
Warning....
Bacalah ini setelah berbuka atau sebelum imsak..
Kaka Gallon tidak bertanggung jawab atas apapun yang terjadi bila anda membacanya bukan di waktu yang telah ditentukkan.
Oke sip...
XOXO GALLON
•••
“Buka mulut,kamu.”
Cicil kaget saat Riki menarik rambutnya kebelakang dan menciumnya tanpa ampun, bibir bagian bawahnya digigit dan disesap dengan rakusnya. Cicil kaget dengan perlakuan Riki pada dirinya, bergitu liar, bernafsu, kasar, namun membuat sekujur tubuh Cicil menjerit karena menginginkan Riki lebih banyak lagi.
Riki mencium bibir Cicil dengan kasar, menelusupkan lidahnya ke dalam bibir Cicil, bermain-main dengan lidah milik istrinya, menggelitik setiap incinya.
Diangkatnya badan Cicil tanpa melepaskan pangutannya, dengan kesal Riki mendorong buket bunga dari Juan dan kotak-kotak hadiah dari Juan ke lantai.
Prang... bruk...
Suara buket bunga dan kotak-kotak hadiah dari Juan terdengar jelas di kuping Riki, dengan cepat dia mendudukkan Cicil di meja. Riki ingin tau reaksi Cicil saat dirinya melempar semua hadiah dari Juan. Apakah Cicil peduli atau tidak, gambling tapi Riki benar-benar ingin tau.
Cicil mengerjapkan matanya, dia bingung mengapa tiba-tiba Riki melepaskan ciumannya dan hanya menatap Cicil lekat-lekat seperti menunggu sesuatu.
“Ini nggak jadi?” tanya Cicil yang masih diliputi oleh hasratnya sendiri.
“Kamu nggak marah itu hadiah sama bunga dari Juan aku lempar ke bawah?”
Cicil melirik bunga dari Juan sekilas. “Ngapain marah? Ini kalau nggak jadi baru aku marah. Ngapain ngurusin bunga dari Juan sih?”
Riki terus menatap Cicil yang uring-uringan karena Riki menghentikan kegiatan mereka.
“Aduh, faedahnya apa ngurusin bunga dari Juan. Udah biarin aja, ini jadi nggak? Kalau nggak aku mau turun, mending aku beresin baju. Nyebelin banget, kalau udah ngegerayangin tuh di tuntasin bukan malah nanyain bunga. Astaga, apa coba faedahnya nanyain bunga. Tau ah, awas aku mau beresin baju aja, sekalian mau bawa charger handphone,” cerocos Cicil kesal sambil membenarkan kemejanya yang sudah tidak karu-karuan ditarik-tarik oleh Riki tadi.
“Kamu jadi, nggak peduli sama kado dan bunga dari Juan?”
“NGGAK...!?” teriak Cicil sambil melepaskan gelangnya dan melemparkannya ke sembarang tempat.
“Nyebelin, udah awas. Kalau ngegerayangin tuh sampe tun...”
“Kamu sexy kalau ngoceh.” Riki langsung mencium bibir Cicil lagi, dihisapnya bibir mungil Cicil, tangan Riki sudah menyelinap ke balik kemeja milik istrinya, ditarik pakaian dalam Cicil, mau tidak mau isinya langsung keluar dari wadahnya. Ditariknya pucuk salah satu bukit kembar milik Cicil.
“Ah....”Cicil seperti tersulut harsatnya langsung membuka kemeja dan pakaian dalamnya sendiri, kemudian dilemparkan kesembarangan tempat.
Riki menelan salivanya saat melihat pemandangan di hadapannya. Menikah dengan Cicil dan berkali-kali melihat tubuh istrinya polos tanpa apapun, tidak pernah bisa menyurutkan nafsunya sendiri. Dikecupnya bagian dada Cicil sampai membuat istrinya ini melenguh dan mencengkram rambut milik Riki.
“Aa... auw...”
Riki menatap Cicil dengan tatapan intens sambil menarik celana milik Cicil berusaha untuk menyentuh bagian pribadi Cicil, “Bunganya buang aja nggak papa?”
“Buang aja, bu...” Cicil benar-benar tidak bisa melanjutkan kata-katanya, permainan Riki dibawah sana membuat Cicil melentingkan tubuhnya. Riki benar-benar memberikan kenikmatan yang mampu membuat Cicil bertekuk lutut dengan jari miliknya.
__ADS_1
“Gelangnya kamu...”
“Aku buang, semuanya aku buang, Aa....” cerocos Cicil sambil mengalungkan tangannya di leher Riki, dengan cepat Cicil mengecupi tiap jengkal wajah Riki.
Riki langsung mengangkat badan Cicil, tanpa Cicil sadari Riki langsung menyatukan tubuh mereka.
“Astaga Aa...” Cicil benar-benar dibuat semaput oleh Riki.
Riki menyenderkan Cicil di dinding yang bersebelahan dengan meja, dibagian atasnya banyak kertas-kertas dan barang lainnya.
“Aa... kamu kenapa?” tanya Cicil takjub akan permainan Riki yang mampu membuat Cicil jumpalitan.
“Aa cuman...” Riki menghentak badan Cicil sampai Cicil mengerutkan jari-jari kakinya karena menahan gempuran kenikmatan dari Riki.
Tangan Cicil langsung mencari pegangan untuk menstabilkan tubuhnya, sayangnya dia malah menyenggol barang-barang di sampingnya.
Prang....
Semua barang jatuh berdentangan dilantai. Tapi, Riki sama sekali tidak peduli, dia terus menghentak Cicil tanpa ampun.
Cicil akhirnya hanya mencengkram bahu Riki, sambil menjerit dan mendesah karena dirinya benar-benar dibuat semaput oleh Riki, hisapan di bagian dadanya dan hentakkan Riki benar-benar membuat Cicil hilang kendali.
“Aa... kamu...”
“Aku cuman cemburu, Cicil Trina.” Riki kembali menghentak Cicil.
Napas Cicil memburu sampai dia mendapatkan pelepasannya yang entah keberapa kali. Jantungnya bergetar hebat, rasa bahagia benar-benar membuat Cicil tersenyum. Bukan-bukan karena saat ini dia sedang digempur kenikmatan dari Riki. Tapi, senyumnya merekah saat mendengar Riki menyebutkan namanya...
•••
Tok...tok...tok...
Riki dan Cicil mendengar ketukkan yang sudah mirip dengan gedoran dari pintu. Mereka yang baru selesai melakukan transfusi darah putih, hanya bisa saling tatap.
“Aa itu siapa?” tanya Cicil.
“Nggak tau, mungkin yang lain,” jawab Riki sambil mengambil kaos dan celana panjang dari lemari. Riki langsung menarik kaos oversive miliknya dan memakaiankannya pada Cicil yang masih tidak menggunakan apapun.
Saat berjalan kaki Riki menginjak pakaian dalam bagian atas milik Cicil. Sambil tersenyum dia mengambilnya dan melemparkannya pada Cicil.
“Idih, dalamnya aja suka, bungkusnya di lempar-lempar,” ucap Cicil sambil menangkap pakaian dalamnya kemudian menjulurkan lidahnya ke arah Riki.
“Dalemnya lembut, Neng. Luarnya Aa nggak suka, nggak enak,” jawab Riki asal sambil berjalan ke arah pintu.
Tok tok tok tok...
Ketukkan makin keras terdengar dipintu, dengan cepat Riki membuka pintu dan langsung tampak wajah Edy dan Laura yang membawa teflon dan panci dimasing-masing tangan mereka.
“Ada apa? Kenapa?” tanya mereka berdua cepat sambil menatap Riki.
“Hah?” tanya Riki bingung. “Nggak ada apa-apa, ini ngapain bawa-bawa teflon sama panci?”
Laura berjalan kedalam dan melihat ruangan yang berantakan. Bunga berserakan dimana-mana, kertas, pulpen, vas bunga pecah, dan kertas yang ada di setiap sudut lantai.
__ADS_1
“Ini ada apa? Cicil, kamu nggak papa?” tanya Laura sambil menatap Cicil yang sedang berdiri dibalik meja dapur, sehingga hanya setengah badannya saja yang terlihat.
“Nggak apa-apa, cuman aku diserang,” jawab Cicil ngasal.
“Diserang apaan?” tanya Laura khawatir bila Cicil terkana sesuatu lagi.
“Diserang cinta dan kasih sayang,” ucap Edy kesal, Edy langsung tau apa yang terjadi disana. Ekor matanya tadi melihat pakaian dalam berserakkan di bagian bawah meja yang sedang disembunyikan oleh Cicil.
“Hah?” Laura yang tidak mengerti bingung dengan perkataan Edy.
“Udah, kita makan aja. Percuma mikirin mereka mah, mereka udah happy. Udah cepet kita keluar,” rutuk Edy sambil menarik tangan Laura untuk keluar dari sana.
“Apa sih aku ngga...” Laura menghentikan perkataannya saat sadar kalau Cicil sudah tidak mengenakan pakaiannya yang tadi dan sudah tidak mengenakan pakaian dalam sama sekali.
“Haduh... susah emang kalau punya sahabat demennya maen kuda-kudaan,” cerocos Laura sambil berjalan melewati Riki yang sedang tersenyum malu-malu.
“Alah, demen juga kan lo,” teriak Cicil kesal.
“Emang,” jawab Laura santai sambil mengedipkan sebelah matanya dan menutup pintu, meninggalkan Riki dan Cicil berdua.
Riki hanya tersenyum sambil mengunci pintu dan berjalan kearah Cicil. Mengambil minuman yang diberikan oleh Cicil dan meminumnya sampai tandas.
Riki sama sekali tidak sadar ada dimana Cicil saat sedang fokus meminum, minumannya. Tiba-tiba saja Riki merasakan sesuatu dibawah sana.
“Kamu ngapain?” tanya Riki sambil menundukkan kepalanya.
Cicil yang sedang berlutut di depan Riki hanya bisa tersenyum jahil. “Mau ngintip Riki kecil.”
Riki kaget dengan jawaban Cicil, seumur hidup dia belum pernah menemukan wanita sesantai ini dalam membicarakan hal-hal berbau mesum.
“Ngapain?” tanya Riki.
“Sekali lagi yah, please,” ucap Cicil.
Riki hanya bisa pasrah saat merasakan bagian pribadinya sudah ada didalam mulut Cicil.
“Cicil Trina..!?”
Dan merekapun melakukannya...
•••
Panas yah? Hahaa....
Ini kalau ditanya ngapain bikin bab ini, jawabannya. Biar Cicil hamil anak Riki bukan Albert.
udah gitu aja, krn setelah diskusi panjang kali lebar dengan seseorang yang tidak mau disebutkan namanya. Katanya hamilnya seseorang, itu bisa dilihat dari kecepatan milik laki-lakinya. Jadi berdoa saja, moga punya Riki kecepatannya cahaya 🤣🤣🤣.
Jangan lupa di panasin tombol likenya sampe warna merah, dilempar pointnya dan disebar koinnya. Biar makin MEMBARAAAAA...!
Hahahhaa...
XOXO GALLON
__ADS_1