
“Kamu tau ‘kan. Ayah masih harus nikahin kamu, Nama!?” sentak Ahyar.
“Ayah tau nggak ada yang namanya Wali nikah?” tanya Nama tidak mah kalah.
“Ayah masih hidup, Nama,” ucap Ahyar tidak mau kalah.
“Ya terus? Kan Ayah nggak mau nikahin Nama, kalau Ayah keberatan nggak usah dipaksa, yah,” ucap Nama.
“Nama hormati saya sebagai Ayah kamu!?”
“Ayah yang seperti apa yang harus Nama hormati?” tanya Nama. “Yang seperti apa? Merasa pantas Ayah itu sampai-sampai harus Nama hormati?”
“Nama.”
“Ayah tuh siapa? Darimana aja Ayah, tuh?” tanya Nama sambil bangkit dari duduknya.
“Ayah tau nggak saat Nama masuk SD, SMP, dan SMA. Ayah hadir nggak saat Nama kelulusan. Ayah hadir nggak saat Nama ada acara Ayah dan anak di sekolah?” tanya Nama mengenang penderitaannya dulu.
“Aya tau nggak Nama pernah di bully habis-habisan hanya karena Tandika mengatakan Nama anak pelacur di Sekolah? Ayah tau nggak?” teriak Nama sambil menahan tangisnya. Nama berjuang untuk menahan air matanya, air matanya terlalu berharga untuk diteteskan di hadapan Ayahnya itu.
“Ayah di mana, saat Nama diterpa rumor kalau Nama ayam kampus. Ayah di mana? Ayah di mana saat Nama masuk rumah sakit karena sakit typus? Ayah dimana?” jerit Nama sambil menarik-narik rambut bagian kanan dan kirinya saking tak tau harus meluapkan kekesalannya pada apa lagi.
“Dimana, Hah? Bisa jawab?” tanya Nama berang.
Ahyar langsung terdiam, bingung apa yang harus dia jawab. Karena, Ahyar sama-sekali tidak tau itu semua, lebih tepatnya Ahyar menganggap Nama itu tidak ada, berpura-pura hanya memiliki dua orang anak demi nama baiknya dilingkaran pertemanan miliknya.
“Makanya sekarang nggak usah sosoan mau jadi Ayah Nama deh. Nggak usah sosoan merasa jadi orang paling berjasa dan bertanggung jawab bagi kehidupan aku, Yah,” bentak Nama sambil menunjuk dadanya dengan jari telunjuknya.
“Nama Rozak itu bukan lelaki yang tepat. Kelurganya terlalu angkuh—“
“Ayah ngomong gitu karena Ayah gagal buat lobby perusahaan Cicil, Ayah ngomong gitu karena Riki nonjok Ayah, Ayah ngomong gitu karena Adipati menolak kontrak kerjasama dengan Tandika, ngaku Ayah!?” jerit Nama.
“Nama nggak bodoh Ayah, Nama tau. Nama tau semuanya tapi, Nama diam. Diam bukan berarti bodoh dan bisa di bodoh-bodohi, Nama diam untuk melihat apa yang akan Ayah lakukan. Nama awalnya berharap Ayah bijak. Tapi, ini jauh dari bijak, Yah.”
“Yah, cukup yah. Cukup Nama menderita selama dua puluh lima tahun. Ijinin Nama bahagia, ijinin Nama membina rumah tangga sama Rozak,” mohon Nama sambil mengusap telapak tangannya di pahanya.
“Keluarga mereka nggak bisa kasih keuntungan buat Ayah. Buat apa Nama? Lebih baik kamu nikah sama anak kolega Ayah,” ucap Ahyar.
__ADS_1
“Nggak mau, kalau Ayah mau kenapa nggak Tandika atau Ira yang Ayah paksa untuk menikah dengan kolega-kolega Ayah. Kenapa harus Nama?” tanya Nama.
“Kenapa harus kamu? Yah harus kamu, kamu yang udah rusah hidup Ayah!?” Ahyar berteriak keras dan menampar pipi Nama keras.
Nama tersentak saat merasakan rasa sakit dan perih di pipi kanannya. Badan Nama yang kecil langsung terpelanting ke kanan, menabrak dinding ruang tamunya. Nama terdiam mematung rasa kaget dan bingung langsung menyergapnya.
“Kamu tau, andai Ibu kamu pakai KB atau mau mengugurkan kamu dulu, mungkin Ayah tidak akan dijauhi oleh istri Ayah dan kedua anak Ayah yang lain. Ayah itu berkorban buat kamu, Nama!?” teriak Ahyar sambil menunjuk Nama yang masih terduduk bingung.
“Jadi, Nama yang salah?” tanya Nama pelan sambil menunjuk dadanya.
“Iyalah, kalau kamu nggak lahir nggak bakal hancur hidup Ayah!?”
“Jadi, karena Nama udah hancurin hidup Ayah. Ayah berhak hancurin hidup Nama? Gitu konsepnya?” tanya Nama dengan nada bergetar.
“Kamu harus tau balas budi Nama,” ucap Ahyar.
“Balas budi? Balas budi apa? Kamu aja nggak mau aku lahir, kamu aja nggak mau anggap aku ada. Buat apa aku balas budi, siapa yang minta aku lahir? Aku nggak minta lahir dari benih Ayah, aku nggak minta. Jadi, jadi ....”
“Apa?”
“Jadi, kamu nggak berhak atas hidup aku. Kamu nggak berhak dan nggak akan perhan berhak. Aku hidup karena Ibu, aku mau bahagia dan kamu, kamu nggak akan aku biarin ngerebut kebahagiaan aku—“
Plak ....
Nama melindungi wajahnya bersiap untuk mendapatkan pukulan kedua dari Ayahnya. Detik demi detik berlalu, Nama sama sekali tidak merasakan apapun. Tidak ada rasa pedih ataupun sentuhan tangan Ahyar, padahal Nama mendengar suara pukulan.
“Ira!?”
“Udah cukup, Yah. Cukup, jangan nyalahin Kak Nama. Semuanya salah di sini,” ucap Ira sambil menyentuh pipinya yang ditampar Ahyar dengan keras.
“Ayah salah karena nggak bisa jaga perasaan cinta Ayah ke Mamah, Mamah dan Kak Tandika salah karena ngelakuin hal-hal kasar ke Ibu dan Kak Nama. Tapi, Mamah dan Kak Tandika lakuin itu semua karena sakit hati. Siapa perempuan yang nggak sakit hati digituin.” Ira mencoba bijak.
“Kak Nama juga salah karena nggak bisa ngehormatin Ayah. Tapi, semuanya itu pasti ada sebabnya. Ibu juga salah karena mau aja dideketin Ayah padahal tau Ayah udah berkeluarga. Aku juga salah, semua salah. Tapi, tapi tolong bisa nggak kita saling ikhlas?” tanya Ira pada Ahyar.
“Ikhlas? Kamu nggak salah ngomong, Ra?” tanya Ahyar bingung bercampur kaget kenapa tiba-tiba anak bungsunya itu meloncat dan menjadikan dirinya sendiri tameng untuk melindungi Nama.
“Iya, Yah.”
__ADS_1
“Kenapa kamu tiba-tiba ngelindungi Kakak kamu?” tanya Ahyar.
“Karena, semenjak tinggal di sini Ira baru tau. Mereka juga sama-sama menderita kaya kita, Yah. Mereka juga ngerasa menyesal karena udah ancurin keluarga kita. Udahlah Yah, udah. Semuanya udah kejadian, ijinin Kak Nama nikah. Bukankah dengan Kak Nama nikah, Ayah juga bisa ngelepasin tanggung jawab Ayah?”
“Kamu nggak ngerti, Ra. Ini namanya bisnis, Ayah kamu sudah di hina oleh keluarga Rozak, mereka menolak semua tender Ayah.” Ahyar berkata berang.
“Ayah, bisa nggak jangan mikirin bisnis dulu. Nggak semuanya diukur sama uang. Yah, Ira mohon. Udah, jangan siksa mereka lagi, mereka udah cukup kesiksa dengan stigma masyarakat yang mencap mereka anak pelakor dan pelakor. Udah, Yah.” Ira memohon Pada Ahyar.
“Ra, kamu—“
“Mas, udah. Mending Mas pulang,” ucap Islah sambil mendorong Ahyar keluar dari pintu rumahnya.
“Kamu nggak bisa usir saya dari rumah saya sendiri!?” ucap Ahyar.
Islah hanya bisa menghela napasnya, apa yang dikatakan Ahyar benar. Walau mereka sudah bercerai rumah ini masih milik Ahyar. “Jadi kamu maunya apa?” tanya Islah.
“Denger, selama kalian masih hidup dan tinggal di rumah ini, makan dari hasil kostan di sebelah itu. Nggak usah banyak lagak, bilang Nama saya nggak mau dia nikah sama Rozak!?”
“Bu,” ucap Nama lirih, Nama tau ini adalah ancaman paling ampuh untuk Ibunya. Ibunya pasti akan luluh bila Ayah sudah mengatakan kata-kata tersebut. Kata-kata sakti agar Islah dan Nama mau mengikuti semua perkataannya.
Islah langsung menatap Nama, hatinya sakit luar biasa melihat anak perempuanya diberlakukan sebegitunya oleh Ayah kandungnya sendiri. Islah memejamkan matanya, dihembuskan napasnya pelan. Pilihannya sudah bulat, dia ingin Nama bahagia.
“Ya udah, kapan kami harus keluar dari rumah ini, Bapak Ahyar yang terhormat?”
•••
Hai pembaca, semangkanya dulu ini makan yang banyak. Cuss cepet dimakan jangan di liatin aja, semangka baik untuk menurunkan kadar darah tinggi di tubuh. Hahahaa
Buat yang udah komment dan like makasih yah.
Buat yang belum, ayo atuh komen yang banyak 1 akun 10 komen 🤣🤣, Like, kasih bunga deh atau kopi boleh.
Pertahankan Mr. and Mrs Trina di peringkat atas!? Kenapa, juli mau tamat nih. Kado perpisahan dong buat Riki senyuman manis, Cicil napsu membara, Edy Absurd, Laura Asma, Rozak sadboy, dan Nama anyun.
Love you,
Xoxo Gallon.
__ADS_1