
“Cicil Huaaa ...”
“Eh ... kenapa ini ada apa?” tanya Cicil bingung saat mendapati Laura yang menangis dan memeluk dirinya. “Kamu kenapa?”
“Cicil, aku sedih. Bingung aku sama pikiran Papih,” isak Laura.
“Bingung kenapa?”
“Bingung aja, kayanya pikiran Papih itu aneh. Ngaco lebih tepatnya,” isak Laura.
“Emang sejak kapan otak Papih kamu itu bener?” tanya Cicil sambil menahan tawanya. Seingatnya Om Sabar itu bukan lelaki yang memiliki pikiran yang lurus. Pikiran Om sabar suka aneh-aneh bahkan cenderung absurd.
“Nggak pernah,” jawab Laura sambil melepaskan pelukkannya dan melangkah masuk ke dalam ruangan tanpa dipersilahkan.
“Masuk aja masuk, angep aja rumah sendiri,” sarkas Cicil sambil menyilangkan tangannya di dada kesal karena Laura langsung masuk tanpa ada basa basi.
“Laura?” panggil Nama saat melihat Laura masuk ke dalam ruangan. “Kenapa?”
“Kok ada mereka?” tanya Laura bingung.
“Ya ... mereka kesini mau minta izin buat nikah di restoran Aa Riki,” ucap Cicil.
“Kapan?”
“Sebulan lagi,” jawab Cicil.
Tiba-tiba Laura menangis seperti anak TK yang tidak diizinkan beli balon oleh orang tuanya. Laura terduduk dan menangis di lututnya.
“Lah, kenapa kamu nangis?” tanya Cicil bingung, sepertinya sahabatnya ini kesambet.
“Aku sedih tau, aku tuh ingin nikah sama Edy.”
“Yah ... tinggal nikah, kok susah kan udah di setujuin sama Om Sabar,” ucap Cicil.
“Iya udah. Tapi, masalahnya ....”
Tok ... tok ...
Riki langsung beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu, “Rame banget yah hari ini, Neng. Untung Richie tidur.”
“Iya untung Richie tidur nyenyak kalau nggak gaduh bener ini,” jawab Cicil sambil tersenyum.
Riki langsung membuka pintu dan mendapati Edy yang sudah memiliki badan seperti preman pasar Tanah Abang “Apa?”
“Cinta sejatiku ada disini?” tanya Edy sambil berusaha melihat kebagian dalam ruangan.
“Hilih, cinta sejati. Siapa?” canda Riki yang kdang kesal dengan pemilihan kata Edy yang absurd.
“Neng Laura atuh, si cantik clara. Pujaan hatiku, gadis yang selalu berlari-lari di mimpi-mimpi erotisku,” kekeh Edy sambil tersenyum tengil pda Riki.
“Udah mulai ngaco ini anak, settingan otaknya udah nggak bener ini mah,” ucap Riki sambil memundurkan kakinya beberapa langkah agar Edy bisa masuk kedalam dan menemukan cinta sejatinya.
__ADS_1
Edy langsung masuk dan kaget mendapati Laura yang sedang menangis dan berjongkok dilantai. “Kamu kenapa cintaku?”
Laura hanya mengalihkan pandangannya dari lantai ke arah Edy. Laura langsung mendengus dan bangkit dari jongkoknya kemudian berjalan kearah Nama dengan kaki yang dihentak-hentakkan karena kesal bukan main saat melihat Edy.
“Ngapain kamu kesini?” tanya Laura ketus.
“Kamu mah, sini kita obrolin masalah kita,”’pinta Edy.
“Nggak mau, kamu nyebelin. Aku nggak suka,”’ucap Laura kesal pada Edy.
“Aduh baby, jangan gitu. Yuk kita obrolin dulu masalahnya. Semua masalah pasti ada solusinya, yuk,” bujuk Edy sambil mendekati Laura.
“Tau ah, Le. Kamu robah semenjak sering pergi ama Papih. Kamu lebih sering ngobrol sama Papih dari pada sama Aku,” ucap Laura kesal, kekesalannya yang selama ini dipendam akhirnya keluar juga. Meledak.
“Iya maaf, maaf ... yuk sekarang kita obrolin tapi, jangan di sini,” pinta Edy.
Laura langsung membalikkan badannya dan berjalan keluar ruangan dengan wajah ditekuk sepuluh, tak lupa Laura menghentak-hentakkan langkahnya karena kesal.
“Lo nape sih?” tanya Cicil bingung saat Laura melewatinya.
“Kenapa?” tanya Laura geram.
“Iya kenapa?” tanya Cicil lagi, tanpa tau kalau dia saat ini sedang memicu ledakkan amarah seorang Laura Subagja.
“Gue ngambek dan murka karena Papih minta gue nikah sama Lele di lapangan bola!?” ucap Laura.
“Hah? Lapangan bola?” tanya Cicil bingung.
“Lo mau ngapain? Nikah apa mau bikin acara lomba senam Indonesia?” tanya Cicil bingung.
“Nggak tau nggak paham, Papih itu ....”
“Bebz, kita bisa obrolin ini,” ucap Edy.
“Diam kamu Lele Dumbo, kamu bilang bicarakan-bicarana. Malah kamu sama Papih yang seneng banget pas tercetus ide itu. Bahkan, kamu bilang mau pake baju Liverpool!?” teriak Laura geram.
“Papih sama aku kan suka sama Liverpool,” ucap Edy.
“Tapi, nggak nikahan kita di lapangan Gelora Bung Karno terus pake baju bola juga Lele,” rengek Laura sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
“Tapi, itu unik Laura dan bisa dibikin konten dan masuk MURI,” ucap Edy.
Bug ...
Edy langsung mendapatkan pukulan dikedua bahunya. Laura memukul bahu kanan dan Cicil memukul bahu kiri.
“Sakit ih,” rengek Edy.
“Syukur,” maki Laura dan Cicil bersamaan. Mereka berdua geram dengan perkataan Edy yang ingin menjadikan acara sesakral pernikahan menjadi sebuah konten dan masuk MURI.
“Udahlah, kamu nikah aja sama orang lain. Nggak usah kamu nikah sama aku, aku mau nyari orang lain aja yang otaknya masih waras,” maki Laura kesal sambil pergi meninggalkan semua orang di ruangan itu.
__ADS_1
Brak ...
Laura membanting pintu ruangan dengan keras.
“Dy, lo sinting yah. Masa nikah temanya bola, okelah temanya bola tapi Laura diizinin pake baju nikahan yang bener. Lah ini disuruh pake baju trainning, lo sangka dia mau senam SKJ!?” maki Cicil geram.
Edy hanya bisa menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Apa yang dikatakan Cicil benar adanya, biasanya setiap wanita dimuka bumi ini pasti memiliki cita-cita atau rencana untuk menikah dengan berbagai macam cara.
“Iya ... maaf, awalnya aku sangak bercanda. Taunya Papih Sabar beneran nyewa itu lapangan Gelora Bung Karno,” ucap Edy sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di paha kanannya.
“Om Sabar nyewa lapangan Bung Karno?” tanya Rozak kaget.
“Iya, Zak. Aku aja bingung pas dengernya tadi, makanya Laura langsung ngamuk dan kabur tadi teh. Pas kita lagi ngobrol di rumahnya, bareng Aki.” Edy mencoba menerangkan.
“Terus Aki bilang apa?” tanya Rozak.
“Aki mah iya-iya aja, dia mah yang penting aku nikah ada yang ngurus ceunah, karena Aki bilang dia udah ingin gendong Cicit.” Edy berkata sambil berjalan ke arah pintu.
“Iya sih, biar cepet juga. Aki juga takut Laura sadar dan menolak nikah sama kamu, Dy,” kekeh Riki.
“Hilih, jangan dong. Neng Laura itu jodohnya Edy Edrosh. Sudah digariskan dan ditakdirkan oleh Ki Brondong,” ucap Edy.
“Oleh Tuhan woi ... ya kali oleh dukun,” ucap Riki gemas dengan pikiran Edy yang sangat Ki Brondong-isme.
“Hehehe ... canda, Mang. Dahlah aku mau nyari belahan jiwaku dulu. Takut ilang, nggak ada serep,” ucap Edy sambil membuka pintu dan beranjak untuk pergi mencari Laura.
“Eh ... Edy,” panggil Riki yang membuat Edy menghentikan langkahnya dan membalikan kepalanya untuk melihat Riki.
“Apa?”
“Ai Aki di bawah? Aku mau ketemu, udah sono (kangen),” ucap Riki.
“Aki mah di ....” Edy menghentikan perkataannya berpikir keras.
“Dy, Aki maneh di mana? (Dy, aki kamu di mana?)” tanya Riki.
“Gusti Aki katingaleun di Alpamaret, astaga ... urang kaditu heula, (Tuhan Aki ketinggalan di Alpamaret, astaga aku kesana dulu yah).”
“Astaga Edy!?”
••••
Gusti nu agung, Edy kamu masa bisa lupa sama Aki sendiri. Sampai ketinggalan di Alpamaret, Edy kamu durhaka tau wkwkkwk ....
Kita akan menuju sah Edy-Laura dan Rozak-Nama. Pokoknya bakal asik ....
Alhamdulilah semenjak jadi penulis cita-cita Gallon yang ingin jadi penghulu terlaksana. 🤣🤣🤣
Jangan lupa bunga dan Kopinya kakak ....
XOXO GALLON yang HOBI KELON.
__ADS_1