau kaya gini!?” seru Cicil sambil menggebrak meja pelan.
“Kalau kaya gini kita butuh suntikkan modal gede, siapa yang mau modalin? Nggak mungkin ada orang waras mau nolongin perusahaan kolaps kaya perusahaan kita. Mana ini perusahaan asing,” cerocos Cicil lemas.
Cicil merutuki nasibnya yang bodoh dan tidak berpikir jernih kemarin. Hormon kehamilan dan pikirannya yang kalut karena suaminya ada di hotel prodeo membuat Cicil tidak dapat mengambil keputusan dengan baik.
“Tenang, itu nggak akan terjadi.”
Cicil langsung menatap bola mata Jeff dengan bingung. Kenapa tidak bisa terjadi, perhitungannya tidak akan salah, seandainya Jeff menandatangani perjanjian sialan itu perusahannya pasti kolaps. Surat yang bisa menolong Rozak pun ada di tangan Sinclair asataga.
__ADS_1
“Papih, gimana caranya bisa nggak terjadi ....”
“Gini ....”
••••
Pagi itu Ahyar tersenyum cerah sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganya, dewi fortuna benar-benar menyayangi dirinya. Hari ini dia akan menandatangani perjanjian dengan kelurga Bouw dan mendapatkan liburan bersama ayam kampus miliknya.
Jadi, uang untuk istrinya ada dan uang untuk ayam kampus kesayangannya pun aman. Hah ... senang rasanya hidup seperti ini. Dengan langkah tegap dan sempurna Ahyar berjalan kearah Sinclair yang sedang menunggunya.
“Pak Ahyar,” sapa Sinclair.
“Pak Sinclair, gimana siap semuanya?” tanya Ahyar.
“Siap, semuanya sudah aman. Jangan lupa pembayarannya, Pak.” Sinclair mengingatkan hal paling penting dari perjanjian tersebut.
“Itu gampang, mari.” ajak Ahyar yang ingin cepat-cepat menandatangani perjanjiannya bersama dengan Jeff Bouw.
Merekapun berjalan masuk kedalam gedung dan menuju ruangan Jeff Bouw. Sesampainya di ruangan tersebut mereka sudah disambut oleh Rully.
“Pak Ahyar dan Pak Sinclair, mari Pak Jeff sudah menunggu,” ajak Rully mengantar Ahyar dan Sinclair ke ruangan Jeff.
Setelah masuk Ahyar langsung bersalaman dengan Jeff. “Gimana mau kita mulai aja?”
“Boleh, gimana jadinya perjanjiannya? Ini tidak salah tiga puluh persen, terlalu besar kalau ketauan KPK saya bisa kena. Gimana ini Sinclair?”
“Tenang Pak, semua sudah saya atur. KPK nggak akan tau, semuanya aman.” Sinclair meyakinkan Jeff.
“Semuanya aman, Pak Jeff. Saya juga minta tiga puluh persen ini ‘kan Pak Jeff sudah dapat keuntungan juga.” Ahyar berkata sambil tersenyum.
“Keuntungan apa? Perusahaan saya bakal kolaps,” jawab Jeff kesal.
“Tenang, bukannya saya akan memberikan kertas ini,” ucap Ahyar sambil menyodorkan map berwarna hijau ketangan Jeff.
Jeff tau apa isi map tersebut, dia sudah diberitahu oleh Cicil. Jeff hanya bisa mengambilnya dan menyimpannya di laci mejanya dengan cepat.
“Dan ... jangan coba-coba memberikan surat perjanjian kemarin ke KPK, karena Pak Sinclair sudah menyerahkannya pada saya,” ucap Ahyar sambil tersenyum.
“Sinclair!” seru Jeff sambil menatap pengacara kurang ajarnya itu.
“Maaf Pak, kemarin Bapak yang meminta saya sampai menelepon atasan saya Pak Burhan. Jadi, saya gerak cepat,” dusta Sinclair, padahal dirinya memang ingin menyerahkan berkas tersebut untuk mendapatkan keuntungan yang besar dari Ahyar.
“Saya diperas kalau begini, ini kurang ajar. Saya tidak bisa terima,” ucap Jeff berang, dirinya benar-benar kesal dengan kelakuan dua manusia sialan di hadapannya.
“Pak ini kan sama-sama untung, menantu anda keluar dari penjara. Surat yang diminta Bu Cicil juga sudah di tanda tangani dengan benar. Jadi semuanya sama-sama untung,” bujuk Sinclair.
“Ini pemerasan Sinclair, nggak ada ceritanya kaya gini. Ini sama saja perusahaan saya bangkrut, belum kalau ketahuan KPK. Saya bisa habis,” bentak Jeff.
“Baiklan kalau nggak mau nggak apa-apa, saya bisa buat menantu kesayangan anda kembali kepenjara. Gimana, ehm ... tujuh tahun penjara?”
“Atas dasar apa?” tanya Jeff geram.
“Apapun atau saya buat Ibu Cicil dan Pak Riki berpisah? Seingat saya anak anda itu punya gangguan mental ‘kan. Kebayang kalau suaminya nggak ada apa yang terjadi, mengurus anak sendirian. Bahkan, anda pun tidak bisa menolong,” ancam Ahyar sambil tertawa senang.
__ADS_1
“Bagaiamana caranya?” Jeff benar-benar kesal bukan main dengan kelakuan Ahyar, bisa gila dia kalau anak, menantunya dan cucunya ada apa-apa.
“De-por-ta-si ....”
Brak ...
“Jangan bikin perkata kamu Ahyar,” maki Jeff sambil menggebrak meja, rasa kesalnya langsung memenuhi diri Jeff. Astaga ... kewarganegaraan Cicil yang masih Belgia benar-benar bisa diserang dari manapun.
“Jadi?” tanya Ahyar sambil tersenyum senang.
“Pak Jeff lebih baik diikuti saja keinginan Pak Ahyar. Saya jamin KPK tidak akan tau, saya sudah manipulasi semuanya dengan baik,” bujuk Sinclair tak sabaran.
Jeff kembali duduk dan mengatur napasnya, Jeff benar-benar ingin menendang kepala Ahyar Suhendar itu. Kenapa ada manusia seperti Ahyar sih di dunia ini, menyebalkan sekali.
“Baiklah, mana berkasnya?” tanya Jeff sambil meminta berkasnya.
“Ini.” Dengan cepat Sinclair menyerahkan berkas-berkas ke arah Jeff.
Jeff membuka-buka berkas tersebut dengan teliti. “Baiklah, akan saya tanda tangan ini semuanya. Saya lakukan karena anda berdua melakukan pemerasan pada saya,” ucap Jeff.
“Yah, memang kami melakukan pemerasan. Tapi, ada yang salah? Nggak ada ‘kan? Udah cepat tanda tangan, Pak,” pinta Ahyar sambil tersenyum senang.
Jeff kemudian mengambil pulpennya dan bersiap untuk menandatanganinya, sebelum melakukan tanda tangan Jeff menghentikan gerakkannya sambil tersenyum Jeff menatap Ahyar.
“Apa?” tanya Ahyar yang bingung kenapa Jeff menatapnya sambil tersenyum.
“Sebelum saya tanda tangan.” Jeff menyenderkan punggungnya kesandaran kursi sambil tersenyum. “Saya ingin Pak Ahyar dan Pak Sinclair bertemu seseorang.”
“Siapa?” tanya Ahyar dan Sinclair kompak.
Jeff hanya tersenyum dan mengangkat teleponnya dan meminta Rully mengizinkan tamu-tamunya yang sudah menunggu lama masuk kedalam ruangan.
“Teman saja, katanya mau berkenalan,” ucap Jeff sambil tersenyum.
Tok ... tok ....
“Masuk,” ucap Jeff.
Klik ...
“Selamat pagi.”
“Kamu!?” teriak Sinclair spontan.
••••
Muahahahhaaa siapakah dia ohhh siapakah dia uwooo uwoo uwooo lalalalalaa ....
Hei kalian yang baca novel aku, jangan lupa kasih kopi, bunga dan votenya. Jangan diem-diem aja, aku mau minum kopi untuk mencerahkan mataku dan menghirup sebuket bunga wkwkwkkw ....
dadah eh likenya diteken kalau perlu dibanting wkwkwkkw
XOXO GALLON
__ADS_1