Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Guru kasur


__ADS_3

Rozak dan Nama memasukkin restoran Water teapot tepat pada jam makan malam. Bergumul di hotel selama berjam-jam benar-benar membuat mereka lapar. Seingat Rozak dia makan terakhir itu saat makan malam bersama keluarganya, yang artinya Rozak dan Nama belum makan-makannan berat hampir dua belas jam lamanya.


Terakhir yang Rozak ingat dirinya memakan dua puluh potongan coklat. Yup … dua puluh potongan coklat yang tersebat disetiap inci tubuh Nama. Entah ide dari mana tapi, Nama meminta Rozak memakan tiap coklat yang tersebar di tubuhnya hanya dengan menggunakan bibirnya saja. Rozak bergidik saat mengingat apa yang telah dia dan Nama lakukan tadi siang.


“Kang, penuh banget. Kayanya nggak ada meja kosong, aku laper Kang,” keluh Nama sambil menyentuh perutnya yang sudah bermain berdemo untuk meminta jatah makan.


“Hahaha … ya sabar, coba kita tanya Manda yah,” ucap Rozal sambil menarik Nama ke arah meja penerima tamu.


Manda tampak sibuk melayani pembeli jalur online yang menggunakan ojek online.


“Manda,” panggil Rozak.


Manda langsung mengalihkan pandangannya dari telepon kearah Rozak. “Pak … Rozak.”


“Iya … ada kursi kosong?” tanya Rozak.


“Oh bentar biar saya cek,” ucap Manda sambil mengecek susunan meja. “Hm … Pak penuh semuanya.”


Mendengar perkataan Manda, Nama menggoyangkan lengan Rozak merengek untuk tetap makan di sana. “Aku lapar.”


Rozak tersenyum pada Nama, “Bentar.”


“Gimana Pak? Gimana kalau Bapak sama Bu Nama makan di tempat Pak Riki suka ngadain jamuan. Di ruangan khusus?” tanya Manda.


“Ah … emang nggak dipake?” tanya Rozak.


“Nggak di pake, bisa kok kalau Bapak mau pake di sana,” ucap Manda sambil memberikan menu ketangan Nama yang sudah mengerucutkan bibirnya karena menahan lapar.


Olah raga yang dilakukan Nama dan Rozak benar-benar menguras energi Nama hingga ketulang. Rozak benar-benar memintanya berkali-kali untuk melakukan transfusi darah putih dengan berbagai macam gaya dan variasi.


“Kang aku laper beneran, pingsan aku kalau kelamaan nggak dikasih makan,” rengek Nama pada Rozak.


“Iya … iya, jangan pingsan dulu, mau ditaruh dimana wajah Akang kalau istri yang baru Akang nikahi kurang dari dua puluh empat jam sudah dipanggil yang maha kuasa karena lapar,” canda Rozak yang langsung mendapatkan pukulan maut dari Nama.


“Doa Akang jelek ih … gemes minta aku obras mulutnya,” ucap Nama sambil mencubit pinggang Rozak lembut.


“Aduh … sakit,” ucap Rozak sambil tersenyum.


“Biarin, jelek sih doanya,” ucap Nama sambil tertawa pelan.


“Hahaha … ya maaf, kenyataan hidup memang menyakitkan,” canda Rozak lagi yang berbuat delikkan kesal dari Nama.


Nama dan Rozak pun berjalan ke dalam tempat yang dimaksud oleh Manda. Setelah memesan makanan pada Manda mereka duduk berdua di sana.


“Kang, kita jadi ke Bali?” tanya Nama antusias mengingat adanya hadiah dari Cicil untuk mereka berdua.

__ADS_1


“Iya … jadi, daripada nggak bisa dibalikin lagi uangnya. Mending dipake,” kekeh Rozak.


“Yes … aku mau beli baju renang,” ucap Nama sambil membuka aplikasi belanja online milik Adipati Toko.


Saat sedang asik memilih-milih baju renang yang akan dibelinya, tiba-tiba Rozak menghentikan jempol Nama.


“Apa?” tanya Nama sambil menatap Rozak yang sedang tersenyum nakal pada dirinya.


“Beli itu aja,” ucap Rozak sambil menunjuk baju renang two pieces yang akan sangat-sangat menunjukkan seluruh bagian kulit Nama.


“Eh … ini kebuka banget, Kang. Nggak mau ah … masa berenanh di pantai pake bikini kaya gini,” protes Nama sambil mengerucutkan bibirnya.


“Ya … belinya dua. Satu yang ini, satu lagi yang ini,” ucap Rozak sambil menunjukkan baju renang one pieces yang sangat tertutup.


“Lah … terus yang terbuka tadi dipakenya kapan?” tanya Nama bingung.


“Oh … yang satu tadi pakenya di bathup, di kolam renang pribadi hotel kamar kita dan di kasur,” goda Rozak sambil mengecup bibir Nama yang masih menatap Rozak kaget karena mendengar perkataan Nama.


“Hilih, mesum.”


“Biarin ih udah beli dua-duanya cepet,” ucap Rozak sambil mengambil alih handphone Nama dan dengan cepat membeli kedua baju renang tersebut.


Nama hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Rozak dengan cepat membeli baju renang miliknya. “Iya … deh Pak Guru.”


“Hahaha … Pak Guru dong,” kekeh Rozak.


“Guru apaan? Kalau Ira iya aku gurunya, guru olahraga dia.”


“Lah … kamu juga guru olah raga aku, guru olah raga kasur,” kekeh Nama sambil mengerling manja ke arah Rozak.


“Hahaha … Nama kamu tuh minta aku—“


“Selamat pagi pasangan halal.”


Suara bariton membuat Nama dan Rozak langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Mata mereka berdua langsung melihat Edy yang datang dengan membawa nampan pesanan mereka.


Edy tampak benar-benar segar, ototnya tampak di balik pakaian chef-nya. Om Sabar benar-benar menempa Edy untuk memiliki badan sebaik dan sebagus dirinya.


“Wow … ada youtuber terkenal se-Indonesia yang entah kenapa semenjak badannya jadi, makin banyak susbcribernya,” goda Rozak sambil memeluk Edy setelah Edy menyimpan semua makanan di meja.


“Yoyoi, rezeki ngalir, Mang. Lumayan buat nambah-nambah modal nikah. Bahkan, ada yang mau endorsh bulan madu kita ke Jepang.” Edy berkata sambil memainkan kumis lelenya yang melegenda.


“Wah … keren, jadi atuh Laura jadi euceu Disney,” ledek Rozak.


“Jadi, Laura sampai teriak-teriak mau pake baju princess katanya. Dahlah … sesuka dia aja, padahal kata Papih Sabar, Laura itu hobi banget ke Disneyland Jepang dari kecil. Tapi, kata Laura beda kalau sekarang sensasinya.”

__ADS_1


“Apa bedanya? Sama-sama jepang ‘kan?” tanya Nama bingung. Apa perbedaannya, sama-sama Disneyland Jepang.


“Beda … kalau dulu dia masih mencari pangeran berkuda putih, sedangkan sekarang dia sudah menemukan pangeran berkuda putihnya,” ucap Edy sambil berpose ala-ala tentara minta ditampol panci.


Nama hanya bisa mematung saat mendengar perkataan Edy. Matanya langsung melirik Rozak dengan tatapan Sepertinya-Temen-Akang-Gila.


Rozak hanya bisa mengangkat kedua bahunya sambil menahan tawanya melihat Nama yang kebingungan dengan kelakuan Edy yang super absurd.


“Jadi kapan kalian nikahnya?” tanya Rozak.


“Seminggu lagi, ini masih banyak yang harus di urus-urus. Laura lagi sibuk fitting baju dan lain-lain. Aku lagi males deket-deket Laura.”


“Kenapa?” tanya Nama kepo, kenapa tiba-tiba jadi malas deket-deket dengan Laura, padahal Edy itu lengket dengan Laura.


“Lagi, ribet semuanya salah. Ini salah itu salah, ngambek karena aku nggak bisa bedain putih tulang sama putih tembok, astaga … sama-sama putih itu tuh.” Edy berkata sambil menggaruk kepalanya kesal.


“Hahaha … wajar lagi nikah. Mau yang terbaik,” ucap Rozak sambil menepuk-nepuk bahu Edy pelan.


“Iya … doain lancar aja, kalian dateng kan? Jangan bilang kalian lagi bulan madu,” ucap Edy.


“Kita bulan madu perginya lusa, paling tiga hari doang. Pulang sehari sebelum kamu nikah, pasti kita dateng kok. Santai aja,” ucap Rozak menenangkan Edy.


“Bener yah, apalah pestaku tanpa kehadiran dirimu,” ucap Edy sambil menjentikkan jari jemarinya ala girlgroup korea.


Nama hanya bisa bergidik saat melihat kelakuan Edy yang membuat dirinya geli sendiri. “Kang, Edy emang rada-rada yah.”


“Iya.”


“Rada-rada miring,” kekeh Nama sambil melihat Edy yang berjalan meninggalkan mereka berdua.


“Emang, tapi syukurlah ada orang yang mau nikah ama dia.”


“Astaga … jahatnya, Edy ganteng kok. Madamnya bagus teru—“


“Puji aja terus puji, sono nikah ama Edy sono,” ucap Rozak.


“Hilih cemburu.”


Rozak langsung menyentil dahi Nama pelan, “Bukan cemburu, cuman kesel aja.”


Nama hanya bisa tersenyum sambil mengusap dahinya dengan cepat memeluk Rozak. “Suami nyebelin.”


“Istri centil,” jawab Rozak.


••••

__ADS_1


Hohohohohoo …. Siapkan diri anda untuk pernikahan spekta Laura dan Edy. Hanya di Mr. and Mrs. Trina ❤️❤️❤️


XOXO GALLON YANG HOBI KELON


__ADS_2