Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Nyun Nyun Nyun ....


__ADS_3

“Lah!?”


Rozak merasa kepala kakaknya ini sudah teratuk meja, bagaimana tidak saat mengangkat telepon bukannya mengucapkan salam atau apa malah bilan welcome to the club. Bikin club apa pula Kakaknya ini?


“Welcome to the club.”


“Club apaan? Jangan bilang club pemujaan Ki Brondong, nggak banget Aa. Musrik,” ucap Rozak sambil menggaruk kepalanya pelan.


“Hahaha ... ngapain aku bikin club kaya gitu, nggak ada kerjaan sumpahnya yah. Mending bikin Club catur atau gaplek dah.”


“Lah ... terus club apaan?” tanya Rozak bingung.


“Club yang ingin kamu masukin dari zaman baheula(dulu),” canda Riki.


“Club apaan?” Seingatnya dia tidak mau masuk club apapun.


“Club keinginan kamu lah,” ucap Riki.


“Club apaan, dahlah jangan bikin pusing. Aku ama Nama lagi pusing gara-gara bapaknya masuk prodeo ini. Makin susah aku mau nikah sama Nama, mau nikah aja sulit,” rutuk Rozak kesal.


“Lah kenapa sulit, kan ada wali hakim,” ucap Riki.


“Ternyata harus ada surat persetujuan dari kedua orang tua. Ibunya Nama mah setuju, lah bapaknya? Dia lagi di bui makin ribet urusannya.” Rozak menendang-nendang angin sambil berjalan kekanan dan ke kiri.


“Kasian amat nggak bisa dong join ke club aku ama Adipati,” canda Riki, saat ini dia senang menjahili adinya yang kebelet nikah.


“Aa ... club apaan sih? Sejak kapan Aa sama Adipati punya club, sombong amat,” rutuk Rozak.


“Hahaha ... adalah kita berdua punya Club, namanya Club cinta mati sama istri,” kekeh Riki.


“Haduh ... bener-bener deh, jangan bikin kesel. Aku mana bisa masuk ke club cinta mati sama istri. Nikah aja susah.”


“Hahaha ....”


“Aku bikin club sendiri ajalah, namanya Club selamanya pacaran,” ucap Rozak sambil menahan tawanya. Miris sekali nasibnya mau menghalalkan gadis pujaannya saja sulitnya bukan main.


Rozak menatap Nama yang sedang memijat keningnya sambil menatap TV yang sedang menyiarkan berita tentang Ahyar yang terus menerus diputar ulang karena itu adalah hot gosip hari ini.


“Ngenes amat.”


“Tau ah, Aa. Ada apaan nelpon? Jangan bilang cuman mau ngejek aku aja.”


“Yah sebenernya Aa ingin ngejek kamu, yang ngebet nikah ....”


“Dosa Aa, Dosa. Nggak bagus ngejek orang yang mau menghalalkan hubungan itu,” ucap Rozak keki.


“Hahaha ....”


“Tau gini dulu aku nggak bantu Aa nikah sama Cicil, aku biarin aja. Biar sama-sama jomblo udahlah,” ucap Rozak menyesali perbuatannya dulu yang membantu Riki menikah dengan Cicil. Riki yang dulu selalu menolah menikah dengan Cicil akhirnya mau juga menikah dengan Cicil setelah dipaksa dan dijebak untuk menikah dengan Cicil.


“Eh ... jangan dong, nggak bagus itu. Kamu tau Aa cinta mati ama Cicil, jangan bikin perkara,” ucap Riki.


“Lah, iya udah ada apaan nih, kalau nggak ada yang penting aku tutup teleponnya. Mending aku meluk Nama yang lagi pusing dia, bisa lah dikit-dikit aku cium-cium itu kepalanya,” ucap Rozak.

__ADS_1


“Hahaha ... Aa cuman mau ngasih tau, Aa punya surat yang ngasih izin Nama untuk menikah dengan siapapun yang Nama inginkan dan Ahyar tidak akan menggangu hidup Nama dan Islah lagi.”


“Siapa yang ngasih izin?” tanya Rozak polos.


“Yah ... Ahyar Suhendar lah, masa Aa. Siapa Aa bisa ngasih izin kaya gitu,” ucap Riki.


“Bohong.” Spontan Rozak berkata sambil berteriak keras sampai-sampai Nama yang sedang duduk mengalihkan pandangannya dari TV ke arah Rozak.


“Ya udah kalau nggak percaya, Aa buang aja nih surat.”


“Eh ....”


“Padahal udah ada tanda tangan Ahyar ditambah di atas matrei pula,” ucap Riki.


“Kok bisa?”


“Bisalah, jadi gimana? Mau diambil atau Aa buang ke tempat sampah. Ah ... Aa jadiin bungkus gorengan aja kayanya asik nih,” ucap Riki.


“No ... jangan, jangan dong Kakakku sayang. Jangan, aku kesana yah, aku kesana ama Nama. Jangan diapa-apain itu surat sakti. Jangan kemana-mana diem aja di kamar Aa tuh. Kelonan ama Cicil, aku kesana sekarang,” ucap Rozak sambil mematikan sambungan telepon dan berlari menuju Nama yang sedanh duduk dan menatapnya dengan tatapan bingung.


“Nyun ... nyun ... nyun ....”


“Apa? Kenapa? Ada apa? Riki ama Cicil kenapa lagi? Ayah aku bikin ulah apa lagi?” tanya Nama panik, demi apapun di jagat raya, bila Ayahnya bikin ulah lagi Nama benar-benar akan mencoret nama Ayahnya dari kartu keluarga miliknya.


“Nyun,” ucap Rozak sambil duduk di samping Nama dan memeluknya erat-erat.


Nama yang masih dalam mode panik hanya bisa terdiam dan menepuk-nepuk bahu Rozak kesal. “Kang, aku nggak bisa napas. Sesak, ada apaan sih?”


“Hah ... gimana caranya, itu bandot masuk bui. Kamu tau sendirikan persyaratan ngegunain wali hakim harus ada persetujaun dari orang tua aku. Mana harus sidang pula,” ucap Nama.


“Iya, emang.”


“Lah terus gimana caranya? Mau minta persetujuan Ayah? Dalam keadaan kaya gini pasti dia minta kita buat ngeluarin dia dari bui dengan cara keluarga Cicil cabut tuntutan,” ucap Nama.


“Mana bisa, Ahyar udah ada urusannya sama KPK keluarga Cicil nggak bisa nolongin.” Rozak mengingatkan Nama.


“Ya udah gimana caranya coba?” tanya Nama kesal.


“Aa Riki punya caranya, dia punya surat yang bertanda tangan Ahyar kalau dia mengizinkan kamu menikah dengan siapapun dan tidak akan menggangu lagi kehidupan kamu sama Ibu.”


Mata Nama langsung membulat, tampak binar-binar kebahagiaan terpancar dari bola mata Nama. Tak terasa air mata mengalir dari bola matanya.


“Lah, kok nangis?” tanya Rozak bingung, cengen banget Nama itu.


Dengan cepat diusapnya air mata Nama dengan kedua jempol milik Rozak. “Napa nangis, harusnya bahagia.”


“Ini nangis bahagia Kang, itu beneran?” tanya Nama lagi meyakinkan.


“Iya, Aa Riki nggak mungkin bohong, aku yakin itu beneran.” ucap Riki sambil tersenyum senang. “Kita nikah Nyun. Akhirnya.”


Nama langsung berteriak keras dan memeluk Rozak, mendorong tubuh Rozak hingga kekasihnya itu terjengkang kebelakang.


“Nyun, jatuh ....”

__ADS_1


“Hahaha iya maaf, astaga aku bahagia banget. Akhirnya aku bisa nikah sama Akang,” ucap Nama sambil mengangkat tubuhnya. Posisi Nama saat ini sedang duduk di tubuh Rozak.


Rozak langsung mengelus paha Nama pelan, menggelitiknya. “Iya kita nikah, Nam.”


“Iya,” ucap Nama sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Rozak, mengikis jarak diantara mereka berdua. Membuat hanya tinggal seinci lagi Nama dapat mengecup bibir Rozak.


“Nyun,” bisik Rozak sambil menyelipkan rambut Nama ke kupingnya.


“Iya.”


“Cium aku,” pinta Rozak sambil mengunci netra mata Nama yang hitam, membius Nama untuk mematuhi permintaannya.


“Guys, liat guys. Guru olah raga kita lagi ngelakuin tindakan mesum!?”


Mendengar perkataan itu otomatis membuat Nama menjauhkan wajahnya dari wajah Rozak dan mengalihkan pandangannya dari wajah Rozak ke wajah Ira yang sedang tersenyum menyebalkan pada dirinya.


“Astaga Ira.”


“Astaga Ira,” beo Ira sambil menahan tawanya saat melihat Nama dan Rozak langsung terduduk dan membenarkan pakaiannya dengan rona wajah yang merah.


“Kamu dari mana?” tanya Rozak sambil berdehem.


“Kamu dari mana?” beo Ira sambil duduk diantara Nama dan Rozak menjadi pemisah bagi mereka berdua.


“Ira!?” ucap Rozak dan Nama berbarengan karena kesal dengan Ira yang malah membeo perkataan mereka berdua bukannya menjawab pertanyaannya.


“Hahaha ... chill, bro (santai)” kekeh Ira sambil menurunkan tasnya.


“Astaga, Ra kamu dari mana? Kamu nggak liat pemberitaan?” tanya Nama.


Ira melirik TV yang sedang menunjukkan gambar Ayahnya. “Udah, seru loh di rumah. Mamih teriak-teriak, Kak Tandika juga sama. Wah ... banyak KPK di rumah, barang-barang di keluar-keluarin. Wartawan apalagi, wuih ... berasa artislah,” ucap Ira sambil tertawa dingin, berusaha untuk menutupi kesedihannya.


Nama yang langsung sadar kalau adiknya itu membutuhkan dirinya langsung memeluk Ira dari samping dan membisikkan satu kalimat. “Kamu kuat, Ra.”


Ira terdiam mendengar perkataan Nama, air matanya jatuh dari matanya. “Kak, Ira kuat?”


“Kuat, kamu kuat. Kalau ada apa-apa kamu kesini aja. Biar Kaka sama Kang Rozak juga Ibu peluk kamu,” ucap Nama sambil mengeratkan pelukkannya berusaha menyalurkan energi positif ke tubuh Ira.


“Kak ....” isak Ira sambil membalas pelukkan Nama dan menangis sejadi-jadinya dipelukkan Nama. Merutuki nasibnya, merutuki masa depannya yang akan sangat berat.


“Its oke, you can cry (nggak pap kamu bisa menangis)” ucap Nama pelan sambil mengusap rambut bagian belakang Ira.


“Kaka, Ira takut,” isak Ira sambil menangis di dada Nama, meluapkan segala-galanya. Meluapkan rasa sakitnya dan kekhawatirannya.


“Nggak papa ada Kaka di sini, kamu kuat.”


“Kaka ....”


••••


Kamu kuat Ira ❤️


XOXO GALLON

__ADS_1


__ADS_2