Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Kisah 3 pria: Pinky Promise


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️


•••


Riki dan Cicil diam menatap berkas-berkas dihadapannya. Sepeningalan, Rozak dan Nama, hanya ada Riki, Cicil, Laura dan Edy disana. Mereka, akhirnya memutuskan untuk mengambil daging dan ayam dari supplayer lain dan bila ada urusan hukum, mereka akan meminta bantuan pengacara kelurga Laura. Bayarannya? Pembatalan makan malam antara Laura dan Edy.


“Laura, emang kenapa sih nggak mau makan malem sama aku?” rengek Edy sambil menatap Laura.


“Aku tuh diet ketat, Dy. Aku nggak bisa makan malem,” Laura beralasan.


“Ya udah makan siang?” Edy benar-benar pantang menyerah sebelum Laura berkata iya.


“Nggak bisa, aku juga nggak bisa makan siang sembarangan kata dokter gizi aku,” elak Laura, lebih baik dia dikutuk jadi abu bekas bakaran menyan daripada harus makan bersama edy.


“Makan pagi?” tanya Edy lagi.


“Nggak pernah makan pagi,” ucap Laura seraya pergi meninggalkan Edy, Cicil dan Riki.


“Aku pulang dulu,” ujar Laura.


“Pulang naik apa?” tanya Cicil spontan.


Laura langsung terdiam dan menatap Cicil kebingungan. “Aku nggak bawa mobil yah, astaga...”


“Oke kalau gitu, biar Kang Edy yang paling ganteng yang urus,” ujar Edy sambil mengacungkan jempolnya.


“Nggak aku mau pake taxi aja,” ujar Laura sambil pergi keluar ruangan.


Edy dengan cepat berlari mengejar Laura, “Laura, sama saya aja. Sama saya aja...!” teriak Edy.


Cicil dan Riki hanya bisa tertawa saat melihat kelakuan kedua sahabatnya itu. “Neng, itu Laura beneran nggak suka sama Edy?” tanya Riki.


“Laura itu, gimana yah? Dia itu masih susah move on dari mantannya. Jadi, masih belum bisa lupain Samuel,” ujar Cicil.


“Samuel?”


“Iya, mantannya namanya Samuel. Mantan terindah gitulah,” jawab Cicil.


“Ah, kenapa nggak coba sama Edy aja sih. Mungkin Edy bisa jadi suami terindah Laura,” usul Riki.


Cicil langsung memeluk Riki dan menatap manja, “Biarin aja Laura sama Edy Aa, pokoknya sekarang Cicil udah punya suami terindah,” ujar Cicil sambil mencium hidung Riki pelan.


Tangan Riki langsung menjawil hidung Cicil gemas, “Neng, Aa keluar bentar yah, Aa ada yang harus diurus.”


“Semalem ini? Ini jam 10 loh,” ujar Cicil sambil melirik jam di dinding.


“Iya, abis Pak RW adanya jam segini,” ujar Riki sambil tersenyum manis.


“Pak RW? Mau ngapain kamu ke Pak RW?” tanya Cicil penasaran.


Riki berdiri dari duduknya kemudian mengambil jaket miliknya. “Mau ngurus surat izin, Pak RWnga ada dirumanya jam segini. Aku nggak suka kalau nggak kasihin surat-suratnya langsung ke Pak Rwnya,” jawab Riki sambil berjalan ke pintu keluar.


“Ikut...” pekik Cicil sambil berlari kearah Riki, kemudian mengelayut manja di lengan Riki.

__ADS_1


“Astaga, bentar doang,” ujar Riki sambil mengelus rambut Cicil pelan.


“Ikut...” rengek Cicil sambil mengoyang-goyangkan tangan Riki pelan.


Riki menatap Cicil, Cicil yang merasa ditatap oleh Riki langsung mengerak-gerakkan bibir bagian bawahnya dengan manja. Tawa Riki meledak melihat ekspresi muka Cicil.


“Iya ayo,” akhirnya Riki mengalah, Cicil langsung mengambil jaket miliknya dan berjalan disamping Riki.


•••


“Makasih, Nak Riki surat-suratnya,” ujar Pak RW sambil meletakkan amplop coklat disampingnya.


“Iya, Pak. Moga selesai dengan cepat yah, perizinan perluasan lahan parkirnya,” ujar Riki sambil menyalami tangan Pak RW. “Kami pulang dulu yah Pak,” lanjut Riki.


“Ah iya, ati-ati. Sama nanti kalau mau ngurusin nikahan kabarin saya yah, surat nikahan tuh, gampang,” ujar Pak RW sambil mengedipkan sebelah matanya pada Riki.


Cicil langsung tersenyum senang mendengar perkataan Pak RW dihadapannya. “Nanti Pak RW kita undang,” ucap Cicil sambil tersenyum manis.


Pak RW mendekatkan dirinya pada Riki sambil berbisik pelan. “Nak, segerakan sama yang ini. Cantik gini, kalau disia-siain nanti nyesel loh,” ujar Pak RW sambil menepuk bahu Riki pelan, Riki hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Pak RW.


“Mari, Pak,” pamit Riki.


•••


Sepanjang jalan, Cicil merengek meminta jalan-jalan. Akhirnya Riki memenuhi keinginan Cicil untuk berjalan-jalan. Riki akhirnya berjalan-jalan memutar-mutar kota Jakarta. Cicil benar-benar seperti anak kecil saat dibonceng dengan sepeda motor tua miliknya. Sesekali, Cicil menunjuk bangunan-bangunan yang ada disana.


“Neng, peluk Aa. Nanti jatoh, kamu,” Riki memperingatkan Cicil.


“Bilang aja pengen dipeluk,” canda Cicil sambil memukul punggung Riki pelan.


“Nah itu tau, Aa nggak kuat dingin. Butuh pelukkan,” canda Riki sambil mengelus tangan Cicil yang sudah bertengger mesra di perut Riki.


Riki dan Cicil langsung menatap keatas, mereka berdua langsung merasakan air yang jatuh dari langit mengenai badan mereka.


“Aa hujan...” pekik Cicil.


Riki langsung menjalankan motornya lebih kencang lagi, membawa mereka kearah halte bus terdekat. Riki langsung memarkirkan motornya disamping halte. Cicil langsung melompat masuk kedalam halter bus dan duduk ditempat duduk yang kosong.


Riki masuk sambil membuka helmnya dan membuka jaketnya.


“Aa, kenapa dibuka jaketnya? Disini dingin loh,” ujar Cicil sambil memeluk dirinya sendiri.


Riki tersenyum kemudian memasangkan jaketnya ditubuh Cicil, Cicil langsung terdiam saat Riki memasangkan jaketnya dan memeluknya dari samping.


“Jangan sakit yah, Neng,” ujar Riki sambil mengelus-ngelus bahu Cicil, berharap dengan elusaanya bisa memberikan kehangatan ketubuh Cicil. “Jangan sakit yah, geulisnya Aa.”


(Jangan sakit yah, cantiknya, Aa)


Cicil tersipu mendengar perkataan Riki, udara diluar memang dingin. Tapi, badan Cicil sunggug sangat hangat, saking hangatnya wajah Cicil merona merah. Cicil bahagia, lelaki disampingnya ini benar-benar memperlakukan Cicil sebagai seorang manusia, bukan pajangan.


“Iya, Cicil nggak akan sakit, Aa,” cicit Cicil sambil mencium pipi Riki pelan.


Riki langsung menatap Cicil, mengunci manik mata coklat Cicil. Cicil diam tidak bergerak, menikmati sorot mata Riki yang selalu menunjukkan rasa cinta yang besar bagi dirinya.


“Aa, tadi di kantor Albert. Aa marah gara-gara Cicil masih inget tanggal pertama kali Cicil ngelakuin sa...”


“Nggak udah dibahas,” ujar Riki sambil mengecup hidung Cicil pelan, Riki kemudian menatap hujan didepannya.

__ADS_1


“Aa....”


“Nggak usah dibahas, Aa ikhlas, Aa Ridho dan Aa menerima masa lalu kamu. Aa nggak peduli sama masa lalu kamu.”


“Aa nggak marah kalau Cicil udah ngak....”


“Nggak, Aa nggak marah. Kan, Aa udah bilang, Aa cintanya sama kamu bukan sama perawan kamu. Apa rasa cinta dan sayang harus diukur dengan keperawanan atau keperjakaan seseorang? Nggak kan,” ujar Riki.


“...”


“Kalau cinta mah, cinta aja. Nggak usah mikirin perawan atau nggak. Aa cinta sama Neng, terserah orang mau bilang apa. Pokoknya Aa cintanya sama Neng. Itu aja yang harus Neng inget,” ujar Riki sambil mengusao rambut Cicil.


Cicil menatap Riki, Cicil kaget mendengar perkataan Riki. Ayolah, bukan perkara mudah bagi seorang lelaki timur menerima wanita yang sudah tidak perawan lagi. Itulah mengapa Cicil lebih suka berpacaran dengan lelaki barat atau lelaki yang sudah lama tinggal diluar Indonesia seperti mantan tunangannya dulu.


“Makasih, Aa,” jawab Cicil pelan. “Aa, tapi Aa nggak mau ‘lakuin’ sama Neng?”


Riki tertawa pelan mendengar pertanyaan Cicil, cuman orang gila yang nggak ingin ngelakuin transfusi darah putih sama Cicil. Riki sangat-sangat ingin melakukannya dengan Cicil. Tapi...


“Neng, Aa ingin. Wah bukan ingin lagi, apa yah 7 tingkat diatas kata ingin?” Riki berpikir sambil menatap Cicil.


“Ngebet?” canda Cicil.


“Hahaha... yah bisa dikata gitu.”


“Terus?”


“Tapi, Aa nunggu sampai nikah, boleh?” tanya Riki sambil menatap Cicil.


“Kenapa?” tanya Cicil bingung.


“Biar apa yah, biar spesial?” Riki malah balik bertanya pada Cicil.


“Hah? Spesial gimana?”


“Aa ini masih perjaka, Neng. Boleh kan yah, ngasih yang terbaik buat, Neng,” kekeh Riki sambil memeluk Cicil lebih erat lagi.


“Tapi, Neng....”


“Nggak papa, asal Neng janji aja, buat nggak lakuin sama siapapun juga, sampai nanti nikah,” pinta Riki sambil mengangkat jari kelingkingnya.


Cicil menatap Riki sambil tersenyum malu-malu. Astaga seumur hidup Cicil belum pernah semalu ini. Riki benar-benar berbeda, Riki benar-benar sayang pada dirinya, mencintainya dengan keikhlasan yang sangat besar. Yang terpenting Riki menerima Cicil apa adanya, bukan adanya apa.


Cicil mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingking Riki.


“Pinky promise,Neng,” ujar Riki.


“Promise,” jawab Cicil yakin.


•••


Pinky promise : janji jari kelingking. Janji yang dibuat sambil mengaitkan jari kelingking...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2