
Riki mengerjapkan matanya, badannya lengket bukan main. Cicil benar-benar tidak memberinya ampun. Berkali-kali Cicil merayunya yang bermuara dengan transfusi darah putih. Dari semenjak Cicil melangkahkan kakinya kedalam kamar, Riki sudah tiga kali melakukannya.
Riki menatap istrinya yang meringkuk di dadanya, tanpa mengenakan sehelai benangpun. Cicil tampak nyaman meringkuk di dadanya, suara dengkuran halus Cicil benar-benar membuat Riki tersenyum. Mimpi, Riki merasa ini semua adalah mimpi.
Plak...
Riki memukul pipinya, ternyata rasanya sakit. Astaga, ternyata benar ini bukan mimpi. Dia sudah menikah, dia sudah menikahi Cicil wanita impiannya, wanita yang selalu ada di hatinya, di pikirannya dan sekarang saat bangun Cicil sudah ada di kasurnya, memeluk dirinya dan bergelung dengan manjanya di dadanya.
Riki terus menatap Cicil tanpa rasa bosan, istrinya ini benar-benar cantik dan menggemaskan. Tangan Riki terus menerus mengelus pucuk hidung Cicil. Entah dapat ide dari mana tiba-tiba Riki mengigit pucuk hidung Cicil, saking gemasnya.
“Awww...” jerit Cicil yang terbangun gara-gara merasakan gigitan di hidungnya. Cicil langsung mengusap hidungnya sambil bangun dari tidurnya.
“Sakit, Neng?” tanya Riki sambil terkekeh.
Cicil langsung membulatkan matanya dan mencubit perut Riki kencang. “Sakit ih, rese beneran yah. Punya suami nyebelin.”
“Aww... hahaha maaf, maaf. Abis idung kamu tuh gemesin,” jawab Riki jujur.
“Sakit, Suami. Astaga baru jadi suami sehari aja udah abis idung aku di gigit. Apalagi kalau udah lama,” ucap Cicil kesal.
Riki yang gemas dengan ucapan Cicil hanya bisa mencium pucuk hidung Cicil. “Uh, kasian. Sini aku cium dulu.”
Cicil hanya bisa mengerucutkan bibirnya saat Riki mengecupi hidung Cicil. Tangan Cicil menarik selimut menutupi bagian dadanya. “Nyebelin kamu, sakit beneran, Aa. Suami nyebelin.”
“Apa?” tanya Riki.
“Suami, nyebelin,” ulang Cicil sambil mengangkat selimut yang menutupi badan Riki. Cicil suka melihat badan suaminya itu, V line milik suaminya benar-benar menggoda. Suami, ah rasanya Cicil ingin berjumpalitan saat mengatakan hal itu. Cicil suka menyebut Riki suami. Rasanya, menyenangkan.
“Coba bilang suami lagi,” pinta Riki.
“Suami, suami, suami, suami, suami, suami, suami.” Cicil mengulang-ngulang kata suami sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Riki.
Riki langsung memundurkan kepalanya hingga terantuk headboar kasur. Cicil dengan lincah sudah duduk di pangkuan Riki. Gesekkan yang dibuat oleh Cicil di paha Riki membuat darah Riki berdesir.
“Neng, kamu nggak capek?” tanya Riki sambil mengusap bibir bagian bawah Cicil.
Cicil dengan santainya langsung mengigit jempol Riki dan mengemutnya pelan.
__ADS_1
Deg
Jantung Riki langsung terpompa saat melihat Cicil dengan pesonanya sendiri mengigit dan mengemut jempol tangan Riki. Tanpa Riki sadari bagian pribadinya tiba-tiba mengeras dengan sempurna. Menusuk badan Cicil yang sedang tidak mengenakan sehelai benangpun.
Cicil merasahan sesuatu dibawah sana yang melesak ke tubuhnya. Menekan bagian belakang tubuhnya. Cicil langsung tersenyum dan melepaskan jempol Riki dari mulutnya. “Aa mau lagi?”
Riki hanya bisa menaha napasnya, wanita didepannya ini benar-benar mampu membuat dirinya melayang. Nafsu Riki bisa langsung naik seratus persen hanya dengan menatap mata Cicil.
“Neng, lutut Aa udah lemes, beneran,” ucap Riki jujur,lutut Riki benar-benar lemas bila dipaksa untuk melakukannya sekali lagi. Bisa-bisa mereka nggak jadi ke Yogyakarta, yang ada malah Riki yang tidak bisa jalan sama sekali.
Cicil memeluk badan Riki dan mengecup leher Riki, tangan Riki langsung mengusap badan Cicil yang lembut dan mulus seperti porslen. Riki merasakan Cicil mengigiti pelan bagian leher dan cuping bagian bawahnya, semua yang dilakukan Cicil membuat Riki menahan napasnya.
“Neng, lutut Aa lemas ini,” ucap Riki, mengiba pada istrinya kalau dia sudah tidak sanggup lagi melakukan transfusi darah putih untuk ke empat kalinya hari ini.
Cicil menciumi leher Riki, napas Cicil benar-benar menggelitik leher Riki. “Terus?” bisik Cicil pelan.
“Aa nggak bisa ka...”
Riki menatap mata Cicil, senyuman nakal sudah terbit di wajah Cicil. “Aa lupa?”
Cicil menggerakkan pinggulnya naik dan turun, mencengkram bagian pribadi Riki dengan eratnya. Membuat Riki menahan napasnya, gerakan Cicil didepannya dan tatapan mata Cicil yang mengunci manik mata Riki benar-benar membuat Riki merasakan kenikmatan dunia.
Cicil mengambil tangan Riki dan meletakkannya di salah satu bukit kembar miliknya. Spontan Riki langsung mencengkram dan mencubit pucuk bukit kembar milik Cicil diantara jemari telunjuk dan jari tanganya.
“Aa... kamu,” desah Cicil sambil mengerling nakal.
Desahan Cicil benar-benar membuat Riki semaput, apalagi Bagian kewanitaan Cicil mencengkram tampa ampum miliknya. Sudahlah, lutut lemas Riki benar-benar dipaksa kembali bergerak oleh Riki.
Dengan sekali sentak di dorongnya badan Cicil hingga terbaring di kasur. Diputarnya badan Cicil tanpa melepaskan miliknya dari tubuh Cicil. Sontak hal tersebut membuat Cicil memekik kecil.
“Aa...” desah Cicil pelan, “Aa katanya nggak kuat lagi, biar Neng yang gerak,” ucap Cicil lagi.
Riki sama sekali tidak mendengar perkataan Cicil, hidungnya sudah menari dibagian punggung Cicil, memberikan sensasi yang membuat Cicil mendesah. Hidung Riki yang menggelitik punggungnya mampu membuat Cicil mendorong badannya kebelakang membuat dirinya memompa Riki dengan cara lain.
Riki hanya bisa menahan erangannya sendiri, Cicil benar-benar membuat dirinya liar seliarnya. Membangunkan monster yang sudah lama tertidur di diri Riki. Monster yang mampu membuat Cicil bungkam. Bungkam dengan keperkasaan Riki, yang lembut namun candu.
•••
__ADS_1
Cicil dan Riki saling tatap setelah melakukan transfusi darah putih untuk ke empat kalinya hari ini. Badan mereka lelah tapi bahagia.
“Aa nggak lemes lagi lututnya?” olok Cicil.
“Nggak,” ucap Riki sambil menahan tawanya mengingat perkataannya tadi. Betapa bodohnya dia saat mengatakan kalau lututnya sudah lemas dan sejujurnya lututnya memang sudah sangat-sangat lemas. Sepertinya, kalau dia berdiri saat ini mungkin dia akan oleng.
“Untunglah, mau lagi?” tanya Cicil sambil menatap Riki.
“Nggak,” jawab Riki spontan, bisa mati dia kalau dipaksa untuk melakukannya lagi.
“Hahaha... dikamar mandi mau nggak?” tanya Cicil sambil menunjuk kamar mandi.
“Nggak, besok lagi aja, besok,” ucap Riki, demi apapun dirinya benar-benar butuh bernapas. “Slow Neng, Aa ini jadi suami kamu seumur hidup kamu,” ucap Riki sambil menarik handuk yang ada disampingnya.
“Aa mau kemana?” tanya Cicil sambil duduk di kasurnya dan menatap Riki.
“Mandi, Neng. Lengket ini badan,” jawab Riki sambil melangkahkan kakinya namun badannya langsung oleng. Lututnya benar-benar tidak mampu menopang tubuhnya. Astaga menikah dengan Cicil benar-benar membuat dirinya oleng dalam hartian sebenarnya.
“Aa, ati-ati. Mau dimandiin?” Cicil menawarkan bantuan dengan maksud meminta jatah kelon lagi di kamar mandi.
“Nggak, Aa bisa mandi sendiri. Nggak usah aneh-aneh, masih ada hari esok,” ucap Riki sambil mengecup bibir Cicil, namun saat akan melepaskan ciumannya. Cicil langsung menangkap leher Riki. Menariknya dan entah bagaimana caranya Cicil sudah ada di atas Riki.
“Neng, Tuur Aa kopong ieu. Noroktok ieu tuur,” ucap Riki dengan bahasa sunda yang kental.
“Hah?” Cicil yang tidak paham bahasa sunda menatap Riki bingung.
“Lutut Aa, lutut Aa udah kosong ini, udah bergetar lutut Aa. Aa udah nggak sanggup, Aa....”
Cicil tersenyum sambil menyusupkan kepalanya ke leher Riki dan berbisik, “Neng, yang gerak...”
Dan Riki pasrah.
•••
Muahahahhaaa....
Pasangan honeymoon lewat dulu, hahahaaa...
__ADS_1
Kasian Aa Riki, tuurna noroktok (lututnya bergetar), sudah tak mampu menahan beban dan sudah tidak mampu digoyang oleh Neng Cicil 🤣🤣🤣.
XOXO GALLON.