
“Aa, tapi beneran loh. Ahyar Suhendar itu nggak punya anak tiga.” Cicil berkata sambil duduk disamping Riki.
Riki dan Cicil saat ini sudah sampai di tempat tinggal mereka. Detik ini mereka sedang duduk di sofa. Menonton film yang sedang di putar di salah satu channel tv kabel mereka.
“Ada, Neng. Lah itu buktinya Nama anaknya,” jawab Riki.
“Tapi, aku kenal si Ahyar ini. Dia sering ke kantor aku. Bahkan, dulu Papih sering dapet tender dari dia. Ahyar Suhendar itu pejabat nyebelin.”
Riki melirik Cicil penasaran dengan perkataan istrinya ini. “Nyebelin gimana? Besok kita harus kesana loh.”
Cicil langsung menaikkan kakinya keatas sofa. Riki dengan cepat menggusap kaki Cicil dan memijat telapak kaki Cicil yang sudah mulai membengkak.
“Ahyar Suhendar itu terkenal mata keranjang. Tisa itu udah sering di colek-colek sama Ahyar. Bahkan, beberapa kali aku pernah mergokkin dia natap belahan dada aku. Ih nggak banget.”
Riki langsung menaikkan alisnya saat mendengar perkataan Cicil. “Ngapain dia liatin belahan dada kamu? Nggak ada kerjaan apa cari mati?”
Cicil tertawa pelan saat mendengar perkataan Riki. “Hahaha ... udah lama kejadiannya, Aa. Aku udah nggak pernah ketemu sama dia lagi.”
“Bener?”
“Bener, besok kayanya perdana aku ketemu dia lagi. Udah lama aku nggak ketemu dia, terakhir itu Papih nolak tender dari dia.” Cicil mencoba mengingat-ingat lagi semuanya.
“Kenapa Papih tolak, Neng?” tanya Riki yang penasaran.
“Kalau nggak salah, karena Ahyar itu minta persenan lebih dari sepuluh persen. Padahal amannya itu dua sampai tiga persen. Kalau lebih dari itu, bisanya suka diselidikin KPK,” ucap Cicil sambil mengambil keju dan memakannya.
“Jadi, Papih tolak itu tender. Papih nggak mau ambil resiko.” Cicil menambahkan lagi sambil mengigit keju ukuran besar.
Riki hanya bisa tersenyum saat melihat apa yang dimakan oleh Cicil. Keju benar-benar makanan wajib bagi Cicil saat ini, sepertinya hampir setiap saat Riki melihat Cicil sedang memakan keju.
“Neng, itu nggak asin makanin keju mulu?” tanya Riki.
Cicil melihat keju yang tinggal setengah, “Nggak, enak kok Aa, padahal biasanya aku dulu nggak suka keju loh, Aa.” Cicil berkata sambil mengigit kejunya lagi. “Tapi, semenjak hamil aku suka banget sama keju, Mamih aja ampe aneh liat aku makanin keju kaya gini.
Riki mengelus paha Cicil yang mulai membengkak, “Jangan banyak-banyak makan kejunya, Neng. Kasian anak Aa didalam sana, terendam dalam cairan keasinan yang hakiki.”
“Mana ada Aa, jangan ngaco ih....” Cicil tertawa pelan mendengar perkataan Riki. “Aa tapi, beneran loh. Aku nggak bingung Nama itu anak Pak Ahyar yang mana.”
“Neng, Nama itu anak dari istri kedua Pak Ahyar.”
“Hah!? Ahyar punya dua istri?” tanya Nama kaget mendengar perkataan Riki.
“Iya, kata Rozak. Nama itu anak dari istri kedua Ahyar. Tapi, ibu Nama sama Ahyar sudah bercerai. Mereka sudah jalan masing-masing. Tapi, tetep aja walau begitukan Nama itu anak Ahyar. Jadi, kita besok harus minta ijin Ahyar.”
Cicil langsung menganggukkan kepalanya pelan. “Tapi, gimana kalau Ahyar nggak kasih ijin?” tanya Cicil.
Riki kaget dengan lertanyaan Cicil, “Kenapa Ahyar nggak setuju, Neng?”
“Ahyar itu di otaknya hanya ada uang, uang, uang dan uang. Pokoknya semua kalau bisa dijadikan untuk penghasil uang, Ahyar akan lakukan.” Cicil berkata sambil mengubah posisinya.
__ADS_1
“Rozak bukan anak orang kaya, Cil. Nama juga bukan anak dari istri pertamanya,” ucap Riki mengingatkan Cicil.
“Nanti aku pikirin gimana caranya, biar si Ahyar edyan itu bakal setujuin Rozak nikah sama Nama.” Cicil berkata sambil duduk dipangkuan Riki.
“Astaga mau apa kamu?” tanya Riki saat mendapati istrinya duduk di pangkuannya. Bukan, bukan karena berat. Riki masih mampu mengangkat bada Cicil walau Cicil sedang hamil. Riki tau kalau Cicil sudah naik kepangkuannya apa yang akan terjadi. Apa akhirnya, Riki sudah hapal diluar kepala.
Cicil hanya tersenyum manis sambil mengusap dada Riki. “Mau minta bayaran.”
“Bayaran apaan? Emang siapa yang ngutang?” tanya Riki bingung.
Cicil mengalungkan tangannya ke leher Riki, “Kamu lah, kamu mau adik kamu nikah sama anaknya Ahyar Suhendar nggak?”
“Bentar, ini yang mau bikah Rozak. Kenapa Aa yang harus bayar?” tanya Riki sambil memainkan rambut Cicil yang entah mengapa sudah sangat panjang.
“Kan, Rozak adik kamu. Jadi, tanggung jawab kakaknya buat bayar,” ucap Cicil sambil mendekatkan wajahnya ke hidung wajah Riki.
“Nggak bisa, Rozak yang nikah. Ya dia yang bayar, kenapa aku yang bayar. Nggak mau ah,” ucap Riki sambil mengambil ikat rambut disamping nakas dan mengikat rambut Cicil. “Potong kenapa sih ini rambut, kesel liatnya.”
Cicil tertawa kecil mendengarkan keluhan Riki mengenai rambutnya. Suaminya ini benar-benar membencinya bila rambutnya panjang, entah kenapa.
“Kamu yakin?”
“Yakin apa?” tanya Riki sambil mengusap punggung Cicil.
“Yakin suruh Rozak yang bayar?” tanya Cicil sambil memiringkan kepalanya dan mendekatkan bibirnya dengan bibir Riki.
“Emang apa bayarannya?” tanya Riki sambil mengusal pipi Cicil yang makin berisi.
“Jadi, aku minta Rozak ata—“
“Jangan berani minta bayaran itu ke orang lain, Cicil Trina,” potong Riki sambil mengecup bibir Cicil dengan liar bersiap untuk memberikan kenikmatan pada Cicil, di sore hari yang panas.
•••
Rozak duduk sambil melihat kolam ikan milik Edy yang sudah hampir seminggu ini tidak ada yang mengurusnya, karena yang punya kolam menghilang entah kemana. Lebih, tepatnya sedang berguru di bawah air terjun Curuk Ciporolak, Banten.
Rozak mengusap-usap layar handphonennya, sesekali dia tersenyum melihat layar handphonennya. Melihat wajah Nama dengan berbagai gaya dan posisi membuat dirinya tertawa.
Saat sedang asik mengutak ngatik handphonennya, Rozak merasakan tepukkan di bahunya.
“Pak lagi ngapain di sini?” tanya Manda yang bingung melihat adik bossnya sedang menatap kolam lele.
“Nunggu Pak Riki,” jawab Rozak.
“Jam berapa sekarang?” tanya Manda pada Rozak.
Rozak spontan melirik jam tangannya, “Jam empat sore, emang kenapa?”
“Wah, jam segini tuh udah jam-jamnya, Pak.”
__ADS_1
“Jam apaan?” tanya Rozak bingung.
“Jam-jamnya pak Riki buka jalan sama Bu Cicil?” ucap Manda.
“Makjan!? Lagi?” tanya Rozak kaget, yang langsung dijawab anggukkan oleh Manda sambil tersenyum.
“Kalian ini pada tau dari mana sih? Ngintip kalian, hah?” tanya Rozak bingung, kenapa para pegawai restoran ini tau jadwal buka jalan Riki dan Cicil.
“Idih ngapain ngintip, Pak. Bisa-bisa jiwa jomblo kami meronta-ronta,” kekeh Manda.
“Terus tau dari mana?”
“Abis setiap jam tujuh pagi sama jam empat sore, kita sering liat Pak Riki turun dari atas dalam keadaan rambut basah. Bu Cicil juga, pokoknya mereka kompak Pak, tiap pagi dan sore hari,” kekeh Manda.
“Astaga.”
“Yah, Pak Rozak taulah kalau rambut udah basah artinya apa coba. Pagi sama siang, Pak.”
“Setiap hari?” tanya Rozak penasaran.
“Nggak setiap hari sih, tapi jam mereka rambut basah selalu sama, Pak,” kekeh Manda.
Rozak hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kayanya saya harus nunggu lebih lama kayanya.”
“Iya, Pak. Tapi, saran saya nih, Pak. Kalau bapak mau nunggu, mending jangan disini.”
“Kenapa?” tanya Rozak bingung.
“Nanti Bapak kesanbet siluman ikan lele, loh,” ucap Manda.
“Siluman lele?”
“Iya, kaya si Junet tuh, kemaren dia lama disini kesambet dia siluman lele. Sejam dia menggelepar di dalem kolam, Pak. Udah kaya dugong,” terang Manda.
“Ngaco kamu Manda,” ucap Rozak.
“Beneran Pak....”
Tring...
Sebuah pesan masuk kedalam handphone Rozak, dengan cepat Rozak membuka pesan di handphonennya.
-Kang, aku di depan.
Rozak mengedipkan matanya, kebingungan. Kenapa Nama tiba-tiba ada di restoran, seingatnya mereka baru berpisah dua jam yang lalu. Perasaan Rozak langsung tidak enak. Tanpa menghiraukan Manda, Rozak langsung berjalan meninggalkan Manda sendirian di kolam lele.
•••
Ada apa nih, mau dibikin asem, asin atau manis nih?
__ADS_1
Jangan lupa tombol like digoyang, bunga ditanam dan kopi dihidangkan. Komen dipastikan 🤣🤣.
XOXO GALLON