Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Abah vs Jeff


__ADS_3

Setelah tragedi amukkan Rea karena Cicil dan Riki lupa memberikan nama pada Richie. Akhirnya, keluarga Bouw dan Trina menjadi lebih tenang mereka asik bergantian menggendong Richie. Kama dan Kalila menatap bayi Richie dengan berbinar-binar.


“Mamih,” panggil Kama.


“Apa Nak?” tanya Taca yang sedang asik menyuapkan semangka kemulutnya.


“Aku mau punya yang gitu,” ucap Kama sambil menunjuk Richie.


“Mau punya apa?” Taca mencoba mengerti ucapan dan keinginan anaknya yang terkadang membuat dirinya bingung.


“Mamih, Kama sama Kalila itu ingin punya itu,”ucap Kalila sambil menunjuk ke arah Richie.


“Punya apa sih?” tanya Taca sambil menatap ke arah yanh ditunjukkan kedua anak kembarnya.


“Ada apa ini?” tanya Adipati sambil duduk di sebelah Taca.


“Ini anak-anak nggak tau mau itu ceunah. Tapi, nggak tau apa itu tuh,” ucap Taca bingung sambil menunjuk ke arah yang tadi di tunjuk Kama dan Kalila.


“Ih ... Mamih, Dada kok nggak keliatan sih, itu ... itu ....”


“Yah, apa?” tanya Adipati dan Taca berbarengan.


“Kami mau baby,” ucap Kama dan Kalila berbarengan.


“Itu baby,” ucap Taca sambil menunjuk Kafta yang tertidur pulas di strollernya.


Kama dan Kalila menatap Kafta sekilas kemudian mendengus kesal. “Nggak mau, nggak suka.”


“Lah itu adik kamu, Nak,” ucap Taca.


“Nggak mau, kalau Kafta itu cengeng.”


“Mau menangnya sendiri, Kalila harus ngalah terus. Nggak suka.” Kalila melipat kedua tangannya.


“Nggak bisa gitu aja tiba-tiba ada bayi, Nak.” Adipati berkata sambil tersenyum. Didalam hatinya dia bersorak bahagia, rasanya dia ingin menarik Taca ke kamar mandi terdekat dan langsung melakukan teknik pembuatan bayi yang baik dan benar.


“Nak, Kafta itu adik kalian sayang. Bukan, maksud Mamah minta kalian mengalah, cuman kan Kafta masih baby sayang,” ucap Taca mencoba bijak.


“Ya udah Kama sama Kalila kau ke tempang Wa Rozak aja, dadah.” Kafta dan Kalila pergi dari sana dengan berlari-lari kearah Rozak yang sedanh asik berbincang dengan Nama dan Abah.


“Amore.”


“Apa?” tanya Taca.


“Itu anak-anak minta baby, bikin yuk. Bambini itu harus banyak, makin banyak makin baik—“


“Nggak usah nambah bambini lagi, udah cukup. Kalau bikinnya ayo, aku mau tapi kalau nambah bambini aku tobat.” Taca berkata sambil menyuapkan semangka kemulut suaminya.


“Pulang dari sini?”


Taca langsung tertawa kecil, seingatnya tadi malam dia sudah melayani suaminya dengan baik, “Tadi malem udah.”


“Tadi malem pemanasan, nanti malem sungguhan, Amore,” kekeh Adipati sambil melahap sepotong semangka dengan cepat.


“Iya ... iya,Di aku manut aja,” jawab Taca sambil mengusap pipi suaminya pelan. Terserahlah dia pasrah, suaminya ini benar-benar tidak ada duanya.


•••


“Pokoknya Richie harus disunat di Citeko, Abah mau ada sisingaan biar diarak keliling Citeko.” Abah mulai mengungkapkan keinginannya pada Cicil dan Riki.


“Sunat?” tanya Riki bingung, seingatnya anaknya baru berusia tiga hari kenapa tiba-tiba disunat dan lebih parahnya kenapa harus ada arak-arakkan segala.

__ADS_1


“Iya disunat, kaya dulu si Bule edyan itu,” ucap Abah sambil menunjuk Adipati yang otomatis langsung menopangkan kakinya, meringgis mengenang penderitaannya dulu.


“Nggak usah dibahas,” ucap Adipati sambil menggigit samping telunjuk tangan kanannya sambil bergigik. Nggak mau dia disunat dua kali. Neraka dunia.


Cicil yang penasaran menyikut perut Taca, “Adipati disunat?”


“Iya, disunat. Sengsara dia,” kekeh Taca mengenang penderitaan suaminya.


Cicil hanya bisa mengulum senyumnya membayangkan penderitaan Adipati.


“Jadi nanti Richie bakal disunat di Citeko pokoknya, titik.” Abah berkata sambil mengangkat kedua jempolnya keudara.


“Nggak bisa, Richie bakal disunat di Belgia,” ucap Jeff.


“Jauh amat?” tanya Rozak bingung kenapa harus disunat di Belgia.


“Iya biar kesehatannya terjamin, steril pokoknya bakal pake peralatan kesehatan yang canggih,” terang Jeff, pokoknya dia akan memberikan yang terbaik untuk cucu satu-satunya ini.


“Di Citeko aja, jauh amat ke Belgia. Di Belgia mah nggak bisa diarak pake sisingaan, udah di Citeko aja,” ucap Abah.


“No, tidak steril. Gimana kalau ada apa-apa sama Richie, saya nggak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Richie.”


“Idih, aman di Citeko itu. Mantrinya udah ada wajib pajak, dah ada NPWP-nya,” ucap Abah.


“Ngapain mantri sunat punya NPWP?” tanya Nama bingung pada Rozak.


“Iyahin aja biar cepet, Nam,” jawab Adipati yang tak sengaja mendengar pertanyaan Nama.


“Tapi, Adi ngapain coba ....”


“Satu saran dari aku kalau kamu mau langgeng jadi mantunya Abah. Apapun yang Abah omongin iyahin aja, nggak usah dilawan.” Adipati memberikan saran pada Nama sambil tertawa. Nama langsung mengacungkan ibu jarinya tanda akan menyetujui dan melakukan saran Adipati.


“Adalah, kalau udah punya NPWP jadi wajib pajak. Jadi, itu mantri udah ber-SNI.”


“Abah sangka helm pake ada SNI-nya segala?” tanya Taca kesal dengan pikiran Abah yang out of the box.


“Eh ... jangan hina orang kampung, udah di Citeko aja sunatnya, aman,” ucap Abah.


“Nggak di Belgia aja. Nggak ada bukti mantri di Citeko aman!?” seru Jeff sambil menyerahkan Richie pada Rea. Bersiap untuk melakukan berdebat dengan Abah tentang masalah sunat-menyunat ini.


“Eh ... sekata-kata, si Ucup itu mantri terbaik di Citeko. Nama panjangnga Pak Mantri Ucup Cupacup.” Abah berkata sambil beranjak dari kursinya.


“Ucup Cupacup?” tanya Adipati dan Nama pada pasangannya masing-masing yang langsung diberi anggukkan oleh Taca dan Rozak berbarengan.


“Itu nama orang?” tanya Nama pada Rozak.


“Iya, mantri yang nyunat Akang sama Aa Riki,” kekeh Rozak, sebenarnya Rozak pun awalnya tidak percaya tapi itu kenyataan yang ada namanya Ucup Cupacup.


“Astaga namanya aneh gitu, yang ada nanti ada apa-apa Richie gimana? Mau tanggung jawab?”


“Eh ... Jeff, nih Rozak ama Riki disunat ama si Ucup Cupacup, buktinya. Tokcer tuh Riki bisa hamilin anak kamu, sukses. Bentuknya juga ciamik,” ucap Abah.


“Tetep nggak ada buktinya,” ucap Jeff yang tidak mau menyerahkan cucu semata wayangnya untuk disunat oleh seoranv Ucup Cupacup.


“Eh ... sekata-kata kamu, yah. Riki,” panggil Abah.


“Apa?” tanya Riki yang sedikit pusing dengan kelakuan Ayah dan mertuanya itu.


“Buka celana kamu, tunjukkan pada dunia betapa rapih dan ciamiknya hasil kerja seorang Ucup Cupacup,” perintah Abah.


“Ngaco Abah, nggak mau,”’tolak Riki, mulai ngaco Abah ini.

__ADS_1


“Eh ... buktikan pada Jeff, kalau teknik mantri Citeko itu hebat.”


“Nggak mau, Rozak aja,” ucap Riki sambil menunjuk Rozak.


“Eh ... enak aja, nggak mau ‘kan yang disuruh Aa, Aa udah kebukti tokcer. Buktinya bisa menghasilkan Richie. Aku mah belom, belom bisa memberikan bukti, baru janji,” tolak Rozak sambil menggelengkan kepalanya.


“Nah kan, udah di Belgia aja, udah di Belgia pokoknya.” Jeff berkata sambil menepuk kedua tangannya, merasa menang.


“Eh enak aja, nih bukti Ucup Cupacup tokcer.”


“Mana?” tanya Jeff menantang Abah.


Abah langsung berdiri dan mencoba membuka celananya sambil berkata, “Buktinya anak empat, Riki, Rozak, Tasya dan Ta ...”


“Abah ... astaga, Abah!?” teriak Rozak, Riki dan Taca yang sudah melompat menghentikan perbuatan Abah yang bersiap menunjukkan pada Jeff hasil karya Ucup Cupacup yang sangat tersohor di Citeko.


“Lepas, Abah akan tunjukkan.”


“Tong ngaco Abah,” jerit Taca.


Keriuhan langsung terlihat saat Kakak beradik tersebut berjuang untuk menghentikan Abah yang kesal dengan Jeff.


“Pokoknya Richie harus disunat di Citeko,” ucap Abah.


“Iya di Citeko iya,” ucap Riki sambil berusaha menenangkan Abah.


“Belgia,” ucap Jeff.


“Citeko,” jawab Abah tidak mau kalah.


“Belgia,” jawab Jeff.


“Citeko.”


“Astaga udah, Cicil,” panggil Rea yang kesal dengan perkelahian Jeff dan Abah.


“Iya Mih,” jawab Cicil yang dari tadi diam saja bingung harus melakukan apa.


“Bawa Richie susuin dia,” perintah Rea sambil menyerahkan Richie ke pelukkan Cicil.


“Dan kalian berdua, nggak usahlah Richie disunat di Citeko apa di Belgia.”


“Terus di mana?” tanya Jeff.


“Di Jakarta ....”


“Ta—“


“Nggak ada debat, di Jakarta. Udah, awas kalian debat lagi. Aku culik Richie dan kalian nggak bisa liat Cucu aku lagi, ngerti?” tanya Rea gemas melihat tingkah laku Kakek-Kakek kelebihan hormon dihadapannya itu.


“Iya.”


••••


Ibu mentri keuangan keluarga Bouw memang seram 🤣🤣. Siapa yang siap melihat Ahyar terperdaya? Siap-siap yah ❤️❤️


Terima kasih kopi, bunga dan votenya pembacaku sayang.


Yang nggak bisa kasih, tetep baca dan like juga komment. 15 hari lagi novel ini tamat, sedih? Banget tapi hidup harus terus berjalan 😍🥰😘.


XOXO GALLON

__ADS_1


__ADS_2