Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Dari sah jadi ah ...


__ADS_3

“Dari sini mau kemana?” tanya Rozak pada Nama sambil memberikan air mineral ke tangan kanan Nama.


Nama langsung meminumnya sampai tandas, perjuangan untuk menikah benar-benar menguras waktu, tenaga dan pikirannya. Ini adalah kedua kalinya mereka ke pengadilan dan mengurus semuanya. Akhirnya setelah melewati jalan berliku Nama mendapatkan walinya.


“Nggak tau, aku laper.” Nama berkata sambil menutup botol air mineralnya dan menyerahkan kembali pada Rozak. “Tapi, males makan.”


“Bohong banget, males makan. Sekalinya di depan mata ada makanan, pasti kamu embat.” Rozak berkata sambil tertawa.


“Ih ... nggak ah, aku kalau ada makanan punya aku nggak pernah aku makan. Itu, kamu yang makan kan,” bela Nama sambil memamerkan gigi-giginya yang putih pada Rozak.


“Emang nggak sih, makanan kamu pasti aku yang makan. Karena, kamu pasti makan punya aku yah mau nggak mau aku yang makan punya kamu.”


“Apa sih ribet amat ngomongnya,” kekeh Nama sambil bergelayut manja.


“Yah intinya kamu tuh suka banget makan makanan yang aku pesen aja,” ucap Rozak sambil menahan tawanya.


Nama hanya mengulum senyumnya sambil menatap ke langit. Cuaca Jakarta benar-benar cerah secerah hatinya. “Jadi, mau kemana?”


“Makanlah,” ucap Rozak sambil memasangkan helm ke kepala Nama.


“Makan apa?” tanya Nama sambil duduk di belakang Rozak dan memeluk kekasihnya itu dengan erat.


“Makan kamu,” kekeh Rozak.


“Lah ... kanibal kamu,” ucap Nama sambil menepuk bahu Rozak.


“Iya, tapi maunya makan kamu aja. Enak, gemoy,” kekeh Rozak.


“Iya nanti makanlah, makan aja udah makan. Tapi ...”


“Apa?”


“Sah dulu. Inget dari sah baru ah ....”


“Astaga Nyun,” kekeh Rozak. “Udah, kita makan yah. Tapi, anter dulu Akang ke suatu tempat yah.”


“Kemana?” tanya Nama.


“Ke adalah, anter yah.”


“Oke, tapi udahnya makan yah. Beneran laper aku tuh.”


“Iya, Nyun iya.”


Rozak pun menyalakan motornya dan membelah hirup pikuk kota Jakarta, membawa Nama kesuatu tempat yang akan menjadi tempat bagi Nama dan Rozak.


•••


Di dalam hatinya Nama bingung mau di bawa kemana dirinya. Kenapa Rozak membawanya ke kawasan perumahan, berjejer rumah-rumah tipe mungil yang sudah terisi keluarga. Sampai ke satu rumah mungil berwarna putih.


Rozak membelokkan ke dalam ruamh itu, “Turun.”


Nama dengan patuh turun dari motor dan menatap ruamh mungil di depannya. Rumah yang kecil namun tampak asri.


“Rumah siapa?” tanya Nama bingung melihat Rozak membuka gerbangnya dan masuk kedalam rumah.


Rozak diam saja sampai masuk kepekarangan, dengan cepat Rozak membuka pintunya dengan menggunakan kunci yang ada di tangannya.


“Akang, ini rumah siapa?” tanya Nama bingung.


Rozak sama sekali tidak menjawab Nama, dengan tenangnya dia menarik tangan Nama untuk berjalan di sebelahnya.


Nama hanya bisa menatap bagian dalam rumah kebingungan, Rumah itu kosong tidak ada furbiture sama sekali, hanya ada dua buah kamar ukuran kecil dan kamar mandi.


“Rumah siapa ini?” tanya Nama bingung.

__ADS_1


“Sini,” pinta Rozak sambil menarik Nama ke salah satu kamar yang ada.


“Mau apa? Ini Rumah siapa?” tanya Nama.


“Rumah nggak tau, Rumah siapa,” jawab Rozak sambil menatap sekeliling ruangan tersebut.


“Lah, kalau nggak tau kenapa kita masuk? Terus kenapa kamu bisa punya kuncinya?” tanya Nama sambil menatap Rozak meminta jawaban untuk pertanyaannya.


“Aku juga bingung ini rumah siapa,” jawab Rozak sambil menunjukkan gigi-giginya.


“Lah, astaga jangan bilang kamu alih profesi jadi maling yang suka datang ke rumah-rumah kosong. Terus ngambilin lantai, lampu dan lainnya,” ucap Nama sambil berkacak pinggang.


“Astaga, emang aku ada tampang maling?” tanya Rozak.


“Ih ... kamu mah maling handal. Jangankan lantai, hati aku aja kamu gondol, Kang,” canda Nama sambil malu-malu meong.


“Ngaco.”


“Eh ... Kang beneran ini rumah siapa?” tanya Nama sambil berjalan mendekati Rozak, dengan cepat Rozak menarik badan Nama agar lebih mendekat dengan Rozak.


“Rumah nggak tau.”


“Kang ....” Nama langsung menegerucutkan bibirnya dan membenarkan letak kacamatanya yang sudah melorot.


“Nggak tau Nyun, beneran Akang bingung ini rumah bakal jadi punya siapa. Akang takut mau nanya sama yang punyanya.”


“Kenap? Emang yang punyanya galak?” tanya Nama.


“Nggak galak sih, cuman ribet. Tapi, ngangenin,” ucap Rozak sambil menatap Nama yang dari tadi mengedarkan pandangannya.


“Lah, tanyain aja sama yang punya rumahnya.”


“Beneran?”


“Yah tanya aja, emang mau nanya apa sih?” tanya Nama.


“Kang, nggak keliatan,” protes Nama yang kesal Rozak selalu menarik kacamatanya. Nama benar-benar tidak bisa melihat sama sekali.


Rozak mendekatkan wajahnya ke wajah Nama, membuat jarak diantara mereka berdua hanya terpaut beberapa inci saja, saking dekatnya Nama bisa mencium wangi minta dari napas Rozak.


“Kang,”’pangil Nama sambil mengalungkan tangannya ke leher Rozak. “nggak kelihatan, Kang.”


“Apa yang nggak kelihatan?”


“Muka kamu.”


“Deketin lagi makanya,” goda Rozak sambil mendekatkan kembail wajahnya dengan Nama. “Kelihatan?”


“Iya.”


“Baguslah, sekarang Aa mau nanya sama yang punya rumah.” Rozak berkata sambil menggesekkan bibirnya dengan bibir Nama.


Nama mengerjapkan kedua kelopak matanya, “Mana di mana?”


“Di sini, yang punya rumahnya ada di sini.”


“Di mana?” tanya Nama sambil mengecup bibir Rozak menggodanya.


“Di depan aku,” jawab Rozak.


“Maksudnya?” Lagi Nama mengecup bibir Rozak.


“Kamu, yang punya rumah ini kamu, Nyun. Aku beli rumah ini buat kamu, ini mahar kamu. Yah walau masih dicicil. Tapi, ini rumah kamu,” bisik Rozak sambil melabuhkan bibirnya dibibir Nama, mengesap bibir yang sebentar lagi menjadi istrinya. Miliknya.


Nama memangut bibir Rozak, mengesap bagian atas bibir kekasinya itu, mengicip rasa mint milik Rozak. Menggelitik gigi Rozak dengan lidahnya, menelusupkan lidahnya kebagian dalam mulut Rozak, meminta lebih.

__ADS_1


Rozak menekan lembut bibir Nama dan menarik dengan nakal bagian bawah bibir Nama, memberikan sensasi yang membuat Nama mengeratkan pelukkannya, mendamba bibir Rozak yang makin lama makin liar.


“Hai ...” panggil Rozak sambil melepaskan pangutannya.


“Iya,” jawab Nama sambil menyapukan lidahnya kebagian atas bibirnya membuat Rozak terdiam melihat pemandangan yang meledakkan pikiran erotis Rozak.


“Astaga, Nyun. Kamu bener-bener bikin aku semaput,” ucap Rozak sambil mengusap bagian bawah bibir Nama pelan.


Nama hanya tersenyum mendengar perkataan Rozak. “Aku nggak pernah bermaksud bikin kamu semaput, Kang.”


“Iya aku aja yang pikirannya kocar kacir nggak karu-karuan,” ucap Rozak sambil menyelipkan rambut Nama ke telinganya.


“Jadi ini rumah aku?” tanya Nama.


“Iya, ini rumah kamu. Kalau kamu mau dan dengan syarat juga ketentuan yang berlaku.”


“Halah, kok jadi kaya undian,” ucap Nama, “apa syaratnya?”


“Syaratnya kamu nikah sama aku dan kamu tinggal di sini.”


“Ibu?” tanya Nama bingung bagaimana dengan nasib Ibunya.


“Ibu tinggal di sini juga lah. Tapi, di kamar sana,” ucap Rozak sambil menunjuk ke arah kamar lainnya.


Mata Nama langsung berbinar. “Ibu tinggal di sini juga?”


“Iya, kita tinggal di sini. Rumah ini kecil, belum ada bagian dapurnya. Tapi, aku bakal usahain buat di bangun bagian belakangnya. Nyicil yah, dikit-dikit aja. Nggak papa?” tanya Rozak.


“Nggak usah dicicil.”


“Terus?” tanya Rozak bingung, uang dari mana dia untuk membangun rumah itu.


“Pake aja uang buat kita nika—“


“Jangan ngaco, kan kita mau nikah di ge—“


“KUA aja, kita nikah di KUA aja. Aku mending nikah sederhana aja, uangnya sayang. Mending uangnya buat bangun ini rumah, nambahin dapur sama kalau bisa di tingkatin ke atas biar kalau Ira datang dia bisa nginep di rumah ini,” ucap Nama sambil menatap Rozak.


“Kamu yakin? Kamu nggak mau nikah gede-gedean?” tanya Rozak.


“Nggak, buat apa. Aku mau nikah bisa aja, nggak usahlah di hotel dan lain-lain. Cukup di KUA ajak temen deket makan di restoran Riki. Selesai.”


“Yakin?”


“Iya, yakin. Ayolah Kang cita-cita aku itu cuman satu. Nikah sama Akang nggak lebih. Aku nggak mau pesta-pesta, nggak usahlah.” Nama berkata sambil memeluk Rozak.


“Nyun.”


“Kang, point penting dari pernikahan itu ijab qabulnya. Akadnya bukan resepsinya.” Nama berbisik di telinga Rozak pelan. “Jadi, yang penting itu akadnya bukan resepsinya.”


“Kamu yakin Nyun? Nikah cuman sekali seumur hidup loh,” tanya Rozak lagi.


Nama melepaskan pelukkannya dengan cepat dan mengecup kening Rozak pelan. “Yakin, seyakin aku jadi istri kamu Rozak Trina.”


••••


Yupz ... point penting dari pernikahan itu ijab qabulnya, akadnya bukan resepsinya.


Inget itu yah, jadi buat yang saat ini lagi bete karena nggak bisa resepsi krn PSBB, jangan sedih inget yang penting akadnya bukan resepsinya biar dari Sah bisa jadi Ah ...


🤣🤣🤣🤣


Oke sip


Jangan lupa sebuket Bunga dan seteko kopi akan membuat hari-hari Gallon ceria.

__ADS_1


XOXO GALLON yang HOBI KELON


__ADS_2