
Laura memeluk Cicil erat-erat rasa kesalnya benar-benar sudah diubun-ubun kepalanya.
“Si Lele nggak peka, masa dia nggak inget hari ulang tahun aku?”
“Iya, Laura.” Cicil mengusapi punggung Laura pelan.
“Gimana sih, kesel aku beneran. Masa aku ulang tahun sendiri, kan kesel yah. Mana sekarang kalau diajak ketemuan, banyak banget alesannya.” Laura mengusap hidungnya.
“Mungkin, Lele nggak mau ketemu Papih kamu dulu.” Cicil mencoba menenangkan Laura.
“Tapi, alesannya nggak jelas. Masa dia nolak makan siang sama aku katanya dia lagi ngawinin lele. Ya kali, ikan lele ditungguin pas kawin.” Laura menggebrak meja saking kesalnya, membuat beberapa orang menatap ke arah mereka.
Cicil langsung memberikan senyuman manisnya pada mereka yang ada disana, meminta maaf. “Laura, sabar jangan gebrak-gebrak meja. Emang si Edy lagi pusing juga kali. Dia jiper juga buat ngehadapin Papih kamu.”
“Iya, siapa yang nggak jiper ketemu Papih, cuman Mamih aku yang bisa jadi pawangnya Papih tuh. Tapi, nggak gini juga. Sedih amat sih kisah cinta aku sampai kaya gini, kaya judul sinetron cintaku terhalang restu Papi.” Laura menatap handphonennya memeriksa pantulan wajahnya di layar handphonennya.
“Astaga, mascara aku luntur,” ucap Laura sambil mengambil tissue dan mengusapnya.
“Nah ‘kan ancur make up lo, udah jangan nangis mulu. Si Edy emang harus ke Banten kali, untuk memperdalam ilmu debus,” canda Cicil sambil mengambil alat make up Laura dan membantu Laura memperbaiki make up miliknya.
“Tau ah, awas aja kalau nggak menang. Aku yang bunuh si Lele. Argh... kesel, sumpah kesel banget aku tuh. Minta aku gigit si Edy,” ucap Laura kesal.
“Iya, kamu gigit aja si Edy kalau dia nggak ngawinin kamu. Kamu tendang aja tulang keringnya, bakar rumahnya, lakukan semuanya pokoknya,” ucap Cicil sambil menahan tawanya.
“Iya, gue bakal bakar rumahnya, motor-motor vespa sialannya itu, mobilnya, studio youtubenya, kostannya, ampe tempat kerjanya. Gue bumi hanguskan, ide bagus Cil,” ucap Laura dengan mata berbinar-binar.
“Eh... tempat kerjanya jangan, nanti laki gue stress. Terus, gue tinggal dimana? Lo mau liat gue ngegembel, tau sendiri laki gue keras kepala, nggak mau pake fasilitas keluarga gue. Tega lo, Laura,” ucap Cicil sambil menunjuk Laura yang sedang menatapnya.
“Oh, iya gue lupa. Ya udah tempat kerjanya nggak, demi keberlangsungan hidup lo,” kekeh Laura sambil mengusap air matanya.
“Ya, tempat kerjanya jangan. Nanti, gue tinggal dimana. Kasihanilah gue, sayangin gue,” ucap Cicil sambil mengambil keju yang ada dipiring Laura.
Laura dan Cicil pun tertawa, “Kayanya, gue pulang.”
“Bisa lo pulang sendirian, mau gue anterin?” tanya Cicil.
“Nggak, kasian lo harus bulak balik. Mana perut lo gede gini, kalau ada apa-apa, Riki bisa cekik gue. Laki lo, bucin mampus sama lo.”
“Hahaha, gue juga bucin ama dia. Manis, tau aja cara bikin gue cinta ama dia.” Cicil terkekeh sambil mengusap perutnya.
“Enak yah jadi lo, lah gue dapet laki-laki hobinya kedukun. Kesel suer... demen banget ke dukun,” ucap Laura kesal. “Udah nikah ama gue, ketauan kedukun gue kagak kasih jatah dua bulan.”
“Hahaha... kuat lo kangak kuda-kudaan dua bulan?”
“Lo?” tanya Laura.
“Mana kuatlah, nggak dijamah sehari aja gue bisa misuh-misuh. Apalagi dua bulan, bisa ngamuk yang ada,” ucap Cicil.
“Hah, dalam keadaan hamil?” tanya Laura bingung.
“Iya.”
“Astaga tobat, Cil.”
__ADS_1
“Gue udah tobat, makanya cuman sama Riki doang. Kalau belum tobat tau sendiri ‘kan,” ucap Cicil sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Semua diacak,” kekeh Laura.
“Idih... lo, suka bener.” Cicil tertawa pelan.
“Udah, ah. Gue mau pulang, mau beli bobba dulu, buat penyegaran otak dan pikirian. Ama mau beli kue, gue tiup diri lah,” ucap Laura sambil mencium pipi Cicil.
“Ati-ati, Laura.”
“Iya, bye bu hamil,” ucap Laura sambil lalu.
•••
“Manda, Pak Riki dimana?” tanya Cicil pada Manda yang sedang asikk menghitung bon di kasir.
“Pak Riki ke atas, Bu,” jawab Manda sambil menunjuk tangga khusus yang mengambungkan antara restoran dan Tempt tinggal Riki dan Cicil.
“Oh, makasih.”
“Eh, Bu...”
“Kenapa Man?”tanya Cicil lagi.
“Ibu, kata Pak Riki. Kalau mau masuk-masuk aja, nggak dikunci katanya.”
“Eh... tumben, pintunya nggak dikunci?” ucap Cicil sambil berjalan menaiki tangga.
Cicil pun naik dan menelusuri lorong, saat sampai di pintu Cicil membuka pintunya. Mata Cicil membulat saat melihat ruangan tempt tinggalnya.
Senyuman Cicil berkembang sempurna saat melihat gambar menara Eiffel yang dikeluarkan proyektor. Refleks Cicil menengadah ke atas dan mendapati lampu-lampu kecil dilangit-langit. Sepertinya suaminya ini benar-benar berjuang keras untuk membuat dirinya bahagia. Mengikuti ngidamnya yang ingin berciuman dibawah menara Eiffel.
Cicil langsung merasakan pelukkan dibelakang badannya, rasa hangat langsung menjalar kebagian belakang badan Cicil, wangi tubuh Riki langsung menggelitik indra penciuman Cicil.
“Aa.”
“Suka?” tanya Riki sambil mengecup bahu Cicil pelan.
Cicil tersenyum manis sambil menatap Riki dari samping, “Suka, ini apa?”
“Katanya, mau ke Eiffel. Aa belum bisa kasih Eiffel sungguhan, jadi ini Eiffel bohongan aja yah. Nggak papa?” tanya Riki.
“Nggak papa,” jawab Cicil sambil berbalik dan menatap Riki, mengunci netra mata Riki.
Riki mengusap bibir Cicil pelan dengan jari telunjuknya, menggelitik bibir bagian bawah Cicil. Gelitikan jari Riki menyengat Cicil.
“Terus kamu mau ngapain di Eiffel?” tanya Riki sambil memeluk Cicil menekan badan Cicil seperti berusaha untuk meleburkan tubuh mereka berdua menjadi satu.
“Mau apa yah, lupa,” jawab Cicil manja sambil mengalungkan tangannya dileher Riki.
“Hahaha... bohong banget,” ucap Riki.
__ADS_1
“Aku lupa,” ucap Cicil sambil menggoyangkan hidungnya dihidung Riki.
“Mau diingetin?” tanya Riki sambil mengusap pipi kanan Cicil.
“Emang kamu inget?” goda Cicil sambil menggosok bibir Riki dengan bibirnya pelan dan sensual.
“Inget,” ucap Riki sambil menggigit bibir bagian bawah Cicil pelan.
“Apa?” goda Cicil.
Riki menolehkan kepalanya mendekatkan bibirnya ke arah bibir Cicil. Mengecupnya sekali seperti bermain-main dengan bibir Cicil.
“Kamu.” Riki mengecup bibir Cicil pelan.
“Ingin.” Lagi Riki mengecup bibir Cicil.
Cicil langsung tersenyum, “Give a kiss to me.”
(Cium aku)
“With my pleasure, Neng.” Riki mencium bibir Cicil perlahan, memperlakukan bibir Cicil dengan lembut layaknya barang rentan pecah, mengesap manisnya bibir Cicil.
(Dengan senang hati, Neng)
Cicil mengikuti permainan Riki, didalam hatinya dia sudah ingin menaikkan permaiannya menjadi ciuman yang liar dan panas. Tapi, Riki benar-benar membuat Cicil terhanyut dengan ciumannya yang pelan, manis dan hangat.
Lidah Riki dengan lincah menggelitik setiap inci bagian mulut Cicil, membuat Cicil mendesah dan mengeratkan pelukkannya.
Saat Riki menguraikan ciumannya, terdengar nada suara protes dari Cicil. “Udah?”
“Nggak, mau lagi,” rengek Cicil yang langsung dijawab tawa oleh Riki. “Mau.”
Cicil mendekatkan bibirnya kearah bibir Riki dan mencium bibir Riki. Riki tertawa pelan disela-sela ciuman Cicil. Entah harus bersyukur atau kesal memiliki istri yang nafsunya segede gunung tangkuban perahu.
“Neng,” ucap Riki disela-sela kecupan manis dari Cicil.
“Apa?” tanya Cicil sambil menatap wajah Riki.
“Aku bukan suami sempurna. Tapi, aku berjuang untuk menjadi sempurna. Kamu mau terus sama aku?”
“Iya, aku mau sama kamu. Karena...”
“Apa?”
“Kamu yang bisa bikin jantung aku berdetak nggak karu-karuan. Kamu yang bisa bikin aku kuat ngejalin semuanya, aku yang nggak sempurna Aa,” ucap Cicil sambil memeluk Riki menelusupkan kepalanya diantara ceruk leher Riki yang hangat.
“Neng,” panggil Riki sambil mengusap punggung Cicil pelan.
“Apa?”
“Kamu sudah sempurna dengan segala kekurangan kamu.”
Detik itu Cicil kembali jatuh cinta pada Riki.
__ADS_1
•••
XOXO GALLON