Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Mission Imposible...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️


•••


“Ini beneran idenya?” tanya Edy sambil menatap kaca dihadapannya. Edy memang gila tapi nggak segila ini juga...!?


“Nggak papa, kamu cocok kok,” ujar Cicil sambil memberikan tanda oke dengan tangan kanannya.


“Iya tapi, kenapa aku yang harus pake baju ini? kenapa nggak Riki aja?” tanya Edy sambil menunjuk Riki yang sedang menggunakan baju tidur ala hewan-hewan.


“Nggak bisa, Di. Albert udah tau aku,” jawab Riki sambil menahan tawanya.


“Kenapa nggak...”


Klik...


Rozak muncul dibalik pintu kemudian masuk kedalam ruangan diikuti Nama. Saat Rozak melihat Edy, Rozak spontan berteriak keras.


“Makjan... Edy?” tanya Rozak sambil menunjuk Edy.


Nama yang melihat dandanan Edy hanya bisa menahan tawanya, kelakuan teman Rozak benar-benar mampu membuat Nama tertawa.


“Kamu kenapa? Pake baju gini?” tanya Nama sambil mendekati Edy kemudian menepuk-nepuk bahu Edy pelan, tiba-tiba tangan Nama ditangkap Rozak.


“Nggak usah dipegang juga,” ujar Rozak sambil menarik Nama sedikit lebih menjauh dari Edy. Nama menatap Rozak kemudian melepaskan tangannya dengan cepat dari genggaman tangan Rozak.


“Kenapa nggak Rozak yang pake baju ini?” Edy benar-benar ingin melempar baju yang digunakannya. Edy nggak sanggup bila seandainya Laura melihat dirinya menggunakan pakaian ini. Bisa ambyar semuanya. Dimana harga dirinya sebagai lelaki akan dia letakan?!


“Muahahhahaaaaa....”


Tiba-tiba terdengar suara tawa yang sangat keras dari arah pintu. Ternyata Laura sedang tertawa karena melihat Edy.


“Astaga Lele, kamu lucu banget, mau kemana kamu tuh, Lele?” tanya Laura sambil memegangi perutnya karena terus tertawa sampai perutnya sakit bukan main.


“Astaga Laura, udah aku nggak ikutan misinya deh, harga diri aku ini..!” ujar Edy.


“Jangan, dong. Ayolah ini cara satu-satunya, mau yah.. yah...” pinta Cicil sambil merapatkan kedua tangannya membentuk gerakan memohon.


“Aduh...”


“Nanti aku kasih kamu makan malam romantis sama Laura,” ujar Cicil sambil menarik Laura yang sedang mengusap air matanya karena tertawa keras.


“Hah...” Laura kaget bukan main mendengar permintaan Cicil. “Ogah..!?”


Cicil langsung membulatkan matanya sambil menarik bahu Laura, Laura yang tertarik langsung menabrak badan Cicil. “Lo tega, Cil. Masa gue makan sama aduh, liat bajunya terus itu apaan kuda pula, mau ngapain dia?”


“Laura, lo makan malemnya juga nggak sekarang tapi nanti, please Laura. Restoran Riki bisa bangkrut kalau surat perjanjiannya nggak ketemu, please...” mohon Cicil sambil mengedip-ngedipkan matanya.


“Cil...” Laura benar-benar merasa sangat keberatan.


“Ayolah, Laura... aku mohon,” mohon Cicil lagi.


Laura langsung menghentakkan kakinya ke lantai saking kesalnya. “Oke fine, just one time. No more,oke,” ujar Laura sambil menunjuk hidung Edy yang sedah kembang kempis saking bahagianya.


“Oke, let’s roll..!” ujar Rozak sambil mengambi beberapa barang disekitarnya.


•••


Sesampainya di kantor Albert, Cicil dan yang lainnya langsung masuk ke pintu belakang. “Dari sini kita bisa langsung masuk kedalam ruangan Albert, tapi kita harus naik empat lantai, semuanya siap?” tanya Cicil.


“Siap...!?” Entah kenapa semuanya sangat bersemangat dengan rencana aneh binti ajaib Cicil.


Rozak langsung mengangkat gendang miliknya, detik ini Rozak sudah menggunakan baju hitam-hitam dan kaca mata hitam. Entah apa maksud dan tujuannya Rozak mengenakan itu semua. Cicil bilang biat keliatan misterius dan seperti men in black (lelaki didalam pakaian hitam), tapi dari pada terlihat seperti men in black, Rozak malah terlihat seperti tukang pijet...!


Nama sudah berdandan secantik mungkin, Cicil memaksa Nama menggunakan make up yang membuat kecantikan Nama bertambah dua kali lipat, berkali-kali Rozak kehilangan fokus saat melihat Nama.


“Nam, mata kamu bagus yah,” ujar Rozak saat menaikki tangga.


“Pake softlens, Zak,” ujar Nama pelan.


“Matanya jadi gede gitu kok bisa? Itu jepitnya beli dimana? Kok kamu jadi kaya yang umurnya 22 tahun?” Rozak benar-benar terbius kecantikan Nama.

__ADS_1


“Umur aku udah 28 tahun, Zak. Udah tuir, udah diminta kawin sama Mamah aku,” ucap Nama ngasal sambil terus menaikki tangga.


“Ya udah, hayu.”


“Kemana?” tanya Nama bingung tiba-tiba di ajak oleh Rozak. Mau kemana lagi?


“Nikah, kapan Rozak bisa kerumah?” tanya Rozak cepat.


Nama menghentikan langkahnya kemudian menatap Rozak dengan tatapan kaget. “Jangan ngayal, Zak.”


“Hah... kok bukannya kita udah....”


“Kamu nyium aku bukan berarti kita pacaran, aku nggak mau pacaran. Aku nggak mau nikah,” ujar Nama tegas sambil berjalan meninggalkan Rozak yang termangu mendengarkan perkataan Nama. Jadi, ciuman tadi nggak ada artinya buat Nama? Astaga, padahal Rozak sudah berpikir yang tidak-tidak.


“Zak, tolong lah. Ngelamar orang nggak sambil gendong gendang dan naek tangga, ditambah dandanan ala tukang pijet..!?” saran Riki sambil menepuk bahu adiknya itu.


“Hah... tapi ‘kan...”


“Nggak ada alesan, Zak. Romantis dikit, inget romantis dikit...” saran Riki sambil berjalan mendahului Rozak yang masih merasakan perasaan yang lumayan sakit. Tapi, Rozak sedikit terhibur dengan perkataan Riki, siapa juga yang akan mengangap serius lamarannya bila dirinya melamar anak orang dengan kondisi seaneh ini.


•••


Sesampainya diatas dan mereka berdiri di balik pintu. Cicil langsung memerintahkan Edy dan Rozak berdiri dibelakang pintu.


“Inget kalian harus bikin gaduh dan terakhir Nama, kamu harus terlihat meyakinkan. Nanti kalau ada Albert kamu pepet dia terus, dia itu kalau liat yang bening langsung gerak cepat,” ujar Cicil.


“Terus kamu,” Cicil menunjuk Rozak, “Nanti kalau Kharis keluar, kamu pepet. Inget buka kacamata dengan gaya paling maskulin yang kamu punya. Kamu itu tipe Kharis banget,” ujar Cicil.


“Laura nanti kamu masuk pas waktunya, oke. Nanti kalau udah teralihkan semuanya. Aku sama Riki bakal masuk buat cari berkas sialan itu. Aku yakin 100% berkas itu disimpen di brangkas milik Albert,” ujar Cicil.


“Oke...!!!”


•••


Kharis tersentak kaget saat pintu tangga darurat khusu untuk Albert terbuka dengan cepat. Lebih kaget lagi saat melihat seseorang masuk kedalam ruangan tersebut dengan dandanan yang teramat sangat absurd.


Rambut kuning, menggunakan bandana biru, baju ala-ala pangeran berkuda, dan yang bikin Kharis geleng-geleng kepala adalah lelaki itu menaikki kuda mainan.


“Bentar ini apa?” tanya Kharis, matanya makin terbelalak saat ada seorang tukang pijat membawa gendang mendekati dirinya kemudian duduk dilantai tepat disampingnya.


“Iya, benar. Tapi, ini ada apa? Seingat saya, saya tidak pernah mengundang artis datang kesini.”


“Kami memang tidak diundang. Tapi, kami memang ingin datang,” ujar Edy sambil menatap Rozak.


Rozak langsung duduk dan bersiap untuk memainkan gendangnya.


“Siap Bang?” tanya Edy.


“Siaaaappp....” jawab Rozak.


“Kalau Edrosh bilang pukul-pukul yah,” ujar Edy sambil menunjuk Rozak genit, Rozak hampir tersedak saat melihat kedipan genit seorang Edrosh.


“Pukul, pukul,pukul,” ujar Edrosh sambil menggerakkan kudanya maju kearah Kharis sambil mengeluarkan lidahnya terus menerus layaknga penari ular.


Kharis yang ketakutan otomatis mengangkat teleponnya dan menelepon satpam untuk membantunya mengusir Edy.


Brak....


Edy yang sudah turun dari kudanya tiba-tiba ada didepan Kharis dan memelototkan matanya kearah Kharis sambil mengeluarkan dan memasukkan lidahnya berkali-kali. “Jangan kau pikir, bisa menelepon satpam, KHA-RIS...” Edy berkata dengan logat Rhoma Irama.


“Ih....” Kharis yang ketakutan langsung menarik tangannya dari sentuhan Edy. Kharis benar-benar takut dengan Edy, lebih tepatnya geli dengan janggutnya.


“Anda mau apa disini?” jerit Kharis bingung.


“Saya mau ketemu Albert,” ujar Edy sambil menggoyang-goyangkan dadanya ke kanan dan kekiri mengikuti irama gendang yang dipukul Rozak.


“Pak Albert nggak ada,” dusta Kharis.


“Ah, Kharisaaaaaaaaaaa,” Edy memanggil nama Kharisa dengan berirama.


“Aaaaapaaaaaa,” entah kenapa Kharis membalas Edy dengan kata yang beriram pula.


“Jangan kau tipu diriku, jangan, jangan, jangaaaaaannnnnn,” Edy tiba-tiba bernyanyi dengan menggunakan nada lagu yang sangat-sangat absurd.


“Saya....”

__ADS_1


“Ada apa ini?” tiba-tiba terdengar suara Albert dari arah pintu.


“Pak jangan keluar ada orang gila,” ujar Kharis sambil berlari ke arah Albert.


Albert kaget melihat ada seseorang yang berdandan sangat-sangat aneh sedang menjulurkan lidahnya berkali-kali dan seorang tukang pijet yang sedang memukuli gendang?


“Kharis telpon satpam,” perintah Albert.


Huaaaaaaaaaa.....


Edy tiba-tiba melompat ke hadapan Albert, “Anda tidak bisa melakukan itu hohohohohoooo....” Edy menaik turunkan kaca matanya. Wajahnya tidak dikenali oleh Albert karena Edy menggunakan kaca mata hitam besar.


“Astaga Kharis telepon satpam sekarang,” ujar Albert.


Kharis dengan cekatan langsung menyambar telepon di mejanya dan menelepon Satpam. “Satpam ke atas sekarang,” pinta Kharis.


BRAK....


Suara pintu terdengar di dobrak, Nama masuk dengan gaya sedramatis mungkin, tak lupa mengibas-ngibaskan rambutnya seperti model ikan shampoo seharga 30rbu dipasaran.


“Masssssss..... kamu kenapa ningalin aku Mas,” isak Nama sambil memeluk Albert tiba-tiba.


Albert yang kaget tiba-tiba dipeluk gadis cantik yang memanggil dirinya Mas hanya bisa terpaku, otaknya langsung berpikir cepat, dia mencoba mengingat di club mana dia bertemu dengan Nama.


“Maaf, kamu siapa?” tanya Albert bingung.


Nama tersenyum, ternyata Albert tidak ingat mereka pernah bertemu di kamar mandi kantor Cicil. Terima kasih keajaiban make up, kamu memang TERBAIK...!


“Apaa....” ujar Nama kaget sambil mengibas-ngibaskan rambutnya kekanan dan kekiri, Nama lalu menarik badan Albert kearah jendela besar di ruangan itu.


“Kamu tidak ingat malam itu?” tanya Nama sambil merentangkan tangannya kearah jendela. Kemudian menaruhnya di dada Albert. “Malam dimana kita menggila, dimana kita saling...”


Nama menggantungkan kalimatnya kemudian menjingjitkan kakinya untuk berbisik di telinga Albert. “Bermain pedang-pedangan...!!”


“Whhh....at...” jerit Albert kaget, sebentar seingatnya dia tidak pernah bermain pedang-pedangan. Dia masih menyukai wanita...!!!!


“Kamu lupa, Albert? Aku adalah ladyboy,” ujar Nama sambil memutar-mutar rambutnya mengikuti irama gendang Rozak.


“What... astaga Kharis mana satpamnya. Gila semua disini,” jerit Albert sambil mencari dimana Kharis berada. Ternyata Kharis sedang ketakutan karena melihat Edy yang tiba-tiba menari merak.


“Kwok kwok kwok....” teriak Edy.


Suasana berubah absurd dan chaos, Edy yang menari merak didepan Kharis, Rozak yang memukul gendang dengan irama yang seenaknya, dan Nama yang mengejar-ngejar Albert kemanapun Albert melangkah kan kakinya.


“Pak, ada yang bisa kami bantu?” tanya Satpam yang sudah muncul dari arah lift karyawan.


“Usir ini semua...!” Teriak Albert ketakutan sambil mendorong-dorong Nama yang bergelayut di tangan Albert.


Salah satu satpam tersebut langsung bergerak dan mengejar Rozak yang sudah berlari tunggang langgang ke arah lift karyawan. Satpam satunya lagi menarik Edy yang mencengkram blouse Kharis dengan keras. Kharis mau tidak mau tertarik kearah luar mengikuti Edy dan satpam tersebut.


Sedang Albert langsung mengangkat Nama yang ringan. Albert membawa Nama keluar dari ruangan tersebut ke arah lift karyawan.


Suasana ruangan tersebut pun hening. Riki, Cicil dan Laura langsung keluar dari pesembunyiamnya.


“Laura kamu tunggu disini, kalau ada Albert kamu langsung bersiul oke,” pinta Cicil yang langsung dinawab anggukan oleh Laura.


Cicil dan Riki pun masuk kedalam ruangan Albert, berharap menemukan apa yang mereka cari. Mampukan mereka menemukan apa yang mereka cari atau malah menemukan yang lainnya?


•••


Maafkan Kaka gallon telat up, Kaka Gallon seminggu ini sibuk Real Life...


jangankan Novel ini, novel sebelah pun keteteran... maafkan yah...


Tetap dukung Kaka Gallon...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2