
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
•••
Saat ini mereka sudah kembali ke kantor Riki. Rozak duduk disebelah Nama, entah kenapa dari tadi Nama menolak untuk bertatapan langsung dengan Rozak. Setiap kali mereka bertatapan pasti Nama langsung membuang mukanya jauh-jauh.
“Nah, benerkan. Si Albert malsuin tanda tangan aku,” pekik Riki kesal sambil memukul surat perjanjian dengan punggung tangannya.
Cicil lalu membaca surat perjanjian tersebut, matanya membulat sempurna saat melihat perbedaan yang sangat jauh antara surat perjanjian ditangannya dan surat perjanjian diatas meja.
“Albert bener-bener sakit, kelakuannya nggak ada ahlak. Maunya apa coba,” pekik Cicil kesal sambil menyerahkan surat perjanjian pada Laura yang sedari tadi berusaha untuk melihat isi surat yang ada.
“Ya udah kalau gini, Riki beli langsung aja ke supplayer lain. Tapi, masalahnya harga Albert itu yang paling murah di pasaran,” ujar Laura.
Riki menganggukkan kepalanya tanda menyetujui perkataan Laura. Harga Albert memang paling murah tapi, kelakuannya jangan ditanya nggak ada ahlak.
“Ya udahlah, aku mau pulang dulu. Kasian Nama pulangnya kemaleman,” ujar Rozak sambil melirik Nama.
“Aku pulang sendiri aja nggak papa,” ucap nama sambil berdiri dari kursinya dan berjalan keluar ruangan.
Rozak dengan cepat mengejar Nama sambil berpamitan pada semuanya. Rozak akhirnya mendapati Nama yang sedang berjalan disamping motornya.
“Nam, tunggu sini aku anterin,” ujar Rozak.
“Nggak usah aku bisa pulang sendiri,” tolak Nama halus.
“Ini udah jam 10 malem Nam, nggak lucu kamu pulang sendirian. Aku takut kamu ada apa-apa, aku anter yah,” pinta Rozak sambil mengusap bahu Nama, dengan cepat Nama bergerak mundur kebelakang berusaha untuk menolak sentuhan Rozak.
“Nam, kamu marah sama saya?” tanya Rozak sambil menatap Nama.
Nama terdiam, matanya menatap sepatu putih yang dikenakan oleh dirinya. “Marah kenapa?”
Helaan napas Rozak terdengar dengan keras dan jelas. “Maaf....”
Dengan cepat Nama melihat Rozak, kaget dengan satu kata yang dilontarkan oleh Rozak. Kenapa harus meminta maaf? “Buat?”
“Maaf karena tadi saya nyium kamu, saya khilaf,” ujar Rozak sambil menatap Nama.
Kaget, satu kata itu yang Nama rasakan. Seumur hidupnya belum pernah ada pria yang meminta maaf pada dirinya. Dandanan, cara berpakaian dan bentuk tubuhnya benar-benar mencirikan wanita tidak baik. Tapi, dibalik itu semua Nama adalah wanita yang baik.
“Zak....”
__ADS_1
“Maaf yah, Nam. Aku salah, aku minta maaf,” ujar Rozak.
“Aku bukan marah karena itu, kok,” jawab Nama pelan.
“Lah, terus kamu marah karena apa?” tanya Rozak bingung.
“Nggak, aku nggak marah,” Nama memilih untuk bungkam. Memilih untuk tidak membicarakan apapun, memilih untuk menutupi masa lalunya.
“Kalau nggak marah dari tadi kamu nggak bakal ngehindarin aku, Nam,” desal Rozak.
“Maaf yah, aku lagi PMS. Pulang aja Yuk,” pinta Nama sambil mengambil helm di tangan Rozak. Nama benar-benar tidak mah membicarakan apapun.
“Nam,” ujar Rozak sambil menahan helmnya untuk diambil oleh Nama.
“Zak, aku nggak papa.”
“Kalau aku cium kamu lagi tetep nggak papa?” tanya Rozak, Rozak tau ada yang disembunyikan oleh Nama.
Nama mengigit bagian bawah bibirnya, pikirannya langsung melayang pada adegan ciuman dirinya dengan Rozak. Ciuman biasa, hanya saling menempelkan bibir. Tidak ada yang istimewa, tidak ada pemaksaan atau tuntutan dari Rozak untuk Nama membuka mulutnya dan memberikan akses tak terbatas bagi Rozak untuk menjelajahinya. Nama mengukai ciuman sederhana Rozak.
“Zak kita pulang aja, yuk,” ujar Nama.
“Nam.”
“Pulang atau aku pulang sendiri,” ancam Nama.
•••
Sesampainya didepan rumah Nama, Nama langsung turun dari motor Rozak.
“Nam, aku....”
“Nggak usah minta maaf, kamu nggak salah,” jawab Nama.
Tangan Rozak langsung mengacak rambut Nama pelan, dengan cepat dia memperbaikki anak-anak rambut Nama. “Kalau hati kamu udah kebuka, boleh aku masuk?”
Deg...
Jantung Nama langsung berdetak kencang, tau dari mana Rozak kalau Nama sedang menutup hatinya rapat-rapat. Masa lalunya benar-benar membuat Nama babak belur dan susah menerima lelaki manapun, tapi Rozak berbeda. Rozak sangat-sangat manis, walau Rozak sangat berani untuk menciumnya. Tapi, Rozak sangat manis dan lembut.
“Kata siapa hati aku ketutup?” tanya Nama spontan.
Rozak hanya bisa terkekeh geli mendengar perkataan Nama, kisah percintaannya memang sedikit dibanding Riki. Tapi, pengalaman hidup dan pernah hidup bersama seorang Adik bermasa lalu kelam membuat dirinya tau manusia-manusia yang menutup dirinya, manusia-manusia yang menunggu seseorang untuk mengetuk pintu hatinya. Bersiap memasukkan seseorang itu kedalam kehidupannya, memberikan warna.
“Bukan siapa-siapa, aku cuman bilang. Kalau pintu hati kamu udah terbuka sedikit, izinin aku yang masuk. Karena, aku ingin ada disana,” jawab Rozak sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Seperti tersihir oleh senyuman Rozak, Nama langsung memeluk Rozak dengan erat. Sepertinya, Rozak tidak perlu mendobrak pintu hati Nama, Rozak hanya perlu mendorong pelan pintu itu untuk masuk kedalam hati Nama.
“Zak, tunggu pintunya kebuka. Kamu mau?” tanya Nama sambil menelusupkan kepalanya ke dada Rozak.
Rozak tersenyum sambil mengusap rambut Nama dengan tangan Kanannya, sedangkan tangan kirinya menangkap sesuatu yang dari tadi berterbangan di sekitarnya, sesuatu yang membuat suasana disana syahdu.
“Nam...” panggil Rozak sambil menatap kebawah, perbedaan tinggi tubuh mereka membuat Rozak harus menundukkan kepalanya untuk melihat Nama. Sedangkan, Nama harus mendongkakkan kepalanya untuk menatap Rozak.
“Yah.”
Rozak membuka tangannya dan menunjukkan sesuatu yang ditangkapnya. Mata Nama membulat, bibirnya tersenyum saat melihat apa yang ada ditangan Rozak. “Kunang-kunang?”
“Iya Nam, kunang-kunang,” jawab Rozak.
Nama langsung melihat kebelakang Rozak yang penuh dengan kunang-kunang cantik. “Cantik...”
“Cantikan kamu, Nam,” bisik Rozak sambil mengusap hidung Nama dari atas kebawah dengan punggung tangannya. Mata Nama langsung mengerjap mendengar perkataan Rozak.
“Kamu gombal,” kekeh Nama manja.
“Aku bakal nunggu kamu, aku bakal ada disamping kamu. Kita sama-sama yah. Aku nggak peduli status, aku maunya sama kamu,” ujar Rozak.
Jantung Nama berdegup kencang saat Rozak berkata hal itu. Rozak sama sekali tidak menuntut status, Rozak menuntut dengan cara sehalus mungkin. Cara yang Nama sukai. Memberikan kebebasan namun mengikat, tidak membuat Nama sesak.
“Zak kalau suatu hari aku nyakitin kamu gimana?” tanya Nama pelan.
Rozak terdiam sambil menatap manik mata Nama dengan intens dan dalam. Rozak mendekatkan bibirnya ke kuping Nama, berbisik pelan. “Resiko aku, Nam. Aku maunya kamu....”
Napas Nama tercekat, Tuhan lelaki ini terlalu baik dan terlalu manis. Nama harus apa?
“Zak...”
“Aku suka kamu Nam.”
Rozak mencium pipi Nama pelan, tanpa tuntutan hanya ada kelembutan yang Nama rasakan. Kemudian, merengkuh Nama kedalam pelukkannya. Rozak mencium bahu Nama pelan, lembut, sensual dengan caranya sendiri.
Apakah Jalan mereka untuk bahagia tanpa hambatan?
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon