
“Mau apa, Yah?” tanya Nama sesaat, Nama duduk di kursi yang berhadapan dengan Ayahnya itu.
Ahyar langsung tersenyum saat melihat Nama duduk di hadapannya. Dilihat dari sudut manapun, Nama adalah anak yang manis dan cantik, Nama bisa dibilang aset yng sangat berharga untuk dirinya.
“Duduklah dulu, Ayah udah lama nggak ketemu dan ngobrol-ngobrol sama kamu, kan?” tanya Ahyar sambil mengesap teh hangat yang sudah Islah sediakan tadi.
“Iya,” jawab Nama pelan, sebenarnya Nama ingin berkata kapan mereka ngobrol? Hampir tidak pernah Ahyar mengajak Nama ngobrol. Jangankan mengobrol mencari informasi dirinya hidup saja sepertinya tidak pernah.
“Nah, gimana hubungan kamu sama Rozak?” tanya Ahyar membuka percakapan.
“Baik, kenapa emangnya, Yah?” tanya Nama, Nama langsung masuk ke mode waspada. Ayahnya pasti ingin meminta Nama melakukan sesuatu.
“Baguslah, jadikan kalian nikah? Udah dapet gedung dan semuanya?” tanya Ayah sambil menunjukkan senyum paling menyebalkan yang pernah Nama liat.
“Jadi, Yah dan semuanya sudah siap,” dusta Nama, Nama tidak mau memberitahukan pada Ayahnya kalau uangnya masih kurang beberapa puluh juta lagi.
Bukan apa-apa, Nama tidak mau bilang kalau mereka masih kekurangan uang. Nama tau dengan pasti kalaupun Nama bilang dirinya dan Rozak masih kekurangan uang, Ahyar sama sekali tidak peduli akan hal tersebut.
“Kamu nggak mau berpikir ulang?” tanya Ahyar pada Nama.
“Maksud Ayah gimana? Berpikir ulang gimana?” tanya Nama bingung.
“Ya, berpikir ulang untuk menikah dengan Rozak.”
“Kenapa?” tanya Nama kaget, “seingat aku Rozak bukan lelaki brengsek, dia juga dari keluarga baik-baik.”
Dengusan tanda mengejek terdengar jelas di telinga Nama, Ahyar menatap Nama dengan tatapan yang hampir membuat Nama melemparkan asbak dihadapannya ke wajah Ayahnya itu.
“Dia nggak bisa diharapkan, nggak bisa kasih sumbangsih buat hidup kamu.” Ahyar berkata sambil menghisap rokoknya dan duduk dengan gaya bertopang kaki.
“Hidup aku?”
“Iya hidup kamu, buat apa kamu menikah dan membaktikan hiduo kamu cuman buat pria yang nggak bisa memberikan sumbangsih buat hidup kamu,” ucap Ahyar sambil menghisap rokoknya kembali.
“Hahaha.” Nama tertawa saking kesalnya, entah kenapa perkataan Ahyar terdengar lucu ditelinganya.
“Kamu jangan ketawa ini masalah serius, dia itu nggak bakal bisa bikin kamu bahagia,” ucap Ahyar sambil mematikan rokoknya di asbak dan menjuk Nama.
“Oh yah, tau dari mana?” Nama benar-benar muak dengan lelaki dihadapannya ini.
“Astaga, Ayah udah bilang dia itu nggak bisa memberikan keuntungan apapun buat—“
“Buat Ayah ‘kan?” potong Nama cepat.
__ADS_1
Ahyar langsung terdiam, anak gadisnya ini memang pintar. Dari ketiga anaknya memang Nama adalah yang paling pintar.
“Ayah, jawab.”
“Ingat, kepentingan Ayah juga bisa memberikan dampak yang baik buat kamu, Nama.” Ahyar berusaha menutupi maksud terselubungnya. Mengkonfrotasi Nama bukan jalan yang baik untuk saat ini.
“Dampak apaan? Dampak globalisasi?” tanya Nama sarkas.
“Nama, sopan kamu.”
“Sopan? Buat apa?” ucap Nama sambil mendelikkan matanya dan menyilangkan tangannya di dada.
“Aku ini Bapak kamu, orang tua kamu. Kamu harus bisa ngehormatin aku!?” Ahyar terpancing emosinya karena sifat Nama yang berbicara dengan nada tidak menghargai sama sekali.
“Astaga, baru sekarang sadar kamu Bapak saya?” tanya Nama sambil menatap mata Ahyar kesal.
“Lah, kalau bukan saya emang siapa bapak kamu?” ucap Ahyar berang.
“Kemana aja, Yah? Baru sekarang Ayah bilang kalau Nama ini anak Ayah. Dulu, dulu kemana Yah? Amnesia?” tanya Nama kesal, dengan cepat memori penolakan Ayahnya dan keluarganya berputar di kepala Nama. Rasa sakit yang sudah terkubur kembali muncul dan membuat ledakan amarah pada diri Nama.
“Ayah ada, buktinya Ayah urus kamu. Kalau nggak mana mau Ayah kasih rumah dan usaha untuk Ibu kamu!?” seru Ayah sambil menggebrak meja di hadapannya.
“Hahaha, astaga Ayah lucu, Ayah kasih rumah dan usaha buat Ibu itu bukan bentuk kasih sayang, Yah.” Nama tertawa mendengar penjelasan Ahyar yang benar-benar seperti anak kecil.
Nama hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mendengus keras, berusaha membuang rasa kesal di hatinya. Tapi, sepertinya tidak bisa. Nama sudah Muak.
“Nama, jawab Ayah kalau bukan sayang berarti apa? Kamu suka mengada-ngada!?” Ahyar benar-benar berang pada anak keduanya ini.
Nama tidak menggubris perkataan Ayahnya, berharap Ayahnya masih punya otak untuk berpikir. Berharap Ayahnya punya hati nurani.
BRAG...
“Nama jawab Ayah!?” bentak Ayah murka.
“Tanggung Jawab Ahyar Suhendar!?” ucap Nama sambil menatap tajam mata Ahyar. Nama tidak akan gentar lagi, Nama sudah muak dengan Ayahnya yang selalu merasa jadi korban. Padahal, dia yang selalu menjadi korban atas segala perbuatan Ayahnya.
Ahyar terdiam mendengar perkataan Nama yang benar-benar menohoknya. “Nama, tapi itu juga bentuk kasih sayang, Ayah sama kamu!? Kamu lupa siapa yang nolongin kamu saat kamu ada masalah sama Dion, hah?”
Brak...
Nama menggebrak meja dan berdiri menatap Ahyar geram. “Apa Ayah lupa hal itu sudah Nama bayar lunas?”
“Lupa Ayah langsung nyuruh Nama nemenin salah satu kolega Ayah ke Singapura? Ayah lupa? Ayah lupa udah jual Nama?” sentak Nama sambil menggigit bagian bawah bibirnya, tubuhnya bergetar menahan amarahnya.
__ADS_1
“Tapi, kamu nggak diapa-apain juga ‘kan?” bela Ahyar yang tidak mau disalahkan atas peristiwa tersebut.
“Astaga Ayah, Nama nggak diapa-apain karena dia itu bapaknya teman Nama di kampus. Tau, betapa malunya Nama? Nama sampai disangka ayam kampus gara-gara kelakuan bejat Ayah. Tau, kenapa Nama sampai ingin cepat-cepat lulus dan menolak untuk bekerja menjadi assisten dosen di kampus karena apa?” tanya Nama kesal sambil meremas bantal yang dari tadi Nama peluk saking kesalnya.
“Nama, Ayah kan juga butuh pembayaran atas apa yang telah kamu lakuin dulu. Itu kebodohan kamu yang mau-mau aja pacaran sama cowo begajuan kaya Dion!?” bentak Ahyar tidak mau mengalah sambil menunjuk wajah Nama.
“Kalau kamu emang seorang Ayah yang baik. Kamu nggak bakal nyuruh aku ngelakuin itu semua.”
“Terus saya harus ngapain? Itu kebodohan kamu, bukan saya.”
“Harusnya kamu rengkuh saya, tanya kenapa bisa sampai seperti itu. Bukan kamu cecar dan kamu manfaatkan. Ayah macam apa kamu itu?” tanya Nama.
“Tapi, saya tetap Ayah kamu,” ucap Ahyar tidak mau kalah.
“Iya kamu Ayah saya, mau saya nangis darah pun kamu tetap Ayah saya. Tapi ....”
Nama menggantungkan perkataannya agar memberikan efek dramatis untuk Ahyar. Berharap Ahyar sadar akan kebodohannya.
“Apa? Saya Ayah yang sudah memberikan segalanya Nama, buktinya kamu nggak saya terlantarkan,” ucap Ahyar sambil merentangkan tangannya.
Astaga, ternyata otak Ayahnya ini masih kurang satu ons. Ayahnya sama sekali tidak berpikir jernih, otaknya benar-benar tidak bisa berpikir lagi seertinya. Sudah aus dan usang.
“Yah, Ayah tuh sadar bisa nggak sih?” tanya Nama kesal.
“Sadar gimana Nama?”
“Ayah itu ....”
“Apa?”
“Ayah itu Ayah yang gagal. Iya, kamu suami dan ayah yang, GAGAL.” Nama berkata sambil memberikan penekanan pada kata-kata Gagal.
Ahyar hanya bisa menggemeretakkan giginya menahan amarahnya. “Nama, kamu nggak bakal Ayah restuin nikah sama Rozak dan Ayah pastikan keluarga Rozak bakal terima balasannya.”
Nama hanya terkekeh mendengar perkataan Ahyar.
“Oh yah? Try me!?”
(Oh yah? Coba saja!?)
••••
Xoxo gallon.
__ADS_1