
“Pelan-pelan,” ucap Nama sambil memapah Rozak dilorong apartemen.
“Astaga, Nam. Aku nggak kenapa-kenapa,” ucap Rozak sambil merangkul pinggang Nama dengan tangan kirinya, entah kenapa langkahnya oleng.
“Gimana sih, katanya nggak papa, yang bener. Zak.” Nama langsung menopang badan Rozak.
“Keserimpet,” jawab Rozak sambil melihat lantai yang lumayan licin dibawahnya.
“Ngaco ah, udah mana sini kuncinya?” tanya Nama sambil mengulurkan tangannya.
Rozak terus menatap Nama, “Kamu mau masuk?”
“Ya iyalah, kata Dokter kamu harus ganti baju dan mandi, gimana caranya kamu mandi kalau tangan kanan kamu di gips gini.”
“Mandi sendiri aku bisa kok, bantuin lepas baju aja. Aa pake kaos masalahnya,” tolak Rozak langsung.
Nama langsung menggigit bagian bawah bibirnya, menahan kesalnya. Rozak benar-benar tidak mau diurus. “Kamu tuh kenapa sih, aku mau ngurus kamu aja. Aku pacar kamu ‘kan?”
“Iya itu masalahnya, karena kamu pacar aku. Itu masalahnya,” ucap Rozak sambil membuka pintu apartemennya. Rozak bersyukur dia tipe lelaki yang suka membersihkan apartemen, Abah benar-benar mendidik mereka untuk selalu menjaga kebersihan. Sehingga, saat ini Nama tidak perlu melihat ruangan berantakan.
“Kok jadi masalah sih?” tanya Nama yang tidak mengerti maksud omongan Rozak. “Nggak suka banget sama pertolongan aku kamu tuh?”
“Bukan gitu, Nam.”
“Ya terus apa?” tanya Nama sambil menutup pintu apartemen dan mengerucutkan bibirnya.
Rozak langsung menelan salivanya saat melihat bibir Nama yang merah dan tipis itu mengerucut. Oke ini memang aneh, disaat lelaki lain menyukai bagian dada, leher atau bagian pinggang belakang wanita. Rozak tergila-gila denhan bibir, entah kenapa bibir Nama mampu membuat Rozak jungkir balik.
“Bibirnya bisa biasa aja nggak?” tanya Rozak, sesunguhnya Rozak sedang menahan hasratnya sendiri yang hampir meledak.
“Ini bibir biasa aja, emang bibir aku kenapa?” tanya Nama sewot sambil menyimpan tas dan segala bawaan yang dibawanya tadi.
“Bibir aku biasa aja, emang ada yang aneh sama bibir aku, hah?” Nama berkacak pinggang dan membulatkan matanya sambil menatap Rozak yang dari tadi melihat Nama.
Rozak diam berjuang menahan hasratnya sendiri, sejujurnya celananya sudah sesak. Ditambah, tadi Aa Riki berkata tentang mandi wajib, benar-benar membuat Rozak kelimpungan. Darah jomblonya mendidih.
“Kamu tuh kenapa sih nggak mau diurus, aneh.” Nama menunjuk dada Rozak kesal. “Orang lain seneng ada yang ngurusin, ini diurus nggak mau. Kalau sembuh nggak papa, ini dalam keadaan sakit susah banget dikasih tau yah. Bener-bener, maunya apa sih kamu tuh.”
“Nam, aku mau nanya satu hal aja,” ucap Rozak sambil mengangkat dagu Nama.
“Apa?”
“Kamu bener mau mandiin aku?” tanya Rozak pada Nama.
“Ya iya, emang kenapa?”
“Masalahnya gini loh, Nam,” ucap Rozak sambil mengusap-ngusap lengan Nama yang polos.
“Apa?” tanya Nama galak, “nggak mau nyusahin lagi, nggak enak. Apa?”
Rozak langsung tersenyum sambil mengigiti bagian bawah bibirnya. “Bukan, bukan itu masalahnya.”
“Ya terus apa?” tanya Nama kesal sambil menyilangkan tangannya didadanya, sialnya itu membuat dada Nama membusung. Gundukkan daging itu langsung membuat Rozak menelan salivanya dengan kesusahan.
Rozak langsung memikirkan pikiran-pikiran erotis tentang Nama, apa yang bisa dia lakukan dengan Nama, di setiap inci ruangan itu. Argh, benar kata orang kalau laki-laki dan perempuan disatukan orang ketiganya setan. Yah, ini setannya sudah merasuk ke kepala Rozak.
“Gini loh, karena kamu pacar aku. Aku nggak bisa kamu mandiin,” ucap Rozak berjuang untuk memberikan penjelasan setenang mungkin.
“Kenapa?” tanya Nama galak sambil maju selangkah mendekati Rozak. “Mau dimandiin siapa kamu emanganya?”
__ADS_1
“Bukan gitu.”
“Terus gimana, kamu mau dimandiin orang lain, hah?” tanya Nama yang sudah kesal dengan kekeras kepalaan Rozak yang tidak mau diurus.
“Bukan gitu.”
“Terus gimana?!”
“Masalahnya, kalau kamu mandiin aku yang ada aku kelepasan, Nam,” ucap Rozak sambil memeluk Nama.
“Kelepasan gimana?”
“Astaga, Nam. Kamu mandiin aku, aku nggak pake baju. Pikiran aku bisa berkelana, Nam.”
“Hah, gimana?” tanya Nama bingung.
“Aku nggak bakal kuat nahan nafsu,” ucap Rozak sambil mengusap bagian belakang pinggul Nama.
Plak...
“Makanya mending aku mandi sendiri, Namaku sayang,” ucap Rozak sambil mengecup pipi Nama dan pergi meninggalkan Nama yang sedang membulatkan matanya.
Nama yang masih kaget dengan perkataan Rozak hanya bisa terdiam dan menatap Rozak pergi meninggalkannya, masuk ke kamar mandi.
“Rozak!?” pekik Nama kesal.
“Dan mulai sekarang,” ucap Rozak sambil membuka pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya.
“Apa?”
“Panggil aku Akang atau Kang, bukan nama,”ucap Rozak.
“Kemarem aku nggak ada cita-cita buat nikahin kamu,” ucap Rozak sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Hah... gimana?”
“Kemaren, aku nggak pernah ada keinginan buat nikahin kamu, tapi sekarang...”
“Sekarang, gimana?” tanya Nama bingung.
“Sekarang, setelah tangan aku sehat kita ketemu Mamah kamu yah, aku mau lamar kamu, oke,” ucap Rozak sambil mengedipkan matanya dan masuk kedalam kamar mandi.
Nama langsung terdiam mendengar perkataan Rozak, jantungnya berdetak cepat. Apa dia tidak salah dengar, Rozak mau menikahi dirinya. Nikah?
Nama langsung mengipas-ngipas lehernya, tiba-tiba ada rasa sesak melandanya.
“Nikah?” bisik Nama bingung, kepalanya langsung pusing dengan cepat Nama berusaha bernapas. Padahal sulitnya bukan main, rasanya sulit bernapas dengan baik saat ini.
“Gimana caranya aku nikah?” tanya Nama bingung sambil menatap kedepan. Kepalanya seperti di ketuk-ketuk palu godam.
Nama langsung berdiri dan mengambil gelas, kemudian meminumnya hingga tandas. Kepalanya pusing bukan main, kalau nikah berarti Rozak bakal liat dia telanjang. Berarti dia bakal liat....
Nama terdiam, napasnya tercekat tangannya langsung menyentuh bagian dalam pahanya. Bagaimana kalau Rozak liat sesuatu di bagian dalam pahanya ini. Detik itu juga Nama langsung mengingat kelakuan bejat mantan kekasihnya. Kelakuan, Dion.
Dengan susah payah Nama memukul-mukul kepalanya. Sakit, bukan main. Lalu, kalau menikah berarti dia harus meminta ijin Ayahnya juga. Argh... masalah lagi.
“Nikah, yah?” tanya Nama lagi bingung. Nama mengusap-usap pahanya sambil terus bernapas. Pusing bukan main kepalanya.
“Nikah, gimana ini aku nggak mau nikah.”
__ADS_1
“Nam, kamu kenapa?” tanya Rozak yang sudah selesai mandi.
“Kang, aku nggak mau nikah.”
“Hah?”
“Aku nggak mau nikah, pokoknya.” Nama mengusap air matanya.
“Kenapa?” tanya Rozak bingung, “kamu nggak suka sama Akang?”
“Suka, cinta juga...”
“Terus kenapa?” tanya Rozak bingung, masalah apa lagi ini.
“Itu.”
“Kamu takut aku nggak bisa biayain kamu? Masalah ekonomi?” tanya Rozak bingung.
“Masalahnya.” Nama masih ragu untuk memberitahukan masalahnya pada Rozak.
“Apa?”
Nama menatap Rozak dengan kebingungan, biasanya dia akan lari tunggang langgang meninggalkan lelaki yang akan mengajaknya nikah. Tapi, Rozak berbeda, dia terlalu baik untuk ditinggalkan. Ah... bukan, lebih tepatnya Nama sudah jatuh cinta pada Rozak.
“Bisa, aku pikirin lagi, masalahnya nikah itu bukan perkara kecil,Zak...”
“Akang, bukan Zak,” koreksi Rozak sambil menatap Nama curiga.
“Oh, iya maaf Kang.”
“Kamu kenapa?” tanya Rozak bingung.
“Nggak kenapa-kenapa, cuman aku pikir kalau mau nikah nanti-nanti aja.”
“Ya udah, kan aku mau ketemu Mamah kamunya juga masih lama. Nih, tangan aku masih di gips gini.” Rozak mencoba menenangkan Nama.
“Iya, nanti aku bilang Mamah aku dulu, yah.” Nama berkata sambil menatap Rozak.
“Ah, sial kalau gini,” ucap Rozak sambil tersenyum pada Nama.
“Kenapa?”
“Makin aku harus nahan nafsu ini tuh,” canda Rozak.
“Ihh... sabar, yah. Orang sabar disayang tuhan,” ucap Nama sambil meloncat kepelukan Rozak.
“Gimana bisa sabar kalau digelendotin gini, Nam,” ucap Nama sambil memukul bagian belakang pinggul Nama pelan.
Nama hanya tertawa sambil mengusap air matanya, menghela napasnya pelan. Sepertinya saat ini dia bisa selamat. Tapi, entah sampai kapan.
•••
Mari kita sedikit terbang ke masalah percintaan Edy-Laura dengan papihnya Laura yang segede kulkas dua pintu.
Nama-Rozak yang manis-manis nyesek, sambil menunggu lahirannya anak Cicil dan Riki.
Terima kasih buat yang udah kasih sekuntum bunga wangi dan segelas kopi manis. Baiknya kalian ❤️❤️❤️
Jangan lupa tombol like di pencet pake ilmu kanuraga 🤣
__ADS_1
XOXO GALLON