Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Obatnya Cicil adalah Riki


__ADS_3

Iis yang melihat Cicil terserang kecemasan parah dan serangan panik. Langsung berdiri dari duduknya, matanya langsung melihat Taca dan Nama yang sama-sama sudah berdiri dari duduknya.


“Ayang, mau kemana?” tanya Juan bingung kenapa istrinya tiba-tiba berdiri.


“Mau nolongin Cicil,” ucap Iis.


Juan melihat Cicil yang sedang berjongkok. “Apa yang mau ditolongin,Yang. Cicil cuman jongkok,” ucap Juan bingung. Buat apa nolongin orang jongkok.


Iis hanya bisa menghela napas, Juan benar-benar tidak melihat kalau Cicil sudah diserang rasa panik. “Cicil panik, Mas. Kasian dia, dia butuh Riki suaminya. Aku yakin sekarang dia lagi ketakutan. Udah, awas dulu.”


Juan langsung memberikan jalan bagi istrinya. Dilihatnya Taca dan Nama berjalan dibelakang Iis.


“Taca, kamu minta polisi buat balikin lagi Riki. Aku yakin, Cicil butuh Riki.” Iis memberikan perintah pada Taca.


Taca dengan cepat berlari kearah para polisi disana, berusaha agar Riki diijinkan kembali masuk ruang persidangan.


“Nama, temenin Cicil. Dia panik dan Nama, Cicil mood swing (perubahan suasana hati dengan cepat. Bisa sesaat marah, bisa sesaat bahagia),” ucap Iis pada Nama.


“Noted, Bu,” ucap Nama sambil berlari ke arah Cicil.


Iis berjalan kearah hakim yang ada didepannya. “Pak hakim yang terhormat, Nama saya Lizbet Wijaya, saya Psikolog pribadi ibu Cicil. Saya ingin meminta anda, mengijinkan Bu Cicil dan Pak Riki bersama atau setidaknya saya mohon, ijinkan Bapak Riki masuk kedalam ruangan sebentar untuk membawa Ibu Cicil keluar. Ibu Cicil butuh ditenangkan.” Iis memohon pada Hakim dihadapannya.


Hakim tersebut melihat Iis, kemudian beralih melihat Cicil yang sedang dipeluk Nama. Dimatanya, Ia melihat Cicil yang sedang menjerit histeris kebingungan mencari seseorang.


“Bu Cicil kenapa?”


“Pak Hakim yang terhormat, dia sedang dalam keadaan terguncang. Peristiwa pemerkosaan yang Ibu Cicil alami, membuat dirinya sering mengalami kecemasan dan satu-satunya yang bisa menenangkan Bu Cicil hanya suaminya, Pak Hakim.”


“Kamu, beneran Psikolog? Mana lisensi kamu?” tanya Hakim itu, memang tidak etis menanyakan hal itu. Tapi, semuanya harus ditanyakan demi kebaikkan bersama.


Iis langsung mengambil handphonennya dan mencari kartu tanda virtual miliknya, dengan cepat Iis menunjukkan surat tanda regristasi Psikolog Indonesia miliknya. Hakim langsung menganggukkan kepalanya, dengan cepat dia meminta beberapa orang bawahannya untuk mengizinkan Riki masuk untuk membawa Cicil.


“Terima kasih banyak Pak Hakim, yang terhormat,” ucap Iis dan langsung dijawab anggukan oleh Hakim.


•••


“Aa Riki mana, Aa... Aa...” desis Cicil sambil menggigitin kuku ibu jarinya.


“Cicil, tenang Cil...” Nama langsung memeluk Cicil.

__ADS_1


Cicil menatap Nama, tangisannya pecah, “Nama, mana Riki. Tau Riki ‘kan? Riki suami aku.”


Nama hampir menangis saat melihat Cicil yang benar-benar rapuh. Cicil benar-benar membutuhkan Riki disampingnya, cobaan hidup benar-benar membuat Cicil menjadi pribadi yang takut menghadapi dunia tanpa suaminya.


“Bentar, aku cari yah, Cil. Cicil tenang, ada kok Rikinya. Sadar yah, tetep sadar,” ucap Nama, Nama takut kalau Cicil hilang kesadarannya dan beralih ke mode auto pilot. Bisa susah menyadarkannya.


“Iya, Aa mana yah?” tanya Cicil seperti orang kebingungan.


“Bentar, Cil... bentar...”Nama berusaha menenangkan Nama. “Cil, ambil napas yu, ayo bareng-bareng. Ambil napas....”


Cicil mengikuti Nama untuk mengambil napasnya dan kemudian menghembuskannya. Beberapa kali, Nama meminta Cicil bernapas sesuai hitungan Nama. Sedikit demi sedikit Cicil merasa mulai tenang.


“Tenang? Udah enak?” tanya Nama dan langsung dijawab anggukkan oleh Cicil.


“Neng, sayangnya Aa,” ucap Riki sambil memeluk Cicil dengan erat. “Maaf, maaf Aa kelepasan, kamu nggak papa?”


Cicil langsung memeluk erat Riki, menelusupkan kepalanya ke ceruk leher Riki. “Aa jangan pergi, Aa jangan tinggalin Neng. Jangan Aa.”


“Nggak Neng, maaf Aa tadi kelepasan. Udah sekarang kita keluar. Sidang ditunda, kita keluar yah.”


“Kamu bisa berdiri, Cil?” tanya Nama pada Cicil.


Jeff dan Rea yang entah bagaimana tiba-tiba saling mengaitkan tangan mereka berdua. Rea dengan tatapan cemas bertanya tanpa suara pada Cicil.


“Kamu baik-baik aja, Nak?” tanya Rea tanpa suara pada Cicil.


Cicil yang mengerti pertanyaan Mamihnya langsung menganggukkan kepalanya. Setelah melihat jawaban Cicil, Rea langsung memeluk Jeff. Tangis Rea pecah, hatinya pedih melihat anak semata wayangnya hancur.


Cicil akhirnya berjalan meninggalkan ruang sidang. Ruang sidang pun makin kosong, satu demi satu orang-orang meninggalkan ruang sidang. Meninggalkan dua pasangan yang masih saling berpelukkan.


Rea dan Jeff, meraka sama sekali tidak keluar dari ruang sidang. Entah kenapa, rasanya kaki mereka seperti terpatri di lantai ruang sidang.


“Maaf yah, Pih. Seandainya Mamih ngurus Cicil lebih baik lagi. Mungkin, Cicil saat ini bisa lebih bahagia lagi. Mamih nyesel.”


Jeff hanya bisa tersenyum sambil mencium bahu istrinya pelan. Wangi manis dari parfume istrinya langsung tercium di hidung Jeff. Ah... dia baru sadar, dia rindu istrinya.


“Pih, maafin Mamih. Mamih banyak salah sama Papih. Mamih nggak bakal minum lagi, Mamih mau ngurus Papih sama Cicil aja. Mamih salah, Pih,” isak Rea, Rea benar-benar merasa sangat bersalah. Keluarganya hancur hanya karena ketidak peduliannya pada keluarga kecilnya. Hanya karena dirinya mengikuti egonya sendiri.


“Sudah, Mih. Cicil sudah ditangan orang baik, Riki suami yang baik. Sudah,” bisik Jeff di telinga Rea sambil mengusap punggung Rea.

__ADS_1


“Iya, Pih. Iya... Mamih cuman nggak kuat liatnya” ucap Rea sambil mengusap air matanya.


“Kamu harus kuat. Anak kamu yang ngejalaninnya aja kuat, masa kamu nggak. Kita sama-sama,” ucap Jeff.


“Iya, Pih. Kita gencatan senjata yah,”’ucap Rea sambil tersenyum pada Jeff.


Jeff tersenyum melihat wajah istrinya, gurat-gurat kecantikan di wajah istrinya masih tampak sangat-sangat jelas. Jeff masih mengingat, betapa dia mencintai istrinya, semua indah sebelum negara api menyerang.


Masalah yang membuat Jeff meledak, karena kebodohan Rea, Rea tidak bisa menjaga kandungannya dan berakibat keguguran. Semenjak itu Jeff marah dan menggangap Rea tidak becus menjadi istri. Akhirnya Jeff mulai bermain-main dengan perempuan, Rea yang mengetahui Jeff bermain-main dengan perempuan muda, membalas Jeff dengan sering berkencan dengan berondong-berondong. Mata dibalas mata.


“Iya, sayang. Kita gencatan senjata. Selamanya.”


Mendengar perkataan Jeff, senyuman langsung merekah di bibir Rea. Akhirnya suaminya memberikan maaf pada dirinya. “Kamu maafin aku?”


“Iya, sayang aku maafin kamu. Aku malu sama mantu aku, dia aja bisa menerima Cicil. Kenapa, aku nggak.”


Rea langsung memeluk badan suaminya itu, “Terima kasih, Pih. Mamih minta maaf.”


“Iya.” Jeff membalas pelukkan istrinya itu, istri kesayangannya. Berpuluh-puluh wanita muda menghangatkan ranjangnya, hanya istrinya yang selalu Jeff bayangkan. Istri cantiknya, Rea bouw.


•••


Di ruangan terpisah Albert terduduk dengan wajah babak belur. Pengacaranya bolak balik dihadapannya. Memberikan berbagai saran untuk memberikan tuntutan pada Riki Trina. Susanto ini bisa dijadikan ancaman untuk meringankan hukuman Albert.


“Bagaimana, Pak Albert?” tanya Susanto.


Albert sama sekali tidak mempedulikan Susanto, saat ini pikirannya sedang berada di tempat lain. Iya, Albert sedang berada di dunianya sendiri, saat ini Albert sedang bercinta dengan Cicil di pikirannya. Albert menikmatinya, Albert suka dengan Cicil miliknya. Cicil yang ada dipikirannya.


Albert, hilang akal...


•••


Dorrr....


Jangan diangap pengadilan bisa kaya di cerita ini yah. Bisa di masukin penjara kalau bikin ricuh di pengadilan. Dua bab ini benar-benar halunya Kaka Gallon aja. Nggak lebih.


Jadi, Jangan nanti tiba-tiba datang ke persidangan terus teriak-teriak. Wah ambyar, bisa di lempar palu hakim wkwkkw....


Jangan lupa tombol like di goyang, point, koin dan vote di tabur buat Mr and Mrs Trina.

__ADS_1


XOXO GALLON


__ADS_2