
Cicil sedang asih menonton TV sambil bersandar di dada Riki, olah raga kecil yang mereka lakukan tadi benar-benar menguras tenaga Cicil dan Riki.
“Aa, itu kenapa anaknya?” tanya Cicil sambil menunjuk layar TV dihadapannya.
“Nggak tau, aku juga baru nonton ini tuh, aku nggak tau itu anaknya kenapa,” ucap Riki gemas.
Cicil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, ternyata menonton film tanpa menggenakan sehelai benangpun ditubuh bersama suami itu, menyenangkan.
“Kok pemeran Gundalanya mirip Juan, yah?” ucap Cicil sambil menatap tokok di film Gundala dan detik itu juga bibir Cicil sudah di cubit oleh Riki.
“Nggak usah inget mantan, nggak usah, Neng. Lupain mantan tuh, lupain,” ucap Riki sambil menggoyangkan mulut Cicil ke kiri dan ke kanan.
Juan wijaya adalah mantan tunangan Cicil, Cicil dan Juan berpisah beberapa tahun yang lalu. Akhirnya Juan menikah dengan Iis sahabat Taca, dari kecil.
“Sakit, alah kamu juga. Kemaren-kemaren inget si Kunti.” Cicil membalas cubitan Riki dengan cara menepuk dada Riki keras.
“Putri namanya, Neng. Kenapa, jadi Kunti, emang dia suka ngikik di atas pohon....”
“Nah... nah, di belain. Bela aja terus itu si Kunti. Ih... awas aja kalau ketemu aku jambak,” ucap Cicil kesal sambil menggigit dada Riki kesal.
“Beneran KDRT, ini mah. Sakit ih, beneran yah. Aku gigit nanti dada kamu,” ancam Riki, sayangnya ancaman Riki sama sekali tidak membuat Cicil takut. Riki lupa, istrinya ini memiliki nafsu sebesar gunung tangkuban perahu.
Cicil langsung membusungkan dadanya kearah bibir Riki. “Gigit aja, ayo gigit...!”
“Udahlah ini nggak bakal bener,” ucap Riki sambil mengacak rambut Cicil gemas.
“Katanya mau gigit, gigit ayo,” tantang Cicil, saking Cicil bersangatnya membusungkan dadanya, tanpa sengaja remote TV terpencet oleh paha Riki dan memindahkan saluran TV ke acara berita.
“Albert Connor saat ini sedang dibawa oleh pihak kepolisian ke kantor polisi. Albert saat ini di jerat dengan pasal percobaan pemerkosaan terhadap KS dan pasal pelecehan seksual juga tindak kekerasan terhadap CB. Bisa kita liat disini, tersangka Albert sedanh digiring masuk kedalam kantor polisi.”
Terdengar suara penyiar berita yang sedang menjelaskan sebuah gambar. Disana terdapat sosok Albert yang berjalan pelan dan santai ke dalam kantor polisi didampingi beberapa orang pengacara.
Riki langsung mengeraskan suara di TV, sedangkan Cicil mengambil handphonenya yang tergeletak di atas nakas dalam keadaan mati. Cicil langsung menyalakan handphonennya. Saat menyala berpuluh-puluh notifikasi masuk kedalam handphoennya.
Cicil kelabakan melihat banyaknya chat, notifikasi berbagai sosial media miliknya, telepon dan video call dari orang-orang yang dikenal dan tidak dikenal oleh dirinya. Tapi, ada satu yang menarik perhatiannya, chat dari Laura. Laura mengirimkan sebuah video dengan judul Albert gila.
Dengan cepat Cicil mengklik video tersebut, napasnya langsung terhenti saat melihat video berdurasi tiga puluh menit yang Laura kirim dari aplikasi bernama Teleg•am.
“Aa...”
Riki yang sedanh fokus melihat TV sama sekali tidak sadar kalau Cicil memanggil dirinya. Pikiran dan perhatiannya terfokus pada berita di TV, Riki penasaran siapa wanita berinisial KS.
“Aa,” panggil Cicil kesal karena Riki hanya fokus pada layar TV. Cicil yang kesal langsung memeluk kepala Riki dengan dadanya.
“Astaga, Neng,” teriak Riki cepat, “sesak ini.”
“Hahahaa... abisnya, dipanggil nggak nyaut,” ucap Cicil gemas.
__ADS_1
“Aa lagi liat berita, penasaran siapa KS. Kalau KS ketauan siapa, kita bisa minta tolong dia kan. Dia juga korban sama kaya kamu,” ucap Riki sambil menahan bobot tubuh Cicil yang sudah dengan manisnya menimpa badannya.
“KS, Kharisa Sari. Sekertaris Albert, dia di hampir diperkosa dan live di salah satu sosial media miliknya. Ini bukti Aa,” ucap Cicil pada Riki sambil menunjukkan layar handphonennya kehadapan Riki.
Riki langsung mengambil handphonen Cicil tidak percaya. Disana Riki melihat Albert yang sedang di tarik paksa dari atas tubub Kharis. “Ini... ini...”
“Iya, ini bukti dan ini.” Cicil menunjukkan sebuah popcast dari Edy di channel youtube milik Edy.
“Edy....”
“Edy tayangin semuanya, Edy edit semua videonya. Liat-liat yang nontonnya udah banyak banget,” ucap Cicil sambil memberikan pada Riki handphonennya, “dan komennya semua dukung kita, Aa.”
Riki sama sekali tidak tertarik melihat layar handphone Cicil, dia lebih tertarik melihat ekspresi wajah Cicil yang sangat-sangat bernilai. Senyuman Cicil benar-benar membuat Riki bahagia detik ini. Sudah lama Cicil tidak senyum setulus dan secantik ini.
Riki mengusap hidung Cicil dengan telunjuknya, “Geulis kamu, Neng.”
Cicil kaget saat Riki menyentuh hidungnya, “Aa sayang Cicil, Aa cinta Cicil, Aa kangen Cicil, Aa....” Cicil mendekatkan wajahnya ke wajah Riki sambil menjulurkan lidahnya.
Riki langsung mencium bibir merah Cicil, “Punya istri berisik banget, deh. Iya Aa cinta sama sayang, Neng.”
Tawa renyah langsung memanjakan pendengaran Riki. “Neng, mau pulang ke Jakarta?”
Pertanyaan Riki langsung membuat Cicil terdiam, bukan tidak mau dia pulang ke Jakarta. Di Yogyakarta masalahnya sudah beres semuanya. Tapi, mulut nyinyir masyarakat yang belum bisa Cicil terima. Di Yogyakarta saja beberapa kali Cicil mendengar nyinyiran mereka, apalagi di Jakarta.
“Aa, Neng masih nggak mau pulang,” ucap Cicil pelan.
“Neng, Aa bakal ada disamping, Neng. Sampai kapanpun.” Riki mencoba membujuk Cicil, Riki sebenarnya harus melakukan banyak hal di Jakarta, restorannya butuh di urus. Rozak sudah kewalahan mengurus restoran milik Riki. Seandainya, bukan karena nasib naas yang menikpa Cicil mana mau Rozak menghandle restoran selama ini.
Cicil tampak menimbang-nimbang sambil melihat kedua tangannya.
“Neng...”
“Hah...” Cicil menatap mata Riki.
“Pulang mau?” tanya Riki sambil mengusap pipi Cicil.
Helaan napas langsunh terdengar dari Cicil, “Ya udah, mau. Tapi....”
“Apa?” tanya Riki pelan.
Cicil langsung memeluk Riki dan memenjarakan tubuh Riki dibawah tubuhnya. “Sekali lagi, yah.”
Riki hanya bisa menahan tawanya, sepertinya istrinya ini sudah kembali. Cicil wanita penuh nafsu miliknya sudah kembali dan Riki menyukainya.
•••
“Alber Connor, kamu nggak ada otak atau apa?” suara Jack, Ayah dari Albert memekakkan telinga Albert.
__ADS_1
Jack murka saat mendengar berita yang menimpa Albert. Hampir serangan jantung dia saat mengetahui kalau anak bungsunya itu membuat ulah di Indonesia.
“Udahlah, Daddy semuanya udah bisa diatur. Team pengacara juga udah urus semuanya,” jawab Albert setenang mungkin.
“Kamu bilang tenang? Gara-gara ulah kamu, harga saham perusahaan kita anjlog, bahkan ibu kamu tidak di undang ke acara minum teh kerajaan,” bentak Jack kesal.
Albert rasanya ingin melempar ponsel ditangannya, keluarganya benar-benar lebih mempedulikan kehidupan sosialnya dari pada dirinya. “Semua udah diatur.”
“Skandal kamu nggak bisa di tolong Albert, kamu nggak liat Live video kamu hampir memperkosa sekertaris kamu ada dimana-mana. Ditambah, Video kamu siksa mantan pacar kamu booming di Chanel sapa itu Edrosh, Edrosh,” sentak Jack kesal, terkadang dia merutuki nasibnya memiliki anak bungsu seperti Albert.
“Daddy, semuanya udah selesai. Itu semua bukti bisa dibenamkan. Polisi udah Albert urus, bentar lagi juga Albert bisa keluar penjara.” Albert benar-benar mengerahkan semua sumber daya miliknya untuk membebaskan dirinya dari jerat hukum.
“Kami, mungkin bisa bebas dari jerat hukum. Tapi, sangsi sosial bakal bikin kamu nggak berkutik. Kamu tau, kamu tau hah, gelar bangsawan Daddy bakal di cabut?” teriak Jack.
Argh.... orang Inggris yang selalu membanggakan gelar bangsawan. Rasanya Albert ingin mencabik-cabik surat gelar kebangsawanan di rumah miliknya. Mual dia dengan semuanya.
“Daddy, nggak udah mikirin yang gitu. Perusahaan Albert juga masih bisa berdiri....”
“Dengan di lilit hutang? Kamu nggak bener menjalankan perusahaan itu, Albert,” Jack mengingatkan Albert.
“Aku udah mengajukan dana talangan, Daddy. Sudah disetujui, semuanya sudah di atur dengan baik. Perusahaan akan aman dalam jangka waktu 5 sampai dengan 7 tahun kedepan. Albert bebas, semua happy. Scandal bisa di lupakan.” Albert benar-benar yakin dengan itu semua.
“Kamu dapet dana talangan dari Bank mana?”
“Bank ABC,”jawab Albert santai. “Besok Albert tinggal menandatangani perjanjiannya.”
“Kami bisa dapet dari bank lain?” tanya Jack resah.
Mendengar pertanyaan Jack yang terdengar resah, Albert langsung menegakkan duduknya. Perasaannya tidak enak. “Emang kenapa sama Bank itu? Masalahnya cuman itu satu-satunya Bank yang mau memberikan pinjaman sama Albert,” ucap Albert cepat.
“Al... sudah kamu mending banyak doa. Daddy bener-bener nggak bisa bantu kamu,” ucap Jack pelan, mungkin dia harus merelakan anak bungsunya ini.
“Kenapa, Daddy?”
“Bank ABC sudah berpindah Direktur. Ibu Liliana Wijaya sudah lengser digantikan anaknya, perhari ini dan Daddy yakin, anaknya tidak akan mungkin mau memberikan pinjaman pada kamu,” ucap Jack pelan.
“Emang siapa anaknya?”
“Juan Wijaya.”
Dan detik itu jantung Albert mencolos.
•••
Dorr jangan lupa di goyang itu tombol likenya, pake idung... inget idung ahhahah *bikin kontes juga dah... ngelike pake idung wkwkkw...
Jangan lupa komment yang banyak di bawah, inget yang banyakkkk ahhahahaa....
__ADS_1
XOXO GALLON