
Tangan Albert bergetar hebat, pengacara sedang berbicara di hadapannya. Pengacara baru saja memberitahukan pada dirinya kalau, Albert tidak bisa lagi berkelit.
Perhatian besar pada kasus ini benar-benar membuat Albert tidak bisa menggunakan uangnya sama sekali. Bahkan, bantuan dari pemerintahan Inggris tidak terlalu berguna. Mereka hanya bisa membuat Albert tidak mendapatkan hukuman mati dan seumur hidup.
“Pak Albert, cuman ini yang bisa kami lakukan. Bukti-bukti yang dimiliki pihak lawan sangat-sangat kuat.”Susanto benar-benar dibuat ketar ketir oleh pihak lawan. Firma hukum yang berada dibelakang Cicil benar-benar membuat Susanto banyak-banyak mengurutkan dada.
Awalnya Susanto merasa diatas angin saat awal-awal, karena Susanto tidak melihat latar belakang Cicil Bouw, dia hanya melihat latar belakang Riki Trina. Hanya anak petani biasa yang hidupnya sederhana.
Tapi, waktu bergulir Susanto dikagetkan dengan siapa saja pengacara yang disewa oleh pihak Cicil dan Riki. Kepalanya, makin pecah saat melihat nama Luhut Hutapea, S.H.
Siapa yang tidak tau dengan pengacara kondang Luhut Hutapea. Susanto hampir jatuh dari kursinya saat sekertarisnya meyebutkan nama pengacara itu. Pengacara selicin minyak yang mampu memutar-mutar bukti.
“Kamu sudah tanya kedubes?” tanya Albert, rasanya kepalanya sakit. Nasibnya benar-benar naas.
“Kedubes hanya bisa memberikan bantuan sampai situ, Pak.” Susanto menyerahkan surat dengan logo kedutaan. “mereka menolak untuk membantu lebih dalam lagi, Pak.”
Albert menggebrak meja dengan sangat keras, Susanto sampai kaget melihat kemarahan kliennya ini.
“Pak tenang, sebentar lagi kita akan melakukan pembacaan keputusan. Bapak diharap....”
“Keluar Susanto, saya bilang keluar..!” teriak Albert keras sambil menunjuk pintu keluar. Tatapan mata Albert seperti orang gila benar-benar membuat Susanto dengan cepat pergi meninggalkan Albert sendirian diruangan itu.
Albert dengan kesal membenturkan kepalanya ke meja. Rasa kesal benar-benar membuat dia ingin membunuh siapapun yang ada disana. Dengan geram Albert membentur-benturkan kepalanya ke meja berkali-kali.
“Sayang, kamu kenapa?”
Albert langsung menolehkan kepalanya, “Baby, kenapa kamu tuntut aku ke penjara? Aku cinta sama kamu.”
“Siapa? Aku.” Cicil menunjuk hidungnya.
“Iya, kamu Baby. Kamu nggak sayang lagi sama aku?” tanya Albert sambil memeluk Cicil dengan erat.
“Kamu ngaco, mana mungkin aku laporin kamu. Aku sayang sama kamu, buktinya aku ada disini sama kamu.” Cicil mengelus punggung Albert pelan.
“Tapi, kamu ingin masukin aku ke penjara, Baby.”
“Albert, bukannya kalau kamu masuk penjara kita jadi bisa berduaan di sel?” ucap Cicil sambil menatap Albert lekat-lekat.
“Hah... maksudnya kamu bakal ikut sama aku? Gimana kalau ada yang pegang kamu di penjara?” tanya Albert bingung.
“Nggak papa, aku ini cuman punya kamu. Makanya cuman kamu yang bisa liat aku. Jadi, aku bisa ikut bareng kamu di sel. Gimana?” tanya Cicil sambil mengusap pipi Albert pelan.
“Jadi, kalau aku masuk penjara kita bakal terus bareng?” tanya Albert sambil mengusap bibir Cicil.
__ADS_1
“Iya, aku bahkan nggak bakal keluar sel penjara, aku bakal disana terus, selama-lamanya.”
“Selamanya, sampai kapanpun. Aku bakal disana, nggak bakal aku ninggalin kamu,” ucap Cicil pelan.
“Aku mau, kalau gitu aku mau dipenjara asal sama kamu,” ucap Albert sambil menyusupkan rambut ke balik telinga Cicil.
Cicil tersenyum sambil memeluk Albert, “Aku bahagia Albert.”
“Aku juga sayang, hahahaaa...” Albert tertawa dengan sangat-sangat keras.
Susanto yang ada di balik pintu, langsung mengintip dari balik jendela dan menggelengkan kepalanya bingung. Sepertinya Kliennya mulai gila, buktinya saat ini Susanto melihat Albert sedang memeluk tubuhnya sendiri sambil tertawa terbahak-bahak.
“Astaga, nyebut aku tuh. Punya klien aneh,” ucap Susanto sambil mengelus dadanya beberapa kali.
•••
Jantung Cicil berdetak cepat saat mereka makin dekat dengan gedung pengadilan. Kepalanya pusing bukan main, keringat dingin benar-benar keluar dari tubuhnya.
“Aa, Neng pulanh aja, yah.” Cicil berkata sambil menatap Riki.
Riki yang duduk disebelahnya, langsung mengeratkan pelukkannya di bahunya. “Neng, kuat ada Aa, ada Papih juga.”
Jeff yang duduk di bagian depan hanya bisa tersenyum pelan. Saat dia mengetahui Cicil diperkosa oleh Albert untuk kedua kalinya di Yogyakarta. Jeff langsung pulang ke Indonesia dengan pesawatnya. Sesampainya di Indonesia, Jeff langsung mencari firma hukum yang mau membantu kasusnya dan langsung mendapatkannya. Kasus Cicil sudah sangat viral, karena Albert ternyata hendak memperkosa seorang gadis bernama Kharis.
Jeff sama sekali tidak bisa bertemu dengan Cicil, Jeff sibuk mengurus semuanya di Jakarta. Dia mengerahkan semua sumber dayanya agar membuat Albert tidak bisa meninggalkan Indonesia. Jeff benar-benar menyerahkan dan mempasrahkan kesehatan kejiwaan anaknya pada Riki.
Di video itu Jeff melihat Riki yang dengan sabarnya menahan semua gerakkan Cicil, memeluknya. Bahkan, beberapa kali Riki terkena pukulan dari Cicil. Namun, Riki tetap tenang dan memeluk Cicil tanpa berbicara ataupun membalas Cicil.
Semenjak melihat video itu, pandangan Jeff sedikit berubah terhadap Riki. Jeff merasa Riki benar-benar lelaki yang mampu menjaga Cicil dengan baik. Pada awalnya Jeff marah bukan main, karena Riki membiarkan Albert bebas berkeliaran dan kembali ke Jakarta. Tapi, setelah melihat video yang dikirim Rea, Jeff sadar, Riki harus ada disamping Cicil. Cicil anaknya membutuhkan Riki lebih daripada apapun.
“Cil, semua akan baik-baik aja. Kita masukkan Albert ke penjara. Kuasa hukum Papih sudah melakukan semuanya dengan baik.
“Aku takut, Pih.” Cicil berkata dengan mulut bergetar.
“Neng, liat Aa.” Riki memaksa Cicil untuk menatap bola matanya. Cicil yang awalnya menolak akhirnya pasrah saat Riki dengan keras meminta Cicil untuk melihat matanya.
“Aa, Cicil nggak bisa. Cicil yakin saat Cicil keluar mobil, semua orang akan mencemooh Cicil tanpa ampun. Aa inget perempuan-perempuan di kamar mandi kemarin?” tanya Cicil pada Riki.
“Kan Aa udah bilang nggak usah didengerin. Yang penting, Aa tetep sama Neng, udah percaya sama Aa. Aa mohon Neng,” pinta Riki sambil mengusap rambut Cicil pelan.
Cicil akhirnya menganggukkan kepalanya berbarengan dengan berhentinya mobil Cicil didepan gedung pengadilan. Saat mobil berhenti Cicil kaget bukan kepalang, orang-orang langsung mendekati mobil Cicil.
“Aa...”
__ADS_1
“Nggak papa, ada Aa,” ucap Riki sambil menggenggam tangan Cicil.
“Jangan dilepas, Aa,” pinta Cicil dan langsung dijawab anggukan oleh Cicil.
Pintu mobil terbuka, Cicil dan Riki turun dari mobil. Saat mereka berdua turun, kilatan cahaya lampu blitz langsung menghujani mereka berdua. Cicil langsung memeluk pinggang Riki ketakutan.
“Aa, Neng takut.” Cicil berkata sambil terus memeluk Riki.
“Tolong, mundur. Istri saya nggak bisa jalan. Mohon, mundur,” teriak Riki sambil berusaha menjauhkan orang-orang dari sisi Cicil.
“Woi mundur, kalau nggak mundur Bu Cicil nggak bisa masuk kedalam pengadilan. Mundur,” teriak seorang wanita dari arah depan.
Cicil menatap wanita itu, senyuman Cicil mengembang saat melihat wanita didepannya. “Bu Tutti Frutty.”
“Kasih jalan, woi... minggir, mau jalan itu. Mata lo picek?” teriak Tutti keras.
Semua orang disana langsung mundur dan memberikan jalan untuk rombongan Cicil. Tutti kemudian berjalan kearah Cicil, dengan penuh kelembutan Tutti langsung memeluk Cicil.
“Bu Tutti, kenapa bisa ada disini?” tanya Cicil bingung.
“Saya, ketua LSM khusus perempuan, saya bakal kawal kasus ini sampai tuntas. Saya nggak mau ada perempuan yang bernasib seperti saya dan kamu, Cil.”
Cicil terdiam mendengar perkataan Tutti, hatinya terenyuh. “Ibu juga di...”
“Sampai detik ini, saya tidak tau siapa Ayah dari anak saya. Saya diperkosa tiga pria,” ucap Tutti sambil berjalan terus.
Cicil kaget, wanita di sampingnya ini tampak tegar dan tak menunjukkan raut muka kesedihan sama sekali. Padahal, Cicil tau dengan pasti didalam hatinya wanita ini tercabik-cabik.
“Bu Tutti, anak bu...”
“Sudah SMA, dia sudah tau bagaimana kisah hidupnya. Dia ikhlas.” Tutti berkata sambil terus menuntun Cicil sampai pintu pengadilan.
“Makanya, kamu harus tegar. Harus kuat, kamu bisa Mbak Cicil Bouw.”
“Cicil Trina, namanya Cicil Trina,” ucap Riki sambil tersenyum pada Tutti, “dan terima kasih dukungannya. Tolong terus kawal kasus ini sampai Albert masuk penjara.”
Riki pun mamasuki ruangan sidang bersama Cicil dan romobongannya. Tutti hanya diam dihadapan pintu, berdoa memberikan yang terbaik untuk Cicil dan Riki.
•••
Jangan pernah bersedih dan merutuki nasibmu, karena diluar sana masih banyak orang-orang yang lebih sengsara dari nasibmu. Tapi, mereka masih mampu tersenyum dan tegar menghadapi kehidupannya.
Jangan lupa tombol likenya ditabok yang keras, point, vote dan koinnya disebar....
__ADS_1
Jangan lupa, komen yang banyak... biar Kaka Gallon happy bacanya hihihihihii...
XOXO GALLON.