
“Hah? Maksudnya?” tanya Nama bingung.
“Nggak usah bingung, mantan aku itu Iis.” Rozak masuk kedalam ruangan yang sudah penuh dengan orang.
Didalam sana sudah ada semua orang kecuali Riki dan Cicil. Mereka masih ada di pesawat, belum landing sama sekali.
“Dia mantan kamu?” tanya Nama sambil menunjuk Iis yang sedang mengambil sesuatu dari rak atas lemari, dibelakangnya ada Juan yang sedang asik memeluk Iis dari belakang.
Rozak menghela napas pelan, “Iya, dia mantan aku.”
“Otak kamu ketendang kuda, Zak?” tanya Nama sambil berdiri dihadapan Rozak dengan raut wajah tercengang.
“Lah, kenapa jadi ketendang kuda?” Rozak kaget dengan perkataan Nama.
“Kamu ngeracau? Mana mungkin Bu Lizbet mau sama kamu. Itu...” Nama menunjuk Juan yang asik memeluk Iis dari belakang, “itu suaminya udah tua tapi gantengnya astaghfirullah sekali.”
“Emang aku jelek banget,yah?” tanya Rozak spontan.
Nama rasanya bingung mau menjawab apa. Masalahnya, nggak apple to apple kalau bandingin Rozak sama Juan. Rozak ganteng, lucu, kharismatik. Rozak punya pesonannya sendiri. Tapi, om-om yang meresahkan bernama Juan itu ah sudahlah, tak sanggup Nama mengatakannya.
“Bukan gitu, cuman kamu diputusin bu Lizbet?” tanya Nama, Nama yakin Iis yang mutusin Rozak.
“Aku yang mutusin dia, aku dengan bodoh dan tololnya ninggalin dia.” Rozak berkata sambil menarik tangan Nama mendekat pada Iis. “dan aku nyesel banget, makanya aku nggak mau ngelakuin kesalahan kedua kalinya. Nggak mau.”
“Kesalahan apa?” tanya Nama sambil berusaha mengimbangi langkah Rozak dan langsung menghentikan langkahnya saat Rozak berhanti dan mengusap pipi Nama pelan.
“Apa?” tanya Nama bingung saat Rozak mengusap pipinya. Rozak ini tipe lelaki penuh kejutan, tapi terlalu banyak memendam perasaan. Sepertinya Nama harus mencari dukun untuk membaca pikiran Rozak.
“Ngelepasin orang yang paling berarti buat aku. Aku nggak mau lagi. Aku nggak bakal lepasin kamu, Nam. Kamu mau tau aku kaya gimana ‘kan?” tanya Rozak yang langsung di jawab anggukkan oleh Nama.
“Kita tanya Iis,” ucap Rozak.
Rozak dan Nama pun sampai ke tempat Iis dan Juan. Tampak Iis yang tertawa manis pada Juan yang semenjak tadi menggangui dirinya.
“Iis,” panggil Rozak.
Iis langsung melihat Rozak, “Kang Rozak, ada apa?”
“Juan, boleh Iisnya aku pinjem? Aku mau ngobrol bentar.” pinta Rozak.
“Ngobrol apaan?” tanya Juan ketus, mau apalagi Rozak ini. Nggak bisa apa ini curut jauh-jauh dari istrinya.
“Ngobrol penting,” ucap Rozak, Rozak sedang tidak mau ribut dengan siapapun dan sejujurnya ribut dengan Juan adalah opsi paling akhir kehidupannya.
“Yah apaan? Emang nggak bisa ngobrol disini?” tanya Juan.
“Aku ngobrol bareng sama Nama juga kok,” ucap Rozak.
“Mas, aku ngobrol bentar sama Kang Rozak, sama Nama juga, yah.” Iis meminta ijin Juan, Iis tau bisa satu abad bujuk Juan buat ijinin dia ngobrol dengan Rozak.
__ADS_1
“Ngapain sih, udah nggak usah,” bisik Juan di telinga Iis. “Ngobrol disini aja,” paksa Juan.
“Nggak bisa ini masalah pribadi.” Rozak berkeras untuk meminjam Iis.
“Nah, apalagi masalah pribadi. Aku harus tau,” ucap Juan.
“Nggak bisa, aku pinjem Iis du...”
“Pak Juan, Pak Juan pas malam pertama sama Bu Lizbet, Bu Lizbet masih perawan nggak?” tanya Nama. Nama merasa lebih baik Juan yang menjawab, karena Juan yang merasakannya. Kalau nanya ke Iis bisa aja Iis bohong.
Prang...
Juan yang sedang memegang gelas plastik di tangannya tanpa sadar menjatuhkannya. Seumur hidup baru sekarang ada yang menanyakan pertanyaan itu pada dirinya.
“Nama,” pekik Rozak kaget dengan keberanian Nama.
“Gi... gi... gimana maaf?” Juan gelagapan saat mendengar pertanyaan Nama.
“Iya, saya mau tau. Pak Juan pas malam pertama sama Bu Lizbet, Bu Lizbetnya masih perawan nggak?” Nama mengulang pertanyaannya dengan tenang. Bukan hal tabu bagi dirinya untuk menanyakan pertanyaan ini. Sifatnya yang berani, kadang membuat Nama tidak punya malu untuk menanyakan pertanyaan sensitif sekalipun.
“Hu... hu... hubungannya sama kamu apa?” tanya Juan bingung. Sepertinya, Juan tidak melihat benang merah antara mengetahui apa Iis masih perawan saat malam pertama mereka dengan kehidupan wanita cantik bertubuh mungil didepannya.
“Ada... karena jawaban Pak Juan akan mempengaruhi masalah asmara saya.” Nama menyilangkan tangannya di dadanya. Matanya menatap Juan dengan tatapan galak.
Juan mengedipkan matanya, kaget ternyata ada juga yang kelakuannya segalak Iis. Iis kalau sudah ada keinginannya jangan di tanya galaknyasudah kaya singa betina. “Terus jawaban saya bakal mempengaruhi apaan?”
“Kalau bapak jawab iya, saya pacaran sama Rozak. Kalau bapak jawab tidak, saya lempar Rozak ke Uganda,” ucap Nama sambil melirik bengis pada Rozak.
“Terus mau nanyanya gimana? Mau bilang khilaf lagi, hah?” ucap Nama kesal, entah kenapa Nama benci sekali dengan lelaki bangsul. Rasanya kalau ngeliat lelaki bangsul ingin sekali Nama remukkin.
“Astaga, Nam. Aku udah bilang aku khilaf sama Zurra sekali doang. Karena, aku nggak mau rusak dia, makanya aku tinggalin dia, karena aku nggak cinta sama dia,” ucap Rozak sambil menggengam udara dengan kedua tangannya di depan wajah Nama.
“Terus kamu cintanya sama siapa? Sama dia, hah?” tanya Nama sambil menunjuk Iis yang masih dalam mode kaget.
Rozak menepuk dahinya kesal, Nama benar-benar menguji kesabarannya. “Aku nggak cinta sama Iis. Dia mantan aku, Nam.”
“Yah terus, kamu cintanya sama siapa?” tanya Nama kesal.
“Dia mantan aku,” ucap Rozak sambil menunjuk Iis yang masih bingung dengan situasi yang ada. “dan kamu masa depan aku. Aku cintanya sama kamu Nama,” ucap Rozak kesal.
Wajah Nama langsung memerah saat mendengar perkataan Rozak. Nama langsung melihat sepatu miliknya, tiba-tiba dia merasakan bunga yang bermekaran di hatinya, saat mendengar perkataan Rozak.
Iis menatap Juan sambil tersenyum. Sepertinya dia tau masalahnya, “Mas, jawab.”
Juan kaget saat diminta untuk menjawab pertanyaan Nama. “Yakin? Ini harus di jawab?”
Iis memeluk perut Juan sambil memberikan senyuma terbaik miliknya. Entah kenapa, Iis ingin membantu Rozak. Iis ingin Rozak bahagia, seperti dirinya, kalau Nama bisa membahagiakan Rozak kenapa, Nggak. “Jawab aja, Mas. Masalahnya, Nama nggak mungkin nanya orang lain.”
Juan menggaruk kepalanya, “Ini beneran harus di jawab? Kenapa penting banget sih buat kamu?” tanya Juan pada Nama.
__ADS_1
“Pentinglah, aku aja masih bisa jaga perawan aku ampe detik ini. Masa, aku dapet cowo bangsul, aku nggak suka sama cowo bangsul, semprul, tukang mainin perempuan, hobinya celap celup dan merawanin anak orang seenak-enak jidat. Perempuan juga ada harganya, tau nggak?” cerocos Nama di hadapan Juan.
Juan berjuang untuk menelan salivanya, berterima kasih pada tuhan yang maha esa, istrinya mau menerima kekurangannya. Kalau istrinya seperti Nama, pertama kali bertemu saja, Juan sudah habis ditendang.
Iis berjuang menahan tawanya, apa yang dikatakan Nama ada semuanya pada diri Juan, Iis menggigit bibirnya saat melihat mimik muka Juan yang kaget.
“Kenapa Mas, ngerasa?” bisik Iis di telinga Juan sambil menahan tawanya.
“Iya, Yang,” jawab Juan sambil menatap Iis. Iis hanya bisa menahan tawanya.
“Ih, kok malah mesra-mesraan. Jawab pertanyaan aku,” ucap Nama kesal.
Juan berdehem kecil, berusah menetralkan perasaannya. “Gini yah, istri saya ini. Saya yang ambil semuanya, itu saya. Dia masih perawan saat nikah sama saya. Kalau nggak salah, Kamu pernah test keperawanan ‘kan, sebelum kita nikah?” Juan berusaha mengingatkan Iis.
“Ah, iya. Mau liat suratnya? Nanti aku kirim kekamu,” jawab Iis santai.
Rozak kaget saat Iis berkata kalau dia memiliki surat keperawanan. “Kamu nikah sama Juan atau mau tes jadi polwan, Iis. Ampe ada surat keperawanan segala?” tanya Rozak kaget.
“Hahaha... nikah sama Juan itu, ribet, Zak. Pusing, untung aja aku nggak nyerah dan minta cerai,” canda Iis, Iis tiba-tiba merasakan capitan maut di bibirnya.
“Bibir nih, kalau ngomong yah. Bibir,” ucap Juan kesal sambil menggerakkan ke kanan dan ke kiri bibir istrinya itu.
“Mau kabur kemana? Kamu mau kabur ke ujung dunia pun aku kejar. Nggak liat itu ada anak tiga, mau gimana itu anak tiga hidup, kalau emaknya nggak ada?”ucap Juan sambil menunjuk ketiga anaknya yang sedanh duduk di karpet tebal.
Tampak Liz yang asik bermain bersama Kama dan Bernard. Kafta dan Kalila yang mewarnai, khalid yang sedang digendong Taca.
“Napas, Mas,” jawab Iis santai sambil mengecup pipi Juan.
“Ngaco, kamu tuh Yang,” ucap Juan sambil menepuk bagian belakang pinggul Iis.
“Udah, ah. Nama, Kang Rozak. Aku sama Juan kesana dulu, yah.” Iis menepuk bahu Nama dan mendekatkan bibirnya ke arah kuping Nama.
“Kang Rozak baik kok, dia nggak macem-macem. Cuman, plin plan sama harus banyak-banyak sabar, dia itu nggak pernah mau jujur kalau ada masalah,” ucap Iis sambil mengedipkan sebelah matanya dan berlalu dari sana meninggalkan Rozak dan Nama.
Setelah Iis dan Juan berlalu dari sana, Rozak langsung berkata sambil berjalan meninggalkan Nama. “Puas?”
Nama terdiam mendengar pertanyaan Rozak, Nama menatap punggung lelaki bernama Rozak itu berjalan didepannya. Meninggalkan dirinya, sekarang keputusan ada ditangannya, apakah dia akan diam disana dan melepaskan lelaki yang Nama sukai atau mengejar Rozak untuk memulai hubungan baru.
Nama gamang...
•••
Nah, loh...
Gimana di bikin jadian aja atau di bikin ribet ini pasangan Rozak dan Nama? Di bikin puter-puter ampe mabok?
Pusing yeh...
Jangan lupa tombol likenya di tampol, votenya boleh di kasih juga buat Kaka Gallon, Kaka Gallon menerima Point dan Koin juga, supaya Kaka Gallon semangat nulisnya 🥰☺️😘😍
__ADS_1
XOXO GALLON