Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Perjanjian....


__ADS_3

"Sebelum baca please, pencet tanda πŸ‘πŸ»


jangan lupa komen juga yah, please...


Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❀️


Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️


●●●


Sudah dua jam Cicil menyortir dan membaca berkas-berkas yang dibawa Tisa, Cicil merasa berkas-berkas tersebut tidak ada habisnya, lehernya sangat-sangat sakit karena terus mnerus menunduk. Cicil mencoba untuk merenggangkan tangan dan badannya. Cicil memutuskan untuk berdiri dan sedikit melakukan peregangan.


Tisa sudah meninggalkan Cicil sekitar satu jam yang lalu, Tisa berjanji akan kembali lagi besok, karena masih banyak pekerjaan yang harus Cicil lakukan.


"Neng, udah selesai?" tanya Riki sambil masuk kedalam kantor.


"Aa," panggil Cicil sambil merenggangkan badannya. "Ini mau selesai bentar lagi, banyak banget beneran deh," keluh Cicil sambil berjalan ke arah Riki.


"ya, udah selesain dulu aja, kalau udah selesai kita beli barang-barang buat dikamar ini, yah. Emang badan kamu nggak sakit tidur di kasur itu?" tanya Riki sambil menunjuk kasur darurat yang sudah mereka tiduri selama ini. Jujur badan Riki remuk, karena tidur di kasur darurat itu benar-benar sakit.


"Nggak sakit 'kan tiap malam Neng tidur dibadan Aa," jawab Cicil polos.


Riki hanya bisa menepuk dahinya, sebenarnya apa yang dikatakan Cicil benar. Hampir tiap malam, Cicil tidur diatas badan Riki. Mau tak mau Riki benar-benar harus pasrah dijadikan kasur hidup oleh Cicil. "Badan Aa bukan kasur merk serta, Neng."


"HHahahhaaa.... abis kalau tidur langsung ke kasur sakit, jadi mending tidur diatas badan Aa aja, lebih enak." ujar Cicil sambil mengedipkan matanya.


Riki hanya bisa tersenyum melihat Cicil, Cicil memang paling bisa membuat dirinya melayang kelangit ke tujuh hanya dengan senyumannya. senyuman manis ala bidadari.


"SELESAI.....!!" teriak Cicil sambil melemparkan pena miliknya ke atas kertas yang ada di atas meja. Dengan cepat Cicil membereskan berkas-berkas yang ada. Kemudian, berjalan ke arah lemari baju. Riki sedang asik bermain dengan handphonenya sama sekali tidak sadar dengan apa yang akan dilakukan oleh Cicil.


"KIta mau kemana?" tanya Cicil.


"Ke Ike* atau ke pasar, buat nyari kasur sama kamu mau beli AC juga 'kan?" tanya Riki sambil mengalihkan pandangannya dari layar handphonennya kearah Cicil dan...


Pluk...


Handphone Riki jatuh dari genggaman tangannya, saking kagetnya melihat pemandangan dihadapannya. Cicil yang dengan santainya berganti pakaian didepannya dan detik ini Cicil sedang berlengak lenggok hanya menggunakan pakaian dalamnnya saja membuat Riki berjuang menelan salivanya. Riki langsung merapatkan kakinya serapat-rapatnya, Ayolah, Riki lelaki normal dan pemandangan didepannya adalah pemandangan yang mampu membuat semua laki-laki normal hilang akal, termasuk dirinya.


"Neng," panggil Riki dengan suara serak akibat menahan gejolak didadanya.


Cicil yang sedang berjongkok dan menarik celana jeans dari dalam lemari langsung melirik Riki. "Kenapa, Aa?" tanya Cicil sambil berdiri dan memiringkan kepalanya ke kanan dan menopang tangannya dibagian bwah dadanya yang mau tidak mau membuat dada Cicil terbusung sempurna.


'Oke... kenapa posenya harus gitu,' maki Riki didalam hati, mengutuki celananya yang makin sesak.


"Aa, sakit?" tanya Cicil panik, karena melihat Riki berwajah pias. Dengan cepat Cicil mendekati Riki, kemudian mengusap dahi Riki, untuk mengetahui suhu tubuh Riki. "Aa, kenapa? badan Aa nggak panas, suhu tubuh normal, Aa kenapa?" tanya Cicil sambil menatap Riki.


"A...."

__ADS_1


Cicil melihat arah pandangan Riki, Cicil langsung tersenyum nakal, keasihnya ini benar-benar gampang ditebak. "Aa kayanya sakit deh, Cicil tau obatnya."


"Ah... obat apa? Sakit apa?" tanya Riki sambil berusaha mengalihkan pandangannya dari bukit kembar yang terpangpang dengan nyata dihadapannya.


"Obatnya ini," ujar Cicil sambil mengambil tangan Riki dan menyentuhkannya ke dada Cicil.


Deg...


Jantung Riki terpompa dengan cepat, sialnya karena kaget Riki malah mencengkram salah satu bukit kembar milik Cicil. Mau tidak mau desahan meloncat keluar dari bibir mungil Cicil. Alarm bahaya langsung berdering di otak Riki, lebih lama disana bisa-bisa Riki mengangkat tubuh Cicil ke kasur darurat di ujung sana dan melakukan kegiatan yang mampu membuat dirinya menggila.


"Aa... mau cari obat asma dulu," ujar Riki sambil beranjak dari duduknya kemudian berlari kearah pintu keluar, sialnya kaki Riki terkena karpet dan akhirnya membuat Riki terjatuh dengan suksesnya ke lantai.


"Astaga Aa," CIcil langsung berlari mendekati Riki dan berusaha membantu Riki untuk berdiri, lagi-lagi kedua bukit kembar Cicil yang memang sedang tidak ada ahlaknya hari ini, menggesek tangan Riki membuat pikiran mesum Riki langsung meronta dengan liarnya.


"Neng..." geram Riki sambil mendorong Cicil pelan.


"Kenapa?"


"Nanti lagi kalau mau ganti baju, jangan ada Aa yah, Aa nggak kuat iman," ujar Riki sambil mengusap kepalanya yang tiba-tiba pusing.


Cicil tersipu mendengar perkataan Riki, "Kalau Aa mau, boleh kok," ujar Cicil sambil tersenyum manis.


Makjan...


"Mau, tapi..."


Mamah tolong Riki....!!!


Riki langsung berdiri dan keluar pintu sambil berteriak keras, "Nanti... tunggu penghulu teriak SAH, baru kamu Aa makan sampai abis nggak bersisa, Cicil Bouw...!!!"


Cicil tertawa mendengar perkataan Riki, kemudian berbisik, "Dasar lelaki timur...."


●●●


"Kenapa, Mang?" tanya Edy yang baru saja datang setelah mengusir Rully tadi. Edy benar-benar membuat Rully ketakutan, saking takutnya Rully sampai kencing di celana sambil berlari tungang langgang di monas.


"Sumpah, harus kuat iman kalau sama Cicil, ampir jebol lagi tadi. Astaga tobat," ujar Riki sambil mengusap kepalanya berkali-kali.


"Hahahhaaaa... makanya kemarin, saya teh tanya, kamu yakin? Saya mah kalau sekamar sama Neng Laura seharian bisa langsung semaput," kekeh Edy sambil menyimpan pisau dapurnya di meja.


"Nggak sampai kepikiran kesana," ujar Riki sambil mengusap-ngusap kepalanya. Tinggal sama Cicil berdua itu berbahaya.


Saat Riki dan Edy sedang berbincang-bincang bedua, tiba-tiba saja datang seorang wanita kearah mereka, wanita dengan dandanan sangat profesional. Badannya ramping, rambutnya panjang dan kulitnya berwarna sawo matang tampak sangat pas dengan wajahnya. Cantik Indonesia mungkin gelar yang sesuai dengan wanita itu.


"Maaf menggangu," ujar Wantia itu sambil tersenyum manis, memancarkan kecantikan yang mampu membius pria manapun. tapi, tidak dengan Riki dan Edy.


"Kenapa? Mbak siapa?" tanya Riki dingin.

__ADS_1


"Saya, Kharis. Saya sekertaris Pak Albert Connor," ujar Kharis sambil memberikan kartu nama pada Riki.


Mendengar nama Albert Connor membuar Riki dan Edy langsung siaga, mau apa lagi si Albert ini, mau bikin kericuhan lagi?


"Ada apa?" tanya Edy cepat.


"Nggak saya cuman mau bilang, karena pasokan daging diperusahaan kami sedang sedikit, mulai besok kami akan menghentikan pasokan daging dan ayam ke tempat ini," ujar Kharis sambil memberikan kertas pada Riki.


Riki membacanya dengan cepat, ini adalah surat perjanjian yang dibuat Riki dan Albert kemarin dan Riki sudah menandatanganinya.


"Sebentar, kalau pasokan daging dan ayam tidak diberikan ke restoran ini, bagaimana kami mengolah hidangan?" tanya Edy kaget, apa yang mau dimasak? ya kali mau masak sayur kangkung? Sedangkan menu andalan direstoran ini adalah Steak ala Chef Edrosh.


"Saya tidak tau," jawab Kharis pelan sambil tersenyum.


"Sampai kapan?" tanya Riki cepat.


"Sampai batas waktu yang tidak ditentukan," jawab Kharis.


"Nggak bisa gitu, kalau tidak ada kepastian saya bisa ambil ke suplayer lain," ujar Riki cepat.


"Boleh, asal anda punya 10 milyar untuk membayar pinalti, karena mencabut kontrak dan ingat di kontrak dikatakan anda tidak bisa mengambil ayam dan daging dari suplayer manapun, selain dari kami," Kharis mengingatkan Riki akan isi perjanjian tersebut.


Riki kembali membaca surat perjanjian didepannya, seingatnya tidak ada kalimat tersebut di perjanjiannya, tapi saat dia membaca surat perjanjian tersebut Riki kaget bukan main, disana terdapat kalimat tersebut. "Seingat saya tidak ada kalimat ini," ujar Riki sambil menunjukkan deretan kalimat yang sangat memberatkan dirinya.


"Mungkin anda lupa, lebih baik ini disimpan saja dan bisa di bandingkan dengan surat perjanjian yang anda miliki,” ujar Kharis sambil tersenyum pada Riki dan berjalan pelan meninggalkan RIki dan Edy.


"Ah... kalau anda masih memilikinya, Pak Riki," ujar Kharis dengan senyuman misterius kemudian berlalu dari sana.


Riki langsung mengingat dengan cepat dimana dia menyimpan surat perjanjianya dengan Albert. Ah....sial, setelah dia menandatangani surat perjanjiannya kemarin. Riki langsung berkelahi dengan Albert dan sepertinya surat tersebut ketinggalan di kantor Albert.


AH.... SIAL...!!!!


●●●


HAAAALOOOOO SEMUANYA...


Maafkan Kaka Gallon, Kaka Gallon keteteran novel ini. Padahal udah ada alur dll. Tapi, waktu buat nulisnya bener-bener sulit banget,


Jadi Kaka Gallon bakal geser jam Updatenya jadi jam 12 siang setiap harinya, biar bisa menemani Embiakkkk Embiakkk semua makan siang...


Ciaooo....


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❀️❀️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2