
“Zak,” panggil Riki saat Rozak berjalan melintasi ruangan makan khusus yang dibuat oleh Riki untuk menyambut tamu-tamu penting atau keluarga.
“Aa, kapan dateng?” tanya Rozak sambil tersenyum senang. Bagaimana tidak, Rozak tadi berhasil membuat Nama tersipu-sipu dengan kejutan spesialnya.
Detik ini Nama sedang duduk di salah satu kursi pengunjung sambil menatap jari jemarinya dan memeluk bunga camelia yang Rozak berikan tadi. Kekasihnya itu terus menerus tersenyum dan tersipu-sipu.
“Sini, Aa mau ngomong,” ucap Riki.
“Nama,” ucap Rozak sambil menunjuk Nama yang masih asik menatap jemarinya.
Riki tersenyum melihat Nama yang tampak sangat bahagia. Tiba-tiba dirinya ingat kembali dengan Cicil yang berteriak-teriak histeris saat menyadari jari jemarinya disisipkan cincin sederhana oleh Riki. Bikin perempuan seneng itu gampang sebenernya, yang bikin ribet itu ego.
“Nggak papa, Aa cuman mau ngobrol sama kamu. Sini.” Riki langsung mengajak Rozak masuk kedalam ruangan.
“Apa?”
“Aa cuman mau cerita tentang calon mertua kamu.”
Detik itu juga Riki bercerita tantang kelakuan Ahyar di perusahaan Cicil dan Tandika di Perusahaan Adipati dan Juan. Tak lupa Riki menceritakan peristiwa pemukulan yang dia lakukan karena kesal bukan kepalang Ahyar menghina Cicil.
Selama menceritakannya, Riki bersaha untuk melihat ekspressi Rozak. Riki benar-benar berhati-hati untuk menceritakan semuanya, dia tidak mau membuat adiknya itu sakit hati atau merasa dirinya, Adipati, Juan dan Cicil menghalangi kebahagiannya.
Untuk membuat Rozak membuka hatinya itu sulit, melupakan Iis dan menerima Nama adalah sesuatu yang membutuhkan jalan yang panjang. Rozak bukan tipe pria yang gampang jatuh cinta atau gampang melupakan wanita yang dicintainya begitu saja.
“Zak, Aa, Cicil, Adipati dan Juan nggak ada maksud buat kamu sulit menikahi Nama. Tapi, kelakuan calon mertua kamu itu—“
“Titisan dajjal,” jawab Rozak pelan sambil menatap Riki. “Rozak tau Aa, Rozak udah sering ngobrol sama Nama.”
“Terus?” tanya Riki penasaran.
“Nama awalnya nolak berhubungan dengan bapaknya itu. Dia lebih mau menikah dengan wali hakim dan kalau kaya gini sepertinya Nama bakal pakai wali hakim.” Rozak berkata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Nama mau?” tanya Riki.
“Emang itu yang aku mau.”
Riki dan Rozak langsung menatap ke arah pintu. Di sana Nama tampak sedang berdiri sambil tersenyum. “Maaf aku dengerin obrolan kalian. Aku tau nggak sopan. Tapi, aku ngerasa aku harus tau.”
Nama melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah Rozak dan Riki. “Maaf juga aku nyela. Tapi, sumpah demi apapun aku nggak suka sama Ayahku sendiri. Aku ngerasa nggak punya Ayah, dia cuman mau bantu aku kalau aku menguntungkan bagi dirinya. Kalau nggak dia nggak bakal mau bantuin aku.”
“Ngga—“
“Nggak usah nyela, Kang. Aku yang hapal kelakuan Bapak aku. Aku yang hapal semuanya, dua puluh lima tahun aku hidup sama dia. Aku hapal kelakuannya luar dalam, nggak usah dibelainlah Ayah aku itu. Nggak ada gunannya.” Nama berkata sambil terus melangkahkan kakinya mendekati Rozak mengunci manik mata Rozak dengan tatapan Nama yang lembut di balik kacamatanya.
__ADS_1
“Aa, keluar dulu yah. Biar kalian enak ngomongnya,” ucap Riki sambil undur diri dari sana. Riki tidak mau terlalu mencampuri urusan Rozak dan Nama.
“Iya, Aa. Tolong sampaikan ucapan maaf dari aku sama Kang Rozak. Maaf, kalau kelakuan ayah aku rada-rada.” Nama berkata sambil tersenyum pada Riki. Riki hanya bisa menepuk bahu Nama dan berlalu dari ruangan tersebut. Meninggalkan Nama dan Rozak untuk menyelesaikan masalahnya.
“Akang aku tuh nggak mau pusing sama Ayah aku. Aku nggak mau Ayah aku bikin hubungan Akang sama adik dan kakak akang renggang, aku nggak mau. Beneran aku nggak mau, aku sayang sama keluarga Akang. Udah, mending aku nikah sama wali hakim, biar Ibu yang urus.”
“Bukannya Ibu yang mau kamu dinikahin Ayah?” tanya Rozak lagi.
“Biar aku yang ubah pikiran Ibu. Aku cuman mohon sama kamu, percaya sama aku. Hidup nggak usah dibikin ribet, Ayah nggak mau nikahin aku? Ya udah, masih banyak cara. Aku yakin seratus persen tuhan ngerti dan tau kok kenapa kita nikah pake cara itu.” Nama berjalan memeluk Rozak.
“Nyun.”
“Iya, aku tau Akang ingin Ayah yang jadi wali aku. Tapi, kalau sampai buat Akang harus memohon sama Cicil dan Adipati. Aku nggak mau,” ucap Nama sambil membenamkan wajangya di bahu Rozak.
Rozak langsung mengelus rambut Nama pelan, elusan itu terus turun ke punggung Nama. “Nam, Akang cuman mau kamu bahagia.”
Nama terkekeh pelan, dengan pelan Nama melepaskan pelukkannya. Ditatapnya manik mata Rozak, Nama langsung melepaskan kacamatanya kemudian menempelkan keningnya di kening Rozak.
“Aku selalu bahagia sama kamu, Kang.”
Seketika itu juga, Rozak hanya bisa tersenyum sambil menikmati tatapan dan wangi tubuh Nama yang memabukkan. Tangannya mengusap tiap lekuk tubuh belakang Nama.
“Akang juga bahagia sama kamu.”
•••
Nama yang baru saja mengganti bajunya setelah pulang dari restoran Water Teapot, langsung membuka pintu kamarnya.
“Ibu?” tanya Nama.
“Kamu lagi apa?” tanya Islah.
“Lagi ganti baju, tapi udah selesai.” Nama berkata sambil membuka pintu lebih lebar lagi agar Ibunya bisa melihat keadaan kamarnya. “Kenapa?”
“Nggak, nggak papa, cuman....”
“Apa? Ira mana? Dia bikin ulah lagi?” tanya Nama sambil berusaha mencari di mana keberadaan adiknya itu.
“Ira ada di kamar Ibu,” jawab Ibu pelan.
“Lah, ngapain dia di kamar Ibu?” tanya Nama bingung. “Manja amat, aku aja jarang di kamar Ibu.”
“Kamu tuh, biarin aja dia di kamar Ibu, lagi asik kayanya.”
__ADS_1
“Terus ada apa, Bu?” tanya Nama.
“Ada Ayah kamu di depan.” Islah menunjuk ke arah ruang tamu.
“Hah, mau ngapain?” tanya Nama, perasaannya tidak enak. Kenapa tiba-tiba Ayahnya datang kesana.
“Nggak tau, katanya mau ngobrol sama kamu masalah penting.
“Apaan sih? Ada apa?” tanya Nama bingung, dengan cepat ditariknya kardigan dari gantungan baju di belakang pintu kamarnya. “Aku males deh kalau dia udah dateng-dateng gitu.”
“Nam,” panggil Islah sambil menyentuh bahu Nama.
“Apa, Bu?” tanya Nama sambil mengerucutkan bibirnya. “Aku harus baik dan mengalah sama Ayah?”
“Bukan.”
“Apa?” tanya Nama kesal, Nama tau Ibunya itu pasti menyuruhnya mengalah, bersabar, bertawakal dan menerima segala-galanya.
Islah langsung menghela napasnya pelan, mungkin ini udah saatnya Nama menghadapi Ayahnya. Anaknya ini sudah dewasa dan tau mana yang baik dan mana yang benar. “Nam.”
“Iya, Bu.”
“Kamu pantas bahagia, berjuang buat kebahagiaan kamu. Jangan mau kamu disuruh mundur yah,” ucap Islah sambil mengusap bahu Nama pelan.
“Maksud Ibu?” tanya Nama kaget dengan ucapan Islah yang tidak seperti biasanya.
“Maksud Ibu, kamu udah dewasa. Ibu yakin kamu lebih bijak daripada Ibu, kamu lebih pintar dan lebih mampu berpikir jernih daripada Ibu saat menghadapi Ayah kamu,” ucap Islah sambil mengusap rambut Nama perlahan.
“Jadi.”
Islah menghela napasnya pelan sambil menutup kedua matanya. “Kamu harus berjuang untuk kebahagiaan kamu.”
“Bu.”
“Ibu ingin kamu bahagia, Nam. Kalau nikah dengan Rozak bisa bikin kamu bahagia kenapa nggak, dengan atau tanpa restu ayah kamu. Kamu bakal nikah sama Rozak.”
“Beneran, Bu?” tanya Nama.
“Iya, sekarang temui ayah kamu. Kalau dia minta aneh-aneh kamu tolak aja, oke.”
“Oke,” jawab Nama sambil tersenyum pada Islah.
••••
__ADS_1
Xoxo Gallon