
Sepanjang acara lamaran, keluarga Ahyar yang tadinya tampak tidak peduli dengan rombongan Rozak. Berubah, menjadi cari perhatian dan berjuang untuk terlihat baik dihadapan mereka semuanya.
Adipati yang mulai merasa tidak nyaman dengan Tandika yang terus membuntutinya kemana saja. Hanya bisa pasrah mendengar cuapan Tandika yang tidak ada henti-hentinya mengenai bisnis.
“Jadi, bagaimana dengan sahamnya? saya dengar saham Toko naik terus yah. Bagaimana dengan Pak Juan, masih sering ketemu?” tanya Tandika penasaran. Tandika benar-benar penasaran dengan sosok Juan dan Adipati. Sosok yang sangat sulit disentuh oleh semua orang yang ingin menjadi koleganya dan detik ini salah satunya ada dihadapannya. Tandika tidak mau menyia-nyiakan hal itu.
“Iya,” jawab Adipati singkat, Adipati ingin melarikan diri dari lelaki bernama Tandika ini.
Mata Adipati mencoba mencari dimana sosok istri kecilnya yang menghilang entah kemana. Terakhir, Adipati melihat istrinya sedang berbincang dengan Cicil dan Nama. Tapi, sekarang dia hilang.
Mulai besok sepertinya Adipati akan mencari tali kekang untuk istrinya yang lincah itu. Karena, setiap mereka pergi ke pesta atau acara apapun Taca selalu menghilang dari radar pengawasannya. Adipati takut Taca hilang diculik orang.
“Jadi, bagaimana....”
“Maaf, Dika. Saya mau cari istri saya dulu. Dia punya kebiasaan menghilang dari radar pengawasan.” Adipati berusaha untuk memanjangkan lehernya untuk mencari dimana posisi istrinya.
“Pasti ada Pak, nggak mungkin ilang. Kalau saya jadi istri Bapak pasti saya bakal siap sedia disamping bapak.”
“Hmm...” jawab Adipati sambil meminum minumannya dengan tenang.
“Pak, bagaimana kalau malam ini kita pergi. Biar saya jamu anda, apapun yang anda mau saya kasih. Ajak aja Pak Juan, gimana?” tawar Tandika.
“Jamu gimana?” tanya Adipati sambil menatap Tandika.
“Yah, kita bisa ngobrol-ngobrol dan nanti saya ajak temen-temen saya. Itu juga kalau Bapak mau,” rayu Tandika.
Adipati hanya bisa menggelengkan kepalanya, ajak temen-temennya katanya. Yang ada dia mengajak semua wanita-wanita muda untuk merayunya habis-habisan.
“Nggak saya males,” jawab Adipati santai.
Tandika langsung merasakan penolakan dari Adipati hanya bisa terdiam. Kepalanya memutar cara agar mendapatkan perhatian dari Adipati.
“Di.”
“Si, Amore.” ucap Adipati yang sudah hapal betul suara Taca. Dengan cepat Adipati berbalik dan mendapati Taca yang sedang tersenyum pada dirinya sambil memegang keranjang buah.
“Aku dikasih ini sama Tante Eva. Katanya buat makan anak-anak, boleh aku simpan mobil?” tanya Taca.
Adipati hanya bisa tersenyum melihat Taca yang mungil membawa keranjang buah besar. “Gede amat keranjangnya, Amore. Sini aku bawain.”
Taca dengan cepat menyerahkan keranjangnya ke arah Adipati. “Ini, eh... kamu kakaknya Nama, yah?”
“Iya.” jawab Tandika.
“Tandika ‘kan?” tanya Taca sambil berjalan mendekati Tandika.
“Iya, Bu Taca.” Tandika berkata sambil memberikan senyuman terbaiknya.
__ADS_1
“Saya cuman mau kasih tau kamu, satu hal Pak Tandika Suhendar.” Taca berkata sambil mengambil dasi Tandika.
Tandika kaget saat Taca mengambil dasi didadanya. “Gimana?”
Taca menarik dasi Tandika, membuat Tandika tercekik.
“Astaga Amore,” pekik Adipati panik saat melihat Taca mencekik Tandika dengan cara menarik dasinya keras-keras.
“Bu....” Tandika kaget sekaligus kehabisan napas. Tangannya langsung menggapai-gapai tangan Taca.
“Jangan pernah, ajak suami saya lagi ke acara apapun, nggak usah ajak temen-temen. Jangan bikin perkara sama saya, ngerti.” Taca bertanya dengan sorot mata siap membunuh.
“Ngerti,” jawab Tandika sambil menepuk-nepuk tangan Taca pelan. Dia kehabisan napas.
“Amore, sayang udah,” ucap Adipati sambil menepuk bahu Taca.
Taca melepaskan dasi Tandika, kemudian berdeham pelan, “Jadi, jangan pernah dan berpikir ajak suami saya ke acara nggak jelas kaya gitu. Karena, kalau sampai suami saya macam-macam. Bukan cuman kepala suami saya yang saya ledakin. Tapi....”
Taca menggantungkan kalimatnya untuk memberikan efek dramatis pada perkataannya. Membuat Tandika berjuang untuk menelan salivanya, Tandika tidak menyangka kalau Taca adalah wanita segalak ini.
“Kamu juga saya ledakin kepalanya, ngerti kamu Tandika Suhendar!?” seru Taca sambil menunjuk dada Tandika dan berjalan meninggalkan Tandika yang berjuang menelan salivanya sendiri.
•••
“Amore,” panggil Adipati saat mereka sudah ada di parkiran mobil.
“Kamu marah?” tanya Adipati.
“Nggak, ngapain marah. Cuman nggak suka aja ada orang sampai sebegitunya mau deketin kamu. Untung tadi kamu kuat iman. Kalau, nggak.” Taca mengusap lehernya dengan jari telunjuknya mengisyaratkan Taca akan memotong leher Adipati.
Adipati tertawa terbahak-bahak, “Astaga, serem juga istri aku ini.”
“Aku udah bilang, yah. Aku ini cuman mempertahankan hak aku. Aku nggak pernah ganggu milik orang lain. Jadi, jangan pernah ganggu hak milik aku,” bentak Taca sambil membanting penutup bagasi mobil dengan keras.
“Rusak, Amore,” ucap Adipati sambil berdiri dihadapan Taca, menghimpit badan Taca dengan badannya dan mobil dibelakang Taca.
“Bodo amat, rusak sekalian. Aku kesel, ih... awas aja kalau ada yang ajak-ajak kamu ke acara nggak ada faedahnya, aku gerus itu orang,” maki Taca sambil mengusap dahinya geram. Rasanya tekanan darah tingginya naik sampai ke tahapan tertinggi.
“Hei,” panggil Adipati sambil mengangkat dagu Taca, meminta Taca menatap netra mata birunya.
“Apa,” ucap Taca sambil menahan air matanya yang tiba-tiba berkumpul diujung matanya.
Entah, kenapa semenjak melahirkan Kafta. Taca berubah menjadi wanita minder. Bentuk tubuh Taca yang sudah berubah dan umur yang makin menua, membuat Taca kadang minder berdiri disamping Adipati. Padahal, Adipati sama sekali tidak mempermasalahkan itu semuanya.
“Kamu kenapa sih, Amore?” tanya Adipati sambil mengusap air mata Taca yang tiba-tiba meleleh dipipinya.
“Aku kesel, tau. Kamu makin hari makin ganteng. Makin banyak perempuan gila yang deketin kamu, sedangkan aku,” ucap Taca sambil mengusap air matanya kesal.
__ADS_1
“Kamu kenapa, Amore?” tanya Adipati sambil menggesekkan hidungnya ke hidung Taca.
“Aku kesel, ih... aku bilang aku kesel, kok kamu nanya terus sih ih.” Taca berkata sambil menatap Adipati gemas. “Aku kesal ini, istri kamu kesel Adipati Berutti.”
“Iya, udah kalau kesel. Aku nggak bakal ketemu Tandika lagi. Aku nggak bakal ke acara apapun juga.” Adipati berkata sambil mengusap pucuk kepala Taca.
“Bukan masalah itunya, cuman aku kesel aja sama si Tandika ini. Nggak hargain banget aku yang istri kamu. Ngajak kamu seenaknya gitu, apa coba maksudnya?”
“Iya, udah jangan marah lagi, Amore.” Adipati berkata sambil mengusap pipi Taca yang sedikit berisi semenjak melahirkan anak ketiga mereka Kafta.
“Aku nggak suka, astaga kenapa Kang Rozak harus punya calon keluarga bentukkannya kaya gitu. Kasian aku,” ucap Taca sambil mengangkat kepalanya dan menatap Adipati detik ini sedang menatap manik matanya.
“Ya udah, nggak usah diliat,” ucap Adipati.
“Pokoknya aku kes—“
Dengan cepat Adipati menautkan bibirnya dibibir Taca, mengesap manisnya bibir Istrinya yang sedang ngambek. Taca spontan melingkarkan tangannya dileher Adipati, meminta lebih.
Setelah beberapa lama Adipati mengurai ciumannya, “Masih kesel?”
“Masih,” jawab Taca.
“Kenapa harus kesel sih?” tanya Adipati.
“Aku itu makin hari makin....”
“Cantik.” Adipati mengecup bibir Taca cepat.
“Gemesin.” Lagi Adipati mengecup Taca.
“Ngangenin, bikin aku nafsu, nyebelin dan yang terpenting.” Adipati mengecup bibir Taca pelan dan menarik sedikit bibir bagian bawah Taca.
“Apa?” tanya Taca sambil mengusap pipi Adipati pelan.
“Kamu perempuan yang aku cintai, Amore.”
•••
Manis yah, pingin aku ulek itu Bapak Adipati. Hahahaha...
Buat yang udah kasih Vote, point dan Tips koinnya terima kasih banyak yah ❤️.
Tulisan aku jauh dari bagus dan menarik. Tapi, terima kasih sudah membaca novel aku.
Jangan lupa kirimkan point berupa bunga dan kopi, juga votenya di hari minggu ini. Terima kasih.
Xoxo Gallon.
__ADS_1