Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Aa Riki


__ADS_3

“Neng kamu belum jawab pertanyaan Aa,” ucap Riki sambil meremas tangan Cicil.


Setelah saling melepas rindu, Riki dan Cicil akhirnya duduk di kursi yang sudah disiapkan. Mereka saling tatap dan saling menggenggam tangan.


“Yang mana? Pertanyaan kamu banyak banget, aku bingung mau jawab yang mana dulu,” kekeh Cicil.


“Maaf ... maaf ... aku kangen banget, maaf yah. Kamu jadi bingung,” ucap Riki sambil mengusap tangan Cicil pelan.


“Ya udah apa pertanyaannya?” tanya Cicil.


“Kamu sehat?”


“Sehat.”


“Kangen aku?”


“Kangenlah tiap malem aku pake baju kamu terus. Untungnya Iis dan Taca temenin aku tiap hari. Kalau nggak mungkin aku kesepian banget.”


“Taca dan Iis nemenin kamu?” tanya Riki kaget, “kok bisa? Suaminya nggak ngamuk?”


“Ngamuklah, kemaren mereka dateng ke kantor aku. Menuntut dikembalikannya istri-istrinya kehabitat semula,” kekeh Cicil.


“Astaga, kamu nggak diapa-apain?” tanya Riki was-was. Terbayang dipikirannya betapa beringasnya Juan dan Adipati yang sangat bucin pada istrinya.


“Nggaklah, karena Taca sama Iis yang mau nginep tiap malem di tempat kita. Jadi, nggak bisa mereka marah,” terang Cicil smabil tersenyum manis pada Riki.


“Untunglah, aku sangka mereka marah. Mereka kan possesif banget sama istri-istrinya—“


“Aa possesif nggak?” potong Cicil sambil mengerjapkan kedua matanya.


Riki tertawa mendengar perkataan Cicil, sejujurnya kalau bisa Riki ingin mengurung Cicil di rumah tanpa mengizinkan dirinya kemanapun. Tapi, untungnya Riki masih waras dan tidak berpikiran seperti itu.


“Mau aku possesif?” tanya Riki.


“Iya, emang bisa? Marah ke aku juga nggak bisa,” kekeh Cicil.


“Nah itu masalahnya, aku nggak bisa marah sama kamu. Aku bisanya daripada marah sama kamu mending pergi,” ucap Riki.


“Pergi terus ngilang setahun, eh balik lagi,” ucap Cicil.


“Eh ... ngungkit kamu,” ucap Riki sambil menyentuh hidung Cicil dengan jari telunjuknya pelan.


“Kenyataan, Aa.”


“Iya sih, mana pas balik kamu udah sama si Albert. Gimana Aa nggak ketar ketir,” ucap Riki sambil mengusap belakang kepala Cicil.


“Hahaha kalau dipikir-pikir Aa ini pebinor,” ucap Cicil sambil mengulum senyumnya.


“Eh ....”


“Iyalah, aku masih pacar Albert loh dulu. Kamu nyium aku pas aku masih pacar Albert. Aa itu pebinor halus,” kekeh Cicil sambil menyelipkan anak-anak rambutnya ke telinga kanannya.


“Astaga ada istilah itu?” Tawa renyah langsunh terdengar dari mulut Riki.

__ADS_1


“Ada aku yang bikin buat Aa,” kekeh Cicil.


Saat tawa mereka terdengar di ruangan tersebut tiba-tiba saja terdengar suara ketukkan di pintu.


Tok ... tok ...


Cicil dan Riki langsung menghentikkan tawanya dan menatap pintu di belakangnya. Tak berapa lama masuklan Sinclair dan Ahyar kedalam ruangan.


Cicil langsung melepaskan genggaman tangan Riki dan memutar duduknya agar saling berhadapan dengan Sinclai dan Ahyar. Tanpa Cicil sadari perutnya bagian bawahnya menegang.


“Ngapain itu bandot di sini?” bisik Cicil pada Riki.


“Nggak tau, kamu duduk aja di belakang,”’ucap Riki pada Cicil.


“Aa, jangan kelepasan lagi. Cicil nggak sanggup kalau penahan Aa diperpanjang.” Cicil mencoba mengingatkan Riki.


“Iya Neng,” ucap Riki sambil menutupi tubuh Cicil dengan tubuhnya dari pandangan Ahyar yang memuakkan.


“Bu Cicil dan Pak Riki,” sapa Ahyar sambil tersenyum penuh kemenangan.


“Pak Ahyar,” jawab Riki dan Cicil berbarengan. Riki benar-benar menutupi badan Cicil dengan tubuhnya.


Tangan Riki diulurkan kebelakang menggapai sesuatu di belakangnya. Berharap, menemukan tangan Cicil. Cicil yang mengerti langsung mengelurkan jari jemari tangan kanannya ke tangan Riki. Dengan cepat Riki menggenggam tangan Cicil. Meremasnya, berharap remasannya itu bisa menenangkan Cicil yang Riki tebak sedang panik.


Tebakkan Riki benar, Cicil benar-benar merasa tidak enak. Bagian bawah perutnya menegang, Cicil merasakan nyeri di bagian panggulnya dan itu membuat Cicil berusaha untuk mengatur napasnya agar nyerit tersebut mereda.


“Gimana? Gimana? Udah ketemunya, asik melepas rindunya?” tanya Ahyar sambil menatap Riki dengan tatapan paling memuakkan hang pernah Riki liat.


“Yah, lumayan ‘kan udah dua minggu nggak ketemu istri. Gimana masih mau ditambah waktunya?” tanya Ahyar pongah.


“Pak Ahyar, saya dan Bu Cicil sudah melakukan pembicaraan. Saya mewakili Bu Cicil ingin meninjau ulang perjanjian tender pesawat terbang milik Pak Ahyar,” ucap Pak Sinclair sambil menatap Cicil yang detik ini sedang menatapnya dengan tatapan marah.


Cicil marah karena dia tidak pernah meminta Sinclair untuk melakukan negosisasi ulang mengenai tender dengan Ahyar. “Maksud anda apa!” bisik Cicil.


Sinclair yang paham gerakkan bibir Cicil langsung menunjukkan telapak tangannya seperti tanda stop dibagian bawah kursi. Gerakkan tangan tersebut tidak terlihat oleh orang lain Cicil.


Cicil langsung melipat kedua tangannya di dada, melihat cerita apa yang sedang dikarang oleh pengacaranya itu. “Iya.”


“Ah bagus, jadi apa yang ingin dibicarakan?” tanya Ahyar.


“Kami ingin semua berjalan lancar, kami akan ikutin sesuai dengan perjanjian dan peraturan hukum yang berlaku,” ucap Sinclair.


“Nggak, terlalu sedikit. Pokoknya saya ingin sepuluh persen,” ucap Ahyar.


Sinclair melirih Cicil yang sedang berjuang menahan sabarnya dan sakit di bagian bawah perutnya yang tiba-tiba melanda dirinya.


“Baiklah, nanti kamu akan pikirkan. Tapi, keluarkan Pak Riki dari penjara.


“Hahaha ... buat apa?” tanya Ahyar, “tidak ada keuntungan sama sekali.


“Ahy—“


“Emang mau anda apa lagi?” potong Riki sambil mengeratkan genggaman tangannya di bagian belakang tubuhnya.

__ADS_1


“Wah, Pak Riki ini cepat belajar yah,” kekeh Ahyar.


“Jadi apa yang kamu inginkan?” tanya Riki yang sudah sedari kamarin menahan amarahnya dan keinginan untuk melempar tubuhnya ketempat tidur.


“Banyak, tapi untuk permulaan, saya inginkan berlibur ke hongkong, uangnya tentu dari perusahan Bu Cicil,” kekeh Ahyar.


“Sin—“


“Tentu saja, silahkan tanda tangan berkas ini dulu untuk berkas-berkasnya,” potong Sinclar sambil menyerahkan berkas-berkas yang sangat banyak kepada Ahyar,


“Ah, bisa saya bawa kerumah?” tanya Ahyar.


“Maaf tidak bisa surat-surat ini harus serahkan kebagian keuangan perusahaan Bu Cicil. Anda tidak mau liburan anda tercancel kan?” tanya Sinclai.


Ahyar terdiam beberapa saat, matanya menatap Sinclair kemudian beralih pada Riki dan Cicil. Ahyar merasa diatas angin, bagaimana tidak melihat seorang Cicil Bouw menyerah pada keadaan hanya karena suami miskinnya.


Hah ... itu lah harga yang harus diambil bila menikah dengan orang tidak memiliki power apapun juga miskin dan menderita. Jangan sampai Ira menikah dengan orang miskin seperti Riki, pikir Ahyar di dalam hatinya.


“Baiklan mana saya tanda tangani,” ucap Ahyar yang langsung mendapatkan setumpuk dokumen dari Sinclair yang harus Ahyar tanda tangani dan pulpen.


Dengan cepat dan tanpa membaca sepatah kata pun, Ahyar menandatangani semuanya dengan cepat. Akhirnya dirinya dan selingkuhannya bisa terbang ke Hongkong dan menikmati hari-hari liarnya di Hongkong.


“Sudah selesai dan terima kasih atas kerja samanya Bu Cicil, Pak Riki dan Pak Sinclair,” ucap Ahyar sambil tersenyum jumawa dan berjalan kearah pintu ruangan. Namun, langkahnya terhenti dan melirik Riki yang masih berdiri di sana menatap Ahyar geram.


“Pak Riki tampaknya anda sangat cocok menggunakan baju warna orange. Mungkin, anda bisa satu tahun lagilah di sini,” kekeh Ahyar sambil berlalu dari ruangan itu, meninggalkan Cicil, Riki dan Ahyar.


“Pak Sinclair, ngapain kamu nawarin kerja sama?” tanya Cicil bingung.


“Saya tidak menawarkan kerjasama apapun, saya menjebak dirinya untuk menandatangani berkas-berkas yang bisa membuat Pak Riki keluar penjara,” ucap Sinclair sambil mengedipkan sebelah matanya.


Riki dan Cicil langsung bernapas lega, Cicil dengan cepat meraih berkas-berkas yang ada dan membacanya dengan teliti, seutas senyum langsung merekah di bibir Cicil saat melihat betapa lengkapnya persyaratan Riki untuk bisa keluar dari penjara.


Saat mereka sedang merasa berbahagia terdengan pintu dibuka. Hal itu langsung membuat Cicil, Riki dan Sinclair menatap ke arah pintu dan mendapati Rozak dan Nama yang masuk kedalam ruangan.


“Zak, Aa bakal bebas,” ucap Riki sambil berjalan kearah Rozak dan memeluk adinya.


“Astaga Aa, syukurlan.” Rozak langsung membalas pelukkan Riki dengan hangat.


“Iya, palingan besok Aa pul—“


“Aa ....” Cicil memotong perkataan Riki.


“Kenapa Neng?” tanya Riki sambil menatap Cicil.


“Air ketuban Neng rembes,” ucap Cicil bingung.


“WHAT!?”


••••


Nah kan rembes 😖😖


Gimana ini tolong ...

__ADS_1


XOXO Gallon.


__ADS_2