
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
•••
Cicil sedang membereskan barang-barangnya, semua barangnya dimasukkan kedalam sebuah koper besar. Riki mengatakan besok mereka akan menemui orang tua Riki, Riki sudah menjadi seorang piatu sudah hampir 20 tahun. Ibunya meninggal saat melahirkan adiknya yang kembar.
Cicil sebenarnya sudah pernah bertemu Abah dulu. Tapi, sekarang berbeda, Riki ingin mengenalkan Cicil sebagai calon istrinya. Riki ingin menikahi Cicil.
Cicil benar-benar bersemangat, saking bersemangatnya dia sama sekali tidak sadar ada seorang wanita paruhbaya memperhatikannya dari belakang tubuhnya.
“Cil....”
Cicil langsung menghentikan pergerakkannya, jantungnya langsung berdetak dengan sangat-sangat cepat. Cicil menolehkan kepalanya, jantungnya berdegup kencang. Dihadapannya saat ini ada Riki dan Rea. Ibunya Rea, wanita yang sudah melahirkannya.
“Mamih...” cicit Cicil sambil mundur beberapa langkah menjauhi Rea.
“Cil, kamu disini?” tanya Rea sambil melihat sekeliling ruangan kantor yang dialih fungsikan menjadi kamar oleh Riki dan Cicil.
“Mamih kok bisa ada disini?”
“Mamih tau, Mamih suruh orang buat nyari kamu dan Mamih udah dapet alamat kamu dari tiga hari yang lalu,” jawab Rea sambil mendekati Cicil.
Cicil mundur hingga menabrak dinding dibelakangnya. Cicil langsung menatap Riki dengan tatapan meminta tolong, Riki hanya memberikan jawaban sebuah senyuman.
“Mih, Cicil nggak mau pulang,” ujar Cicil sambil menatap Rea. Cicil takut Rea akan memaksanya pulang, Rea memang seorang istri yang penurut pada Jeff, bukan karena cinta. Tapi, Rea tidak mau di ceraikan. Rea tidak mau kembali miskin.
“Mamih nggak akan maksa kamu pulang, ini keputusan kamu. Mamih, nggak bisa paksa kamu, Cil,” ujar Rea mencoba bijak. Walau Rea tidak mau kembali miskin bila diceraikan Jeff. Tapi, Rea sudah lelah melihat Cicil diberlakukan semena-mena oleh Jeff. Dimulai dipaksa meninggalkan tunangannya Juan, sampain dijadikan alat untuk mendapatkan uang sponsor bagi perusahaannya dari Albert.
“Mamih cuman mau ketemu anak Mamih, Mamih rindu,” ujar Rea sambil mendekati Cicil dan menggapai tangan Cicil.
“Kamu sehat, Cil? Kamu bahagia?” tanya Rea sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir keluar dari matanya.
“Mih....”
“Mamih cuman tanya kamu bahagia?” tanya Rea sekali lagi.
“Cicil bahagia, Mih. Cicil bahagia hidup sama Aa Riki, Cicil emang ngerasa kekurangan, Cicil nggak bisa pakai semua fasilitas yang ada, Cicil kemana-mana naik motor sama Aa Riki, dan Cicil makan-makanan tenda loh, Mih,” ucap Cicil sambil menyeka air mata yang keluar dari matanya.
“Jadi kamu bahagia?”
“Aku bahagia Mih,” jawab Cicil sambil memeluk Rea.
Rea mengusap rambut Cicil pelan, hatinya tiba-tiba merasakan kehangatan. Gadis kecilnya sudah mampu menentukan pilihannya sendiri. “Kamu yakin sama pilihan kamu?”
__ADS_1
Mata Cicil langsung menatap Riki yang sedang berdiri dengan gagahnya di depan pintu kantor. Menatapnya sambil tersenyum.
“Mih, aku nggak tau masa depan aku kaya gimana, masa depan aku masih misteri Mih. Tapi, untuk saat ini aku bahagia sama Riki.”
“....”
“Riki bahagiain aku, Riki sayang sama aku. Dan yang terpenting Riki memperlakukan aku dengan baik.”
Rea hanya bisa menghela napasnya, kehidupan pernikahannya bersama Jeff bukanlah contoh kehidupan pernikahan yang baik. Jeff yang tidak pernah pulang, dan Rea yang selalu mabuk-mabukkan, memberikan pengalaman pahit tersendiri untuk Cicil.
“Oke, kalau kamu bahagia sama Riki, itu sudah lebih cukup untuk Mamih,” jawab Rea sambil mengelus rambug Cicil.
“Mih, Mamih nggak bakal maksa aku buat ninggalin Riki?” tanya Cicil pelan.
“Buat apa, Mamih liat kamu aja kaget. Muka kamu lebih seger, pipi kamu ini rada chubby. Mana kalau senyum manis banget,” puji Rea sambil mencubit pipi kanan Cicil dengan gemas.
“Mamih sakit ih,” rengek Cicil sambil memeluk Rea manja.
Rea kaget dengan respon Cicil, dulu kalau Cicil di cubit pasti langsung menepis tangan Rea dan pergi meninggalkannya. Tapi, saat ini, Cicil malah memeluknya dengan hangat. Anaknya berubah.
“Aduh, anak Mamih jadi manja ini,” ujar Rea sambil menuntun Cicil untuk duduk di sofa.
Rea langsung menolehkan kepalanya ke arah Riki, Rea mengangkat tangan kirinya, meminta Riki mendekati dirinya dan Cicil.
“Sini, Riki Mamih ada yang mau dibicarakan,” ujar Rea.
Riki menurut dan duduk didepan Rea dan Cicil, “Ada apa Tante?”
“Mamih?” cicit Riki pelan.
“Hahaa... santai aja, Riki. Mamih nggak gigit,” ujar Rea yang langsunh dijawab dengan anggukkan dan senyuman malu-malu dari Riki.
“Mamih, Mamih mau ngomong apa?” tanya Cicil.
Rea menepuk-nepuk tangan Cicil dengan pelan, “Mamih cuman mau tanya sama kalian berdua, kalian mau nikah?”
“Mau,” jawab Cicil dan Riki berbarengan.
“Ya ampun, kompak yah,” jawab Rea sambil menahan tawanya.
“Hehee... maaf Mih. Tapi, Riki udah nggak mau main-main lagi. Riki udah yakin sama Neng Cicil. Riki udah capek pacaran, Mih,” jawab Riki sambil menatap Mamih.
“Kamu sayang anak saya?”
“Saya sayang Cicil, Mih. Saya bakal urus Cicil. Saya bukan orang kaya, saya bukan jutawan atau anak sultan. Tapi, saya yakin, saya bisa bertanggung jawab akan Cicil.” jawab Riki sambil tersenyum.
“Nggak butuh orang kaya, jutawan atau sultan buat bahagiain aku. Aku cuman butuh laki-laki baik,” jawab Cicil sambil menatap Riki dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
Rea hanya bisa tersenyum, sepertinya dua sejoli ini benar-benar saling mencintai. “Ya udah, kalian menikah lah. Mamih dukung, Mamih merestui pernikahan kalian berdua.”
“Beneran Mih?” tanya Cicil.
“Iya, selama kamu bahagia, Mamih dukung,” jawab Rea.
“Tapi, kalau menikah kita harus meminta izin Papihnya Cicil,” jawab Riki.
“Kamu mau minta izin suami saya? Bisa tahun kuda kamu nikah sama Cicil, suami saya itu sarat wajib nikah sama Cicil itu harus orang kaya, minimal kekayaannya kaya tunangannya dulu atau sekaya Albert. Kamu nggak bakal bisa saingin.”
“Tapi, wali Cicil kan Papihnya,” ujar Riki pelan.
Rea langsung mengambil secarik kertas dari dalam tas hermes himalaya miliknya. “Ini jawabannya.”
“Apa itu?”
“Ini nomer Kakaknya Papih, namanya Jacques Bouw. Dia bisa nikahin kamu sama Riki. Paman Jacques itu berpikiran terbuka, dia dosen di Ghent University,” jawab Rea sambil memberikan kertas tersebut pada Cicil.
“Uncle Jacques yang suka kasih Cicil coklat dulu?” tanya Cicil.
Rea langsung menganggukkan kepalanya pelan, “Kamu masih inget?”
“Masih, Mih. Cicil masih inget Uncle Jacques,” jawab Cicil.
“Mamih udah ngobrol sama Uncle Jacques dan dia bilang bersedia menikahkan kamu. Dia hanya menunggu kamu menelepon dirinya,” ujar Rea sambil menyerahkan kerta tersebut pada Cicil.
“Jadi, Mamih setuju Cicil nikah sama Aa?”
“Mamih setuju kamu mau nikah dengan siapapun, asal kamj bahagia. Mamih nggak mau, kamu merasakan apa yang Mamih rasakan. Mamih mau kamu bahagia, seumur hidup kamu,” ujar Rea.
“Mamih,” isak Cicil sambil memeluk Rea erat, membenamkan wajahnya di dada Rea.
“Terima kasih, Mih...”
•••
Hore udah disetujuin sama Mamih nih....
Kalau Papih sih udahlah yah... Taun kuda dia mah kasih persetujuannya juga....
Entah kapan hahahaha...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon