Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Rembes


__ADS_3

“Kamu nggak salah, Neng?” tanya Riki panik.


“Nggak ini rembes.” Cicil menatap ke lantai yang basah dengan air. “Ini air ketuban, Neng nggak bisa nahannya. Airnya keluar terus.”


Riki makin panik saat melihat Cicil yang tiba-tiba membungkuk sambil mengatur napasnya.


“Aw ... huh ....” Cicil mengatur napasnya sambil memejamkan matanya. Cicil dengan cepat menghitung waktu kontraksinya. “Huh ... huh ....”


“Neng, kamu mau lahiran?” tanya Riki sambil mengusap punggung Cicil.


“Iya ini kontraksi, huh ... huh ....” Cicil mengatur napasnya, dia tidak mau berteriak-teriak. Itu hanya menghabiskan tenaganya saja.


“Tapi kata dokter ‘kan seminggu lagi,” ucap Riki.


“Iya, mungkin Dedenya pengen ketemu Babanya,” ucap Cicil sambil mencoba untuk tersenyum.


Riki langsung memeluk Cicil dan mengayun badan Cicil ke kanan dan ke kiri, “Neng masih sakit?”


“Iya, sakit huh ... huh ...”


“Bentar yah, Neng.”


“AWWWWW.”


“Kang Rozak panggil bantuan,” pekik Nama panik saat mendengar jeritan Cicil dan melihat air rembesan ketuban yang tampak makin banyak.


“Bantuan apa?” tanya Rozak panik.


Rasanya Nama ingin mengkeplak kepala Rozak saat mendengar jawabannya. “Keluar cari polisi atau Pak Sinclair bilang Cicil mau lahiran!?”


Seperti tersadar dari lamunannya Riki langsung mengerjapkan matanya dan berkata, “Ah ... iya, ayo.”


Rozak langsung berlari keluar mencari bantuan, walau sebenarnya dia bingung bantuan apa yang dibutuhkan seorang ibu yang mau melahirkan.


“Aa, sakit banget.” Cicil berkata sambil menghela napasnya pelan mengatur napasnya.


“Duduk, Cil,” ucap Nama sambil mengambil kursi dan menempatkannya di belakang badan Nama. Cicil dengan patuh duduk di kursi tanpa melepaskan pelukkannya dari badan Riki.


Riki mau tidak mau membungkuk mengikuti tarikan dari Cicil. “Neng ....”


“Jangan lepas, Neng kuat kok. Asal ada Aa, Aa jangan pergi. Neng janji nggak bakal cakar-cakar asal ada Aa.” Cicil mencengkram baju Riki dengan erat.


“Iya, kesayangan Aa. Aa di sini, udah tenang.” Riki mengecupi pucuk rambut Cicil dengan pelan. “Kuat yah, kesayangan.”


Cicil tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Cicil merasa kuat bersama suaminya, mereka pasti bisa melewati semuanya.


“Maaf Bu Cicil mau lahiran?” tanya Sinclair kebingungan, di belakangnya sudah ada seorang wanita, polisi dan Kang Rozak.


“Ibu mau lahiran?” tanya wanita tersebut yang di dadanya terdapat name tag bernama Asih.


“Iya,” jawab Cicil pelan.


“Saya Asih, saya bidan kebetulan saya sedang ada urusan di sini. Saya cek yah, Bapaknya amas dulu,” pinta Asih sambil mendorong lembut badan Riki.


Riki bergeser kesamping kanan. Namun, cengkraman Cicil makin erat seperti tidak mengizinkan Riki melepaskan pelukkannya. “Neng, Aa.”


“Jangan, Aa temenin Neng,” pinta Cicil.


Asih tersenyum mendengarkan perkataan Cicil. “Bu, Bapaknya pindah kebelakang yah, nanti Bapaknya bisa peluk ibu dari belakang,” bujuk Asih.


Cicil langsung melepaskan cengkramannya sekejap. Riki berjalan kebelakang Cicil dan mencari kursi untuk duduk di belakang Cicil.


“Aa, mana? Kamu di mana?” pekik Cicil kebingungan karena Riki tidak memeluknya sama sekali.

__ADS_1


“Tenang Bu, suami Ibu sedang mencari kursi,” ucap Bu Asri.


“Kok nyari kursi, Aa Neng mau lahiran ini. Kamu di mana sih? Astaga, Ne—“


“Aa di sini sayang,” potong Riki sambil memeluk Cicil dari belakang dan mengecup bagian belakang rambut Cicil.


Seketika itu juga kepanikkan Cicil berkurang, napasnya kembali teratur. Senyum kembali merekah di wajah Cicil. “Jangan pergi.”


“Nggak sayang, Aa di sini.”


Asri yang sedang memeriksa Cicil langsung tersenyum. “Saya periksa yah, Bu. Tenang tadi saya sudah steril.”


Cicil menahan menggigit bagian bawah bibirnya saat merasakan jari Asri yang memeriksa dirinya. “Aww ....”


“Bu pelan-pelan, kasian istri saya,” pinta Riki, sejujurnya dia bingung apa yang harus dilakukan. Melihat Cicil kepayahan membuat Riki ingin menangis.


“Iya, ini udah pembukaan enam tapi, jalan lahirnya terlalu jauh. Kita bawa ke rumah sakit sekarang.” Asri berkata sambil melepaskan sarung tangannya.


“Zak siapin mobil,” pinta Riki pda Rozak. Rozak langsung berlari tunggang langgang keluar ruangan untuk menyiapkan mobilnya.


“Bu, bisa berdiri ‘kan?” tanya Asri.


“Bisa,” jawab Cicil sambil berusaha untuk berdiridari duduknya. Tangannya langsung ditopang oleh Riki. Riki berdiri di samping Cicil memapah istrinya.


Mereka berjalan keluar ruangan. Namun, dipintu Riki dihalangi oleh petugas lapas.


“Maaf Pak Riki, anda tidak bisa ikut pergi. Anda belum bisa keluar. Masih banyak berkas yang harus diselesaikan.” Petugas itu menghadang Riki.


“Pak, saya mau temenin istri saya lahiran. Nanti saya balik lagi,” ucap Riki berang. Sinting, apa meninggalkan istrinya berjuang bertaruh nyawa demi anaknya. Sedangkan, dirinya berada di penjara.


“Maaf Pak, peraturannya tidak begitu,” ucap polisi tersebut.


“Pak, saya cuman mau anter istri saya. Nanti saya balik.” Riki bersikeras, napasnya sesak saat melihat Cicil yang kepayahan dan menahan sakitnya. Mana tega dia meninggalkan istrinya.


“Maaf Pak,” ucap polisi tersebut sambil menahan bahu Riki.


Pegangan Riki yang terlepas dari tangan Cicil membuat Cicil panik. Langkahnya terhenti, dengan cepat dia berbalik dan memeluk tubuh Riki. “Aku mau kamu temenin aku, aku nggak bakal sanggup sendiri, Aa. Aa temenin Neng,” rengek Cicil.


“Aa mau Neng.” Riki terdiam sambil mengusap pipi Cicil. Tampak bulir-bulir keringat dingin dari dahi Cicil, melihatnya membuat Riki menitihkan air matanya. Astaga ternyata secinta ini dirinya pada Cicil.


“Ya udah, ayo.” Cicil menarik tangan Riki.


Riki langsung mengikuti Cicil berjalan, tak diindahkan perkataan petugas rutan. Di pikirannya saat ini hany keselamatan Cicil.


Mereka berjalan sampai kedepan mobil yang sudah Rozak parkirkan di depan jalan. Membuat cicil langsung masuk kedalam mobil.


“Awww ...” teriak Cicil pelan sambil mengusap perutnya.


“Bentar yah, sabar kita ke rumah sakit yah, Sayang.” Riki mengusap dahi Cicil kemudian mencium keningnya pelan. “Kuat kamu kesayangan.”


Cicil mengaggukkan kepalanya berjuang untuk menggeserkan tubuhnya, badannya sakit bukan main. Namun, dia harus menggeserkan tubuhnya memberikan ruang untuk Riki duduk, Cicil ingin Riki di sampingnya, memeluknya dan mengusap punggungnya yang sakitnya bukan main.


“Aa sini,” pinta Cicil sambil menepuk kursi di sampingnya.


Riki mengagukkan kepalanya saat akan masuk mobil, tiba-tiba Riki merasakan tangannya dicengkram dan tubuhnya ditarik keluar dari mobil.


“Pak, jangan bertindak gegabah. Ayo kembali, kita urus dulu surat-suratnya.”


Riki langsung menoleh dan mendapati dua petuga rutan yang menahan tubuhnya. “Pak, istri saya mau melahirkan. Saya nggak bakal kabur, saya cuman mau nemenin istri saya aja.”


“Maaf, Pak. Kalau Bapak saya izinkan pergi saya harus ngomong apa sama kepala rutan? Nanti malah kami yang tidak bisa menafkahi keluarga kami, Pak. Saya mohon jangan Pak,” pinta petugas itu sambil menarik badan Riki pelan.


Sebenarnya petugas rutan itu tidak tega melarang Riki untuk menemani istrinya. Selama di rutan Riki adalah sosok yang baik dan tidak neko-neko dan selalu mengantongi photo istrinya di sakunya.

__ADS_1


“Pak, saya mohon,” pinta petugas itu.


“Pak, istri saya ....”


“Pak, kita selesaikan administrasinya dulu, saya bantu. Biarkan istri Bapak dibawa ke Rumah sakit dulu setelahnya Bapak menyusul.”


Riki langsung menganggukkan kepalanya, “Pak Sinclair saya minta keluar sekarang juga atau saya paksa istri saya ganti pengacara!?”


Sinclair langsung menelan salivanya, ternyata Pak Riki yang tampak santun dan baik bisa murka juga bila menyangkut istrinya. “Baik saya urus.”


Sinclair langsung berlari kedalam rutan, sepertinya dia harus menggunakan seluruh usahanya untuk mengeluarkan Riki dari penjara sesegera mungkin. Nasibnya dipertaruhkan.


“Pak saya mau nenangin istri saya dulu, dia bisa histeris.” Riki meminta izin sambil berjalan ke arah pintu mobil tidak mengindahkan gelengan kepala petugas rutan.


“Neng,” panggil Riki.


“Aa ... ayo, sakit ini udah nggak tahan. Ayo, dede mau keluar mau liat Babanya,” ucap Cicil sambil mengusap pipi Riki, tatapannya memohon pada Riki untuk duduk di sampingnya dan mengusap punggungnya.


“Neng, denger Aa.”


“Apa?” Perasaan Cicil langsung tidak enak.


“Kamu ke Rumah sakit dulu sama Rozak dan Nama yah. Aa nyusul yah Sayang,” bujuk Riki sambil mengecupi kening Cicil.


“Hah? Nggak mau, nggak mau,” rengek Cicil sambil mencengkram tangan Cicil. “Nggak mau.”


“Neng, Aa mohon tunggu Aa yah, dengerin Aa pasti sampe sana sebelum kamu lahiran. Tunggu Aa,” ucap Riki sambil mengusap pipi Cicil.


“Nggak mau, mau sama Aa. Aa,” jerit Cicil kalut, tangisnya pecah. Dia takut sendirian, dia butuh suaminya. Cicil takut.


“Aa nyusul yah,” ucap Riki sambil melepaskan tangan Cicil.


“Aa nggak mau, nggak mau!?”


“Nam, jaga Cicil yah, Rozak ati-ati bawa mobilnya,”’pinta Riki sambil berjuang menahan air matanya. Hatinya kalut pikirannya mandeg, bagaimana tidak hatinya sakit melihat Cicil kepayahan dan memohon padanya untuk ditemani.


“Neng, tunggu yah,” pinta Riki. “Kesayangannya Aa kuat yah,” ucap Riki sambil mengusap rambut Cicil dan mengecup kepalanya.


“Nggak mau, Aa ... Aa,” jerit Cicil “Aaww ...”


Cicil menjerit saat kontraksi kembali Cicil rasakan, pinggangnya sakit bukan main. Rasanya seperti tulang-tulang di bagian panggulnya diremukkan sekaligus.


“Kang, ayo cepet,” jerit Nama sambil masuk dan duduk disebelah Cicil kemudian memeluknya. Mengusap punggung calon kakak iparnya itu.


“Aa Nam, Aa,” rengek Cicil sambil menahan sakit.


“Iya, nanti Riki ketemu di rumah sakit yah. Kang ayo!?” teriak Nama.


Rozak lalu menatap manik mata Riki dan menganggukkan kepalanya. Dengan cepat Rozak melajukan mobilnya setelah Riki membanting pintu mobil dengan kerasnya.


Riki hanya bisa menatap nanar mobil Rozak, batinnya mencaci maki. Semua kata kebun binatang rasanya tidak cukup untuk mengungkapkan kebenciannya pada Ahyar Suhendar yang membuat dirinya tidak bisa menemani istrinya melahirkan.


“Pak,” panggil petugas rutan.


“Dimana Sinclair?” tanya Riki.


“Pak Sinclair sudah ke kantor kepala rutan.”


Riki langsung berbalik dan berjalan kearah kantor kepala Rutan. Bersumpah pada dirinya sendiri kalau dia akan membalas semuanya pada seorang Ahyar Suhendar!?


••••


Maaf yah lahirannya nggak penuh kekocakkan hehehehehe... sekarang penuh ke haru biruan hohohohoo...

__ADS_1


Terima kasih bunga, Kopi dan votenya. Kalian luar biasa ❤️❤️


XOXO GALLON


__ADS_2