Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Mantan...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️


•••


“Ini beneran kita mau ngikutin rencana Cicil?” tanya Edy sambil melihat-lihat kasur di Ike*.


Setelah mengobrol panjang lebar kali tinggi tadi mereka sepakat untuk melakukan rencana Cicil yang pasti mengorbankan kewarasan Edy.


“Sekarang aku nanya,Mang. Kalau kita nggak dapat surat perjanjian itu, kita bisa bertahan? Cabang ada 7, pasokan daging dan ayam nggak ada. Mau rubah nama jadi restoran dedaunan? Yang ada kambing yang datang,” dengus Riki sambil mencoba sebuah kasur.


“Kebo sekalian dateng dah,” dengus Edy pasrah. “Ya udah, demi kamu, Mang dan demi restoran Water teapot, Edy mengalah...” ujar Edy sambil menaikkan satu kakinya ke atas meja dan mengepalkan tangan kanannya keudara.


“Nah kan, si Lele kumat lagi gilanya,” suara seorang wanita membuat Edy menolehkan kepalanya. Mulutnya langsung tertarik ke atas saat mendengar suara wanita cantik itu.


“Oh... Lauraku sayang, apa kabar, Baybeh,” ujar Edy sambil menyisir rambut bagian kanannya dengan jari-jari tangannya.


Laura langsung membulatkan matanya dan mengambil napas sedalam-dalamnya saat melihat tingkah pola Edy. Edy yang selalu membuat dirinya merasa menjadi manusia paling waras didunia.


“Cil, lo kagak ada cita-cita ngusir si Edy dari restoran pacar lo, dipecat gitu,” ujar Laura sambil menatap Cicil yang sedang menekan-nekan kasur disampingnya. “Lo nggak sawan liat Edy, setiap hari!?”


Cicil terkekeh mendengar perkataan sahabatnya ini, “Sawan? Nggak ah, malah ngehibur tau kalau ngeliat Edy, masakan Edy juga enak banget tau,” jawab Cicil.


Oke, memang masakan Edy patut diacungi jempol. Masakannya enak, enak banget malah. Awal-awal Laura kaget dari tangan seorang Edy bisa menghasilkan makanan hotel bintang 5. Tapi, kelakuannya tuhan, tolong Laura, Laura ngak kuat, GELI...!!!


“Beibeh, gimana dandanan Edy hari ini, udah cucok belum?” tanya Edy sambil memutar tubuhnya didepan Laura.


Oke, dandanan Edy sekaranh lumayan, celana jeans dipadukan dengan kemeja hitam, benar-benar membuat Edy sedikit, inget sedikit lebih tampan. Tapi, argh... Laura sawan liat janggut lele andalan Edy.


“Tau, ah... aku mau cari dulu barang-barang yang dibutuhin buat rencana besok,” ujar Laura sambil pergi melarikan diri dari sana.


Melihat Laura yang pergi, Edy hanya bisa mengerucutkan bibirnya. “Cil, Laura kenapa sih kaya gitu, emang aku bukan tipe Laura, Yah?”


Cicil langsung melihat Edy dari atas kebawah, kemudian mengulum senyum. Sudah dapat dipstikan, Edy bukanlah tipe Laura. Hampir semua mantan Laura gantengnya, jangan ditanya. Laura tipe perempuan yang sangat-sangat mementingkan penampilan. Tapi, hei... Edy punya selera humor terbaik. Kenapa nggak?


“Sebenernya sih, kamu bukan tipe Laura. Tapi....” Cicil berusaha untuk tersenyum sedikit pada Edy, mencoba menyemangati Edy agar tetap berusaha untuk mendapatkan hati Laura. “Kamu ‘kan pinter masak, lucu juga. Jadi aku yakin Laura mau sama kamu, asal sedikit berusaha.”


“Sedikit?” tanya Edy.


Cicil menatap Riki disaampingnya yang sudah tidak mampu berkata apa-apa, kemudian kembali menatap Edy, “Iya, sedikit...!”


Wajah Edy langsung berubah menjadi lebih bersemangat, dengan tatapan yang penuh semangat untuk meraih cintanya bersama Laura, Edy mengambil botol air minum kemudian menciprat sedikit air kemukanya sambil berkomat kamit dan loncat-loncat ditempt seperti kelinci sawan sebanyak tiga kali.


“Aku mau nyari Laura dulu, sebelum ketampanan aku hilang,” ujar Edy.


“Bentar eta cai naon, Mang? (Bentar itu air apa, Mang?) tanya Riki sambil menatap Edy bingung.

__ADS_1


“Absolutely (sudah pasti) air penambah ketampanan dari Ki Berondong My Luv,” jawab Edy sambil mengacungkan botol air mineral kecil keudara. “Mau? Ketampanan kamu bakal naik 5%, itu juga belum dipotong pajak.”


Cicil berjuang untuk tidak tertawa, kelakuan Edy benar-benar absurd. “Nggak usah, Ed. Aa, udah ganteng, lebih ganteng dari ini susah jaganya. Nanti, digondol pelakor aku yang repot,” ujar Cicil sambil menepuk bahu Riki.


“Oke, kalau gitu. Saya mau meluncur dulu mencari Neng Laura My Luv,” ujar Edy sambil berjalan menjauh dari Cicil dan Riki.


“Aa, Edy itu kelakuannya emang aneh gitu?” tanya Cicil.


“Aduh, Edy mah udah aneh kelakuannya dari Orok (bayi), dikampung udah nggak aneh kalau dia bikin ulah,” jawab Riki.


“Hahahaa... udah ah, aku pilih kasur yang ini aja,” ujar Cicil sambil menunjuk kasur dengan harga yang tidak terlalu mahal.


“Yakin, nggak yang ini aja?” tanya Riki sambil menunjuk kasur dengan harga yang lumayan. Riki pikir bisa dicicil 36 bulan, kenapa nggak beli yang mahal aja sekalian.


“Nggak usah, ini aja,” ujar Cicil.


“Nggak papa mau ini juga, nanti Aa cicil 36 bulan,” jawab Riki polos.


“A... kita beli kasur atau beli motor? Kredit ampe 36 bulan,” kekeh Cicil sambil memukul lembut bahu Riki.


“Hehehee... kan yang penting kebayar, Neng,” jawab Riki malu-malu.


“Udah nggak udah kredit-kredit, Aa mampunya yang ini. Ya udah yang ini aja, Cicil itu, selama tidurnya sama Aa, mau kasur kapuk juga nggak papa,” jawab Cicil sambil mengecup pipi Riki cepat.


Riki menatap Cicil sambil mengusap pipinya yang sudaj di kecup Cicil. Astaga Cicil benar-benar ikhlas hidup menjadi rakyat jelata bersama dirinya. “Ah... Neng, Aa jadi leleh ini mah, nikah yuk, Neng...”


“Ayo, kapan? Dimana?” tantang Cicil sambil menjulurkan lidahnya.


“Hahahaa...” suara tawa Cicil langsung terdengar renyah di telinga Riki.


•••


Laura berjalan dengan cepat kearah tempat makanan ringan, dia butuh nutrisi. Dia butuh camilan. Berbicara dengan Edy benar-benar membuat jiwa dan raganya lelah.


Saat sedang membaca camilan dan memasukkannya ke keranjang, Laura dikagetkan denhan sebuah panggilan yang membuat dirinya memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang memanggil namanya dan....


“Laura...”


Napas Laura terhenti, dengan cepat dia memperbaikki tata letak jaketnya yang berwarna Pink. Astaga Laura benar-benar mengutuki dirinya yang tidak berdandan sama sekali hari ini. Pakaiannya astaga, hanya celana kain rumahan, kaos tank top, jaket berwana pink stabilo dan sendal flip flop berwarna kuning. Dan tolong Laura lupa mencuci rambutnya yang mau tidak mau membuat rambutnya berminyak dan lepek.


“Sam, Samuel...” jawab Laura sambil mengusap rambutnya.


Samuel mantan Laura terakhir yang masih Laura dambakan hingga detik ini. Samuel, lelaki yang mampu meporak-porandakan hatinya selama 1 tahun dan meninggalkannya demi wanita lain. Bajingan emang, tapi apa mau dikata Laura benar-benar tidak bisa melupakan Samuel.


“Hai, Laura kamu ngapain disini? Pesta pajama (piama)?” tanya Samuel sambil melihat dandanan Laura dari atas sampai ke bawah.


Argh.... fashion disaster..!? Laura benar-benar tidak memperhitungkan kalau hari ini akan bertemu dengan mantan terindahnya. Seandainya dia tau mungkin dia akan berdandan habis-habisan.


“Hahahaa... nggak hahaa...” Laura benar-benar salah tingkah menghadapi Samuel, badannya digerak-gerakkan kekiri dan kekanan.

__ADS_1


“Sayang, ini kayanya enak deh.”


Mata Laura membulat saat melihat seorang gadis, inget gadis..!! Gadis cantik berumur sekitar 16 tahun menggunakan baju seragam SMA mendekati Samuel dan memeluknya dengan manja.


‘ARE YOU F•CKING KIDDING ME...!?’ (Apakah kamu bercanda?) batin Laura sambil menatap gadis belia dihadapannya. Samuel berkencan dengan bayi!?


“Ah em... iya, Yang enak, dapet dari mana?” tanya Samuel.


“Dari sana, ah siapa ini? Kenapa ada oma-oma disini?” tanya gadis itu lagi.


‘OMA....!?’ batin Laura sambil mengepalkan tangannya. Wah, minta dijadiin embrio lagi ini upil firaun.


“Ah, bukan ini Laura, mantan pacar aku,” ujar Samuel sambil tersenyum. “Laura ini Ines, Ines ini Laura.”


“Laura...”


“Ines...”


“Ngapain Bu Laura disini?” tanya Ines sambil menatap Laura dari ujung rambut sampai ujung kaki.


“Ibu... Ibu kata kamu,” cicit Laura menahan emosinya, kenapa dia jadi Ibu, astaga umurnya masih 28 tahun, okai ini upil firaun bener-bener harus dikasih pelajaran.


“Beibeh, lagi apa?”


Laura tiba-tiba merasakan rangkulan di bahunya, “Edy?!”


“Iya Beibeh, udah pilih makanannya. Ah... ini siapa?” tanya Edy sambil menunjuk Samuel dan Ines.


“Ini Samuel mantan aku sama Ines pacar barunya, yang masih seumur embrio,” Laura menurunkan intonasi suaranya saat mengatakan masih seumur embrio.


Edy tersenyum geli mendengar penjelasan Laura. “Ah... saya Edy, Suami Laura di masa depan yang cerah dan gemilang.”


Samuel hanya bisa menganggukkan kepalanya saat mendengar perkataan Edy, “Samuel.”


“Oke, saya sama Beibeh mau pergi dulu, kita harus isi rumah baru kita ‘kan di Bantar Gebang, ayo,” ujar Edy sambil menarik Laura menjauh dari Samuel dan Inez yang menatap takjub Edy dan Laura.


“Ayang, bukannya Bantar Gebang tempat pembuangan sampah akhir yah?” tanya Inez sambil menatap Samuel.


Samuel menahan tawanya mendengarkan perkataan kekasihnya, “Nggak tau, mungkin rumahnya daerah sana kali.”


Ines hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar perkataan Samuel. Ah, sudahlah Laura juga yang rugi, Samuel gantengnya udah seperti malaikat terganteng dimuka bumi, eh penggantinya kaya malaikat pencabut nyawa, pikir Ines.


•••


Wkwkwkkk.... penasaran dengan wajah mantan Laura? Oke cuss liat deh ini perbandingannya...



Pedih cuy....!? 🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


walau Edy ganteng dengan pesonanya sendiri...


•••


__ADS_2