
“Cil, jadi nggak?” tanya Laura sambil menatap Cicil yang sedang memilin-milin bajunya.
“Nggak tau aku takut,” jawab Cicil sambil menatap Laura dengan tatapan bingung.
“Hadeuh... udah kita ke dokter kandungan aja kalau gitu, telat berapa hari sih?” tanya Laura sambil menatap Cicil.
“Nggak tau, aku lupa. Pokoknya pas aku nikah itu sehari setelah aku datang bulan.” jawab Cicil kebingungan.
“Ya udah, tinggal beli testpact susah amat, kalaupun hamil. Kamu udah nikah ada suaminya,” ucap Laura.
Cicil menghentakkan kakinya dengan kesal ke aspal. “Masalahnya bukan itu, Laura.”
“Ya terus apa?” Laura benar-benar kesal dengan kelakuan Cicil. Mau beli testpact aja ribet.
“Kan, aku itu. Sama Albert...” Cicil menggantungkan kata-katanya.
Laura langsung membulatkan bibirnya, Laura benar-benar lupa peristiwa laknat itu. Cicil dan Riki yang terlihat biasa-biasa saja dalam menjalani kehidupannya benar-benar membuat semua orang disekitarnya melupakan apa yang terjadi.
“Aku lupa, maaf Cil,” ucap Laura sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Cicil hanya bisa mendelikkan kepalanya kesal, “Kalau bukan sahabat udah aku telen kamu, La.”
“Jangan, nanti gue kumat. Mana dingin banget lagi hari ini,” ucap Laura sambil mengusap kedua bahunya.
“Ya elo, udah tau dingin. Ujan pula tadi, sosoan pake baju tipis kaya gitu. Nggak pake jeket pula, mana pake celana pendek juga. Mau kemana lo, dugem?” tanya Cicil kesal sambil menatap Laura.
“Hidih, dulu juga lo demen pake baju kaya gini. Ngaku lo, lo bilang dulu kalau pale baju kaya gini enak, kalau mau kuda-kudaan tinggal buka, ngaku...!?” ucap Laura sambil menunjuk hidung Cicil.
“Eh, nggak usah buka fakta yah, suka bener emang kamu tuh,” kekeh Cicil.
Tawa mereka pun langsung terdengar di sekitanya, membuat beberapa orang melihat mereka dengan tatapan penuh tanya. Kenapa, ada dua orang gadis cantik yang tertawa sendiri.
“Udah, ah. Ini jadi nggak?” tanya Laura.
“Nggak jadi ajalah, pulang aja yuk.” Cicil berkata sambil membalikkan badannya.
Bug...
“Aw...” Cicil berteriak keras saat badannya menabrak sesuatu.
“Neng, ngapain disini?”
Deg...
Jantung Cicil berdetak, “Aa?”
“Neng, ngapain disini ?”tanya Riki sambil menatap Cicil dan Laura. “bukannya kamu lagi kerja, Neng?”
“Itu... itu...” Cicil kelebakan, dia memang tidak memberitahukan pada Riki kalau dia akan ke Apotek.
“Kenapa, Neng. Kamu sakit, mau ke dokter?” tanya Riki khawatir.
“Nggak, aku mau beli obat... obat...”
“Obat pusing,” potong Laura cepat.
“Obat pusing?” tanya Riki bingung, “kamu pusing, kok tadi pagi nggak bilang?”
“Iya, rada pusing aja. Aku beli dulu obatnya, yah.” Cicil menunjuk pintu apotek.
“Aa anter,” Riki langsung menari badan Cicil kedalam apotek. Cicil langsung menatap Laura dengan tatapan ‘Gue harus bagaimana!’.
__ADS_1
Laura langsung masuk kedalam apotek dan membawa alat testpact dan membawanya ke kasih. “Ini satu, Mbak.”
“Oh, ada yang lain?” tanya penjual itu.
“Nggak ini...”
“Lo hamil?” tanya Riki sambil menujuk alat testpact yang dibeli Laura.
“Hah, nggaklah.”
“Lah itu buat apa alat testpact?” tanya Riki bingung sambil menunjuk alat testpact yang dibeli oleh Laura.
Laura langsung menatap Cicil, Cicil langsung mengatupkan kedua tangannya didada memohon pada Laura.
“Buat.....”
“Lo hamil sama Edy?” tebak Riki sambil menatap Cicil.
“Nggak, gue nggak pernah ngelakuin sama Edy. Cuman sekwilda,” ucap Laura polos.
Riki mengerjapkan matanya beberapa kali, “Sek...Sekwilda?”
“Iya,” jawab Laura cuek.
“Sekitar wilayah dada, Mbak?” tanya kasir yang ternyata mendengarkan percakapan mereka.
“Iya,” jawab Laura, “idih, ini buat marmut aku. Jadi, marmut aku menunjukkan gejala orang hamil. Jadi, mau aku cek pake testpact. Kasian, marmut aku janda, lakinya kemaren meninggal.”
Riki hanya bisa menggaruk kepalanya bingung, ternyata ada yang lebih nggak jelas hidupnya dari pada Edy. “Neng, sahabat kamu kenapa sih?”
“Marmutnya hamil, Aa,” ucap Cicil sambil menunjuk Laura sambil tersenyum.
“Nah ‘kan, marmut aku hamil,” ucap Laura santai.
“Mungkin, marmutnya titisan manusia, Pak,” ucap Kasir tersebut sambil memberikan kembalian pada Riki.
“Iya, jadi marmut aku itu dari pihak ayah angkat kakeknya yang diangkat anak sama buyutnya itu manusia, Mbak. Mbak pinter banget,” ucap Laura sambil mengangkat jempolnya ke arah kasir dihadapannya.
“Oh....” jawab kasir tersebut sambil berpikir keras apa maksud dari perkataan Laura yang berjelimet.
•••
Laura duduk di ruang tunggu restoran, Cicil dan Riki sudah masuk kekantor. Laura tadi dengan tangkasnya memasukkan alat testpact ke tas milik Cicil. Cicil langsung memberikan senyuman terima kasih pada Laura.
“Sayangku, kasihku, dan pujaan hatiku,”ucap Edy sambil memeluk Laura.
“Lama banget sih, lumutan aku disini, Lele,” ucap Laura kesal.
“Bebz, kamu beli testpack?” tanya Edy pada Laura.
“Hah? Kata siapa?” tanya Laura.
“Kata si Riki, buat apa?” tanya Edy bingung, “emang kalau ciuman doang bisa bikin hamil, yah?” tanya Edy polos.
Laura hanya bisa menatap Edy bingung, “Kamu umur berapa sih, Le?”
“30 tahun, Bebz.”
“Kamu nggak tau kalau cuman ciuman nggak bikin orang hamil?” tanya Laura bingung sambil berjalan kearah gudang tempat kekuasaan Edy.
“Eh, jadi nggak bisa perempuan hamil cuman karena ciuman?” tanya Edy kaget. Edy entah terlalu polos atau terlalu bego atau pura-pura bego.
__ADS_1
“Kok dingin yah?” tanya Laura pada Edy.
“Iya dingin di gudang tuh, udah kita kedalam aja yuk, ngapain sih kamu malah jalan kegudang.”
Laura berbalik dan menarik-narik kemeja chef milik Edy sambil mengigit bagian bawah bibirnya. “Mau aku ajarin bikin anak nggak?”
Mata Edy langsung membulat sempurna, saat mendengar kata-kata Laura yang membuat seluruh tubuhnya meremang.
“Aaajaaaarin?”
“Iya, mau, my hot chef?” tanya Laura sambil membuka blousenya, membuat Edy hanya melihat Laura mengenakan pakaian dalam bagian atasnya saja.
“Ma...”
Laura langsung menempelkan bibirnya dibibir Edy, dengan cepat dibelitnya lidah Edy. Edy yang sudaj tersulut gairahnya, langsung menidurkan Laura di langai gudang yang dingin.
Laura terhenyak, saat merasakan dinginnya lantai gudang.
“Le...” Dinginnya lantai gudang benar-benar membuat tubuh Laura bergidik ditambah suhu udara yang sangat dingin.
Nafsu Edy semakin meloncat naik saat mendengar erangan Laura, ditariknya penutup dada milik Laura. Dikecupnya setiap jengkal bagian dada milik Laura. Jari-jari tangan Laura menancap sempurna di bagian punggung Edy.
Edy menciumi setiap jengkal leher Laura, menghisapnya dan meninggalkan bukti jejak kepemilikan. Kulit Laura yang lembut dan harum benar-benar membuat Edy menggila.
“Le...hah...Le...”
Desahan Laura benar-benar membuat Edy makin menjadi, dikecupinya setiap jengkal wajah Laura. Edy merasa Laura benar-benar semaput dan ter•ngsang dengan permaianannya. Wajah Laura yang memerah dan napas yang tersengal tampak jelas terlihat pada diri Laura.
“Le... Le...”
“Baby, kenapa?” tanya Edy sambil mengecupi bibir Laura pelan dan sesekali mengigiti bagian bawah bibir Laura.
“Le, ah...”
“Kenapa? Kamu udah nggak kuat buat...” Edy mengusap bibir bagian bawah Laura pelan.
“Bu... kan, Le....”
“Kamu kenapa?” tanya Edy bingung.
“Mat...”
“Mat?” Edy benar-benar bingung kenapa Laura ini.
“Le, aku...”
“Kamu kerangsang banget?” tanya Edy percara diri.
“Bukan...!?”
“Teruss kamu kenapa, Bebz?” tanya Edy bingung sambil mengusap dada Laura.
“ASMA AKU KUMAT...!?”
“HAH!?”
•••
Ambyar udah, ambyar...
sabar yah Edy, hidup lo mah emang kagak jelas... 🤣🤣🤣🤣.
__ADS_1
Jangan lupa dikecup tombol likenya, digeol tombol votenya, dikasih kopinya buat kaka gallon.
Xoxo Gallon.