Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Kamu nggak mama?


__ADS_3

Sepanjang fitting baju Nama benar-benar mengerucutkan bibirnya. Tak ada senyuman yang terbit di wajahnya, bahkan tukang jahit sampai kebingungan dengan perilaku Nama yang tidak jelas arah rintangnya.


“Mbak bisa tegak sedikit?” tanya tukang jahit meminta Nama untunsedikit tegak karena mau mengepaskan bagian dada Nama.


“Iya,” jawab Nama ketus, seketus-ketusnya.


Tukang jahit kebingungan, kenapa pula calon pengantin ini. Seingatnya dia tidak punya salah sama sekali, pakaiannya pun dia jahit dengan baik dan benar tidak ada satu pun kekurangannya.


“Mbak kenapa? Ada yang salah sama bajunya?” tanya penjahit tersebut khawatir ada yang salah dengan cuttingan baju Nama.


Nama langsung menatap Rozak yang dari tadi pura-pura menyibukkan diri di hadapannya. Entah membaca majalah, bermain handphone atau tiba-tiba mengisi teka teki silang di koran.


“Kamu nggak papa!?” seru Nama sambil mendelikkan matanya kearah Rozak.


Rozak hanya bisa menatap Nama dan menyembunyikan senyumannya di balik majalah yang sedang dilihatnya. Mata Rozak mengerling nakal saat mendengar Nama berkata.


“Nggak papa saya Mbak, malah saya yang bingung Mbak kenapa?” ucap penjahit baju tersebut sambil menarik-narik meteran baju.


“Kamu nggak papa? Hilih najis, nggak papa, nggak papa. Imut amat,” cerca Nama sambil berbalik munggungi Rozak.


Penjahit tersebut menatap Rozak meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kliennya tiba-tiba marah-marah tidak jelas.


Rozak langsung bangkit dari duduknya dan meminta penjahit tersebut meninggalkan mereka di ruang fitting baju. “Mbaknya keluar dulu yah, ini calon istri saya lagi kena virus kamu nggak papa.”


“Ada virus kamu nggak papa, Mas?” tanya penjahit itu bingung.


“Ada Mbak, virus baru. Mematikan,” kelakar Rozak sambil menyimpan majalah di sofa terdekat.


“Oh … virus apa?” tanya penjahit itu.


“Virus cemburu,” kekeh Rozak pelan takut Nama mendengar pembicaraan mereka berdua.


“Oh walah, pantes Mbaknya misuh-misuh mulu dari tadi. Cemburu toh dia Mas, serem banget Mbaknya kalau cemburu,” kekeh penjahit tersebut sambil berjalan meninggalkan Rozak.


Setelah penjahit tersebut pergi meninggalkan Rozak dan Nama. Rozak langsung memeluk Nama dari belakang dan mengecup bahunya yang terbuka.


Nama yang kaget langsung menolehkan wajahnya, “Apa … hah … apa? Ngapain peluk-peluk, sono meluk Kuntilincing sana. Kamu nggak papa, ih … minta aku jahit mulut kamu.”


Rozak menahan tawanya saat mendengar ocehan Nama. “Nggak mau.”


“Idih, nggak mau. Udah sono, sono … nggak usah deket-deket aku. Jauh-jauh sana … nggak usahlah kamu di sini. Nggak papa aku, aku NGGAK PAPA!?” maki Nama sambil berusaha melepaskan pelukkan Rozak.


Rozak mengeratkan pelukkannya, membuat Nama sama sekali tidak bisa melepaskan pelukkannya sama sekali. “Lepas.”


“Nggak mau, Nyun.”


“Idih … nggak mau, apa kamu nggak papa?” ucap Nama lagi, entah kenapa dia muak mendengar kata kamu nggak papa. Argh … tiba-tiba wajah Zurra melintas di pikirannya. Nama langsung menghentakkan kakinya dan menangis.


Badan Nama yang bergetar pelan membuat Rozak sadar kalau Nama sedang menangis. “Nyun ….”


“Apa?” tanya Nama kesal. “Udah sana kamu sama si Zurra aja. Udah … nggak usah nikah sama aku. Sana ama Zurra aja sana.”


Nama menekan kedua matanya, entah kenapa dada Nama sesak. Seumur hidup dia tidak pernah secemburuan ini dengan pasangan hidupnya. Menurutnya cemburu adalah perbuatan sia-sia tapi, dengan Rozak semuanya berbeda. Rozak benar-benar membuat Nama menjadi lebih awas dan lebih mempertahankan haknya sebagai seorang calon istri, sebagai seorang kekasih.

__ADS_1


“Udah sana, nyebelin.” Nama mendorong-dorong sikunya meminta Rozak meninggalkannya.


“Nggak mau.”


“Kenapa?” tanya Nama sambil memutar badannya dengan susah payah karena detik ini badannya di balut kebaya yang sesungguhnya menyesakkan tubuhnya.


Rozak menatap netra mata Nama yang basah, Nama saat ini menggunakan softlens hingga membuat Rozak bisa langsung menatap mata Nama tanpa penghalang kaca mata.


“Kenapa nggak mau pergi? Kenapa? Sama ke Zurra sana ….”


“Nggak mau Nyun,” jawab Rozak pelan. Jempolnya langsung mengusap air mata Nama yang turun dari mata Nama.


“Nyebelin, kamu nyebelin!?”


“Iya udah aku nyebelin, Maaf. Maaf yah,” ucap Rozak mencoba menenangkan Nama yang masih dibakar cemburu.


“Ih … pingin aku remukkin muka Zurra itu. Apa coba dia nabrak-nabrka kamu. Kamu juga ngapain nanya kamu nggak papa? Sok soan banget,” maki Nama sambil memukul-mukul dada Rozak kesal.


“Iya … udah maaf, udah dong jangan nangis,” bujuk Rozak.


“Nggak mau, aku kesel sama kamu.”


“Iya, kesel aja sama aku. Aku nggak papa.”


“Argh … nggak usah ngomong kata itu. Muak dengernya, ah nggak suka,” ucap Nama sambil menggerak-gerakkan badannya kesal.


“Ya aku ngomong apa atuh. Ah ….” Tiba-tiba Rozak mendapatkan ide.


“Apa kenapa?”


“Apaan sih, jayus,” kekeh Nama sambil memukul Rozak kesal.


“Lah, kan nggak papa nggak boleh. Ya udah nggak mama aja. Bagus kan?” ucap Rozak.


“Ngaco jayus nyebelin, jadi pingin cium,” canda Nama sambil mengusap air mata yang masih tampak jelas di matanya.


“Ciumlah.”


“Nah … malah demen, malah minta di cium.”


“Kan kamu yang bilang jadi pengen cium, udah cium sini,” ucap Rozak sambil memajukan bibirnya ke arah Nama.


Nama menjerit sambil memukuli bahu Rozak, wajahnya berusaha untuk menjauh dari wajah Rozak. “Nggak mau nyebelin.”


“Ayolah, cium cepet,” perintah Rozak sambil menahan kepala belakang Nama agar mau dicium olehnya.


“Nggak mau, nyebelin gombal, mesum.” Nama berusaha menjauhkan bibirnya dari bibir Rozak yang terus mendekati bibirnya. “Nggak ma—“


Rozak dengan cekatan melabuhkan bibirnya di bibir Nama. Dengan cepat digigitnya bibir bagian bawah Nama mengesapnya pelan. Kemudian melepaskan ciumannya.


“Eh … kenapa dilepas?” tanya Nama bingung.


“Lah, katanya nggak mau dicium.”

__ADS_1


“Enak aja, cium lagi. Cepet …. Ah … cepet cium lagi, Kang.” Nama mengalungkan lengannya di leher Rozak.


“Katanya nggak mau.”


“Ih … cium lagi atau kamu mau nyium Zurra, Hah?”


“Hilih, Zurra lagi. Nggak, nggak mau aku cium Zurra. Mending nyium kamu kemana-mana Nyun,” ucap Rozak sambil mengecup cepat bibir Nama.


“Kenapa?”


“Bibir kamu manis,” ucap Rozak sambil mengecup lagi bibir Nama cepat.


“Idih … gombal kamu, minta aku jadiin suami,” kekeh Nama sambil mengecup lagi bibir Nama.


“Baguslah, jadi kapan mau jadiin aku suami?” tanya Rozak sambil mengesap bibir bagian bawah Nama.


“Kapan yah, aduh jadwal aku penuh maaf,” canda Nama.


“Padet banget?” tanya Rozak.


“Iya padet banget, saking padetnya susah buat ngapa-ngapain.”


“Hmm … dua minggu lagi gimana?” tanya Rozak.


“Aduh … sayang banget dua minggu lagi juga nggak bisa. Aku ada kerjaan banget, maaf yah.” Nama berkata sambil menggesekkan hidungnya di hidung Rozak.


“Oh … kerjaan apaan, emang nggak bisa nyempetin ke KUA dulu gitu.”


“Aduh … nggak bisa, dua minggu lagi aku mau nikah.”


“Lah … sama siapa?” tanya Rozak pura-pura kaget.


“Hmm …. Sama cowo paling nyebelin, ngangenin, ngeselin, romantis, baik, sabar, sayang sama aku dan keluarga aku. Tapi ….”


“Apa? Tapi, apa? Kurang bagus apa lagi itu cowo. Sempurna banget kan?” tanya Rozak.


“Hahaha … iya. Tapi ….”


“Tapi, apa?”


Nama mengedipkan matanya pada Rozak sambil tersenyum. “Cowonya nyebelin kalau ngomong ….”


“Kamu nggak papa?” ucap Nama dan Rozak berbarengan sambil tertawa terbahak-bahak.


•••


Masih bahas kamu nggak papa 🤣🤣🤣


Uwu dulu bentar yah, Gallon bener-bener pusing nyari inspirasi nikahan Rozak dan Nama ini. Wkwkwkkw ….


Sabar yah zhayang-zhayangku.


Terima kasih untuk kamu nggak papa kopi dan kamu nggak mama bunga. Wkwkkwkw ….

__ADS_1


XOXO GALLON YANG HOBI KELON


__ADS_2