
Saat sampai di rumah Ahyar, rombongan Rozak langsung turun. Saat turun, mereka tidak menemukan apapun juga, keadaan sangat-sangat sepi. Hanya ada mobil yang Rozak tau itu adalah mobil milik ibu Nama.
“Sepi amat,” bisik Adipati pada Taca.
“Nggak tau, mungkin itu keluarga kecil kali. Jadi, Sepi,” ucap Taca sambil menggenggam tangan Adipati erat. Adipati dengan cepat langsung mengecup tangan Taca.
Merekapun masuk kedalam rumah, didalam rumah. Rozak menemukan Nama yang sudah menunggunya dengan menggunakan baju Evening dress sederhana berwarna silver. Nama tampak cantik, ditambah Nama mencepol rambutnya hingga membuat leher jenjangnya tampak indah.
“Nyun,” panggil Rozak sambil menghampiri Nama.
Nama langsung tersenyum dan beranjak dari duduknya kemudia menghampiri rombongan Rozak. “Kang Rozak, ayo masuk.”
Dengan cekatan Nama langsung menyalami semua orang yang ada di sana. Semuanya, tidak ada satu orang pun yang terlewat. Bahkan, Adipati tampak kebingungan saat disalami oleh Nama.
“Ini ngapain salam-salaman, sih. Lebaran udah lewat, Amore,” ucap Adipati pada Taca.
“Hahaha, emang adabnya kaya gitu. Malah, harusnya kamu yang salam ke Nama. Bukan, Nama salam ke kamu kaya tadi,” ucap Taca.
“Eh... kok gitu?” tanya Adipati bingung.
“Kan, Nama itu Kakak ipar kamu. Yah, harusnya kamu salam ke dia. Kita itu, walau nikah paling awal. Tapi, kita itu yang paling kecil, Di,” terang Taca sambil mengusap bahu Adipati. Terkadang menerangkan adab dan tata krama khas Indonesia pada Adipati memang membutuhkan kesabaran.
“Pas, Cicil nikah dulu nggak gitu,” ucap Adipati.
“Beda, Di. Pas Aa Riki nika sama Cicil mah, udah kaya dikejar setan. Rusuh,” kekeh Taca.
“Heh, emang pas kalian nikah, nggak ribet?” tiba-tiba terdengar suara Riki, “kalau dulu kalian nggak cepet-cepet di nikahin udah. Ambyar.” Riki berkata sambil tersenyum dan langsung dibalas dengan tatapan maut Taca.
Merekapun berjalan kebagian dalam rumah megah seorang Ahhar Suhendar yang terhormat. Dibagian dalam, mereka langsung melihat keluarga Ahyar yang sudah hadir. Namun, pakaian yang mereka gunakan adalah pakaian yang sangat-sangat sederhana. Lebih, tepatnya pakaian rumah biasa.
Hanya Nama, Islah dan Ira yang mengenakan pakaian yang pantas untuk acara bertunangan tersebut. Sedangkan, Eva dan Tandika hanya mengenakan pakaian kaos dan celana biasa. Ahyar, mengenakan polo shirt dan celana kain.
“Astaga, Cil. Lo nyuruh gue pake baju kaya mau ke acara lamaran anak presiden. Sedangkan, mereka pake baju kaya gitu. Ngakak gue,” ucap Adipati pada Cicil yang ada disebelahnya.
Dengan sekali lihat Adipati langsung tau siapa sebenarnya Nama. Dilihat dari dua orang wanita paruh baya dan seorang lelaki paruh baya yang ada disana. Adipati langsung bisa menebah kalau Nama adalah anak dari istri kedua kelurga itu. Adipati hanya bisa tersenyum melihat situasi tersebut.
“Percaya, ama gue. Setelah tau siapa lo ama gue, mereka bakal ngacir kekamar buat ganti baju. Percaya ama gue,” ucap Cicil sambil tersenyum.
“Taruhan?” tanya Adipati.
“Oke sip, kalau sampai mereka kabur kekamar ps tau nama lo ama gue. Tesla lo buat gue,” ucap Cicil.
“Kalau mereka tetep nangkring dan nggak ganti baju, setelah tau siapa kita berdua. Lo harus jaga anak gue tiga-tiganya selama empat hari.”
“Mau kemana lo empat hari?” tanya Cicil pada Adipati.
“Liburan,” jawab Adipati singkat sambil tersenyum nakal.
Cicil langsung mengerti otak mesum seorang Adipati Berutti. Pernah mengenal secara luar dalam lelaki disebelahnya ini membuat Cicil hanya bisa tersenyum sambil mengangkat tangannya. “Deal.”
Adipati langsung menyambut uluran tangan Cicil, “Deal.”
Mereka pun langsung duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh Ahyar. Nama tampak duduk disamping Islah.
Ahyar langsung menatap rombongan keluarga Rozak. Matanya langsung terhenti pada dua wajah yang tampak tidak asing. Tapi, Ahyar langsung membuang perasaan tersebut, suatu hal yang tidak mungkin bila Nama anaknya bermain dan bergaul dengan kalangan atas. Mustahil.
“Jadi, ada apa kalian kesini?” tanya Ahyar tanpa basa basi, malah tampak ingin mengakhiri pertemuan ini dan kembali ke aktifitasnya.
Abah yang selalu berpikiran santai, langsung menjawab pertanyaan Ahyar tanpa ada pikiran jelek sama sekali. “Begini, saya kesini ingin meminta anak Bapak yang bernama Purnama Iswati untuk menjadi pendamping hidup anak ke dua saya, Rozak Trina.”
Ahyar langsung terdiam, sebuah seringai merendahkan langsung terbit diwajah Ahyar. “Anak saya yang itu?” tanya Ahyar sambil menunjuk Nama yang dari tadi terus tersenyum kearah Rozak.
“Iya,” jawab Abah sambil tesenyum.
__ADS_1
“Oh, boleh aja. Terserah,” jawab Ahyar.
Abah kaget saat mendengar perkataan Ahyar, orang tua macam apa yang tetap santai saat mendengar anak gadisnya mau diminta untuk menikah. “Jadi, anda tidak keberatan?”
“Aduh, ngapain keberatan. Silahkan saja kalau dia mau nikah sama anak sampean. Kami, tidak melarang,” ucap Eva tiba-tiba.
“Oh syukurlah kalau begitu. Saya jadi lega,” ucap Abah yang walau merasa jangal dan aneh dengan penerimaan keluarga Nama. Tapi, demi kebahagiaan Rozak dia menahan bahasanya.
“Tapi, saya dan keluarga saya tidak mau mengeluarkan uang sepeserpun. Karena, Nama itu bukan anak saya. Dia itu cuman anak dari istri kedua suami saya,” ucap Eva dengan sengit.
Nama langsung mencengkram paha Islah, bersiap untuk memaki Eva. Dengan cepat Islah menyentuh tangan Nama, meminta Nama tetap tenang. Nama langsung mengurungkan niatnya.
“Gotcha,” bisik Adipati senang karena apa yang dipikirkannya benar.
“Ini saya kenalin aja yah,” ucap Eva cepat. “saya istri pertamanya. Itu Tandika anak saya yang paling pertama dia saat ini memiliki perusahaan yang bergerak dibidang pengantaran barang, sukses. Itu anak saya yang kedua namanya Ira, dia berprestasi di sekolahnya.”
Abah hanya bisa menganggukkan kepalanya, sambil menahan emosinya sendiri. Abah malah merasa prihatin melihat Nama yang tampak berjuang menahan air matanya.
“Sedangkan, itu namanya Bu Islah dia mantan istri kedua suami saya. Dia sudah diberi rumah, mobil dan tempat kostan untuk mereka hidup. Jadi, saya selaku istri Ahyar, saya tidak mau mengeluarkan uang sepeser pun untuk pernikahan Nama.”
Abah tersenyum sambil menatap Nama, “Tidak apa-apa, kalau kalian tidak mau menjadikan Nama anak kalian. Biar saya saja yang urus, saya masih mampu untuk mengurus seorang anak lagi.”
“Baiklah kalau begitu,” ucap Ahyar.
Eva langsung mengalihkan pandangannya dari arah keluarga Rozak ke arah Nama dan langsung berbisik pelan di telinga Nama.
“Baguslah kalau begitu, Nama syukur ada orang mau nikah sama kamu. Untung keluarganya walau orang biasa tapi mau biayain kamu nikah,” bisik Eva sambil menatap Nama yang memang duduk disebelahnya.
“Mamih Eva, saya minta maaf kalau dulu keluarga saya. Terutama ibu saya pernah membuat Mamih Eva dan kelurga sakit hati. Tapi, saya rasa, saya tidak punya dosa dan salah sama sekali. Bisa nggak Mamih Eva suka satu hal aja dari diri saya?” bisik Nama, Nama berusaha untuk tidak berusara terlalu keras.
Eva tertawa pelan, Eva langsung menatap Nama dengan tatapan tajam. “Ada sih, ada yang saya suka sama kamu dan Ibu kamu.”
“Apa?” tanya Nama dengan suara pelan.
Nama hanya bisa menahan amarahnya, untungnya pembicaraan itu tidak dapat didengar oleh semua orang di ruangan itu. Bila sampai terdengar entah apa yang akan terjadi.
“Untuk biaya pernikahan, saya ingatkan kembali. Saya dan keluarga saya tidak mau menanggungnya sama sekali. Jadi, biaya pernikahan saya bebankan kepala calon mempelai pria.” Ahyar berkata sambil menatap Abah dan Rozak bergantian.
“Gimana, Zak?” tanya Abah pada Rozak. Abah yang selalu memberikan tanggung jawab pada anak-anaknya, termasuk biaya pernikahan langsung menatap Rozak.
“Saya, saya bisa asal pernikahannya seder—“
“Saya tidak mau pernikahan sederhana, Nak. Tidak mungkin anak seorang Ahyar Suhendar hanya menikah di KUA,” potong Ahyar.
“Ayah,” ucap Nama kesal, apa-apaan Ayahnya ini! Sudah tidak mau membayar biaya pernikahannya, sekarang memberikan syarat bahwa pernikahannya harus mewah. Sinting!?
“Itu syaratnya, Nama. Kalau Rozak mampu, silahkan. Kalau nggak mampu silahkan angkat kaki,” ucap Ahyar sambil menatap Rozak.
Rozak terdiam, tabungannya saat ini tidak bisa bila melakukan pernikahan yang meriah. Karena, cita-citanya adalah pernikahan sederhana bamun hikmat. Bukan, pernikahan mewah. Ah... sial, kenapa setiap dia ingin menikahi seorang wanita selalu saja terhalang biaya.
“Pak, Saya—“
“Semuanya siap.” Adipati berkata sambil menepuk bahu Rozak. “Rozak bakal bayar semuanya. Mau dimana?”
“Adipati,” ucap Rozak bingung.
“Udah, iyain aja. Biaya gimana-gimananya biar kita pikirin nanti,” bisik Adipati.
“Iyain aja, capet,” bisik Riki sambil memukul bahu Rozak. “Udah bilang iya.”
Rozak langsung menatap Abah, Abah langsung menganggukkan kepalanya. “Iya, saya sanggup.”
Ahyar langsung tersenyum, sebenarnya ini hanya untuk menghalangi rencana pernikahan Nama dengan Rozak. Sejujurnya, Ahyar ingin menikahkan Nama dengan anak koleganya yang kaya raya, namun Nama selalu menolak dengan berbagai macam cara.
__ADS_1
“Baik, saya ingin pernikahannya mewah dan meriah. Saya ingin mengundang banyak pejabat penting.”
“You name it (sebutkan saja), saya yang bakal undang,” ucap Adipati santai.
“Maaf anda siapa?” tanya Tandika yang dari tadi penasaran dengan sosok Adipati.
“Oh, saya Adipati Berutti. Saya adik ipar Rozak, Istri saya adik Rozak.”
“Adipati Berutti pemilik perusahaan e-commerce Toko?” tanya Tandika, dia kaget karena sudah dua bulan dirinya dan rekan kerjanya berjuang untuk bertemu dengan CEO Toko untuk melakukan kerja sama.
“Iya, kenapa?” tanya Adipati santai.
“Oh, saya. Saya sudah dua bulan ini menghubungi anda dan Pak Juan. Tapi, Anda sangat sibuk sepertinya.” Tandika langsung berdiri kikuk, Tandika langsung merutuki dirinya yang tidak berpakaian pantas. “Saya, permisi dulu. Saya mau ke kamar mandi.”
Tandika langsung pergi meninggalkan mereka semua, bergegas untuk mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih pantas dan menelepon rekan kerjanya. Kalau adiknya akan menikah dengan sodara pemilik E-Commerce Toko, perusahan yang sedang mereka incar untuk bekerja sama.
Adipati hanya tersenyum sambil tersenyum pada Cicil. Cicil tertawa melihat Tandika yang pergi meningalkan mereka. Tinggal Ahyar dan Eva yang masih duduk disana.
“Di, inget Tesla buat aku,” bisik Cicil.
“Baru satu, dua lagi gimana?” tanya Adipati sambil menatap Ahyar dan Eva.
Cicil tersenyum pada Adipati sebelum berkata. “Pak Ahyar, ada salam dari Papih dan Bu Eva udah lama kita nggak bertemu. Terakhir kita ketemu di acara Jakarta Fashion week dua tahun yang lalu, yah.”
Ahyar langsung menatap wanita cantik, wanita itu tampak sedang mengandung tapi, kecantikannya tidak memudar sama sekali. “Maaf kamu siapa yah? Papih yang mana?”
“Astaga, Pak Ahyar lupa. Saya Cicil Bouw, Papih saya Jeff Bouw. Jangan-jangan Pak Ahyar udah nggak tertarik dengan tender dengan perusahan penerbangan kami yah?” tanya Cicil.
Ahyar langsung terdiam dan beranjak dari duduknya, ada perasaan kikuk saat mengetahui ada salah satu koleganya disana dan dia sama sekali tidak berpakaian yang pantas.
“Sebentar, kamu anak Rea Bouw?” tanya Eva kaget, siapa yang tidak tau Rea Bouw. Kiblat sosialita kelas atas, bermusuhan dengan Rea Bouw berarti tamat sudah riwatnya dalam pergaulan kelas atas.
“Iya, tante. Mau saya salamin sama Mamih?” tanya Cicil sambil tersenyum. “Sama, tante tumben pake baju yang so last year (ketingalan zaman). Itu kaos balmain yang empat tahun lalu kan?”
Dengan cepat Eva ikut berdiri bersama suaminya, “Aduh, kalian makan dulu yah. Saya sama suami saya ada yang harus dilakuin dibelakang. Ayo... ayo...”
“Ayo, dicicip,” ucap Eva yang tiba-tiba ramah dan pergi meninggalkan mereka semua bersama Ahyar, meninggalkan rombongan Rozak dan Islah dan Nama.
Cicil langsung tersenyum dan mengangkat tangan kanannya kehadapan Adipati. “Tesla lo?”
Adipati langsung menghela napas kemudia menyenderkan punggungnya disandaran kursi dengan senyum lebar. “Asem, besok gue kirim.”
“Cool,” jawab Cicil sambil tersenyum.
“Mereka kenapa?” tanya Abah pada Adipati dan Cicil.
“Nggak tau, Bah. Sawan kali,” jawab Cicil pura-pura bodoh.
“Astaga, pusing orang tuh.” Abah berkata sambil menepuk bahu Rozak “Zak, nanti kalau udah nikah sama Nama, jangan deket-deket ama keluarga ini. Kok serem yah liatnya, semuanya diukur sama harta. Nanti, kamu dimanfaatin, Zak.” Abah mencoba mengingatkan Rozak.
Rozak hanya bisa menganggukkan kepalanya, dia sadar seperti apa bentukkan keluarga Nama dari pihak Ayahnya. Dari detik ini dia berjanji akan membahagiakan Nama dan menjauhkan Nama dari keluarga Ahyar Suhendar yang aneh.
••••
Panjang yeh. Hahahaa....
Bingung mau potongnya dimana, jadi dibablasin aja. Hahahaa...
Oke sip, jangan lupa itu vote yang masih ada. Langsung kirimkan pada Gallon seorang, point berupa bunga dan kopi disebar dan jangan lupa likenya dong Kakak ❤️❤️❤️❤️
Like dan kommen mu mengubah duniaku, uhuy ❤️❤️
XOXO GALLON
__ADS_1