Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Manipulasi


__ADS_3

"Adipati Berutti?" tanya Albert, Astaga dia baru ingat, Riki pernah mengatakannya dulu saat di restoran Jepang. Adiknya adalah istri dari Adipati Berutti. Dia lupa..?!


"Iya, Adipati Berutti. Lakukan apapun yang mau kamu lakukan. Tapi,ingat satu hal tikus got kecil dan kotor ini, memiliki gigi yang bisa menggigit jari tangan anda sampai putus, taring itu bernama Adipati Berutti," ujar Riki.


Albert langsung mengusap bagian belakang kepalanya dengan gemas, kekesalannya benar-benar sudah diubun-ubun. Albert tahu dan kenal dengan Adipati, Adipati bukan orang yang bisa dipandang sebelah mata. Bule sinting itu memiliki kecapakan luar biasa dalam melobi orang dan dia tidak akan segan-segan untuk menghajar siapapun yang mengganggu dirinya dan keluarganya. Sialnya, Riki Trina adalah salah satu keluarganya.


"Dia ada di Singapura, Riki. Dia nggak bakal bisa nolongin kamu," Albert benar-benar berusaha untuk mempertahankan harga dirinya.


Terdengar suara tawa dari arah Riki, Riki benar-benar mengeluarkan tawa yang sangat mengejek dan membuat Albert kesal, rasanya Albert ingin merobek bibir Riki saking kesalnya.


"Dia emang di Singapura. Tapi, dia bakal pulang ke Indonesia dua hari lagi...."


"Tau dari mana kamu?" tanya Albert.


"Astaga, Albert, saya sudah bilang istri Adipati Berutti adalah adik saya. Adik asli, satu-satunya kluarga Adipati di Indonesia, semenjak Papahnya pindah ke Itali adalah keluarga saya, wajar kalau saya tau kapan mereka ke indonesia," jawan Riki sambil terkekeh geli.


"Riki kamu bener-bener tikus got yang ingin menjadi sultan, hah?" tanya Albert.


"Terserah kamu, mau bilang saya apa. Cuman jangan pernah kamu deketin Cicil lagi. Selamat siang," ujar Riki sambil memutuskan sambungan teleponnya.


Albert hanya bisa mematung beberapa saat, kemarahan langsung bergemuruh didadanya, kemarahan karena apa yang dikatakan oleh Riki, Riki ternyata mempunyai bekkingan yang kuat. Adipati bukan orang sembarangan.


Sepertinya dia harus memutar otaknya, lebih keras lagi untuk mendapatkan kembali Cicil. Dia tidak perduli Cicil sudah tidak mencintainya lagi, yang terpenting detik ini adalah dia menginginkan Cicil, dia mencintai Cicil. Itu adalah hal yang penting untuknya saat ini. Obsesi.


Tok....Tok...Tok...


Terdengar suara ketukan di pintu kantor Albert, Albert dengan cepat mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Berusaha untuk menyembunyikan ekspressi wajahnya.


"Masuk," ucap Albert.


klik...


Suara pintu dibuka, terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan Albert. Albert melihat siapa sosok yang masuk kedalam ruangannya. Matanya membulat saat mengetahui siapa yang memasuki ruangan tersebut.


"Albert, gimana kabar kamu?" tanya Jeff sambil berjalan mendekati Albert.


"Hai, Pih. Kabar Albert baik... Bagaimana kabar Papih?" tanya Albert sambil merangkul tubuh besannya.


Jeff kemudian duduk di kursi yang sudah ada, menatap Albert yang sudah duduk dihadapannya. "Bagaimana perusahaan?"


"Sama aja, Pih. Tidak ada yang berubah sama sekali, gini-gini aja, lancar. Papih gimana?" Albert mulai berbasa basi dengan calon mertuanya ini.


"Papih pusing cari Cicil, Al...."


Albert diam mendengar perkataan calon mertuanya itu, "Papih nggak tau dimana Cicil?"

__ADS_1


"Nggak, AL. Kalau tau udah dari jauh-jauh hari Papih susulin. Tisa nggak mau ngasih tau dimana Cicil, katanya dia diminta untuk tidak memberitahukna dimana Cicil berada," jawab Jeff.


"Albert sebenarnya tau dimana Cicil, tapi, Cicil menolak pulang, Pih," jawan Albert, entah kenapa Albert merasa ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan perhatian dari Jeff.


Jeff langsung menatap Albert dengan tatapan penuh harapan, "Kamu tau dimana Cicil? Kenapa kamu nggak bilang?" tanya Jeff.


"Albert sangka Papih tau dimana Cicil, makanya Albert diam dari kemarin," dusta Albert, Albert berusaha untuk mendapatkan hati Jeff dengan cara apapun.


"Mana ada, Papih bahkan kemarin kaget melihat semua barang-barang, bahkan surat pribadi Cicil sudah tidak ada di penthousenya," ujar Jeff, dihati kecilnya dia benar-benar khawatir dengan keadaan Cicil. Dimana sebenarnya anaknya itu.


"Pih, Cicil sama Riki...."


"Riki pemilik restoran itu? Ngapain?" tanya Papih bingung, sejak kapan anak gadisnya itu dekat dengan Riki.


"Mereka berpacaran Pih, Cicil udah mutusin aku, dia lebih suka sama Riki," suara Albert terdengar sangat lirih, saking lirihnya orang akan percaya kalau Riki adalah lelaki brengsek yang merebut Cicil dari tangannya.


Jeff menatap Albert bingung, "Maksud kamu, Riki merebut Cicil dari kamu?" tanya Jeff.


"Bisa dibilang begitu, Cicil mungkin disekap disana, Pih...."


"Disekap? maksdunya gimana?" tanya Jeff bingung.


"Yah, Papih sekarang nggak ngerasa aneh? Cicil sekarang nggak bisa Papih hubungin. Semua barang-barangnya hilang, bahkan Tisa sama sekali nggak mau ngasih tau dimana Cicil berada, emang nggak aneh?" tanya Albert.


Jeff menyenderkan badannya ke sandaran sofa yang sedang diduduki olehnya, apa yang dikatan Albert ada benarnya juga, Cicil bukan tipe anak yang pebangkan, dia anak yang sangat penurut. Bahkan, dia selalu mengikuti semua omongan Jeff, tapi saat ini, Cicil menghilang tanpa jejak, bahkan tidak diketahui rimbanya, benar sepertinya kata Albert, Cicil disekap dan dimanipulasi oleh Riki.


"Pih, liat ini. Ini photo yang saya ambil saat kemarin, saya ketemu sama Cicil. Saya nggak paham kenapa Cicil sampai seperti ini. Saya paksa dia pulang tapi, Cicil menolak," ujar Albert sambil memberikan photo Cicil yang sudah babak belur akibat Albert pukuli pada saat kemarin menculiknya.


Mata Jeff seperti akan meloncat keluar dari tempatnya, astaga kenapa dengan anak gadisnya. Siapa yang berani memukuli anak gadisnya? Riki?


"Kenapa Cicil bisa seperti ini? Ini dia dipukuli?" tanya Jeff dengan suara yang bergetar, rasa sakit langsung menyayat hatinya saat melihat, anak semata wayangnya dalam keadaan babak belur.


Senyuman Albert langsung terbit di wajahnya, rasanya dia berhasil mengelabui Jeff. Dia bisa menimpahkan kesalahan pada Riki. Iya, Riki yang memukuli Cicil bukan dirinya, dirinya hanya sedikit mendisiplinkan Cicil.


"Albert..! Siapa yang membuat Cicil seperti ini?" tanya Jeff dengan suara yang bergetar hebat karena menahan amarahnya.


"Albert, nggak tau. Tapi, kemarin pas Albert temui, Cicil keliatan ketakutan dan gugup, Cicil kaya orang yang trauma, Pih," jawab Albert sambil menunjukkan muka tersedih miliknya, padahal didalam hatinya tawanya meledak.


"Ini udah nggak bener, kita harus lapor polisi, Al...."


Mendengar perkataan Jeff, gemuruh tawa didalam hatinya langsung berhenti. Gawat kalau Jeff melaporan kasus ini ke kantor polisi, yang ada Albert yang akan kena. Kasus kemarin, pasti sudah dicata dikantor polisi dan pasti Jeff akan langsung mengetahui kalau pelaku pemukulan itu adalah dirinya, bukan Riki. Albert langsung memutar otaknya, mencari cara agar Jeff tidak melaporkan hal itu pada polisi.


"Albert kita harus lapor polisi, biar Riki masuk penjara, enak aja anak saya dipukuli," ujar Jeff seraya bangkit dari duduknya.


Albert dengan cepat langsung menangkap tangan Jeff dengan cepat, "Pih, santai dulu, kita nggak bisa seenaknya laporin Riki ke kantor polisi," ujar Albert.

__ADS_1


"Kenapa, ini sudah bukti. Saya nggak mau anak saya sampai jadi samsak hidup Riki," ujar Jeff.


"Nggak bisa Pih, nggak bisa kaya gitu," ujar Albert.


"Kenapa? Jangan ngaco kamu tuh. Kamu mau Cicil mati, hah? Ini parah mukulinnya."


"Karena..."


"Karena, apaan?" tanya Jeff tidak sabaran.


"Karena...."


"Astaga Albert, karena apa? Kamu mau Cicil mati dulu, baru kamu laporin semuanya kekantor polisi, hah?" bentak Jeff sambil berjalan dengan cepat kearah pintu kantor Albert.


"Karena, Riki kakak ipar, Adipati Berutti," ujar Albert cepat.


"Adipati Berutti? Adipati Berutti sahabat Juan Wijaya?" tanya Jeff sambil menghentikkan langkahnya dan berbalik menatap Albert dengan perhatian penuh.


"Iya, Adipati Berutti, The one and only," ujar Albert.


(Satu-satunya)


"Adipati itu saat ini tinggal di Singapura, Albert. Dia sudah tidak punya keluarga sama sekali di Indonesia. Si Riki itu mungkin mengada-ngada..."


"Istri Adipati itu adiknya Riki, Pih dan itu semua sudah dipastikan," ujar Albert sambil menatap Jeff.


Jeff langsung diam, informasi baru itu benar-benar membuta Jeff tidak jadi melaporkan Riki ke kantor polisi. Riki memang orang miskin, tapi bila adik iparnya adalah istri dari Adipati Berutti, berarti saat ini dia harus bergerak secara perlahan dan cepat. Cicil bisa mati ditangan predator dan psikopat seperti Riki.


"Albert, kita harus cari jalan untuk bawa kembali Cicil. Tapi, kita harus ngelakuinnya dengan cepat," ujar Jeff.


"Bisa aja, Pih. Gimana kalau kita ketempat Riki?" usul Albert, "mungkin kalau, Papih yang ajak Cicil, dia mau pulang Pih," usul Albert.


"Oke, kapan? Sekarang?" tanya Jeff.


"Besok gimana, Pih. Karena kalau sekarang, kayanya nggak mungkin juga."


"Ya udah, besok kita ke tempat si Riki sialan itu, kamu temenin Papih," ujar Jeff sambil terus menatap photo Cicil.


•••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2